
..."Tidak selamanya kamu harus berteriak keras untuk didengar orang lain, kadang cukup dengan sebuah tulisan yang sederhana, membuat kamu manapun mengutarakan isi hatimu" Candy....
Seperti itu gambaran hari Azlan saat ini, dia diambang kerisauan antara tugas dan istri tercintanya yang sedang hamil besar.
Candy seorang ibu yang hatinya selalu terhubung dengan anak-anaknya seperti tahu suasana hati Azlan yang saat ini berkunjung seorang diri selepas menjalankan tugas di mabes.
"Kenapa..dek.." Candy mengusap lembut kepala Azlan lembut yang berbaring dipangkuan mamanya.
"Ma..ade harus mendahulukan yang mana..?" pinta Azlan berkaca-kaca.
"Ade..ada tugas sayang.." tanya mamanya lembut membuat Azlan makin sedih.
"Iya..ma.." Azlan mendekap mamanya dengan isaknya.
"Sabar...sayang semuanya amanah yang harus dijalani.." Candy mengusap punggung Azlan lembut.
"Iya..ma..ade tahu tapi gimana..Al.." Azlan menjelaskan apa yang dirasakan dalam hatinya.
"Pilihlah..tugasmu terlebih dahulu..dek.." Rendra yang baru saja pulang langsung menambahkan.
"Soal..Al..biar dia bersama kami disini.." kakek yang baru keluar dari kamar langsung ikut memberikan semangat pada cucunya.
"Tapi kek.." Azlan masih belum bisa menyakinkan hatinya.
"Kami..semua tahu..biar ade tenang Al juga terpantau.." Rendra menyakinkan putranya ini jalan keluar untuknya.
"Ade akan jelaskan pada Al..juga eyang.." jawab Azlan yang sudah sedikit tenang.
Keluarga tempat ternyaman sebab di dalamnya kita merasakan kehangatan dan kasih sayang yang tulus tanpa meminta balasan dan kita jadi diri sendiri tanpa harus jadi pribadi yang lain.
"Assalamualaikum.." ucap Azlan dengan membuka pintu.
"Waalaikum salam.." balas Allea yang baru saja membersihkan diri.
Setelah memberikan ciuman pada istri tercintanya Azlan membersihkan diri, Allea masih mengeringkan rambut panjangnya.
"Boleh mas bantu..." Azlan meminta pada Allea yang duduk di ujung tempat tidur,
Azlan membantu mengeringkan rambut Allea, wanita yang cantik itu yang Azlan pikirkan dengan pesonanya yang susah di taklukan karena luka hatinya tapi dibalik semua itu dia wanita yang taat akan suami dan memiliki ketulusan cinta.
"Mas rasa qalbii makin cantik.." puji Azlan pada Allea yang langsung memandang Azlan.
"Barus sadar..orang kalau Al..cantik dari lahir mas.." balas Allea dengan tersenyum.
"Iya..mas percaya..makanya Allah kirim buat mas.." Azlan menaruh pengering rambut dan memberikan ciuman lembut di pipi Allea lembut.
__ADS_1
"Ko..cuma pipi.." protes Allea yang membuat Azlan bingung dan kembali mencium ujung kepala Allen, mata hidung dan berakhir di bibir dengan singkat dan menyudahinya.
"Ih...mas.." Allea masih protes yang membuat Azlan makin bingung.
"Apa..lagi qalbii.." ucap Azlan lembut yang membuat Allea cemberut dan mengusap perutnya.
"Oh...sayangnya..papa.." ucap Azlan yang langsung menyapa baby dengan ucapan lembut.
"Sayangnya papa lagi ngapain..ga nakalkan selama papa tinggal..mama lupa makan ga sayang.. maafin papa ya lupa menyapa.." Azlan mengusap lembut perut Allea, seperti baby tahu papanya menyapa dia bergerak dengan lembut membuat Azlan senang begitu pun dengan Allea yang melihat tingkah konyol Azlan yang bicara dengan anak dalam kandungannya.
"Ade..sabar..ya sama mama..jangan nakal..dan jagain mama ya..sayang.." ucap Azlan lagi yang membuat Allea mengusap kepala Azlan yang dia tempelkan di perut besarnya.
Selepas sholat isya di masjid Azlan langsung kembali tampa berlama-lama di masjid sebab tidak ingin meninggalkan momen-momen indah bersama Allea beserta buah hati pertama keduanya.
Di rumah Allea menyiapkan makan malam seperti biasanya, dan tidak lama Azlan datang makan malam dengan menu yang Allea siapkan selalu Azlan habiskan tidak pernah terlihat menyisakan makanan yang Allea masak, walaupun menurut Allea tidak seenak masakan mama Candy tapi bagi Azlan ini sudah istimewa tidak baik mencela makanan itu yang Azlan selalu jelaskan pada Allea.
Semakin melangkah jauh mengenal Azlan semakin dalam rasa mencintai dan memiliki Allea pada Azlan salah satunya rasa tidak ingin jauh darinya bila ada di rumah seperti saat ini, Azlan yang merapikan meja makan dan membersihkan piring bekas makan keduanya.
"Mas..ko lama sih.." Allea memanggil Azlan yang masih ada di dapur.
"Iya..qalbii..sebentar mas datang.." Azlan menghampiri Allea dengan membawa irisan buah dan segelas susu bumil.
"Ayo..habiskan susunya.." pinta Azlan yang duduk disamping Allea yang langsung bersandar di bahu Azlan dengan manja.
"Ko tugas lagi sih..memang ga ada yang lain ya..mas.." rengek Allea sepertinya tidak ingin ditinggalkan oleh Azlan.
"Qalbii kalau boleh memilih mas juga lebih memilih di dekat qalbii..bukan berarti qalbii dan baby tidak penting untuk mas.." Azlan berkata dengan hati-hati dan melembutkan suaranya.
"Terus Al..harus tinggal sama sama mama kenapa ga sama eyang.." Allea meminta penjelasan pada Azlan.
"Kasihan eyang kalau harus di repotkan dengan keperluan qalbii sedangkan di rumah mama akan banyak orang dan mama lebih mengerti soal kehamilan..tapi mas ga memaksa qalbii bila rumah eyang jadi tempat ternyaman untuk qalbii mas ikut kata qalbii tidak memaksa.." Azlan mengusap lembut kepala Allea yang terlihat seperti tidak ingin jauh dari sisinya.
"Al..yang terbaik menurut mas aja.." Allea makin manja pada Azlan.
Ini yang membuat Azlan tidak ingin jauh darinya, Allea sudah mau membuka diri dan terlihat dia juga menikmati masa kehamilannya memang dia tidak merasakan mabuk.
Di pandanginya istri tercintanya tanpa ingin berpaling yang membuat Allea menangis.
"Mas jangan tinggalkan Al.." Azlan langsung memeluknya dengan rasa haru, seperti dia tahu Azlan mengkhawatirkan dirinya.
"Siapa yang ingin meninggalkan qalbii..mas hanya bertugas..pasti pulang.." Azlan merasakan sesak di dadanya.
"Mas..sayang qalbii.." seru lagi dengan mencium pucuk kepalanya.
Bagi Azlan wanita yang menjadi istrinya adalah wanita yang pertama kalinya di cintanya selain orang terdekatnya seperti mama dan mbanya, karena itu dia seperti anak abg yang mengenal cinta pertama dia tidak ingin jauh dalam menjalani hari-jaringannya Allea sebab menurutnya semua serba indah dan selalu ada saja yang keduanya lakukan walaupun hanya obrolan santai atau candaan yang remeh tapi asyik saja menurutnya.
__ADS_1
Berbeda dengan Allea perhatian dan perlakuan yang hangat serta lembut membuat Allea nyaman, walaupun pada awalnya dirinya menganggap Azlan punya maksud lain sehubungan dengan karir yang sedang di rintisnya ternyata tidak sedikit pun terlintas dalam hati kecil Azlan untuk hal yang menyangkut hati di gunung-hubungkan dengan karirnya baginya sesuatu yang berbeda.
"Kenapa jadi nempel terus..qalbii.." goda Azlan pada Allea yang masih memeluk satu tangan Azlan manja.
"Kasihan tuh babynya.." ujar Azlan lagi dengan tersenyum yang membuat Allea makin manja.
"Qalbii..ko bisa gini ya.." goda Azlan lagi dengan mengusap perut Allea.
"Karena mas.." balas Allea malu menyembunyikan mukanya di dada Azlan.
"Loh..ko mas.." Azlan balas menggoda Allea.
"Mas..nakal..sih.." Allea tidak mau kalah membalas.
"Oh..gitu ya..anak kecil udah pinter ya.." Azlan mengacak rambut Allea pelan.
"Bukannya bapak gurunya.." Allea makin ikut candaan Azlan.
"Iya..ya aku gurunya.." Azlan menyadari dirinya dosen Allea.
"Makanya pak guru jangan nikahi muridnya.. jadi begini nih..muridnya pinter.." Allea menjelaskan yang membuat Azlan tertawa.
"Tapi kan aku belum tua qalbii.." Azlan dengan santai menjelaskan.
"Ya..udah om guru.." panggil Allea pada Azlan yang membuat Azlan kembali tertawa.
"Ko..mau sama om-om.." dengan polos nya Azlan bertanya pada Allea.
"Sebab omnya ganteng penyayang lagi.." jawab Allea yang membuat Azlan makin tertawa.
"Oh..ya..berarti kalau omnya jelek ditolak ya.." Azlan menangkap wajah Allea dengan kedua tangannya.
"Bukan ga mau mikir dulu..gimana nanti keturunan aku..sebab papa anak-anaknya saja jelek.." jawab Allea membuat Azlan gemas dan mencium bibir Allea yang terus membalas setiap pertanyaan Azlan, memang dia pandai di kampus Azlan akui itu hanya saja luka hatinya yang membuat dirinya jadi sedikit diam.
"Mas..Al..ga bisa napas.." rengek Allea yang membuat Azlan menghentikan ciumannya.
"Maaf..maaf..habis..enak.." bisiknya yang membuat Allea memukul lengan Azlan.
"Ayo..habiskan..terus istirahat ga baik tidur malam-malam kasihan baby.." pinta Azlan yang di mengerti Allea.
Azlan memeriksa pintu juga jendela, serta membantu Allea ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum tidur.
"Jangan lupa wudhu.." Azlan mengingatkan Allea.
Seperti itulah seorang Azlan yang apa adanya tanpa mengurangi rasa cintanya setelah mengetahui Allea sudah membuka hati untuk dirinya, bahkan makin cinta yang orang terdekatnya lihat dengan segala perhatiannya.
__ADS_1