Tuan Mafia

Tuan Mafia
Tuan Mafia S2- Masih Misteri


__ADS_3

Tante Meri melihat putrinya yang menatap mobil Andra yang sudah pergi


"bel itu benar". tanya Meri


"benar tapi aku akan merebut Andra dari Tasya". jawab Abel dan langsung masuk ke dalam butik sedangkan Tante Meri hanya mengelus dadanya saat mendengar jawaban Abel.


sedangkan Andra, Tasya dan Ana sampai di tempat pembuatan undangan, mereka berdua masuk sedangkan Ana lebih memilih menunggu di mobil. Andra dan Tasya memilih desain undangan pesta pernikahan mereka, mereka memutuskan memilih undangan yang berbentuk akralik.


"kak kenapa milih, kenapa tidak undangan kertas saja". bisik Tasya


"tidak apa apa undangan ini cocok dengan konsep pestanya". jawab Andra


setelah selesai mereka memilih souvernir untuk para undangan. pegawai membawakan beberapa contoh souvernir di antara gelas yang terbuat dari keramik yang bisa di ukir nama, parfum, jam, dan perlengkapan makan.


"ini mas mba beberapa contoh souvernir untuk pernikahan". ucap pegawai itu


"sya kamu mau souvernir yang mana". tanya Andra dan Tasya melihat satu satu contoh souvernir itu


"bagaimana jika gelas ini saja kak". jawab Tasya


"mba apa ini bisa selesai dalam dua hari". tanya Andra


"bisa mas". jawab Pegawai itu


"baiklah mba, kami pesanan yang ini saja". pegawai itu langsung mencatat pesanan Andra dan tulisan yang mereka mau dan mau desain tulisan yang seperti apa. setelah selesai mereka kembali ke mobil tapi saat sampai di mobil mereka tidak melihat Ana


"kak Andra ini Ana kemana". tanya Tasya saat tidak melihat Ana di dalam mobil


"tidak tau , coba aku hubungi Ana dulu". Andra mengeluarkan ponselnya dan mencoba menghubungi Ana


sedangkan Ana di tempat lain


bugh


bugh


bugh


sedangkan berkelahi dengan beberapa orang bertopeng yang menyeretnya dari mobil tadi.


"siapa kalian". tanya Ana tetapi orang itu tidak menghiraukan pertanyaan Ana


"ikut kami". perintah mereka


"tidak mau". jawab Ana


saat mendengar penolakan Ana mereka mengeluarkan pistol mereka, Ana yang berada di tengah tengah mereka harus berhati hati apalagi sekarang dia tidak membawa senjata sama sekali


"siapa mereka sebenarnya". monolog Ana sambil mengamati mereka satu persatukan


Ana mengangkat salah satu kakinya dan menendang senjata mereka kemudian memutar tubuhnya sehingga pistol mereka jatuh


bugh

__ADS_1


bugh


bugh


Ana berkelahi dengan mereka dan saat itu teman teman dari para penjahat itu datang, Ana langsing mengambil salah satu senjata mereka


dor


dor


dor


dor


dor


mereka saling menembakkan


bugh


Ana menjatuhkan pistol dan menahan sakit saat karena ada seseorang yang memeluk tengkuk


dor


dor


dor


Ana terkejut saat mendengar suara tembakan dan menoleh ke belakang, Ana terkejut siapa yang datang, para penjahat itu langsung meninggalkan Ana saat orang itu mendekat.


"kenapa pak Farhan bisa menembak". monolog Ana dalam hati


"saya pernah belajar menembak". beritahu Farhan seakan akan tau apa yang di pikirkan Ana


"apa yang kamu lakukan di tempat sepi seperti ini". tanya Farhan


"tidak ada". jawab Ana


Farhan langsung meninggalkan Ana begitu saja sehingga membuat Ana melongo, Ana langsung meninggalkan tempat itu sebelum mereka kembali. Ana melihat ponselnya banyak panggilan dari Andra dan juga Tasya. Ana menetralkan nafasnya sebelum mengahampiri mereka berdua


"itu Ana kak". tunjuk Tasya saat melihat Ana berjalan menghampiri mereka


"dari mana". tanya Andra saat Ana sudah sampai di depannya


"Ana habis beli eskrim di ujung jalan sana". jawab Ana sambil menunjukan kantong plastik yang di bawa


"ya sudah ayo kita pulang". ajak Andra dan mereka langsung masuk mobil dan meninggalkan tempat itu.


sedangkan di tempat lain


plak


plak

__ADS_1


plak


plak


plak


seorang pria sedang menampar anak buahnya


"siapa yang menyuruh kalian menculik Ana ha". teriak pria itu


"maaf tuan muda kami hanya mengikuti perintah nyonya besar". jawab salah satu dari mereka


"keluar". perintahnya dan anak buahnya meninggalkan pria itu


kemudian pria itu mendekat seorang wanita paruh baya yang sedang duduk di sebuah ruangan.


"mama kenapa nekat seperti ini". tanya pria itu


"mama sudah tidak sabar melihat ke hancur Alex , gara gara Alex dan adiknya hidupku hancur". jawab wanita itu sambil menghisap batang rokoknya


"ma kita sudah menyusun rencana jangan sampai rencana itu gagal karena mama tidak sabar". beritahu pria itu kepada mamanya


"ma dengar aku akan merubah rencananya, akan lebih mudah jika aku menikahi Ana untuk membalas apa yang mama alami". beritahu pria itu


"tidak". bentak sang mama


"kenapa tidak, itu rencana yang bagus ma".


wanita itu menceritakan kepada putranya bahwa dulu Alex menikahi Laura juga untuk membalas dendam tapi apa yang terjadi Alex mencintai Laura sehingga mereka hidup bahagia dan memiliki tiga Anak


"ma tidak ada cara lain selain menikahi Ana karena Ana bisa bela diri dan memainkan senjata". jawab putranya itu dan menyakinkan mamanya


"tapi jika kamu menikahi Ana kamu pasti akan jatuh cinta dengannya dan mama tidak ada pernikahan". beritahu mamanya dan penolakan


"dengar mama aku menikahinya karena ada suatu alasan bahkan dengan pernikahan ini akan membuat Alex hancur, aku menikahi untuk mendapatkan seorang Anak mama taukan Nadia istriku tidak bisa mempunyai anak dan sekarang dia tidak pernah keluar rumah". mamanya menganggukan kepalanya


pria itu menjelaskan kepada mamanya bahwa setalah anak itu lahir akan dia berikan untuk istirnya dan akan memberitahu Ana bahwa dia istri kedua sehingga membuatnya sedih dan dia berencana akan membuat Ana menderita secara perlahan. putranya itu juga sudah memberitahu rencana ini kepada istrinya dan istrinya setuju. nanti saat Ana hamil maka Nadia juga akan berpura pura hamil agar tetangga mereka tau bahwa Nadia bisa hamil.


"tapi kamu yakin tidak akan jatuh cinta dengannya".


"tidak ma aku hanya akan menyentuhnya sampai dia hamil setelah tau di hamil aku akan mulai menjauhi sedikit dikit". pria itu menyakinkan mamanya.


Alex yang berada di kantornya memegang ponsel milik Ana tetapi tidak ada pesan dari nomor asing itu. saat sedang menatap ponsel Putrinya, Mex masuk ke ruangan kakaknya itu dan duduk di hadapan kakaknya tersebut.


"ada apa kak". tanya Mex


"aku rasa orang yang meneror Ana ada hubungannya dengan penculikan Ana waktu kecil". beritahu Alex


"selain Gunawan kakak punya musuh lagi mungkin". tanya Mex


"tidak ada hanya Gunawan, sedangkan dengan Gunawan kita sudah berdamai, lalu siapa".


"Sintia mungkin dia sakit hati karena kakak campakkan". Mex berbicara sambil melihat handphone Ana dan mencari nomor asing yang sudah terhapus secara otomatis saat pesan itu Sudah di baca

__ADS_1


"Sintia sudah bahagia dengan suaminya, dia sekarang jadi istrinya ustadz, tidak mungkin melakukan itu". jawab Alex


__ADS_2