
"zidan, dasar kau tidak waras!! apakah kau tidak mempunyai hati nurani mu? ibuku sudah tua, tapi kau malah menendangnya begitu saja hah! kau benar-benar sudah buta ! apa kau sudah lupa ibuku selalu memperlakukanmu seperti anaknya sendiri! dan beberapa sering ibuku selalu membawakan makan untuk mu disaat kau susah dulu! zidan dasar kau biadab , kau tidak akan mati tenang ! " triak jila dengan caci makiannya menujuk-nujuk mantan sekaligus musuhnya itu dengan jarinya sembari berjalan menghampirinya dengan wajah marahnya, yang membuat supir itu pun berjalan menahan majikannya yang ada disampingnya agar tidak gegabah dengan orang yang begitu banyak di sekelilingnya yang sudah menatapnya tajam kepada mereka
"hmph... aku biadab?! jila, kau tidak perlu mengajariku disini! aku juga tidak akan mati begitu mengenaskan! biarkan aku mengatakan yang sebenarnya terjadi hari ini! , sebenarnya , dulu orang yang aku sayangi dan aku cintai adalah dina, bukan kau jila! jika buka karena khawatir dina bersedih maka dengan terpaksa aku mengiyakannya, apakah kau pikir aku bersedia dengan wanita jelek kurus dan berdada rata konservatif sepertimu? "saut zidan dengan tatapan tak sukanya melihat jila yang begitu galak dan angkuh sembari melipatkan kedua tangannya didadanya, yang membuat jila pun terdiam sejenak menatap zidan dengan wajah marahnya
"bagus, bagus sekali! Tuhan maha Tahu dan punya mata ! untungnya aku tidak pergi denganmu yang seperti bajingan itu, justru itu adalah keberuntunganku bisa menikahi laki-laki yang super kaya dan lebih ganteng dari mu disaat itu..?! " cibir jila yang tak mau kalah berdebat yang membuat dina pun yang mendengarnya sangat terpancing dengan wajah kesalnya sembari mengempalkan tangannya yang di tertahankan
"awas kau jila!! (batin dina) yang sudah mengambil minumanya
"baiklah, sudah cukup! mari kita bersulang , hidup dan mati kita tidak akan bertemu lagi, bukan? "saut dina dengan santainya meminum minumannya dengan santai yang membuat zidan pun yang sedikit ragu melihat dina yang sudah meminumnya lebih dulu sampai habis , dan zidan pun yang tak ragu lagi langsung mengambil minumannya dan langsung meminumnya hingga abis , yang membuat dina pun tersenyum kemenangan menatap zidan yang sudah berdiri disampingnya
__ADS_1
"baiklah, kalau begitu dengan segelas arak ini akan benar-benar mengakhiri segalanya! . . " ujar jila dengan rasa marahnya langsung mengambil minumannya dan tanpa pikir panjang lagi jila pun langsung meminumnya hingga abis yang membuat dina pun lagi-lagi tersenyum bahagia dengan kemenangannya yang telah direncanakannya sebelomnya
"untung saja aku sudah menambah kan obat perangsang pada arak itu bersama zidan, selama obat itu berkerja , mereka berdua akan bercinta begitu hebat , dan saat itu aku akan mengambil potonya . . maafkan aku jila karena kau juga aku jadi begini! . . (batin dina) yang sudah tersenyum licik sembari memperhatikan dan melihat jila dan zidan yang sudah ada didekatnya
"eh? arak ini.. kenapa tidak ada rasa sama sekali? apa ini air putih?.. (batin jila) yang terdiam sejenak sembari memperhatikan isi cangkirnya dengan wajah herannya
tak berselang lama...
"ah? apa yang terjadi? kenapa seluruh tubuhku terasa panas.... ahhh!!! tidak! tidak! ahhh!..(batin dina) yang sudah merasakan sekujur tubuhnya yang sudah memanas dengan nafasnya yang sudah tersenggal-sengal yang sudah terjatuh duduk di tanah sembari memegangi tubuhnya
__ADS_1
"kau... apa kau yang memasukan obatnya? " tanya dina dengan nafas mengebu-ngebunya menatap zidan yang sudah merasakan yang sama seperti dirinya yang sudah membuka jasnya dan dilempar ke sembarangan arah dengan tubuhnya yang semakin panas tak tertahankan
"aku... ah!!... tubuhku!.. ah.!! " saut zidan yang sudah menampakan wajah merahnya yang tak bisa ditertahankan yang sudah membuka seluruh kancing kemejanya, yang membuat jila pun terdiam memperhatikan mereka yang sedikit aneh
"kenapa mereka berdua? aneh sekali? tidak benar apa arak itu... (batin jila) yang masih terdiam dengan pikirannya saat ini dengan wajah bengongnya
"ahh!! dan kenapa kau baik-baik saja ? kapan kau menukar araknya? "tanya dina yang masih dengan kesadarannya menatap jila dengan wajah heran bercampur penasarannya yang sudah menahan tubuh panasnya itu semakin bergejolak
"melihat dari tampang mereka berdua sepertinya mereka diberi obat oleh orang, tapi arak itu bukankah dina yang memberikannya tadi? apa jangan-jangan , arak yang sudah dimasukin obat itu adalah untukku, tapi malah dina yang meminumnya sendiri? .. (batin jila) dengan wajah terkejutnya yang baru sadar dengan pikirannya itu yang dari tadi bertanya-tanya dengan wajah bingungnya , yang membuat dina pun yang masih setengah sadarnya menatap zidan yang sudah kelimpungan yang ingin menghampiri dirinya dengan tubuh pasrahnya
__ADS_1
" zidan, tunggu! bukankah kau ingin bersamaku? sekarang aku memberimu kesempatan, kau harus perkosa jila ! nodai tubuhnya sampai. kau puas , baru aku bisa pergi bersamamu!"pinta dina dengan menahan tubuhnya yang semakin memanas bergejolak disekujur tubuhnya yang sudah menidih seperti air rebusan , yang membuat jila pun terkejut mendengar permintaan dina pada zidan yang sudah tak sabarannya, yang membuat supir itu pun sangat panik dan cemas yang sudah ditarik dan dipegang begitu kuat oleh beberapa perman yang sudah menyodorkan pistolnya ke arah kepalanya , dan di pojokan sana rose pun tersadar dari pingsannya sembari melihat putrinya yang samar-samar dalam bahaya
"jila... " gumam rose dengan suara pelannya sembari menahan rasa sakitnya yang diikat begitu kuat