Tuan Mafia

Tuan Mafia
Tuan Mafia S2- Mencari Kebenaran


__ADS_3

setelah keluar dari ruangan Farhan, Gio berjalan dengan perasaan yang kacau bahkan Gio memegang erat bukti itu, Gio masih tidak menyangka mama yang dia percayai dan hormati tega ingin menghabisi istrinya, dalam benaknya bertanya tanya apa yang membuat sang mama tega menghabisi istrinya. Gio melajukan mobilnya ke makam Sang ayah.


"yah Gio bingung sekarang harus percaya pada siapa, Gio ingin percaya pada bang Farhan tetapi Gio juga masih mempercayai mama Merlin bahwa ibu pergi meninggalkan kita karena laki laki serta ibu juga yang membunuh ayah tetapi bukti ini membuat mu juga mulai ragu akan mama Merlin , yah apa yang harus Gio lakukan harus percaya pada siapa". monolog Gio di makam ayahnya


"jika kau bingung ingin mempercayai siapa carilah kebenaran dari kedua baru itu memutuskan jangan sampai salah memihak itu akan membuat kita menyesal". ucap seseorang bapak


"maaf tadi saya sempat mendengar apa yang kamu bicarakan". sambung bapak itu


"bapak ini siapa". tanya Gio


"saya penjaga di kuburan ini". jawab bapak itu


"tenangkan hatimu lalu cari kebenaran dan buktikan sendiri siapa yang harus kamu percaya". setelah mengatakan itu bapak tersebut meninggalkan Gio sendirian


"benar yang di katakan bapak itu, aku harus mencari kebenaran dulu". ucap Gio


"ayah, Gio mohon tunjukkan jalan untuk Gio mencari kebenaran tentang mama Merlin dan Abang siapa yang harus aku percaya". ucap Gio lalu meninggalkan makam ayahnya


Gio melajukan mobilnya ke arah rumah sakit, setelah sampai rumah sakit Gio langsung menuju ruang rawat istrinya, saat membuka pintu Gio terkejut saat tidak di menemukan istrinya di ruangan itu.


"maaf tuan kami teledor, tadi ada seseorang yang membius kami dan saat kami sadar istri tuan sudah tidak ada di ruangan". ucap salah satu anak buahnya


"sial". umpat Gio dan keluar dari ruangan itu


"tuan Gio". teriak dokter Rama saat melihat Gio yang berlari dan Gio berhenti saat mendengar dokter Rama memanggilnya


"ini ada titipan untuk tuan Gio". dokter Rama menyerahkan sebuah kertas dan Gio langsung mengambil surat itu dan membacanya


..."istrimu aman, aku terpaksa membawa pergi jika tidak aku tidak yakin istri dan anakmu akan selamat, tidak perlu khawatir dengan keadaannya, aku akan memberikan perawatan yang terbaik. tertanda abangmu"...

__ADS_1


Gio bernafas lega saat membaca surat itu dan Gio yakin Abangnya tidak akan melakukan sesuatu yang buruk untuk istrinya.


"terima kasih dok". ucap Gio lalu meninggalkan rumah sakit


Gio melajukan mobilnya ke rumahnya, Gio akan bersikap tidak tau tentang apa yang menimpa istrinya. saat sudah sampai rumah Gio masuk dan duduk di ruang tamu


"ma". panggil Gio


"Gio kamu pulang, tidak menunggu Nadia di rumah sakit". tanya Merlin


"tidak ma lagian Merlin juga koma dia tidak akan tau di tunggu ataupun tidak". jawab Gio


"ma saat perampok itu berusaha membunuh Nadia mama ada dimana". tanya Gio


"saat mama mendengar keributan mama langsung datang ke sumber suara tetapi saat sampai itu mama terkejut saat perampok itu sudah memukuli Nadia, mama berusaha untuk menolong Nadia tetapi mereka juga melukai mama dan mengikat mama di kursi dapur saat kamu datang mama baru bisa melepaskan ikatan tali dan mama juga terkejut saat melihat keadaan Nadia yang berada di pangkuan mu nak". jawab Merlin dan Gio menganggukan kepalanya


"untung aku sudah menyiapkan jawaban ini". monolog Merlin dalam hati


"bukan itu ma maksud Gio hanya Gio penasaran saja kenapa perampok itu hanya mengincar Nadia saja bukan mengambil harta yang ada di rumah ini". jawab Gio


"mama tidak tau mungkin seseorang menyuruh untuk menghabisinya". jawab Merlin


saat Gio menatap vas bunga di dapat melihat kamera kecil berada di sana dan Gio yakin dari kamera itu abangnya mendapatkan rekam kejadian saat mamanya berusaha menghabisi Nadia.


"akan aku biarkan kamera itu ada di sana dan aku akan memasang kamera kecil di kamar mama untuk mengetahui semuanya, jika yang di katakan bang Farhan itu benar maka mama Merlin sangatlah berbahaya, sebaiknya sekarang aku pura pura percaya dengan apa gang dia ucapkan". monolog Gio dalam hati


"ya sudah ma Gio ke kamar dulu mau istirahat ". ucap Gio lalu meninggalkan Merlin di ruang tamu


"bagus jika Gio tidak berada di rumah sakit maka aku akan mudah membunuh Nadia serta janin". monolog Merlin dalam hati

__ADS_1


Gio yang sudah masuk ke dalam kamarnya langsung mengambil lap untuk membersihkan darah Nadia yang ada di lantai dan Gio yakin di kamar ini Nadia terkena tusukan, setelah membersihkan lantai itu Gio merbahkan dirinya di ranjang.


di kantor milik Farhan, Ana masuk ke ruangan suaminya dan Farhan tersenyum saat melihat Ana masuk ke ruangannya.


"kenapa lama sekali di kantinnya". tanya Farhan


"sebenarnya tadi sudah kembali tapi saat aku lihat ada Gio aku memilih untuk kembali ke kantin untuk memberikan ruang untuk kalian berdua". jawab Ana sambil memberikan secangkir kopi yang dia bikin di pantry sebelum masuk


"terima kasih". ucap Farhan lalu meminum kopi itu.


"apa masalah kalian sudah selesai". tanya Ana


"belum tapi aku harap dengan setengah kebenaran itu bisa membuat Gio mulai curiga dengan wanita itu dan apalagi aku dapat melihat keraguan di matanya". jawab Farhan sambil menopang dagunya dan menatap Ana dengan intens


"jangan menatapku seperti itu mas." jawab Ana dan Ana yakin pipinya sudah memerah


"kamu semakin cantik dengan pipi yang memerah dengan alami". ucap Farhan lalu mencubit pipi Ana


Farhan membereskan beberapa berkas yang sudah di periksa, Farhan mengajak Ana untuk pulang, Ana membantu Farhan untuk berjalan.


"mas kenapa memaksa ke kantor dengan keadaan yang seperti ini". tanya Ana yang tidak tega dengan Farhan yang berjalan mengunakan tongkat


"tidak apa apa jika aku tidak segera membereskan kekacauan yang aku tinggal itu akan membuat perusahaan yang aku bangun dengan susah payah akan hancur." jawab Farhan


semua karyawan sangat iri dengan Ana yang bisa mendapatkan bosnya itu, apalagi saat mereka melihat bosnya terseyum dengan hangat kepada Ana membuat semua wanita merasa iri.


"eh ternyata pak Farhan bisa hangat seperti itu selama ini yang kita lihat adalah sikap dinginnya". ucap resepsionis


"iya benar, ternyata sedingin dinginnya seorang pria akan mencari juga saat bertemu dengan pawangnya". jawab salah satu karyawan

__ADS_1


Farhan dan Ana yang mendengar bisik bisik itu hanya diam saja , mereka berdua tetap berjalan sambil bergandengan tangan dan menuju ke mobil mereka dan tentunya dengan beberapa pengawal yang mengikuti mereka.


__ADS_2