
hari adalah dimana perayaan pernikahan Yusuf dan Bunga , mereka berdua duduk di pelaminan. banyak rekan bisnis dari Yusuf mengucapkan selamat untuk pernikahan dan selamat karena Yusuf akan menjadi orang tua. banyak rekan bisnis yang kecewa mengetahui bahwa Yusuf telah menikah karena mereka ingin menjodohkan Yusuf dengan anak mereka.
"selamat ya, semoga pernikahan langgeng". ucap pak Ridwan
"terima kasih pak Ridwan". ucap Yusuf
bunga memegang perutnya dan kembali duduk. di kehamilan yang sudah lima bulan ini membuat Bunga mudah lelah.
Yusuf terkejut saat tangan di cengkraman erat oleh bunga dan Yusuf melihat wajah bunga yang begitu ketakutan.
"hey ada apa". tanya Bunga
"dia dia ada disini". ucap Bunga dan semakin mengeratkan genggaman tangannya
"dia siapa". tanya Yusuf
"bunga hey". ucap Yusuf saat melihat bunga yang sudah pingsan
para tamu undangan terkejut saat melihat pengantin perempuan yang pingsan
"Yusuf mungkin istrimu kelelahan apalagi sedang hamil, dulu istriku saat hamil juga seperti tidak bisa kelelahan". ucap pak Ridwan
"Yusuf sebaiknya bawa putriku masuk untuk beristirahat". ucap Raka
"iya Yusuf, biar papa dan pak Raka yang menghandel acaranya". ucap Amar pada putranya
Yusuf langsung mengedong Bunga dan membawanya ke kamar hotel, sesampainya di kamar Yusuf membaringkan Bunga ke ranjang. Bunga mengigau tidak jelas dan itu membuat Yusuf bingung
"apa yang membuat seperti ini tiba tiba". ucap Yusuf mengusap keringat yang ada di wajah bunga
"tenang ya ada aku di sini". bisik Yusuf
"jangan takut". sambung Yusuf
setelah Bunga tenang Yusuf mencium kening Bunga cukup lama dan tangannya mengusap punggung tangan Bunga. Yusuf melepas gaun pengantin yang Bunga gunakan. Yusuf menahan nafasnya saat melihat Bunga hanya mengunakan pakaian dalam saja. setelah gaun itu terlepas Yusuf mengambil daster yang berbahan dingin agar Bunga nyaman. Yusuf meletakkan gaun pengantin di sofa. Yusuf mengusap kepala Bunga. Yusuf menatap bunga dengan intens
"ugh". lenguh bunga dan membuka matanya
Bunga langsung memeluk Yusuf dan Yusuf membalas pelukan Bunga, Yusuf dapat merasakan tubuh bunga yang bergetar di dalam pelukan
"ada apa". tanya Yusuf
"dia dia yang menghancurkan ku ada di pesta". jawab Bunga yang masih setia memeluk Yusuf dan Yusuf dapat merasakan bahwa bajunya basah karena air mata
"tenang ya jangan takut aku ada disini". bisik Yusuf untuk memberikan ketenangan pada Bunga dan Bunga menanggukan kepalanya di dalam pelukan Yusuf
pesta masih berlangsung di pesta itu Raka dan Amar berbincang dengan rekan bisnisnya masing-masing.
"saya baru melihat mu". ucap Amar saat melihat seseorang yang masih asing baginya
"saya rekan bisnisnya Yusuf om". jawab Rendi
"rekan bisnis yang baru berjalan dua bulan ini ya dari perusahaan Morio Castil kan". ucap Amar
"iya om". jawab Rendi
"sudah bertemu Yusuf dan istrinya". tanya Amar
"belum om". jawab Rendi
"sayang sekali Yusuf sudah masuk ke kamar tadi istrinya pingsan mungkin kelelahan karena hamil". ucap Amar
"tidak apa apa om, Om maaf kalau lancang kenapa peserta baru diadakan bahkan dengan keadaan istrinya sedang hamil kan kasihan karena orang hamil mudah lelah". tanya Rendi
"ya karena dulu hanya akad saja dikarenakan baik Yusuf ataupun Bunga memiliki kesibukan yang tidak bisa di tinggal dan baru sekarang memiliki waktu untuk merasakan pernikahan mereka". jawab Amar dan Rendi menanggukan kepalanya
__ADS_1
"silahkan dinikmati pestanya ". ucap Amar
"iya om, ini saya ada sesuatu untuk Yusuf dan istrinya, titip ya om". ucap Rendi dan menyerahkan sebuah bingkisan
"nanti om kasihkan ya". ucap Rendi dan menerima bingkisan tersebut.
setelah memberikan bingkisan tersebut Rendi memilih untuk pulang, sesampainya di dalam mobil rendi men menyandarkan kepalanya di kursi mobil
"sebentar lagi kita bertemu nak, ayah sudah tidak sabar menunggu kehadiran mu". ucap Rendi
drt
drt
drt
Dengan malas rendi mengangkat panggilan dari istrinya
"mas dimana". tanya Asih dengan kesal
"sedang ada di hotel California, kenapa ". jawab Rendi
"buruan pulang, aku merindukanmu". ucap Asih
"iya ini aku mau pulang". jawab Rendi dan mematikan sambungan teleponnya
Rendi bernafas lega karena dua bulan ini hubungan istrinya dan juga orang tuanya sudah baik baik saja. Rendi sudah mengetahui alasan orang tuanya sempat membenci istrinya yaitu asih melakukan tindakan aborsi pada anak mereka, awalnya rendi juga mengetahui itu marah karena istrinya melakukan tindakan itu tapi Rendi akhirnya memaafkan istrinya dengan catatan istrinya akan menyanyi anaknya nanti, yaitu anak yang sedang di kandung Bunga.
Rendi melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang meninggalkan hotel California.
di kamar hotel Bunga sudah mulai tenang dan Bunga sudah tidak terkejut saat pakaiannya sudah berganti dengan daster karena sudah beberapa kali Yusuf yang menggantikan pakaiannya.
"bagaimana dengan pestanya, ini tidak apa apa kita tidak kembali ke aula". tanya Bunga sambil mengelus perut buncitnya
"tidak apa apa, sekarang istirahatlah, jangan sampai kelelahan". ucap Yusuf
Bunga sendiri mulai menyadari perasaannya bahwa dia mulai jatuh cinta pada Yusuf tapi Bunga berusaha menekan perasaannya itu karena dia beranggapan bahwa dirinya tidak pantas untuk Yusuf
"bolehkah aku egois dan berdoa bahwa aku ingin kita bersama selamanya". ucap Bunga dalam hati sambil melihat ke arah Yusuf yang sedang memainkan ponselnya
"tapi aku sadar , aku hanya wanita kotor yang kamu selamatkan kehormatannya dengan menikahi ku". sambung Bunga dalam hati dan segera menghapus air mata yang berjatuhan
Bunga membalikkan badannya dan membelakangi Yusuf agar Yusuf tidak tau jika dia sedang menangis. untuk menenangkan pikirannya Bunga memilih untuk memejamkan matanya dengan harapan saat bangun tidur perasaannya menjadi lebih baik.
Yusuf yang merasakan keheningan langsung melihat ke arah Bunga yang membelakanginya. Yusuf meletakkan ponselnya dan berjalan menghampiri Bunga. Yusuf berjongkok dan menatap wajah bunga dengan intens, Yusuf menghela nafasnya saat melihat sudut mata bunga yang berair tanpa di jelaskan Yusuf tau bahwa Bunga habis menangis. Yusuf berjalan menuju jendela dan menutup gordennya agar Bunga tidur dengan tenang dan tidak terganggu dengan cahaya matahari.
sudah dua bulan kepergian Alex dan Laura kini Andra, Arden dan Ana serta keluarganya sudah beraktivitas seperti biasanya walaupun masih tertinggal rasa sedih dalam hati mereka tapi mereka sudah mengikhlaskan kepergian orang tua mereka.
Anissa yang sedang merasa cemas dan meremas tangannya
"tenang sayang , jangan gugup mas yakin kamu pasti bisa". ucap Arden dan mengusap punggung tangan istrinya
"aku gugup sayang bagaimana jika aku tidak bisa menjawab pertanyaan dosen di dalam sana". ucap Anissa
"kamu pasti bisa dan mas yakin kamu akan mendapatkan nilai yang terbaik". ucap Arden dan mengecup punggung tangan istrinya
hari ini Anissa akan melakukan sidang skripsi yaitu perjuangan terakhir selama dia duduk di bangku perkuliahan. ada rasa senang dan gugup menjadi satu di dalam dirinya Anissa. Anissa menarik nafasnya
Anissa membuka pintu dan masuk ke ruangan persidangan sedangkan Arden menunggu di luar dan berdo'a untuk kelancaran istrinya. satu jam terlewati dan Arden berjalan dengan harap harpa cemas di depan raungan
drt
drt
Arden mengambil ponselnya dan tertera nama ayah Delon di dalam ponselnya
__ADS_1
"hallo yah". jawab Arden
"bagaimana sidangnya". tanya Delon di sebrang telepon
"Anissa sedang di dalam yah masih ada waktu satu jam lagi untuk Anissa menyelesaikan sidangnya". jawab Arden
"apa dia gugup". tanya Delon
"iya yah sebelum masuk ke ruang sidang Anissa merasa gugup tapi Arden yakin Anissa bisa melaluinya dengan baik". ucap Arden
"nanti kabari ayah jika sidang sudah selesai apa anak itu. berhasil atau tidak". ucap Delon
"iya yah". jawab Arden
Arden kembali duduk dan menyandarkan kepalanya di kursi. Arden mulai khawatir ketika sudah dua jam lebih tapi istrinya belum juga keluar
"sayang kenapa kamu belum selesai ". ucap Arden
ceklek
Anissa langsung memeluk suaminya saat keluar dari ruang sidang dan tangis Anissa pecah. Arden langsung mengusap punggung istrinya
"it's oke sayang ". bisik Arden
"hiks hiks". Anissa semakin menagis
"tidak apa apa jika hari ini belum lulus masih ada banyak waktu ". ucap Arden
"auw auw". ringis Arden saat Anissa mencubit pinggang
"kenapa di cubit sayang ". ucap Arden
"habisnya kamu bilang aku tidak lulus ". ucap Anissa sambil mengerucutkan bibirnya
"lalu". tanya Arden dengan bingung apalagi tadi istrinya menangis
"aku lulus sayang". Jawab Anissa
"lulus". tanya Arden dan Anissa menanggukan kepalanya
"lalu kenapa kamu menangis jika lulus". tanya Arden
"aku terharu". jawab Anissa
Arden langsung memeluk istrinya dan mengecup puncak kepalanya istrinya dan itu membuat orang yang lewat merasa iri dengan kebersamaan mereka
"sudah sayang ini di kampus malu di lihat orang". ucap Anissa dan melepaskan pelukannya
"selamat sayang". ucap Arden dan mencubit pipi Anissa
mereka berdua tertawa bersama. Arden mengandeng tangan Anissa dan meninggalkan ruang sidang. Arden mendapatkan pesan dari ayah Delon untuk datang ke rumah untuk merayakan keberhasilan Anissa dalam sidang skripsi.
"kita mau ke rumah ayah dan mama sayang". tanya Anissa saat Arden mengendarai mobilnya ke arah rumah orang tuanya
"iya tadi ayah mengirimkan pesan bahwa mereka mengajak kita untuk makan bersama sebagai pesta kecil kecil untuk keberhasilan mu". jawab Arden dan Anissa menanggukan kepalanya
tapi sebelum itu mereka berhenti di supermarket untuk membeli beberapa makanan untuk di bawa ke rumah orang tua Anissa. saat mobil memasuki halaman rumah orang tua Anissa sudah menunggu mereka di depan. saat mobil berhenti Anissa langsung turun dan memeluk kedua orang tuanya.
"selamat sayang". ucap Lisa
"iya ma". ucap Anissa dan mencium kedua pipi mamanya
"akhirnya anak ayah menyelesaikan kuliahnya". ucap Delon
"iya dong yah, kalau gak selesai sayang uangnya". jawab Anissa dan diiringi tawa mereka
__ADS_1
Laura dan Delon mengajak putrinya dan juga menantunya untuk masuk ke dalam rumah. Kedatangan mereka di sambut hangat. Anissa terseyum saat melihat baby Farhat sudah bisa berjalan