
..."Banyak belum tentu cukup, sedikit belum tentu kurang hanya satu kuncinya bersyukur " Rendra...
Tanpa terasa kehamilan Nasyauqi sudah masuk tahap kelahiran, ruang gerak Nasyauqi semakin terbatas ini yang membuat Andika makin lebih intens mengawasinya.
Seperti sore menjelang malam ini, Nasyauqi masih sibuk di dapur toko kuenya untuk membantu chef memenuhi pesanan esok hari yang akan diambil sebelum jam operasional toko berlangsung sebab kue akan di perlukan untuk acara meeting pagi.
"Ruuuhi.." panggil Andika seperti dia sangat khawatir sebab Nasyauqi sudah dengan keringat bercucuran.
Nasyauqi hanya memberikan senyumnya yang membuat Andika langsung mengambil alih tugasnya.
Andika yang super cekatan hingga kerjaan yang banyak tidak butuh waktu lama semuanya sudah beres begitu juga dengan dapur toko sudah rapi semua sudah pada tempatnya tinggal membersihkan diri.
Setelah membersihkan diri Andika waktunya memanjakan istrinya yang sudah terlihat segar dan bersantai menikmati senja yang akan pulang keperaduan yang terlihat indah.
"Eeem..mah.." suara ciuman dari Andika mampir di pipi Nasyauqi yang sedikit terkejut.
"Mas.." balasnya dengan menatap Andika yang sudah terlihat fres setelah membersihkan diri.
"Makin..cantik.." goda Andika dengan mencium kepalanya yang tertutup hijab.
"Mau..makan apa.." tanya Andika pada istrinya dengan memegang tangannya.
"Ice cream tapi di mall makannya.." pinta Nasyauqi dengan manja.
"Ok..tapi tunggu mas..siapkan mobil.." Andika langsung ke arah letak mobil dan meminta pegawai Nasyauqi untuk menutup toko seperti biasa tidak perlu menunggu keduanya kembali.
Berhubung mall tidak terlalu jauh letaknya keduanya sudah berada di dalam mall dan langsung menuju stand ice cream yang Nasyauqi mau, Andika sangat senang melihat Nasyauqi begitu menikmati ice cream yang dipesan Andika sesuai keinginannya.
"Hai..mas.." seseorang yang sudah lama tidak berjumpa dengan Nasyauqi dan Andika tapi dirinya tidak mengenali Nasyauqi.
"Hai..sendiri.." balas Andika yang Nasyauqi sendiri ingin menyapanya karena rindu dengan sosoknya yang telah lama tidak berjumpa.
"Iya...siapa..mas.." tanya Intan pada Andika dengan sedikit memelankan suaranya.
"Oh..ruhi..maaf..maksud saya istri saya..kenalkan..tan.." ucap Andika seperti memberikan kode pada Nasyauqi.
"Nasyauqi.." ujar Nasyauqi dengan sedikit ada rasa sedih tidak bisa menjelaskan siapa dirinya.
"Intan.." masih belum percaya dengan apa yang di lihatnya, mata dan senyuman yang Intan lihat seperti yang dia kenal dan sangat di rindukannya.
"Tan..you ok.." tanya Andika dengan sopan sebab Intan sedikit berkaca-kaca.
Intan langsung menangis dan di peluk oleh Nasyauqi untuk menenangkan Intan yang makin terisak merasakan rindu akan seseorang yang lama di kenalnya tapi pelukan Nasyauqi begitu nyaman sekali seperti orang yang selalu dirindukan beberapa tahun lalu dirinya kehilangan dirinya.
Andika tahu Intan sangat merindukan Ainun yang baik dan selalu di mintai tolong bila ada yang ingin bertemu dengannya kecuali Andika yang telah membuat nyaman hatinya.
__ADS_1
"Mas..aku kangen Ai.." dengan terisak Intan memanggil nama yang sebenarnya sedang menenangkan dirinya.
"Sabar..ya.." pinta Andika dengan menenangkan Intan, tapi berbeda dengan Intan yang berpikir Andika sudah bisa move on dari Ainun dengan menikahi Nasyauqi.
"Maaf..saya hanya rindu.." ujar Intan lagi denga sedikit tenang dan melepaskan pelukan Nasyauqi.
"Terimakasih.." seru Intan pada Nasyauqi dengan tersenyum yang dipaksakan.
"Sama-sama..anggap saja saya Ai..nya mba.." goda Nasyauqi dengan tersenyum yang termanis dia miliki, yang membuat Intan makin merindu sosok Ainun.
Intan kembali memeluknya dan makin menangis mengingat kebersamaan dengan sosok yang sangat dirindukannya, yang cuek, tegas dan suka apa adanya.
Nasyauqi larut dalam nostalgia yang sebenarnya tapi Intan tidak tahu, Nasyauqi juga rindu kepolosan Intan bila harus menemani Fatur juga Rafiq yang tidak tega untuk mengusirnya pulang bila Ainun enggan menemuinya.
"Mana..pasangan mu.." tanya Andika dengan spontan.
"Itu.." dia menunjukkan sosok yang sangat dikenal oleh Ainun mas Ifat dia anak dari om Ifan kawan satu tim Rendra papanya.
Bahagianya Ifan yang baik di pertemuankan dengan Intan yang sangat baik menurut Nasyauqi, ingin rasanya Nasyauqi menyapa mas Ifat tapi apa daya dirinya ingin tetap nyaman seperti permintaan papanya.
"Mas..kenalkan.." pinta Intan pada Ifat yang memperkenalkan diri pada Nasyauqi dan Andika.
Setelah berkenalan keduanya tidak lama melanjutkan keperluannya yang jelas Nasyauqi senang Intan bersama orang yang baik seperti Ifat dan memiliki keluarga yang baik seperti Ifan dan Vera yang baik hanya memiliki Ifat anak semata wayangnya.
"Ruhi...kenal.." tanya Andika dengan menggandeng tangannya menuju mobil untuk pulang.
"Ya..mas Ifat sudah seperti mas buat aku.." dengan sedikit sedih Nasyauqi menjelaskan siapa Ifat yang membuat Andika seperti bersalah.
"Maafkan..mas..ruhi...maafkan..mas.." Andika merangkul pundak Nasyauqi menenangkan.
"Ya..mas..aku hanya..terbawa suasana saja ko.." Nasyauqi menjelaskan yang membuat Andika sedikit tenang.
Sepanjang jalan pulang Nasyauqi hanya diam tidak banyak bicara, seperti ada rasa marah dalam dirinya yang tidak biasa dia lampiskan atau pengaruh hormon bumil yang jelas dia merasa jadi tidak memiliki kawan yang selama ini dia miliki.
Tiap kali bertemu dengan orang dia kenal dia harus jadi sosok asing buat mereka yang sebenarnya itu sangat berat buat Nasyauqi yang dikenal sangat baik pada siapapun.
Andika seakan tahu bumil yang disampingnya dalam keadaan tidak nyaman, seperti biasa Andika selalu saja ada ide gila yang membuat Nasyauqi bisa melupakan rasa hatinya yang terkadang tidak menentu.
"Rasanya..mas..kangen..deh sama baby.." dengan satu tangannya Andika mengusap perut Nasyauqi.
"Mas..apaan..sih.." balas Nasyauqi malu dengan memalingkan mukanya ke luar jendela.
"Ga..boleh kangen.." ucap Andika makin menggoda Nasyauqi.
"Kalau kangen bundanya kan tinggal.." Andika mencium pipi Nasyauqi yang membuat Nasyauqi berteriak.
__ADS_1
"Mas..." Nasyauqi terkejut sebab Andika sedang mengendarai mobil.
"maaaf.." ujar Andika sedikit senang membuat Nasyauqi melupakan suasana hatinya.
Tanpa terasa keduanya sudah berada di depan teras rumah dinas yang terlihat sudah terang karena lampu teras ada yang menyalakan.
"Alhamdulillah..kita sampai.." ucap Andika membuka pintu dan membukakan pintu untuk Nasyauqi membantunya turun.
"Terimakasih ayah.." ucap Nasyauqi pada Andika yang terlihat senang dipanggil ayah oleh Nasyauqi.
"Sama-sama..." balas Andika yang menggandeng tangan Nasyauqi berjalan pelan memasuki gerbang rumah dinasnya.
Setelah membuka pintu dan mengucap salam keduanya masuk, Andika kembali ke luar memasukan mobil kedalam garasi dan membawa beberapa tas untuk dibawanya masuk kedalam rumah.
Dilihatnya Nasyauqi yang sudah membersihkan diri dan siap akan sholat, Andika menyengsarakan membersihkan diri dan siap sholat berjamaah dengan Nasyauqi.
Selesai menyelesaikan sholat keduanya kembali melanjutkan membaca al-qur'an, terdengar dari keduanya lantunan ayat-ayat penyejuk jiwa.
Hingga menjelang masuk sholat isya keduanya masih melantunkan ayat suci, dan melanjutkan sholat isya berjamaah sebenarnya Andika ingin ke masjid untuk melakukan sholat berjamaah tapi meninggalkan Nasyauqi saat ini tidak mungkin di kehamilannya yang sudah tinggal menunggu hari kelahiran.
Saat Andika memijat kaki Nasyauqi terlihat wajah Nasyauqi sedikit meringis menahan sakit yang membuat Andika bertanya.
"Baby..berulah..ya.." tanya Andika menghentikan pijatannya.
"Ga..tapi mulas.." serunya dengan sedikit menahan sakit.
"Kita..ke rumah sakit..ya.." pinta Andika pada Nasyauqi dengan muka panik.
"Ga..tunggu dulu..belum waktunya mas.." ujar Nasyauqi dengan pelan menahan sakit.
Andika tidak mau terjadi sesuatu pada istrinya, masih dengan pikirannya yang masih tenang Andika mengemasi tas yang sudah Nasyauqi siapkan untuk keperluan di rumah sakit kedalam mobil dan beberapa keperluan lain dan menghubungi ajudannya untuk menemaninya ke rumah sakit.
"Sekarang..mas.." serunya dengan berpenampilan rapi dan melihat dalam mobil yang terlihat tas-tas yang sudah Andika persiapkan.
"Ya..tunggu aku..membantu ruhi..merapikan diri.." ucap Andika ke bali ke dalam rumah dinasnya.
Nasyauqi yang seakan tahu ini waktunya dirinya akan melahirkan dan tanpa perdebatan dia ikut kata Andika, begitu sabar Andika menggandeng Nasyauqi hingga masuk kedalam mobil dan masih terlihat kuat menahan rasa sakit dari perutnya.
Di dalam mobil Andika sempat menghubungi Rendra dan Candy bahwa Nasyauqi sudah dalam perjalanan ke rumah sakit untuk persalinan.
Ajudan Rendra yang terlihat panik tapi tidak dengan Andika yang terus berdo'a dan sesekali mengusap wajah Nasyauqi karena berkeringat serta mengusap perutnya agar sedikit mengurangi rasa sakit dari perutnya.
Dan tidak lama mobil sudah memasuki rumah sakit dan Andika langsung menggendong Nasyauqi menuju ruang bersalin, tapi hasil pemeriksaan dokter menjelaskan pembukaannya belum sempurna dan di minta menunggu hingga pembukaan lengkap.
Di sini peranan Andika di perlihatkan sebesar apa perhatian dari Andika untuk seorang Nasyauqi yang berjuang untuk kehidupan baru bagi dua buah hatinya.
__ADS_1