
..."Sempurna itu tidak untuk kita, sempurna itu hanya milik Allah tuhan pencipta alam semesta meliputi segala isinya" Rendra....
Sudah beberapa hari ini Nasyauqi terlihat murung karena kurang memperhatikan buah hatinya, semua berawal dari pesan kue yang terlampau banyak tidak seperti biasanya dari beberapa intansi perkantoran juga sekolah-sekolah.
Semua urusan rumah juga buah hatinya Andika yang mengurusi, Nasyauqi merasa malu pada suaminya yang bergitu mengerti keadaannya.
Andika tahu Nasyauqi dalam keadaan tidak nyaman, biasanya dia akan sensitif tidak banyak bicara seperti itu biasanya yang dia lakukan dan tidak mau berinteraksi dengan orang, dia lebih memilih berdiam diri.
Kalau sudah seperti ini anak-anak tidak banyak bertanya lebih memilih mendekat pada Andika, seperti itulah Nasyauqi tapi buat Andika dia tetap yang sempurna sebab dari kekurangannya itu dia berusaha untuk jadi sempurna dalam arti dia tidak ingin rasa kesal yang ada dalam hatinya akan berakibat menyakiti orang didekatnya karena itu dia memilih diam.
"Seger bener.." Andika basa basi pada Nasyauqi yang masih terlihat tidak nyaman.
Nasyauqi hanya tersenyum yang dipaksakan dan Andika tahu itu, dengan lembut Andika mengusap pipi Nasyauqi.
"Mas.." Nasyauqi memeluk satu tangan Andika yang sepertinya dia ingin seseorang ada untuknya.
"Ya..ruhi.." seru Andika dengan memandang Nasyauqi penuh cinta.
Nasyauqi sudah tidak tahan menumpahkan tangisnya dan menundukkan wajahnya.
"Menangislah jika itu mampu mengurangi beban hatimu ruhi.." pinta Andika yng membuat orang yang paling di cintanya makin menumpahkan tangisnya.
Andika memeluk dan mengusap punggung Nasyauqi lembut, berlahan Nasyauqi lebih tenang berbeda dengan keadaan awal.
"Gimana sudah lebih baik..ruhi.." Andika bertanya dan anggukan kepala yang Nasyauqi berikan.
"Apa..yang membuat ruhi..tidak nyaman.." tanya Andika dengan melepaskan pelukannya.
"Mas..maafkan aku ya..mas yang sibuk hingga melupakan tanggungjawab..aku sebagai istri.." ucap Nasyauqi yang mendekap di dada bidang Andika.
"Oh..seperti itu ga ada masalah buat mas ruhi..mas akan bantu selama mas bisa jangan sedih dan menyalahkan diri sendiri lagi ya.." pinta Andika mengusap lembut kepala Nasyauqi.
"Tapi kan..itu tugas aku mas.." Nasyauqi menjelaskan pada Andika.
"Semua bisa kita bicarakan dan mas ga mau semua ruhi harus kerjakan sendiri dan mas bisa bantu..ga masalah buat mas..jangan sedih lagi ya.." Andika meminta Nasyauqi menuruti kemauannya.
"Tapi ga marahkan sama aku.." rengek Nasyauqi dengan tertunduk.
"Ha..ha..siapa juga yang mau memarahi orang tersayang mas..siapa sini menghadap mas.." Andika ingin menghibur Nasyauqi dengan candaannya.
"Ih..mas..aku serius.." Nasyauqi masih dengan manja pada Andika.
"Iya..ruhi mas ga ada marah ko.." ujung kepala Nasyauqi di cium Andika.
"Bunda.." teriak Aisyah yang lari lalu mendekap Nasyauqi.
"Iya..sayang ada apa.." tanya Nasyauqi pada putrinya yang baru saja mendekat.
"Ais mau makan tapi disuapin bunda.." pinta Aisyah dengan merengek.
Andika langsung menuju meja makan dan mengambil menu yang diminta Aisyah dan memberikan piring yang sudah berisikan menu pada Nasyauqi, dan Aisyah sudah menikmati usapan dari tangan Nasyauqi.
Andika memberikan senyum pada Nasyauqi yang penuh arti, Nasyauqi seperti mengerti dari senyum yang Andika berikan.
Nasyauqi bersyukur dipertemukan dengan Andika yang baik yang selalu menutupi kekurangannya hingga bisa terlihat sempurna bila bersamanya, dengan caranya yang sederhana Andika memberikan dan menunjukkan rasa cintanya itu yang membuat dirinya berbeda dengan lelaki lainnya itu yang Nasyauqi rasakan.
__ADS_1
Dan rasa itu masih tetap sama walaupun sudah berjalannya waktu, tetap Andika yang tulus, sederhana dan apa adanya.
Di tempat yang tidak bisa terjangkau mata Nasyauqi, Nisrina di buat khawatir dengan perubahan sikap dari putranya yang sudah beberapa hari ini susah makan dengan alasan belum lapar dan dia lebih suka diam di kamarnya dari pada ikut bergabung bersama keluarga kakek dan neneknya.
Nisrina sebenarnya tidak ingin berbagi dengan suami tercintanya tapi suami tercintanya terlalu pekan terhadap perubahan dari sikap istrinya tanpa harus menunggu lama Indra sudah bisa membaca adanya perubahan dari sikap istrinya.
"Kenapa..sih..cantiknya jadi hilang..ya assali.." goda Indra pada Nisrina.
"Ga..ko..mas.." Nisrina menutupi keresahan hatinya.
"Sudah mendingan cerita dari pada mas yang cari tahu.." Indra dengan mengusap pipi Nisrina lembut.
"Mas..mas Akhtar sudah beberpa hari jadi pendiam dan susah makan.." ujar Nisrina menjelaskan pada Indra.
"Oh..mas Akhar..iya..mas akan tanya langsung padanya.." Indra ingin menenangkan istrinya.
"Mas kira mas ada salah sama ya..assalii.." Indra tanpa malu menjelaskan apa yang dirinya rasakan.
"Apaan sih mas.." Nisrina merasa malu pada Indra.
"Mas..ke kamar Akhtar dulu ya..asslii.." seru Indra meninggalkan Nisrina.
Indra menghampiri Akhar yang berdiam diri dengan banyak melakukan aktivitasnya di kamarnya yang tidak seperti biasanya menurut Indra.
"Assalamualaikum..mas.." ucap Indra pada putranya yang sedikit terkejut dengan kedatangan papanya.
"Waalaikum salam..pa.." jawab Akhtar dengan mengusap dadanya.
"Maafin papa bila membuat mas kanget.." balas Indra dengan mengusap kepala putranya lembut.
"Ga..pa..cuma mengerjakan tugas sekolah saja.." balasnya apa adanya.
"Oh..ya..boleh papa bicara sama mas..?" Indra mencari tahu apa yang telah terjadi pada putranya.
"Ya..pa..." Akhar bingung sebab semua biasa saja hanya ada masalah sedikit dengan teman sekolahnya.
"Ada apa mas..bicaralah papa akan dengar.. kata mama mas ga mau makan kenapa mas.." Indra lebih ingin putranya berbagi padanya.
"Ga..ada apa-apa pa.." maksud Akhar menutupi masalah yang dia hadapi tapi Indra sudah bisa melihat putranya tidak baik-baik saja.
"Sudahlah bicaralah mas papa akan dengar mas.." pinta Indra dan Akhar sepertinya terpojok mau tidak mau dia harus berbicara pada papanya.
"Pa..mas ga nyaman di sekolah..sepertinya anak-anak banyak yang bilang aku terlalu cakep hingga banyak anak cewek yang suka sama mas pa.." Akhar menjelaskan masalahnya, tapi apa yang dia dapat Indra tertawa mendengar penjelasan dari Akhar.
"Mas..biarkan saja apa yang mereka bilang.." Indra masih dengan tertawanya berucap.
"Ih..papa..ga merasakan seperti yang mas rasain sih.." Akhar melipat de dua tangannya didadanya dengan muka ditekuk.
"Jagoan papa..masa baru ada yang bilang seperti itu sudah menyerah hadapi..dong baru itu jagoan.." Indra memberikan semangat pada putranya.
"Ga seperti itu papa.." Akhar masih dengan pendiriannya.
"Ok..nanti papa ke sekolah.." Indra berusaha ingin membuat putranya baik-baik saja.
"Ga..gitu juga papa.." Akhar memprotes permintaan papanya.
__ADS_1
"Aku mau mereka berhenti menyukai aku papa.." pinta Akhar yang membuat Indra bingung sebab mana ada larangan orang menyukai seseorang, aturan darimana ini anak pikir Indra dengan menggelengkan kepalanya.
"Ok..akan papa pikirkan.." Indra memutar otaknya tapi belum terlintas dalam otaknya jalan keluar dari pikirannya saat ini.
Setelah beberapa lama akhirnya Indra memberikan ide pada putranya sebenarnya ide konyol tapi bagaimana lagi Indra ingin putranya mau kembali ceria dan nyaman di sekolah.
"Besok mas pergi ke sekolah pake masker bila ada ya g bertanya kenapa..mas bilang sedang flu..ok.." Indra menjelaskan idenya.
"Kenapa harus seperti itu.." Akhar belum jelas maksud dari ide papanya.
"Selama mas pake masker mereka ga da yang melihat wajah cakep mas..benerkan.." Indra memberikan contoh maskernya.
"Oh..iya..ya papa.." Akhar memeluk papanya senang.
Seperti itulah Indra dan Nisrina kedekatannya dengan putra pertamanya yang sudah sekolah dasar, dia tumbuh menjadi lelaki yang bukan lagi anak kecil tapi tumbuh jadi anak baru gede yang tampan dan terlihat berkharisma.
Di tempat lain Rendra yang sangat sibuk dalam kedinasan sehingga waktunya hampir habis hanya untuk urusan dinas dan sedikit waktu untuk orang tersayangnya yang sangat memperhatikan kedua orang tuanya.
"Honey..maafkan mas yang sedikit waktunya memperhatikan honey.." Rendra berucap dengan memeluk Candy dari belakang di dapur saat Candy merapikan dapur.
"Apaan sih..mas Can mengerti ko kesibukan mas..ga usah mikir yang aneh-aneh mas.." Candy menenangkan Rendra.
"Tapi honey mas merasa bersalah.." ujar Rendra dengan menempelkan dagunya di pundak Candy manja.
"Mas..Can tahu maksud mas akan ada waktu nanti buat kita berdua mas.." Candy menenangkan Rendra yang merasa bersalah.
Rendra merasa nyaman mendapatkan penjelasan dari Candy yang memahami kesibukannya.
"Terimakasih honey.." Rendra makin memeluk Candy erat.
Sepertinya enggan dirinya melepaskan pelukannya untuk orang tersayang yang sangat mengerti akan kondisi kesibukannya ditempat dinas.
Candy yang pengertian dan tidak banyak menuntut membuat Rendra semakin menyadari dirinya tidak salah memilih dirinya untuk ibu dari anak-anaknya dan menantu untuk orang tuanya.
Waktu-waktu yang dilaluinya bersama dirinya selalu saja indah untuk di kenang baik suka maupun duka, ketulusan cinta yang diberikan pada Rendra semakin dalam yang awalnya dia sendiri ragu sebab dari status sudah jelas-jelas berbeda jauh.
Candy yang kurang berinteraksi dengan orang selain kawan sekolahnya dia lebih jadi anak rumahan dari pada bergaul ini membuat Rendra menyukai dirinya.
"Loh..ko bengong sih mas.." Candy menegur Rendra yang menatap kosong.
"Ga..ko..hanya menikmati indahnya bidadari surga yang nyata.." dengan senyumnya Rendra yang diberikan pada Candy yang malu.
"Mas..mas masih saja mengombal.." Candy membalas senyum Rendra dengan mengalihkan pandangan.
"Ga..usah malu...biasa saja..honey.." Rendra masih dengan candaannya.
"Udahlah mas.." Candy tidak mau terus di goda Rendra.
Dan keduanya tertawa bersama, entah kenapa waktu seakan tidak berubah untuk keduanya yang sudah tidak muda lagi tapi tetap seperti yang dulu awal keduanya di pertemukan.
Keduanya lebih dari sekedar seorang yang saling mengerti dan memahami, hubungan keduanya lebih dari sekedar suami istri sudah bisa di bilang seperti teman juga saudara jadi tidak lagi ada jarak.
Rasa nyaman pada pasangan ini yang membuat keduanya dekat dan sangat dekat, karena ketulusan menerima pasangan itu kunci keduanya dapat menjalankan perjalanan pernikahan keduanya hingga tidak ingin terpisahkan.
Dukungan keluarga juga berpengaruh pada keduanya dalam ikatan pernikahan yang langgeng, sebab menikah bukan untuk keduanya saja tapi dua keluarga berbeda yang disatukan disini dibutuhkan pengertian dan memahami agar bisa kedua pasangan ini tetap dalam satu ikatan.
__ADS_1