
"presiden, nyonya , tidak di sangka dapat bertemu dengan kalian disini, aku masih belom meminta maaf secara resmi pada kalian .. " ucap dolken dengan suara lembutnya yang sudah berdiri di depan kedua orang yang terhormat yang membuat jila pun terkejut dengan suara tak asing baginya yang sudah berjalan masuk ke ruangan itu
"dolken masih belom tahu kalau jila begitu perhatian dan sudah datang lebih dulu.. " bisik presiden itu kepada istrinya yang amat senang sekali yang membuat jila pun yang sudah masuk dengan wajah terkejutnya melihat dolken dari belakang
"dolken?
" kenapa dia datang kesini?.. (batin jila) yang sudah berdiri di samping nya yang sudah di tatap olehnya dengan wajah dinginnya
"aku.... " ucap jila yang tiba-tiba berhenti bicara di saat sorot matanya semakin tajam di saat menatap dirinya yang begitu sangat menakutkan yang membuat jila pun sedikit gugup
"dia kenapa lagi? kenapa matanya begitu menyeramkan?..(batin jila)
"dokter bilang kalau tubuh jila masih perlu di rawat, apakah aku bisa membawanya kembali dulu dan kemudian mengunjungi kalian berdua sendrian?
"tentu saja boleh, masalah ini awalnya memang adalah sesuatu yang kami abaikan . . " ucap presiden itu yang sudah mengizinkan dolken membawa istrinya itu
"kalau begitu kami undur diri terlebih dahulu! lain hari kami pasti akan mengundang presiden dan nyonya untuk berkeliling melihat pemandangan indah disini. . " ucap dolken yang sudah menggandeng tangan jila dengan senyuman manisnya pada mereka
"kalian hati-hatilah di jalan .. " ucap nyonya presiden itu yang sudah merasa tenang di saat melihat mereka yang begitu romantis yang sudah berjalan pergi jauh dari pandangannya
__ADS_1
beberapa menit kemudian.?
di parkiran mobil yang saat ini sedang menarik jila yang begitu kasar yang membuat jila pun merasa sedikit kesakitan pergelangan tangannya yang sudah di pegang erat oleh dolken yang saat ini sedang kesal padanya
"dolken, apa yang kau lakukan ? lepaskan aku! ini sakit sekali!.. " ucap jila dengan suara kerasnya sembari mengikuti langkahnya yang sudah berjalan yang begitu cepat dengan tangannya yang sudah di gandeng oleh dolken yang begitu erat menuju tempat parkiran mobil yang tak jauh dari mereka yang saat ini sedang berjalan kaki dengan terburu-buru
"ceklek... (suara pintu)
" ahh!! dolken apa kau sudah gila? mendorong ku seperti itu!.. " ucap jila yang sudah duduk di jok depan sembari berteriak melihat dolken dengan wajah kaget percampur kesal padanya yang sudah berdiri dengan angkuhnya
"siapa yang menyuruhmu keluar hari ini? bukankah aku memintamu untuk baik-baik memulihkan diri di rumah sakit?.. " tanya dolken pada jila dengan tatapan tajamnya yang membuat jila pun sedikit ketakutan
"aku....
"Hei, dolken! bisa gak sih gak usah galak-galak ? aku datang kesini hanya untuk bertemu dengan President dan istrinya, bukannya itu semua demi kamu dan group keluarga batara?
"ckk... sebab itu kamu keluar dari rumah sakit untuk bertemu dengan pria lain? . . " ucap dolken dengan wajah kesalnya menatap jila yang sudah bermasang muka kebingungan nya
"pria lain? apa dia gila! meskipun presiden benar adalah pria, tapi dia sudah berumur 50tahun lebih! lagipula ada istrinya di sana ! dan pandangan mata apa itu ? mungkinkah aku bahkan tidak ada hak untuk keluar dan bertemu dengan orang lain . .? (batin jila) yang sudah melihat mata dolken dengan tatapan tak sukanya yang membuat jila pun membuang muka ke arah lain
__ADS_1
" dolken batara, tolong kamu harus cari tahu dulu dengan jelas, untuk apa aku datang hari ini !.. " ucap jila dengan juteknya
"kamu tidak perlu perdulikan masalah ku , masalah dengan presiden tidak perlu kau yang mencampurinya . . " ucap dolken dengan tegasnya yang membuat jilapun yang mendengar itu langsung mengadahkan wajahnya dengan wajah bengong nya tidak percaya menatap laki-laki itu dengan wajah suramnya
"apa yang dia katakan ? aku pikir aku ini siapa? benar! aku, jila putri memangnya siapa? aku hanyalah seorang wanita yang kena kesalahan mengandung anak ini, dan mau tidak mau harus kawin kontrak denganmu! aku mana ada hak untuk memperdulikan masalahmu, baik, kamu bilang tidak usah perdulikan, maka aku tidak akan pernah perduli lagi ! . . (batin jila) yang sudah merasakan sakit hatinya seperti di tusuk duri yang tak berdarah atau berlubang dengan segera jila pun turun dari mobilnya dengan hati-hati dan berdiri sembari mengadahkan wajahnya kepada dolken
"kalau begitu, aku tidak akan memperdulikan masalahmu lagi, apakah kamu puas ? . . " ucap jila dengan suara tegashya menatap dolken dengan dinginya sembari menahan air matanya agar tak terjatuh dari pipinya
"maaf ceo dolken, aku tiba-tiba ingat kalau aku harus kembali ke rumah sakit untuk di suntik! selamat tinggal! .. " ucap jila yang sudah membungkukan tubuhnya di hadapan dolken dan beranjak berdiri lagi dengan cepat dan melangkah berjalan pergi meninggalkan dolken seorang diri yang masih berdiri mematung melihat dirinya , yang membuat dolken pun dengan segera mengeluarkan tangannya dari saku nya yang ingin mencegah jila agar jangan pergi tapi dengan gengsinya dolken pun mengurungkan niatnya yang hanya bisa mengempalkan tangannya yang sudah geregetan melihat jila yang sudah pergi jauh begitu saja tanpa menoleh ke belakang lagi dan dolken pun dengan rasa kesal dan bercampur marah
brakk... brakk... brakk...
dan dia pun melampiaskan tangannya yang sudah memukul -mukul atas mobil yang begitu keras beberapa kali yang membuat tangannya pun yang sudah memar ke biru-biruan
"sialan ! sejak kapan laki-laki itu mengenal istriku ! ? dan pandangan mata laki-laki itu di saat melihat jila pasti ada magsud lain ! sialan, sialan!.. (batin dolken) yang masih kesal dan marah nya mengingat kejadian tadi di depan toilet di saat melihat mereka berdua yang begitu terlalu akrab
di tempat sisi jalan yang sepi dan sunyi yang saat ini jila sedang berjalan seorang diri dengan wajah sedihnya yang tak sadar jila pun mengeluarkan air mata nya yang sudah mengalir di pipi mungkilnya di saat hatinya sedang kesal dan kecewa
"sejak kapan aku menangis? sungguh lucu , aku ternyata bisa menangis karena laki-laki yang telah merusak hidup ku dan masa depanku.. hiks... hiks.... hiks....
__ADS_1