
"jila, bagaimana kau bisakah bicara seperti itu, hah? aku juga demi kebaikan kalian berdua ? bagaimana kau bisa bicara seperti itu padaku?.. kau.. kau sungguh keterlaluan .. memangnya aku mengatakan kalau aku suka dolken ? aku hanya .. hanya... ihkss.... ihkss.... " ujar Maria dengan berpura-puranya langsung menangis sejadi-jadinya dan berjalan pergi meninggalkan jila seorang diri dengan cepatnya, namun dalam bersamaan dolken pun datang tepat waktu yang sudah berdiri terdiam melihat Maria yang sudah menangis berlari kearahnya
"eh? ada apa ini? apa yang terjadi? "tanya dolken dengan wajah sedikit penasarannya melihat maria dihadapanya
"ihks.... ihks... tidak apa-apa ! tidak... jila tidak menindasku! aku hanya... huhuhuhu.... ihks..... " saut Maria dengan ektingnya berlaga sedih didepan dolken yang cari perhatian sejenak dan langsung membalikan tubuhnya berjalan pergi dengan cepat menuju kamarnya, dan dolken pun yang melihat Maria pergi hanya bisa terdiam dengan pikiranya
"dengan karakter jila, bagaimana mungkin dia menindas Maria ? . . (batin dolken) dengan rasa penasarannya langsung berjalan masuk kedalam kamarnya menemui istrinya yang sudah duduk didepan kaca riasnya yang sedang menata rambutnya yang panjang , yang membuat dolken pun yang melihatnya terdiam terpesona melihat aura jila yang begitu terpancar disaat hamil
"ehem, jila, apa yang terjadi dengan Maria barusan? " tanya dolken dengan suara khasnya yang sudah berdiri didepan istrinya, dan jila pun yang mendengar itu sangat amat kesal
"ternyata dia masih mengasihi wanita itu!.. (batin jila) dengan kesalnya langsung menaruh sisirnya dengan kasar diatas meja riasnya dan menoleh menatap suaminya dengan juteknya
__ADS_1
"kenapa emangnnya, kalau kau sangat khawatir kenapa tidak pergi dan mengejarnya Saja ! hemphh.. " cetus jila dengan juteknya langsung buang muka kearah lain , yang membuat dolken pun merasa serba salah apa yang ada dipikiran istrinya terhadap dirinya
"jila, ini tidak seperti apa yang kau pikirkan ! " bujuk dolken dengan rasa bersalahnya yang ingin menenangkan jila yang sudah melipat kedua tangannya didadanya dengan juteknya , namun dengan tiba - tiba rena pun datang disaat tidak tepat
"aku benar-benar penasaran , kenapa barusan aku melihat Maria kabur sambil menangis, siapa yang menindasnya? hei! apa mataku kabur ? didunia ini apakah masih ada orang yang menindas Maria? ekhh.. kenapa suasana disini begitu mencekam... " ujar rena yang nyolonong begitu Saja tanpa melihat situasi saat ini melihat mereka berdua, yang membuat dolken pun dengan cepat langsung membalikan tubuhnya dan menoleh melihat rena yang sudah berdiri didepan pintunya
"kau temanilah jila sebentar, apa yang baru Saja terjadi disana membuat suasana hati jila tidak baik! aku akan pergi sebentar! " pinta dolken dengan wajah datarnya langsung berjalan pergi meninggalkan mereka berdua dengan cepat, yang membuat rena pun hanya bisa terdiam dengan wajah bengongnya dan melangkah masuk menghampiri sahabatnya yang sudah duduk di pinggir ranjangnnya
"bukan apa-apa, Maria sedang menyatakan teritorial dan, kekuasaannya , dia malah menyalahkanku karena membuat dolken meninggalkan sahabatnya demi mencariku?" saut jila dengan wajah emosinya memberitahukan kepada sahabatnya yang membuat rena yang mendengar itu malah ketawa dengan senangnya
"ahahahh? hahahaha..hahahaha.... menarik sekali!
__ADS_1
"kau malah menertawakanku ! aku sangat sebel sekali melihat dia! justru aku bahkan berpikir untuk bercerai dengan dolken sekarang juga dan merestui mereka berdua! " ujar jila dengan emosinya berkata demikian, yang membuat rena pun langsung merangkul pundak sahabatnya sembari mencubit hidungnya yang sedikit geregetannya
"kalau begitu kenapa kau tidak mengatakan ini langsung kepada dolken? " ledek rena dengan suara genitnya, yang membuat jila pun tersadar yang langsung menundukan wajahnya dengan diamnya
"ehhmm...
dan rena pun yang sudah tahu itu langsung beranjak bangun dari duduknya
"sudalah, oh iya, jila, apa kau ingin pergi jalan-jalan denganku? " ajak rena dengan senyum cerianya membuyarkan pikiran sahabatnya yang sedang kusut, dan jila pun yang mendengar itu langsung mengadahkan wajahnya menatap sahabatnya yang sudah tersenyum lebarnya
"baiklah, aku ikut denganmu, setidaknya itu lebih bagus untuk hari ini bukan! hahaha.... " saut jila dengan antusiasnya beranjak bangun dari duduknya dan bersiap -siap mengikuti rena disampingnya yang sudah membawa tas paporitnya yang selalu dia bawa kemana-mana
__ADS_1