
"dolken, lepaskan aku...
" diamlah!
" brakkk.... (suara pintu )
yang membuat dolken tidak menghiraukannya di saat jila berteriak kepadanya beberapa kali ,dengan segera dirinya pun meletakan istrinya itu diatas rajang dengan hati-hati..
"bukankah, aku yang seharusnya menanyakan itu? istriku .. " ujar dolken yang sudah menatap jila yang sudah ada di posisi di atasnya ..
yang membuat jila pun terdiam sejenak dengan wajahnya yang sudah merah merona di pipinya tapi, jila pun dengan sadarnya langsung membalikkan wajahnya
"kau... apa yang kau bicarakan? aku tidak mengerti magsudmu!.. " ujar jila yang kepura-puraannya sembari menutup matanya yang tak ingin menatap dolken yang sudah ada di atas dirinya
"bukankah kau sebelumnya memberikanku kepada Sahabatmu dina? kenapa? apa kau menyesal? .. " tanya dolken pada jila
yang membuat jila pun langsung membuka matanya dan menatap dolken dengan wajah terkejutnya yang mendengar perkataan dolken barusan
"!? apa dia sudah tahu.. (batin jila)
"aku... tidak perlu memberitahumu . . " saut jila dengan wajah juteknya sembari memiringkan tubuhnya
__ADS_1
"baiklah, kalau tidak mau bilang? kalau begitu kau bicaralah dengan suara tubuhmu saja!.. " ujar dolken yang sudah terbangun sejenak dengan sengaja nya membuka jas dan dasinya di lempar di sembarangan arah
yang membuat jila pun terperanjat bangun kaget dan terkejut melihat dolken yang sudah membuka bajunya satu persatu
"apa yang kau lakukan! dolken! masih siang begini, kau ingin.... dolken! . . " ujar jila dengan rasa was-wasnya melihat laki-laki itu yang sudah mulai beraksi
"jangan kumohom.. (batin jila)
"pttttttfffff.... apakah kau pikir ada gunanya, kau memohon belas kasihan sekarang? . . " saut dolken yang sudah mendekati jila dan memegang kedua tangannya dan menckramnya sehingga jila pun terbaring dengan posisi kedua tangannya yang sudah ada di posisi di atas kepalanya..
"wahhh!. dolken apa kau sudah waras.. " ujar jila yang berteriak dengan matanya yang sudah tertutup dengan kesedihan
"jila putri! dasar kau bodoh! tidak bisakah kau melihatku? . . (batin dolken) dengan diamnya menatap jila
jila pun yang mendengar suara itu langsung membuka matanya dengan wajah bengongnya
"aku...
"beritahu padanya! beritahu padanya! kalau kau sangat menyukainya! .. (batin dolken) dengan rasa gugupnya ingin mengatakan perasaannya
yang membuat jila pun masih terdiam dan menatap dolken dengan mata bulatnya
__ADS_1
" aku suka...
tok... tok... tok...
"dolken... buka pintunya, ada hal yang ingin aku bicarakan berdua denganmu, apakah kau bisa memberiku satu kesempatan? dolken... " ucap dina berteriak di luar sana sembari mengetuk pintu beberapa kali
tok... tok... tok...
yang membuat dolken pun mengurungkan niatnya disaat ingin mengutarakan isi hatinya kepada jila yang masih terdiam dan kesal kepada mantan pacarnya itu yang telah merusak mowen keberaniannya di depan jila saat ini..
"hei, kau sebaiknya kau pergi, dolken tidak punya waktu bertemu denganmu!.. " ujar rena yang sudah menghadang dina yang sudah masuk begitu saja
"siapa kau? beraninya kau menghadangku! minggir kau!..
" hei, seharusnya kau yang minggir, kau siapanya dolken, kau tidak pantes berada disini, dengan pakaian mu yang seperti tukang kebun itu, ayo cepat pergi!.. " ujar rena yang tak mau kalah berdebat dengan wanita seperti dina yang mau merusak rumah tangga sahabatnya itu
"aku tidak mau! mingirlah.. " ujar dina dengan cepat membuka gagang pintu kamar dolken dengan wajah terseyum manisnya
"dolken....
krakkk... (suara pintu)
__ADS_1
"maaf, aku tak bisa menghadang nya . . " ucap rena yang sudah menampakan kepalanya saja di depan pintu sembari tersenyum paksa dengan rasa malunya di wajahnya
yang membuat dina pun yang melihat itu langsung terdiam seketika melihat dolken dan jila yang 1 kamar dengan posisi baju yang sudah berantakan di mana-mana