
"Gio". Fatma memanggil anaknya yang duduk di sofa dan menghampiri anaknya itu dan mengusap bahunya
"kenapa tidak menemani istrimu". tanya Fatma tapi Gio enggan menjawab pertanyaan ibunya
"ibu tau apa yang kamu rasakan nak saat tau Nadia adalah anak Merlin tapi ibu yakin Nadia tidak tau dan tidak ikut campur dalam urusan Merlin, kamu harus percaya sama istrimu apalagi Nadia sedang hamil dan kondisinya belum benar benar sembuh dari kecelakaan itu". ucap Fatma
" Gio yakin pasti Nadia juga terlibat dalam rencana wanita itu, dan Gio tidak ingin tertipu lagi, selama ini mamanya telah menipuku Bu bertahun tahun lamanya dan bisa saja Nadia juga menipuku sama seperti mamanya". jawab Gio
"dan mungkin saja selama ini Nadia juga tau jika obat yang dia konsumsi adalah pengering kandungan karena tidak ingin memiliki anak dariku dan mereka merubah rencananya karena ingin menguasai harta peninggalan ayahnya jadi jika Nadia hamil otomatis anak itu akan jadi pewaris ku". sambung Gio
"kenapa Gio berbicara seperti itu, yang ibu lihat dia bahkan syok saat tau mamanya adalah Merlin nak". ucap Fatma
"sekarang Gio tidak akan mempercayai orang yang berhubungan dengan wanita itu yang sudah membuat keluarga kita hancur Bu bahkan membuatku membenci ibu serta orang yang sudah membunuh ayah". Jawa Gio dengan sorot mata yang tajam dan penuh kemarahan
"ibu mohon sikapi semua itu dengan bijak bahkan tuan Alex sudah mengatakan bahwa Nadia di jual ke rumah bordil nak". ucap Fatma sambil mengusap punggung tangan anaknya
"bisa saja itu salah satu rencananya dan setelah Mira atau Nadia namanya di ambil oleh wanita itu dan di suruh mendekati ku, jugaan aku masih ingat betapa semangatnya Nadia mendekati padahal dia masih duduk di bangku SMP". ucap Fatma
"nak jangan sampai kamu menyesal seperti kamu membenci ibu dan abangmu , ibu dan abagmu masih bisa memaafkan mu dan menerima mu tapi yang ibu takutkan kamu membenci Nadia dan ketika Nadia menjauh darimu karena kamu tidak percaya padanya dan berakhir penyesalan darimu". nasehat Fatma
"itu bagus jika dia membenciku karena aku juga tidak ingin memiliki hubungan dengan orang orang yang telah membuat ku membenci keluarga sendiri". ucap Gio dan meninggalkan Fatma dan masuk di kamar abangnya sedangkan Fatma menatap nanar kepergian putranya.
"ibu faham kamu tidak ingin tertipu nak tapi ibu yakin Nadia tidak sama seperti ibunya". monolog Fatma
__ADS_1
sedangkan Nadia yang sejak tadi berdiri di pintu kamar yang dia tempati menjatuhkan dirinya ke lantai dengan air matanya yang tidak bisa dia bendungan. tadi rencananya Nadia ingin menghampiri sumainya saat mendengar suara ibu mertuanya yang memanggil nama sumainya tetap sebelum langkah mendekati mereka Nadia mendengar apa yang di ucapkan suaminya
"kenapa ujian hidup ku begitu banyak, kenapa kenapa aku harus lahir dari wanita yang sudah menghancurkan keluarga suamiku hiks hiks". monolog Nadia
Fatma yang mendengar suara orang menangis langsung menoleh kebelakang dan betapa terkejutnya saat melihat Nadia yang sudah duduk di lantai, Fatma langsung menghampirinya menantunya itu
"nak berdiri dan istirahatlah". ucap Fatma dengan berusaha membantu Nadia berdiri
"Bu mas Gio membenciku, aku aku dulu memang sangat semangat mendekat mas Gio saat aku masih SMP bukan karena merencanakan sesuatu bahkan sejak kecil aku tidak tau siapa kedua orang tuaku, mungkin saja jika malam itu tidak ada om Alatas hidupku akan berada di rumah Bordil itu, aku saja baru tau siapa orang tuaku hiks". ucap Nadia.
"sudah sudah jangan bersedih nanti banyinya ikut sedih , ibu yakin Gio tidak membencimu dia hanya butuh waktu". ucap Fatma sambil mengusap punggung Nadia dan membawanya ke ranjang
"kenapa aku tidak pernah merasakan kebahagiaan Bu, saat aku akan merasakan kebahagiaan aku harus di hantam oleh kenyataan yang membuat suamiku membenciku". tanya Nadia
"sudah malam sebaiknya kamu istirahat kasihan bayinya". ucap Fatma lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh Nadia. setelah memastikan Nadia tertidur Fatma keluarga dari kamar Nadia
"kenapa harus kamu yang jadi anaknya wanita itu". monolog Gio sambil mengepalkan tangannya
Di rumah keluarga Alex tepatnya di kamar sepasang pengantin baru, Ana yang sedang tertidur lelap merasakan terusik dengan sebuah sentuhan yang berada di bibir dan beda kenyal yang mengigit pipinya. perlahan Ana membuka matanya dan pemandangan pertama kali yang dia lihat adalah Farhan yang terseyum serta tangan Farhan yang memainkan bibirnya.
"pangeran panda jangan menggangguku tidur". ucap Ana
tetapi Farhan hanya menangkapi ucapan Ana dengan senyuman sedangkan tangan yang berada di bibirnya beralih mencubit pipi Ana dengan pelan sedangkan Ana merasa merinding dengan senyuman Farhan serta perlakukan Farhan. Ana melebarkan matanya saat melihat perut sixpack Farhan dan semakin terkejut saat Ana melihat Farhan hanya menggunakan boxer. Ana langsung bangun dari tidurnya dan juga kaget saat tiga kancing piayama sudah terbuka dan memperlihatkan bakpao yang masih terbungkus, Ana langsung menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
__ADS_1
Farhan bangun dari tidurnya dan membalikkan badan Ana menghadap dirinya sendangkan Ana semakin gugup saat Farhan menatapnya dengan intens
"pa pangeran panda tidurlah ini masih jam dua malam dan besok pagi kamu harus ke kantor". ucap Ana dengan gugup
Ana memundurkan badannya saat Farhan memajukan badannya, Farhan langsung menahan punggung Ana sehingga Ana dapat merasakan nafas hangat Farhan
"putri tulip kaki sudah sembuh". bisik Farhan dan Ana merasakan merinding mendengar suara Farhan yang sangat berat seperti menahan sesuatu dan Ana mengeratkan genggaman pada selimut saat tangan Farhan mengelus punggungnya
"aku tau pangeran panda". jawab Ana semakin gugup
"aaa hmmmp". teriak Ana yang di tarik oleh Farhan saat akan akan turun dari ranjang bahkan Farhan membungkam bibirnya dengan bibir milik Farhan bahkan posisinya Farhan berada di atas Ana
"hmmm". Ana memukul dada Farhan saat akan kehabisan nafas
"suttt putri tulip jangan beringsik nanti mama sama ayah bangun mendengar teriakan mu". ucap Farhan.
"pangeran panda kamu membuat ku takut". ucap Ana
"jangan takut, aku hanya ingin kamu memberikan hak ku". ucap Farhan sambil mencium leher Ana sedangkan Ana merasa bingung dengan reaksi tubuhnya
"tapi tapi aku takut dan malu". jawab Ana
"tidak perlu takut dan jangan malu". ucap Farhan sambil terus membuat Ana terangsang dan Farhan menyingkirkan selimut yang Ana pegang
__ADS_1
"bagaimana jika aku hamil, aku masih kuliah". ucap Ana
"aku jamin kamu tidak akan hamil hanya sekali tidak akan jadi, bolehkan". ucap Farhan menatap mata Ana