
..."Perempuan itu biasanya bersikap seolah biasa-biasa saja padahal dalam hatinya dia sangat mencintainya" Candy....
Selepas sholat subuh berjamaah di kediaman papa Rendra, keluarga besar pak kyai yang diminta menginap berbincang santai di ruang keluarga dan papa Rendra sangat berterimakasih pada keluarga pak kyai entah untuk kesekian kalinya selalu menolong Rendra dan keluarganya.
"Hanya..terimakasih yang bisa saya ucapkan..pak kyai..sudah banyak menolong putra kami dan keluarga kami.." ucap papa Rendra dengan rendah hati, papa Rendra sangat sopan walaupun secara umur pak kyai tidak berbeda dengan menantunya Rudi tapi dia memanggilnya pak kyai berdasarkan keilmuan dia memanggil.
"Saya tidak melakukan apa-apa..kenapa harus berterimakasih..pak Rendra yang sudah banyak membantu pesantren saya.." balas pak kyai lebih merendah.
"Sering-sering..lah kemari.." pinta papa Rendra dengan ramah.
"Insyaallah..tapi kasihan anak santri..kalau sering ditinggal.." ujar pak kyai dengan tersenyum.
Di ruangan lain terlihat Rendra sedang berbincang dengan Nasyauqi yang terlihat malu digoda papanya.
"Mau..bulan madu kemana..papa siapkan.." tanya Rendra merangkul putrinya.
"Ga..ah..pa..kakak..mengajak mba ke pondok bareng abi uma..tiga hari disana..boleh ya.." balas Nasyauqi manja bersandar di bahu Rendra.
"Boleh..sudah hak Andika..mau di bawa kemanapun boleh..tapi tidak sendiri.." ujar Rendra mengusap punggung tangan putrinya.
"Kenapa jadi manja..sama papa..kemana suami tercinta..sayang.." tanya Rendra sekaligus menggoda.
"Lagi tadarus qur'an.." balas Nasyauqi dengan masih manja pada papanya.
Tidak beberapa lama Candy meminta Rendra memanggil seluruh tamu dan keluarga berkumpul di ruang makan untuk menikmati sarapan pagi bersama.
Menjelang siang keluarga pak kyai ijin undur diri harus kembali ke pondok dan kali ini Andika juga Nasyauqi turut serta yang ditemani sopir pribadi juga.
Rendra Candy juga papa mama tidak khawatir melepas kepergian putri dari keluarga mereka karena bersama suaminya yang akan menjaganya.
Andika duduk didepan menemani sopir, Nasyauqi sendiri ditemani beberapa kerabat dari uma yang ikut serta dalam acara lamaran yang menjadi pernikahan, sesekali Andika melihat kebelakang yang jelas membuat kerabatnya terus menggodanya.
"Tenang..mas bojomu..dijaga ora usah khawatir.." godanya yang membuat Nasyauqi tersenyum.
"Ra..ngono mba.." balas Andika salah tingkah.
"Terus..opo..to.." godanya lagi yang membuat semua yang ada didalam mobil tertawa hanya Nasyauqi dan Andika yang malu.
Setibanya di pondok anak-anak santri menghampiri keduanya yang membuat uma Andika sedikit khawatir takut Nasyauqi lelah.
"Mbanya istirahat dulu..ya.." pinta uma pada santri putri.
"Biar..uma mba..ga cape..ko.." ujar Nasyauqi yang membuat sepupu Andika tersenyum.
Anak santri berebut memegang tangan Nasyauqi yang membuat suasana jadi ricu hingga abi keluar dan sedikit terkejut dengan apa yang dilihat anak santri putri ingin bersama Nasyauqi.
"Mbanya..istirahat dulu..nanti bisa main..lagi..ya.." kali ini pak kyai yang meminta dan anak santri berhamburan kembali ke pondok.
Nasyauqi tertunduk malu dan Andika tahu istrinya malu, tangan Andika menggenggam tangan Nasyauqi dan di ajaknya dia masuk kedalam rumah yang dulu hanya sekedar untuk makan bersama kini tidak lebih sebab dia sudah jadi bagian dari keluarga, sebab ada tempat yang di sediakan untuk tamu.
Kamar yang tidak besar tapi bersih dan nyaman hanya ada lemari pakaian dan meja belajar juga tempat tidur yang sederhana, dengan jendela yang dapat melihat taman yang terawat dengan berbagai bunga tumbuh subur kini Nasyauqi berada di kamar Andika.
Mereka tiba di pondok sudah menjelang petang jadi aktifitas pondok banyak di lakukan di masjid begitu juga Andika bila di pondok tanpa sungkan membantu mengajar para santri seperti saat ini.
Selepas makan malam tadi Andika mengajar santri laki-laki hingga menjelang malam yang meninggalkan Nasyauqi bersama uma berhubung keduanya sudah saling kenal jadi tidak ada lagi rasa canggung hingga seperti anaknya bukan menantu.
__ADS_1
Karena Andika tidak kunjung pulang Nasyauqi sudah terlelap di tempat tidur yang menurutnya sederhana tapi nyaman selama ini dirasakan bila berkunjung ke pondok kalau dibandingkan dengan miliknya memang jauh tapi baginya sama saja yang jelas mata kalau sudah ngantuk pasti merem juga.
Ucapan salam juga ketukan pintu tidak kunjung ada balasan hingga Andika memberanikan diri masuk, dengan tersenyum Andika menyelimuti Nasyauqi yang sudah jadi istrinya yang masih dalam hitungan hari.
Sebelum Andika merebahkan diri di samping istrinya selepas berdoa dia mencium kepala Nasyauqi yang masih tertutup hijabnya, Nasyauqi yang terlihat sangat lelap dalam tidurnya dengan pendingin alam yang mulai dapat dirasakan, karena tempat tinggal Andika di perbukitan maka pada malam hari akan turun kabut.
Tanpa terasa Andika pun sudah terlelap memeluk Nasyauqi yang sudah terlebih dulu masuk ke alam mimpinya.
Karena sudah terbiasa Andika bangun di sepertiga malam dia sudah terbangun seiring angin malam membawa wewangian dari taman yang ada didepan jendela kamarnya, dan dilihatnya bunga mawar nampak bermekaran hingga membuatnya ingin memberikan kesan romantis di kamarnya.
Andika memetik beberapa kuntum mawar yang tumbuh, pohon mawar yang merambat itu tingginya hampir setengah tinggi badannya, hingga ranting yang penuh duri itu menggores punggungnya dan meninggalkan bekas.
Dan bunga itu disimpannya diatas meja dalam vas hingga kamar terlihat ada kesan romantis menurutnya, Andika membersihkan diri sebelum menjalankan ibadah malamnya.
Saat keluar dari kamar mandi Andika berpapasan dengan abinya yang tersenyum dan menggodanya,yang tanpa di fahami oleh Andika apa maksud candaan Abi.
"Mas...apa uma tidak mengajarkan kelembutan.." tanya abinya dengan menggoda yang tidak di mengerti oleh Andika yang masih telanjang dada yang memegang handuk di salah satu tangannya.
"Loh..ko uma..dibawa-bawa.." ujar uma yang baru saja keluar kamar.
"Itu..lihat.." abinya menunjukkan goresan di punggung Andika yang menyerupai cakaran kuku.
"Mas..mas.." ujar umanya menepuk pundak dan melihat goresan itu dengan tersenyum.
Andika sendiri bingung apa yang abi dan umanya katakan, sebab dirinya tidak melakukan apa-apa memang ada rasa perih di punggungnya saat tersiram air tadi dan itu yang dia rasakan.
"Sudah..sana..kalau mau sholat..." ujar umanya yang masih tersenyum.
"Biar..kita cepat punya cucu.." ucap abi sebelum masuk ke kamarnya.
Sebelum subuh Nasyauqi terbangun mendengar sayup-sayup suara Andika membaca al-qur'an dan sapaan lembut dari seseorang yang mengetahui dirinya terbangun.
"Assalamualaikum..ya..ruuhi (belahan jiwa) " ucap Andika pada Nasyauqi yang terlihat bingung.
"Waalaikum salam..kak.." balasnya dengan malu.
Andika menghampiri Nasyauqi yang masih terlihat berbaring di tempat tidur, Andika mengusap lembut pipi Nasyauqi dan mencium kepalanya.
"Boleh..minta sesuatu.." pinta Andika yang memandang Nasyauqi masih malu.
"Jangan panggil kakak..lagi ya..ruhi.., panggil saja mas.." pinta Andika.
"Tapi..kan.." ujar Nasyauqi terdengar manja.
"Mas..bukan kakak..ruhi.." ujarnya dengan membangunkan Nasyauqi dari posisi berbaringnya.
"Mau..mas siapkan air hangat.." Andika menawarkan pada Nasyauqi.
"Ga usah..kak,he..he..maaf mas.." dengan malu Nasyauqi menutup mulutnya.
Nasyauqi melihat mawar segar di meja dan hanya tersenyum Andika sendiri memberikan handuk pada Nasyauqi.
"Biar..segar.." pinta Andika meminta Nasyauqi untuk membersihkan diri.
Tidak beberapa lama Nasyauqi di kamar mandi dan Andika sendiri sudah bersiap untuk ke masjid, dan usapan lembut di pipi Nasyauqi yang Andika berikan.
__ADS_1
"Mas..ke masjid dulu..ya.." ucap Andika sebelum pergi.
Nasyauqi hanya mengangguk dan bersiap untuk sholat sunah sebelum subuh menjelang.
Selepas sholat subuh Nasyauqi berada di dapur tapi bingung mau masak apa, dia merapikan piring dan perabotan yang lain, dia memeriksa beberapa bahan yang ada di dapur tersedia telor, terigu dan beberapa bahan makanan yang lain dan memang dasarnya dia pintar dan memang itu dunianya dia membuat beberapa bahan makan menjadi sesuatu yang enak di makan pagi hari.
Wangi aroma kue tercium hingga uma keluar dari kamar selepas sholat dan terlihat kue-kue cantik menggoda selera.
Uma di buat bingung dengan semua kue-kue yang menurutnya semua enak dan seorang diri Nasyauqi membuatnya.
Nasyauqi sendiri masih sibuk menggoreng yang menurut uma kapan dia menyiapkan semua ini sedangkan ini masih terlalu pagi.
"Sayang..kapan semua ini..di siapkan.." tanya uma yang membuat Nasyauqi malu.
"Maaf..uma dapurnya Nasya..acak-acak.." ucapnya dengan rasa bersalah.
"Uma senang..ajari..uma ya.." uma memeluk pundak Nasyauqi.
"Boleh..uma coba.." pinta uma mengambil salah satu kue.
"Ehm..enak..sayang.." ujar uma dengan masih menikmati kue bikinan Nasyauqi.
"Assalamualaikum..uma..masak apa sih..wangi banget.." tanya abi baru pulang dari masjid.
"Waalaikum salam..bukan uma bi..menantu..yang masak.." ujar uma menjelaskan.
Uma menyiapkan minuman untuk abi, Nasyauqi membawa kue-kue ke meja yang membuat abi bingung sebab sepagi ini sudah banyak kue tersedia.
"Sayang..sebanyak ini..neng buat sendiri" tanya abi dan hanya senyum yang Nasyauqi berikan.
"Assalamualaikum..wah..enak nih.." ucap Andika mendekat.
"Waalaikum salam.." jawab bersamaan abi uma juga Nasyauqi.
Nasyauqi kembali ke dapur dan kembali membawa hasil karyanya yang makin membuat seisi rumah bingung.
"Sayang..siapa yang akan menghabiskan semua ini.." goda abi yang menikmati kue-kue buatan Nasyauqi.
Andika hanya tersenyum sebab dia tahu kepandaian Nasyauqi dalam membuat kue-kue walaupun seorang diri.
Sarapan pagi hari ini dengan kue-kue bikinan Nasyauqi yang menurut abi adalah kue modern itu yang beliau katakan sebab namanya susah menurutnya, hanya tawa kecil yang Nasyauqi tunjukkan.
Andika membantu Nasyauqi merapikan dapur yang beberapa waktu lalu jadi medan perang untuk menghasilkan kue-kue lezat penggoda selera di pagi hari untuk menemani teh hangat atau kopi.
Uma senang melihat anak menantunya saling membantu hingga dia terharu yang menghapus air mata di sudut matanya, dan berharap ujian dan cobaan menjauh dari keduanya doa tulus dari hatinya untuk keduanya.
__ADS_1