
"apa? kenapa dia tidak mengajakku? " bentak dolken dengan tatapan marahnya kepada seketarisnya itu
"aku, aku juga tidak tahu tuan! aku seharian ini lembur tanpa istrirahat!, apa kau tahu tuan, hitung aset keluarga mahesa sudah dibeli semuanya dalam tiga hari! aahh! kalau begitu caranya apa nyonya muda tidak akan marah ? " saut raja dengan wajah serba salahnya menghadapi majikannya yang angot-angotan yang suka melapiaskan marahnya kepada seketarisnya yang malang itu, yang membuat dolken pun yang mendengar itu langsung terdiam dengan pikiranya
"kenapa memangnya kalau dia Mar.... sudahlah, kita biarkan dulu mereka pergi bertamu kerumah keluarga mahesa! " cetus dolken rasa kesalnya langsung beranjak pergi
"ahhh... baiklah tuan! " saut raja dengan wajah pasrahnya dengan cepat berjalan mengikuti majikannya dari belakangnya
tak... tak... tak...
beberapa menit kemudian..
__ADS_1
akhirnya mereka pun sudah sampai di kediaman keluarga mahesa , dan tentunya sudah disambut hangat oleh mahesa dan alea yang sudah berdiri didepan pintu dengan wajah tak sabarannya
"halo, bibi, paman aku sudah berhasil menyelesaikan tugas! " sapa rangga dengan senyum ramahnya berjalan menghampiri tuan rumah bersama kedua wanita di belakangnya
"rangga, apa yang kau katakan, sudah bagus kau sudah datang kesini! "saut mahesa dengan rasa senangnya tersenyum haru melihat jila yang begitu cantik seperti putrinya
"halo, tuan mahesa dan nyonya alea, maaf membuat kalian menunggu lama..
"tidak keberatan sama sekali, tak usah sunggkan begitu, kami menyambut semuanya! mari-mari masuk! ayo masuk , dan duduk didalam rumah, diluar angin sangat lah kencang! "ujar alea dengan antusiasnya menyambut para tamu yang masih berdiri didepan pintunya dan tak lupa langsung menggadeng tangan jila yang begitu hati-hati seperti putrinya sendiri berjalan masuk kerumahnya yang membuat jila pun sedikit terkejut dengan perasaan tak enak hatinya yang diperlakukan begitu istimewa
" ah, nyonya alea? aku bisa berjalan sendiri! "saut jila dengan suara lembutnya menatap alea dengan risihnya yang tak biasa itu
__ADS_1
"tidak apa-apa, tanjakan sedikit tinggi, kau harus lebih hati-hati, kau sedang hamil sebaiknya kau pelan sedikit yah?" ujar alea dengan senyum hangatnya terus berjalan bergadeng jila dari dekapanya, yang membuat mahesa, rangga dan rena pun hanya bisa terdiam melihat mereka berdua yang berjalan lebih dulu
"istriku menganggap kalau jila putri sebagai yuri katy, dulu dia juga memapah yuri seperti itu! " ujar mahesa dengan rasa sedihnya menatap kedua wanita yang amat dirindukannya termasuk putrinya sendiri yang telah lama meninggal dunia
"ooh iya, nyonya alea, kue yang kumakan kemarin ada rasa bunga honeysucklenya, tapi, aku tidak melihatnya ditaman disini?" tanya jila dengan suara lembutnya menatap alea seperti ibu kandunganya sendiri yang begitu hangat yang membuat alena pun yang merasakan itu semakin merindukan putrinya yang terpancar dari kedua bola matanya
"kami memiliki berkebunan khusus, tepat di belakang rumah kami, seluas puluhan hektar dimana berbagai bahan obat ditanam, aku juga sudah bertahun-tahun tidak menanam bunga ditaman depan, yah, sepertinya aku sudah terbiasa akan hal itu! " saut alea dengan tatapan nanarnya mengusap pipi mungil jila yang begitu lembutnya
"aku juga pernah dengar kalau nyonya alea alergi terhadap serbuk sari, tidak heran.... maaf, aku tidak bermaksud mengungkit hal-hal yang membuat mu sedih, aku sekali lagi minta maaf nyonya! "ujar jila dengan suara khasnya tersenyum manis dengan perasaan sedikit rasa bersalahnya menatap alea, yang membuat alea pun terkejut melihat ekpresi raut wajah jila yang begitu mirip sekali disaat yuri tersenyum kepada ibunya dulu yang tiada beban sama sekali
" yuri... "gumam alea yang sudah menampakan wajah sedihnya sembari memegang dadanya yang tak bisa dikendalikan oleh takdir
__ADS_1