
Andra yang sedang berada di kantor langsung mematikan sambungan teleponnya saat Ana mengatakan akan berbicara mengenai Tasya. Andra langsung keluar dari ruangannya saat ayahnya memanggil Andra tidak mendengar sama sekali, Alex menatap bingung kearah sang putra saat melihat putranya terburu buru. Andra mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. saat sampai di halaman depan rumah Andra langsung turun dari mobil dan masuk ke kamar Ana.
"Ana". Andra langsung menghampiri Ana yang sedang duduk di ranjang dengan raut yang cemas
"ada apa dengan Tasya". tanya Andra dan langsung duduk di samping Ana
Ana menarik nafasnya sebelum menjelaskan tentang Tasya. Ana mengatakan kepada Andra bahwa minggu depan Tasya akan menikah dengan teman ayahnya bahkan umur laki laki itu lebih tua dari ayah Tasya dan laki laki itu suka mabuk dan penggila ****. Ana juga menceritakan bagaimana sedih Tasya saat bertelepon dengannya tadi. Andra seperti di sambar petir saat mendengar penjelasan Ana dan mengepalkan tangannya.
"tadi Tasya masih bisa di hubungi kak tapi sekarang tidak bisa". sambung Ana
Andra langsung berdiri dengan amarah yang membara dalam dirinya, saat Andra akan keluar dari kamarnya. Ana langsung mencegahnya.
"kak mau kemana". tanya Ana
"mau ke rumah Tasya". jawab Andra
"tunggu kak, jika kakak langsung kesana yang ada kita tidak mendapatkan apa apa, kakak tau sendirikan ayah Tasya itu bagaimana".
Andra menghela nafasnya dengan kasar
"masih ada waktu enam hari lagi untuk menyelamatkan Tasya dari pernikahan itu, sekarang yang kita pikirkan adalah bagaimana caranya menyelamatkan tasya". sambung Ana
"bagaimana ayahnya Tasya berpikir untuk menikahkan anaknya dengan laki laki yang lebih pantas di sebut ayah bahkan laki laki itu pemabuk dan penggila ****". umpat Andra
"semuanya demi uang". sambung Ana.
sedangkan di rumah Tasya, Herman menatap putrinya dengan tajam dan memegang ponsel Tasya
brak
Herman membanting ponsel itu dengan emosi, Tasya menatap nanar ponselnya yang hancur begitu saja. Tasya mundur saat Herman maju.
plak
Herman menampar Tasya sendangkan Tasya memegangi pipinya yang terasa panas akibat tamparan ayahnya.
"siapa yang kamu hubungi". bentak Herman
"ti tidak ada yah". jawab Tasya
"Siapa". bentak Herman lagi
__ADS_1
"tidak ayah yah".
"awas saja jika kamu berulah sehingga membuat pernikahan itu batal". Herman menekan setiap kata
"dan anggap saja pernikahan ini sebagai balas budi untuk kami yang telah membesarkanmu". sambung Herman
saat Herman sedang marah marah, Hana masuk membawa sebuah gaun dan meletakkan di atas ranjang.
"pakai gaun nanti malam, karena agung akan melihatmu". Tasya menatap gaun itu dengan nanar
"tapi yah gaun itu seksi sekali". jawab Tasya
"kalau ayah bilang pakai ya pakai". bentak Herman
"ma". Tasya memohon kepada mamanya dengan harapan dapat bantuan
"sudahlah ikuti saja perintah ayahmu". jawab Hana
setelah itu Herman dan Hana keluar dari kamar Tasya, Herman tidak lupa mengunci kamar itu agar Tasya tidak bisa kabur. sedangkan Tasya memegang gaun berwarna merah itu jika di pakai panjangnya di atas lutut atau dua jengkal dari pinggang bahkan gaun itu tidak memiliki lengan. Tasya terisak dia merasa seperti di jual oleh orang tuanya bahkan orang tuanya membiarkan dia memakai baju seksi ini.
"hiks hiks kenapa seperti ini, aku mohon datangkanlah seseorang yang bisa menolong ku hiks hiks". Tasya memeluk lutut dan menangis sejadi jadinya.
"apa kamu sudah memberikan gaun itu pada putrimu". tanya Agung dari seberang telepon
"sudah, aku juga sudah memerintahkan Tasya menggunakannya malam ini". jawab Herman
"bagus malam ini aku akan membawanya keluar". Agung tertawa di sebrang telepon itu
"dan jika malam ini aku bisa membuktikan putrimu masih perawan, minggu depan saat pernikahan akan aku beri mahar yang besar dan cabang perusahaan yang kamu inginkan akan aku berikan kepadamu, ingat jika dia masih perawan". sambung Agung
"aku pastikan putriku masih perawan". setelah Herman menjawab, Agung menantikannya sambung telepon begitu saja.
"mas apa Tasya akan baik baik saja". tanya Hana sedikit cemas
"sudahlah Hana, ini juga agar kita hidup enak dan hidupnya terjamin, lagian ini tidak sebanding dengan biaya yang kita keluarkan untuk merawat dia dari kecil". jawab Herman
"tapi dia putri kita mas".
"tapi dia hanya anak yang kita temukan di tong sampah". jawab Herman
"jika kamu tidak mengikuti apa yang aku mau, akan aku katakan kepada Tasya bahwa dia bukan putri kita dan apa kamu tau jika dia tau bukan putri kita, Tasya akan pergi dari rumah ini untuk selamanya dan kamu tidak bisa melihat dan sudah cukup selama ini aku mengikuti kemauan untuk merawat Tasya dan menyayanginya". setelah mengatakan itu Herman meninggalkan istrinya begitu saja.
__ADS_1
Hana menetes air matanya setelah kepergian Herman. Hana masih ingat saat dirinya dan Herman menemukan Tasya yang masih bayi di tempat sampah, Hana yang senang menemukan bayi itu meminta Herman untuk membawa bayi mungil itu di bawa pulang dan di rawat.
flashback on
Herman membawa Hana jalan jalan ke taman untuk menghibur istrinya karena sudah lima tahun pernikahan mereka juga belum di karuniai seorang anak bahkan harus di tampar oleh kenyataan saat mereka memeriksakan dirinya dan Hana dinyatakan madul.
"sayang sudah jangan sedih ya, aku tidak masalah jika kita tidak memiliki anak". Herman menghapus air mata Hana yang mengalir dari pipinya.
"tapi jika aku tidak memiliki anak, para tetangga pasti akan menggunjingku mas". jawab Hana
"kita pindah rumah saja ya". ajak Herman
"walaupun kita pindah seribu kalipun jika mereka tau aku mandul pasti akan tetap jadi bahan omongan mas hiks". tangis Hana
oek
oek
oek
Hana dan Herman menghentikan perdebatan mereka saat mendengar suara bayi menangis. Herman dan Hana mencari sumber suara itu. Hana terkejut saat ada bayi di tempat sampah, tanpa menunggu lama Hana langsung mengendong bayi itu dan menyelimuti tubuh polos bayi itu dengan syal yang dia gunakan. Herman dan Hana melihat ke sekeliling Meraka ternyata sepi.
"cup cup jangan menangis ya cantik". Hana menimang bayi itu
"siapa yang telah membuangmu nak". Hana mengusap kepala bayi itu.
"mas kita bawa bayi ini dan kita urus ya". mohon Hana dan Herman melihat Hana yang sangat ingin memiliki anak
"kita bawa bayi ini dan pindah tempat tinggal agar di tempat tinggal yang baru mereka tau ini anak kita mas, agar aku terhindar dari omongan orang". sambung Hana
"jika itu bisa membuatmu bahagia kita bawa anak ini dan pindah rumah". jawab Herman dan Hana tersenyum senang.
malam itu Herman dan Hana membawa bayi itu dan memberikan nama pada bayi mungil itu Tasya, malam itu juga mereka langsung pindah di tempat baru, mereka pindah malam malam agar tetangga tidak tau mereka membawa bayi dengan tujuan saat mereka bertemu nantinya yang mereka tau Tasya adalah anaknya Herman dan Hana.
flashback off
💙💙💙
yuhu yang suka baca permafian aku punya rekomedasi cerita mafia yang Wajib kalian baca, cusslah langsung kepoin jangan menunggu lama langsung cari judulnya " Identitas Rahasia Sang Mafia" karya "David Widia"
__ADS_1