
"tunggu! apakah 3 miliyar tidak terlalu sedikit? " tanya dolken ragu menoleh melihat rangga yang sedikit penasaran
"aku tidak tahu seberapa besar yang CEO dolken rasa pantas untuk harga jual? " saut rangga yang bertanya balik dengan wajah seriusnya
"aku merasa..." ujar dolken yang terdiam sejenak yang tiba-tiba dalam bersamaan rangga pun menoleh melihat dan memperhatikan jila yang sudah duduk disamping kanan suaminya yang sedang mengelus perutnya beberapa kali dengan wajah santainya melihat letop dihadapanya , namun dengan cepat Maria pun menghampiri sahabatnya sembari membawa bantal kecil untuknya
"jila, ayo cepat, aku bantu tambahkan bantal untukmu! " ujar rena yang sedikit cemas membantu sahabatnya untuk duduk kembali dengan nyamannya
"hehehe.. terimakasih rena kau perhatian sekali! " saut jila yang sedikit tidak enak hati
__ADS_1
" tidak masalah Itu hal kecil bagiku! " ujar rena yang tersenyum senang melangkah dan duduk kembali dikursinya, dan jila pun yang sadar menoleh melihat dolken dan rangga yang sudah menatap dirinya dengan diamnya
"eh, kenapa mereka tidak berbicara lagi? apa mereka sudah lelah ? .. (batin jila) dengan pikiran polosnya
"kalian berdua sudah begitu banyak bicara , seharusnya kalian sangat haus bukan? tunggu sebentar, raja, cepat kau pergi kedapur dan seduh teh yang sudah aku bawa tadi untuk kedua ceo ! " pinta jila dengan suara khasnya menoleh melihat seketarisnya yang sudah berdiri tidak jauh dari pandanganya
"baik, nyonya muda! " saut raja dengan singgap langsung berjalan pergi meninggalkan ruang rapat, yang membuat Maria yang mendengar itu pun amat kesal sembari melipat kedua tangannya didadanya
"sebagai ketua asisten dolken apakah aku tidak punya hak mengingatkannya untuk istirahat? ataupun sebagai teman CEO rangga, apa aku juga tidak punya hak untuk memberikan secangkir teh kepadanya ? " sindir jila dengan suara tegasnya melirik Maria dengan dinginya
__ADS_1
"benar, lagian kebetulan sekali aku juga sedikit haus! maaf sudah merepotkanmu! " saut rangga yang tersenyum renyah
"jangan sungkan begitu, silahkan tunggu teh nya akan segera datang! " ujar jila yang tersenyum ramah mendengarnya
"yang jila katakan itu benar, meskipun disini adalah kantor , hubungan tetap tidak boleh dihilangkan , sisanya Mari kita diskusikan siang nanti! ohh iya, CEO rangga, apakah kau ingin makan siang bersama kami? "ujar dolken dengan wibawanya menoleh melihat patner disebelah kirinya
"tentu saja dengan senang hati! "saut rangga yang tersenyum senang menerima undangannya, dan tak berselang lama rapat pun bubar dolken dan rangga pun berjalan lebih dulu bersama Klein lainnya menuju keluar, termasuk jila,maria dan rena mereka bertiga pun masih berdiri melihat mereka pergi lebih dulu dari ruangan yang ingin beranjak pergi namun dengan cepat Maria pun melangkah menghampiri jila yang sudah menghadang berdiri didepanya dengan tatapan melasnya
"jila, ada yang ingin kukatakan berdua denganmu apa kau bisa? kau tidak perlu melihatku seperti ini , aku hanya murni ingin bicara denganmu! " pinta Maria yang memohon dengan raut sedihnya didepan mereka berdua yang membuat jila dan rena pun terdiam dengan tatapan datarnya
__ADS_1
"cih, pelakor ini mengubah gayanya ? seperti orang yang sering ditindas! lucu sekali dia kenapa tidak menangis didepan pria, tapi malah menangis didepan wanita? . . (batin rena) yang menggerutu didalam hatinya yang amat jengkel melihat Maria dihadapanya yang penuh drama , yang membuat jila pun menghelang nafas beratnya dengan permintaan Maria kepadanya
" uhu~~baiklah ! " saut jila dengan wajah pasrahnya dan menoleh melihat rena disampingnya