
Yusuf membenarkan selimut yang di pakai Bunga dan Yusuf dapat melihat wajah Bunga yang begitu pucat apalagi sejak tadi pagi Bunga terus bolak balik kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya. Yusuf memperhatikan wajah Bunga.
"permisi tuan". ucap seorang pelayan yang berdiri di ambang pintu
"di bawah ada seseorang yang mencari tuan dan nyonya". ucap pelayan
"iya Bu, suruh nunggu sebentar". ucap Yusuf
"baik tuan, saya permisi ke bawah". ucap pelayan dan Yusuf menanggukan kepalanya
Yusuf turun ke bawah dan mengahampiri Raka yang sedang menunggunya. Raka menatap Yusuf dan mencari seseorang.
"di mana putriku". tanya Raka
"Bunga sedang tidur, aku akan suruh pelayan untuk membangunkan jika memang ingin bertemu". jawab Yusuf
"jangan, biarkan dia istirahat dulu, saya akan menunggunya". jawab Raka dan Yusuf menganggukan kepalanya
di dalam kamar Bunga mengeluarkan tubuhnya lalu bersandar di kepala ranjang. Bunga mengusap perutnya yang sudah menonjol
"sudah hadir tanpa permisi membuat ku susah karena membuat ku harus muntah terus, apa tidak bisa jangan membuat ku susah, masih untung aku tidak mengugurkan mu jadi ku mohon Jangan menyusahkan ku". ucap Bunga sambil mengusap perutnya
"lapar". ucap Bunga dan turun dari ranjang lalu keluar dari kamar, seseorang yang sejak tadi mengawasi bunga segera pergi dari balkon tersebut.
Bunga yang turun dari tangga belum mengetahui kehadiran ayahnya.
"Bunga". bunga menghentikan langkahnya saat mendengar suara seseorang yang sangat dia kenali.
Bunga terkejut saat membalikkan badannya. Bunga menatap ayahnya
"sayang maafkan ayah". ucap Raka sambil memeluk putrinya sedangkan Bunga masih diam saja
"Kenapa ayah ada disini". tanya Bunga
"ayah ingin menjemput sayang, ayo pulang dan maafkan ayahnya yang tidak percaya padamu". ucap Raka
__ADS_1
"om tidak bisa membawanya pulang". ucap Yusuf
"kenapa tidak bisa saya ayahnya". ucap Raka
"tapi saya suaminya". ucap Yusuf
"ya saya tau tapi saya ingin kamu menceraikan putriku dan saya bisa menjaga putriku dan juga cucuku". ucap Raka
"lagian bukannya kamu menikah dengan putriku hanya karena kasihan bukan cinta dan saya yakin Pernikahan kalian tidak akan sempurna". ucap Raka
"berikan mereka kesempatan untuk menjalani pernikahan mereka, ya mungkin awalnya tanpa cinta tapi saya yakin mereka akan saling mencintai nanti Pak Raka". ucap Amar yang mendengar perdebatan mereka
"tapi saya tetap ingin mereka bercerai dan hari ini saya akan membawa putriku serta cucuku pulang". ucap Raka
"ayo Bunga". ajak Raka menarik tangan Bunga
"om tidak bisa membawanya pulang". ucap Yusuf yang memang tangan Bunga yang satunya
"lepaskan tangan putriku". ucap Raka
"sudah berhenti sebaiknya kita tanyakan pada Bunga dia ingin disini atau ikut pulang". ucap Amar
"Bunga kamu ingin di sini atau ikut ayahmu". tanya Amar pada menantunya
"Bunga ingin disini saja pa". jawab Bunga karena dia masih marah pada ayahnya dan Raka melepaskan tangan putrinya
"Bunga sudah memutuskan jadi jangan saling menarik lagi kasihan cucuku tergoncang karena di tarik". ucap Amar
"baiklah tapi saya ingin pernikahan kalian di publishkan karena saya tidak ingin ada wanita lain di pernikahan putriku jika pernikahan kalian tetap di rahasiakan". ucap Raka
"jika hanya itu saya juga merencanakannya pak Raka". ucap Amar
mereka berempat duduk di sofa dan Amar menyampaikan jika pernikahan Yusuf dan Bunga akan di publikasikan serta diadakan pesta setelah Bunga melahirkan tapi lagi lagi Raka tidak setuju Raka ingin waktu dekat pernikahan itu harus di publikasikan hingga akhirnya Yusuf menyetujui itu. peserta pernikahan akan di laksanakan dua Minggu lagi.
setelah ayahnya pulang Bunga berada di dapur dan memakan makanana yang ada di depannya.
__ADS_1
"kenapa kamu menyetujui keinginan ayah". tanya Bunga setelah menyelesaikan makannya
"tidak ada salahnya jika kita mempublikasikan pernikahan kita". jawab Yusuf
"iya tidak ada salahnya tapi pernikahan kita itu berbeda apalagi aku sedang hamil, apa kata rekan bisnis mu dan juga mahasiswa mu jika tahu bahwa kamu menikah dengan wanita yang hamil di luar nikah". tanya Bunga
"jika mereka tau mungkin mereka akan mikir aku yang menghamili mu lagian tidak ada yang tau kejadian yang menimpamu". jawab Yusuf dengan santai
"jangan gila". ucap Bunga
"tidak saja kita bisa memanipulasinya katakan saja pada semua orang jika sudah menikah empat bulan yang lalu jadi tidak akan ada yang memikirkan yang aneh aneh tentang pernikahan kita dan juga kehamilan mu". jawab Yusuf
"lalu jika ada yang bertanya kenapa baru sekarang di publikasikan". tanya Bunga
"itu mudah karena saya dosen dan kamu mahasiswi dan itu melanggar peraturan kampus dimana dosen dan mahasiswa atau mahasiswi tidak boleh menikah jadi sekarang baru di publikasikan". jawab Yusuf
"lalu ada bedanya sekarang dan dulu Status kita masih dosen dan mahasiswi". ucap Bunga
"tidak karena saya sudah mengundurkan diri sebagai dosen dua Minggu yang lalu". ucap Yusuf
"mengundurkan diri". tanya Bunga
"iya lagian aku menjadi dosen untuk mengejar Anissa tapi malah menikah dengan Arden jadi sudah tidak ada gunanya menjadi dosen". jawab Yusuf
Bunga yang menyipitkan matanya saat mendengar perkataan Yusuf
"jangan bilang kamu mempublikasikan pernikahan ini untuk menunjukkan pada Anissa bahwa kamu bisa hidup tanpanya". ucap Bunga sambil memajukan kepalanya sehingga membuat Yusuf memundurkan kepalanya dan mendorong dahi Bunga untuk menjauh dari wajahnya
"kalau di lihat dari matamu yang aku katakan benar". ucap Bunga sambil mengetuk jarinya di dagunya
"baiklah baiklah tidak masalah jika seperti ini kita impas tidak ada yang namanya balas Budi, kamu menolong ku dengan menutup aibku dan aku menolong mu agar tidak begitu malu atas penolakan Anissa". ucap Bunga
"hahahaha pak dosen kurang tampan dan cool sehingga tidak bisa memikat Anissa hahahaha". ejek Bunga dan menepuk-nepuk bahu Yusuf sambil menaik turunkan alisnya
"besok kalau peserta jangan lupa undang Anissa dan suaminya, dan jangan lupa pakai pakaian terbaik pak dosen". ucap Bunga dan meninggalkan Yusuf di ruang makan
__ADS_1