
..."Aku percaya semua bermuara pada kita dari niat, keikhlasan menjalani dan kepasrahan karena sang pemilik maha tahu" Rendra....
Rendra seperti biasa selepas sholat zuhur bersantai di ruang kerjanya, melihat status chat dari anak perempuannya yang sedang bersama suaminya terlihat senyum Rendra melihat anak perempuannya menikmati pemandangan alam pagi digunung.
Ternyata bahagia itu tidak harus yang mewah itu yang ada di pikiran Rendra sebab terlihat wajah bahagia dari putrinya yang sudah berstatus istri yang hanya menikmati pemandangan alam gunung di pagi hari sudah membuatnya senang.
Terlihat beberapa chat dari keluarga yang memberikan tanggapan yang membuat Rendra senang " kapan kehadiran junior " dan balasan dari putrinya cukup bikin Rendra tersenyum " belum juga di gol sudah ditanya kapan ada junior, seneng-seneng dulu..lah" Rendra senang putrinya bersama orang yang tepat yang selama ini dirinya berdo'a agar anaknya berjodoh dengan orang yang dekat dengan tuhan.
Siang ini tidak seperti biasa itu yang Rendra rasakan, kawan satu tim yang biasanya datang ke ruangannya yang biasanya sekedar cerita atau obrolan santai hari ini tidak, Rendra pikir mungkin ada kepentingan lain.
Rendra kembali melanjutkan kerjanya memeriksa beberapa file juga melihat jadwal beberapa pertemuan yang harus di hadiri, terdengar langkah kaki tergesa menuju ruangan Rendra.
Suara ketukan pintu dan salam bersamaan yang membuat Rendra mengangkat wajahnya melihat dan menjawab salam dari seseorang itu, ternyata ajudannya.
"Assalamualaikum..siang..let.." ucapnya dengan diiringi hormat pada Rendra.
"Waalaikum sala..siang.." balas Rendra masih santai dan masih memegang benda pipi lebar di mejanya.
"Let...ada kabar duka..putri pak Farel mengalami kecelakaan tunggal membawa mobil dan mobilnya terbakar.." ajudan Rendra menjelaskan yang membuat Rendra lemas membayangkan kejadian yang sama menimpah putrinya.
Ajudan Rendra mengerti bagaimana rasanya sebab dia saksi mata bagaimana Rendra menyelamatkan putrinya yang hampir tidak dikenali seandainya saja tidak mengunakan pakaian dinasnya juga chips yang dikenakan Rendra untuk anaknya.
Rendra dan ajudannya satu pemikiran betapa hebatnya orang tersebut menghilangkan nyawa orang lain dengan menghilangkan jejak seakan-akan ini dibuat sewajar mungkin kecelakaan biasa.
Rendra tersenyum sinis yang dimengerti oleh ajudannya yang banyak menyimpan rahasia, bukan Rendra tidak ingin berbagi pada kawan timnya tapi ini berbeda antara kedinasan, pertemanan juga privasi sebab nyawa taruhannya terutama putri tercintanya yang harus dilindunginya.
Kawan satu tim Rendra hanya tahu dirinya berduka kehilangan putrinya, diluar itu mereka tidak tahu sebab luaran sana masih ada seseorang yang masih menyimpan rasa pada Rafiq sedangkan Rafiq sendiri setahu Rendra seperti kecewa kehilangan seseorang itu yang Rendra tahu dari beberapa sumber yang bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Rendra dan ajudan mendatangi Farel yang saat ini berada di rumah sakit untuk mengurus kepulangan jenazah putrinya, Farel sangat berduka itu pasti terlihat dia begitu kacau dari wajah dan bahasa tubuhnya.
Kawan tim menemaninya untuk memberikan dukungan bahwasanya dia tidak sendiri ada kawan yang memberikan kekuatan untuknya.
Panji yang duduk di sebelah Rendra yang tertunduk sepertinya dia memikirkan sesuatu yang dia sendiri masih seperti meraba-raba apa mau dari si pelaku, demi kepuasan semata atau menginginkan semua pesaing yang menyukai Rafiq menghilang dari bumi.
"Sabar..bro.." tepuk Panji di pundak Rendra yang sedikit terkejut.
"Terimakasih.." balas Rendra singkat, Rendra tahu Panji mengira dirinya masih berduka seperti yang Farel rasakan.
__ADS_1
Kamar jenazah ramai dengan kawan Rendra yang menenangkan Farel saat di ijinkan melihat untuk terakhir kalinya jenazah putrinya sebelum di tutup kain kafan sebab tidak mungkin dibawa tanpa peti tubuh putri Farel hangus hingga tidak dapat di kenali.
Farel hampir pingsan begitu keluar yang dipapah oleh Alfa dan Ifan yang sedari pagi berada di rumah sakit, Rendra sendiri baru di beri tahu oleh ajudannya bukan tidak mengabarkan pada Rendra tapi masing-masing langsung mengurus jenazah dan mengkonfirmasi kebenarannya soal benar atau tidak yang berada di dalam mobil anak Farel jadi harus ke kantor polisi juga.
Bagi Rendra ini duka buat dirinya juga sebagai teman seperjuangan, hanya demi cinta mengorbankan nyawa benar-benar di luar akal sehat dan terkesan konyol.
Bukan Rendra berpikir egois disisi lain temannya berduka tapi dirinya berbahagia putrinya bisa selamat dari bahaya itu, memang dua sisi yang sulit tapi bagi ajudan Rendra sudah jadi kawan yang baik yang bisa memposisikan dirinya dimana menjadi atasan dan dimana dia jadi seorang papa untuk anaknya yang saat itu harus diutamakan.
Pemakaman berlangsung dengan baik walaupun meninggalkan duka mendalam dalam hati Farel dan keluarga besarnya begitu juga dengan kawan satu timnya.
Dalam prosesi pemakaman ada yang membuat Rendra menaruh curiga dengan kehadiran wanita yang tidak dikenalnya sebab wanita yang mengantarkan semuanya dari keluarga Farel dan istri tidak ada yang lain setahu Rendra sebab Rendra tahu semua keluarga Farel juga istrinya.
Wanita itu begitu misterius dengan menutup matanya dengan kaca mata hitam dan mengunakan masker dan dari jauh dia menghadiri prosesi itu, tapi ya..sudahlah pikir Rendra tidak baik mencurigainya sebab semua orang berhak datang di acara pemakaman seseorang.
Kini kawan satu tim Rendra berkumpul di rumah Ifan selepas menghadiri pemakaman putri Farel sekedar bincang santai.
"Ko..bisa ya..pintunya tidak bisa di buka.." ujar Panji membuka percakapan.
"Itu..yang gue..pikir.." tambah Ifan yang membawa minuman dan makanan ringan.
"Terus..gimana hasil olah TKP..." tanya Rendra mencari tempat yang nyaman.
"Tragis ya..kejadiannya.." ujar Panji dengan menggelengkan kepala.
"Cil..gimana..anak..loe..masih naksir bocah baru.." Rendra bertanya diluar pembahasan.
"Ga..lah..let..dia sibuk sama sekolahnya yang sebentar lagi sidang.." jawab Alfa menjelaskan keadaan anaknya.
"Serius.." tanya Rendra lagi yang membuat Panji dan Ifan memandang serius Rendra.
"Setahu gue..gitu let..tapi akan gue pastiin..memang ada apa gitu..let.." Alfa sekarang Alfa yang penasaran.
"Ga..apa-apa maksudku biar serius sekolah dulu..apalagi mau persiapan sidang..kan sayang.." ujar Rendra menjelaskan dengan serius agar kawan satu timnya tidak menaruh curiga.
"Kirain ada..apaan sih..loe suka bikin khawatir aja..sih.." Panji dengan menepuk pundak Rendra.
Sebenarnya Rendra mengkhawatirkan anak Alfa tapi bagaimana caranya biar kawan satu timnya tidak menaruh curiga, apalagi Alfa yang polos terkadang suka apa adanya menyampaikan apa yang orang lain tanyakan.
__ADS_1
Rendra berniat undur diri untuk pulang, tapi berniat melaksanakan sholat isya berjamaah terlebih dahulu dan ditemani Alfa menuju masjid, Panji dan Ifan menyusul karena ingin membersihkan diri dulu.
"Alfa..aku serius bertanya..bener..putrimu ga lagi ada hubungan sama Rafiq.." tanya Rendra serius yang membuat Alfa juga serius sebab Rendra tidak pernah memanggil namanya selama ini kalau bukan bocil pasti kamu, tidak pernah namanya.
"Apa..seserius itu..let.." balas Alfa tidak bercanda.
"Tolong cari tahu..secepatnya dan kalau masih kasih tahu aku secepatnya dan bila tidak ada hubungan apapun tetap kabar aku juga..secepatnya.." seru Rendra yang membuat takut sebab Rendra seperti memerintahkan dan tidak ada pengecualian bila Rendra sudah memerintah.
"Satu...lagi jangan bocor..kesiapan pun.." pemerintah Rendra dengan jari telunjuknya fi tunjukkan di bibirnya.
"Siap..laksanakan.." balas Alfa makin dibuat bingung dan banyak pertanyaan diotak Alfa.
Seserius itukah pikir Alfa yang sebenarnya jadi takut sebab Rendra tidak main-main dan Rendra bukan orang yang main-main berbeda dengan kawan satu timnya yang tidak dapat dibedakan mana serius sama bercanda hanya dalam pelaksanaan misi baru mereka serius.
Selepas sholat berjamaah Rendra hendak untuk diri langsung pulang yang diantar Alfa menuju mobilnya berada tapi sapaan seseorang membuatnya harus berbasa basi yang tidak membuatnya nyaman.
"Malam..let..masih..belum pulang.." sapa Rafiq sopan.
"Malam..ya.." balas Rendra yang sepertinya enggan berlama-lama.
Tapi seperti nya Alfa tahu Rendra enggan berlama-lama dengan Rafiq yang Rendra suka memanggilnya anak baru.
"Mba..Can..nungguin..tuh..kasihan.." protes Alfa yang masih seperti dulu menyayangi Candy.
"Maaf..saya harus pulang..seseorang menunggu dirumah.." ujar Rendra dengan senyum ramah.
"Oh..ya..silakan..let.." balas Rafiq dengan sopan.
"Aku..pulang..ya.." ucap Rendra menepuk pundak Alfa.
"Ya..hati-hati salam buat mba..Can, salam kangen.." goda Alfa pada Rendra yang membuat Rendra mengepalkan tangannya.
"Ya..awas ya..bocil..ingat pesanku.." teriak Rendra sebelum menutup pintu mobilnya dan meninggalkan Alfa yang memberikan tangannya melambai.
Alfa langsung pamitan pada Rafiq tanpa basa basi terlebih dahulu menurutnya ada kepentingan lain yang harus secepatnya di kerjakan, yang jelas tugas dari Rendra harus secepatnya di laksanakan dari pada dia akan kena masalah dari Rendra yang selalu membantu dalam hal apapun.
✩★ Note ★✩
__ADS_1
Mohon maaf bisa tolong saya berikan tahukan bab mana yang paling baper buat masukan dalam membuat karya dan ucapan terimakasih yang tidak terhingga untuk kesetiaan masih membaca karya saya, dan mohon maaf bila masih banyak kekurangan dalam penulisan.🙏💕