Tuan Mafia

Tuan Mafia
Tuan Mafia S2- Rumah Kardus


__ADS_3

Bunga yang sudah selesai mengecek beberapa berkas segera merapihkan berkas itu lalu mengantarkan ke ruangan Yusuf. setelah mengetuk pintu dan di izinkan masuk oleh Yusuf, Bunga baru masuk


"saya sudah memeriksa berkasnya tuan hanya ada satu berkas yang tidak sesuai dengan data yang ada di kantor dan ada kejanggalan dari data yang tertulis di sana, Ini berkas yang aman dan warna hijau ini berkas yang ada kejanggalan yaitu berkas dari bagian keruangan". ucap Bunga dan meletakan berkas yang aman di sisi kanan Yusuf lalu berkas berwarna hijau di depan Yusuf


"tuan bisa mengeceknya kenapa saya mengatakan jika ada kejanggalan di berkas itu adalah dimana ada salah satu data pengeluaran yang tidak sesuai dengan apa tertulis diberkas itu, saya sedikit ada pengalaman tentang keuangan". ucap Bunga


"kamu boleh keluar". ucap Yusuf


"mulai besok berangkat kuliah terlebih dahulu baru ke kantor dan besok berangkatlah pagi jam enam untuk mengikuti ulangan susulan". ucap Yusuf tanpa melihat ke arah Bunga dan Bunga menghentikan langkahnya lalu membalikan badannya


"kamu sudah hampir semester akhir sebaiknya segera selesai kuliah mu". ucap Yusuf dan mengangkat kepalanya


"terima kasih tuan". ucap Bunga


"tapi buanglah sikap sombong dan jahat mu itu ataupun sifat mu yang suka menghina orang lain". ucap Yusuf dan Bunga menatap Yusuf


"a akan saya usahakan". jawab Bunga lalu keluar dari ruangan Yusuf dan kembali ke ruangannya


setelah kepergian Bunga Yusuf segera mengecek berkas dari bagian keuangan yang diberikan oleh Bunga. setelah membaca dan meneliti data itu Yusuf menemukan ada kejanggalan, ternyata sudah tiga bulan lamanya ada yang melakukan korupsi di perusahaannya. Yusuf langsung mengepalkan tangannya karena merasa terbodohi oleh bawahannya. Yusuf membanting berkas itu.


"tapi kenapa seketaris ku yang sebelumnya tidak menemukan kejanggalan ini, sial aku baru ingat bahwa seketaris dan bagian keuangan mereka adalah adik kakak". umpat Yusuf


"Sial aku sampai tidak memperhatikan ini karena sibuk untuk mendapatkan Anissa". sambung Yusuf


Yusuf langsung mengambil Teleponnya dan memanggil bagian dari keuangan itu. Yusuf menutup telponnya dengan kasar.


"tuan memanggil saya". ucap Marwan kepala keuangan


tanpa banyak tanya Yusuf langsung melemparkan berkas itu pada Marwan dan Marwan menatap berkas itu lalu melihat ke arah Yusuf yang menatapnya dengan tajam. Marwan mulia merasakan hawa dingin dingin ruangan itu dan Marwan meremas tangannya karena merasa cemas sedangkan Yusuf sudah dapat membaca gerakan dan apa yang di lakukan Marwan. Yusuf langsung bangkit dan menghampiri Marwan


bugh


bugh


bugh


Marwan yang mendapatkan serangan tiba tiba dari atasan itu tidak dapat menghindar. Yusuf langsung mencengkram kerah baju Marwan


"berani beraninya kamu melakukan korupsi di perusahan ku Marwan". ucap Yusuf sambil menatap tajam ke arah Marwan


"akan aku berikan pelajaran yang tidak akan pernah kamu lupakan". ucap Yusuf langsung mendorong Marwan


bugh


bugh


bugh


Yusuf terus menghajar Marwan sehingga membuat Marwan tergeletak di lantai dengan keadaan babak belur, Bunga yang mendengar keributan langsung berlari ke ruangan Yusuf. Bunga terkejut saat membuka pintu di sana Bunga melihat seorang pria yang sudah tergeletak di lantai dengan keadaan mengenaskan.


"jangan tuan". ucap Bunga langsung berlari ke arah Yusuf dan menahan tangan Yusuf yang akan menghajar orang itu lagi


"lepaskan jangan halangi aku untuk memberikan pelajaran pada orang yang suka menggelapkan dana ini agar tidak mengulanginya lagi". ucap Yusuf dengan kemarahan yang masih berkobar di dalam dirinya


"jangan tuan jika tuan terus memukulnya dia bisa mati tuan". ucap Bunga yang masih berusaha menahan tubuh Yusuf yang akan menghajar orang itu

__ADS_1


"lepaskan". teriak Yusuf dan mendorong Bunga


dug


"auwh". ringis Bunga saat dahinya mengenai pinggiran meja dan dahinya mengeluarkan darah karena pinggiran meja itu terbuat dari kaca


Bunga langsung berdiri kembali saat melihat Yusuf yang menghajar Marwan bahkan Marwan sudah tidak sadarkan diri. Bunga langsung menarik Yusuf tetapi lagi lagi Yusuf memberontak dan mendorong Bunga lagi. Bunga bangkit lagi dan mengumpulkan tenaganya untuk menghentikan Yusuf jika tidak Marwan bisa tiada di hajar oleh Yusuf. Bunga menarik Yusuf sehingga membuat Yusuf terjerembab di sofa dan melihat Yusuf akan bangkit Bunga segera menduduki perut Yusuf sehingga membuat rok bunga terangkat dan paha mulus bunga sedikit terekspos. Bunga menahan kedua tangan Yusuf ke samping


"lepaskan aku ingin memberikan dia pelajaran". ucap Yusuf dan menatap bunga dengan tajam tapi tatapan itu sama sekali tidak membuat bunga takut


"tuan dia sudah pingsan jika tuan menghajarnya maka dia bisa mati tuan". ucap Bunga


Amar yang masuk ke ruangan putranya terkejut saat melihat putranya di duduki oleh seorang perempuan dan putranya sedang berusaha melepaskan diri dari perempuan itu.


"apa yang kamu lakukan pada putraku". ucap Amar dan Bunga terkejut saat mendengar suara seseorang


bugh


"auwh". ringis Bunga saat pantat mengenai lantai karena di dorong oleh Yusuf


bugh


Yusuf terjatuh kelantai saat Bunga menahan kakinya


"om tolong bantu saya jika tidak tuan akan menghajar orang itu dan bisa membuatnya mati". ucap Bunga sambil menahan sakit di tangannya saat kaki Yusuf terus bergerak bahkan bunga juga harus bisa menghindari satu kaki Yusuf yang terbebas agar tidak mengenai mukanya


Amar yang baru menyadari ada orang di lantai dan melihat kearah putranya Amar baru sadar jika putranya sedang dalam keadaan marah dan tidak bisa mengontrol emosinya. Amar langsung masuk ke dalam ruangan yang ada di sudut ruangan itu dan Amar kembali dengan membawa suntikan lalu menyuntikkan ke Yusuf, perlahan Yusuf menutup matanya. Bunga melepaskan tangannya dan bernafas lega.


"apa yang terjadi". tanya Amar


"pasti ada sesuatu yang di lakukan orang itu sampai membuat Yusuf Marah, Yusuf kenapa kamu tidak bisa mengendalikan kemarahan mu". monolog Amar dalam hati


"siapa kamu". tanya Amar yang baru melihat perempuan itu


"saya seketaris baru tuan Yusuf om". jawab Bunga dan Amar menarik nafasnya


"saya harap kamu menutup mulutmu dengan apa yang kamu lihat hari ini". ucap Amar


"memang kenapa tuan Yusuf bisa seperti itu om". tanya Bunga yang tentu terkejut saat melihat bos sekaligus dosennya marah seperti itu


"kamu tidak perlu tahu dan jangan mencari tau, lakukan pekerjaan mu saja". jawab Amar


"sekarang bantu saya untuk meletakkan Yusuf di ruang istirahatnya". perintah Amar


Bunga membantu ayah Yusuf memapah Yusuf dan meletakan Yusuf di atas ranjang setelah itu Bunga kembali ke ruangan. Bunga mengobati dahinya yang berdarah. Amar membawa Marwan ke rumah sakit dan menyuruh beberapa orang untuk menjaga Marwan


"auwh hari pertama kerja malah seperti ini ternyata tuan atau pak Yusuf mengerikan jika marah". ucap Bunga


"oke bunga jangan ikut campur lakukan pekerjaan mu dan mendapatkan gaji untuk memenuhi kebutuhan mu oke". sambung Bunga dan menyandarkan kepalanya


Sedangkan di tempat lain Arden dan Anissa sedang mendatangi perumahan kumuh bahkan rumah itu terbuat dari kardus sebenarnya mereka darah bersama anak anak MAPALA lainnya. Arden mengandeng tangan Anissa dengan erat bahkan Anissa merasakan ketakutan saat memasuki kawasan itu karena mereka berpenampilan seperti preman bahkan berbadan besar serta ada beberapa yang memiliki wajah yang penuh luka. mereka semua menatap rombongan Arden.


"beruang Kutub ini kita tidak salahkan mau menyalurkan bantuan ke sini". bisik Anissa dan mengeratkan pegangan pada tangan Arden


"tidak Anissa". jawab Arden

__ADS_1


"tapi aku takut lihatlah mereka seperti itu". bisik bunga lagi


Arden melepaskan genggaman tangannya sehingga membuat Anissa menatap Arden dengan intens sedikit berikutnya Anissa terkejut saat Arden meraih pinggang Anissa


"ayo jalan dan jangan banyak bicara". bisik Arden dan tentu saja Arden menggunakan kesempatan ini saat melihat Anissa takut terlintas dalam pikiran Arden untuk meraih pinggang Anissa


Anissa yang memang takut hanya diam saja saat Arden meraih pinggangnya akhirnya mereka berjalan dengan Arden menegang pinggang Anissa sedangkan para perempuan yang ada di belakang mereka merasa iri pada Anissa yang bisa membuat Arden bersikap hangat


"lihatlah Anissa sangat mudah membuat ketua kita yang begitu dingin bersikap hangat seperti itu". ucap anggota lainnya


"iya aku jadi iri padahal selama ini bunga yang begitu gencar mendekati pak ketua tapi Anissa yang mendapatkan pak ketua". sambung yang satunya


"iya jika Bunga ada di sini pasti akan kepanasan dengan kemesraan pak ketua dan Anissa". ucap yang satunya


"aku rasa mereka memang jodoh karena di lihat lama lama mereka sangat mirip, aku tidak sabar melihat mereka menikah".


sedangkan Arden di dalam hatinya merasa senang apalagi saat mendengar ucapan orang orang yang di belakang mereka


"bisakah aku seperti ini terus dengan beruang kutub". monolog Anissa dalam hati sambil menatap Arden


"tapi sayangnya semua ini hanya sandiwara apakah bisa sandiwara ini berubah menjadi nyata dan beruang kutub memiliki perasaan yang sama denganku, sikapnya yang dia tunjukkan beberapa hari ini membuatku merasa bahwa dia memiliki perasaan yang sama seperti yang aku rasakan". monolog Anissa dalam hati


"tunggu waktu yang tepat akan aku katakan padamu apa yang aku rasakan padamu saat bersamamu seperti ini, untuk sekarang aku ingin mendapatkan restu dari ayahmu dulu dan setelah itu baru sandiwara ini berubah menjadi nyata, sekarang aku berikan perhatian untuk mu agar kamu merasa nyaman bersama ku, aku tidak ingin penolakan darimu jika aku terburu buru seperti Yusuf yang kamu tolak secara halus dengan pacar bohongan dengan ku dan aku tidak ingin kamu melakukan pacar bohongan dengan orang lain untuk menolakku Anissa". monolog Yusuf dalam hati


setelah beberapa menit mereka berjalan akhirnya mereka sampai di tengah tengah permukiman itu, mereka semua berhenti di sana dan salah seorang menghampiri mereka.


"baru sampai". ucap Joko


"iya Joko, kenakalan mereka semua teman teman ku dan seperti yang aku katakan waktu itu, kami datang untuk memberikan beberapa barang atau bahan makanan yang berguna untuk semua orang yang ada di sini dan selain itu kami juga akan membantu kalian membersihkan tempat ini agar terlihat lebih rapih". ucap Arden


beberapa waktu lalu Arden tidak sengaja melewati tempat ini ya memang hampir semua orang yang tinggal di tempat ini seperti preman tetapi percayalah mereka bukan orang jahat, di sini terdapat enam puluh orang yang tinggal di sini mereka dari latarbelakang yang berbeda mereka tinggal di sini karena mereka adalah orang orang yang tidak memiliki tempat tinggal yang layak dan sulit untuk mencari pekerjaan, ada beberapa orang yang pernah masuk penjara tinggal di tempat ini. mereka adalah orang yang mengumpulkan barang barang bekas untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.


"teman teman kalian bisa meletakkan barang barang itu di sana". tunjuk Arden pada sebuah pondok yang satu satunya terbuat dari kayu dan pondok itu di gunakan mereka untuk berlindung ketika hujan karena tidak ada hujan maka rumah kardus mereka akan basah dan keesokan harinya mereka harus mengganti dengan kardus yang baru.


setelah meletakkan barang barang itu mereka langsung mengajak mereka untuk membersihkan tempat itu, walaupun Arden sudah memberitahu Anissa jika mereka bukan orang yang jahat tetapi Anissa masih merasa takut apalagi hampir semuanya Meraka adalah pria hanya ada beberapa perempuan saja sehingga membuat Anissa tidak mau jauh dari Arden. Tidak jarang Arden dan Anissa mendapatkan ejekan dari orang orang itu sehingga membuat Anissa tersipu malu, rona alami yang tercetak di pipi Anissa membuat Arden gemas.


setelah semuanya bersih anak anak MAPALA membantu beberapa orang membangun rumah kardus mereka yang sudah tidak layak untuk mereka tinggali. Anissa terseyum saat membantu mereka


"beruang kutub kenapa kamu tidak takut saat pertama bertemu mereka". tanya Anissa


"sebenarnya penampilan mereka seperti itu karena mereka jarang merawat diri mereka apalagi pekerjaan mereka itu mencari barang barang bekas dan lagian kita tidak boleh menilai buruk seseorang dari penampilannya". jawab Arden dan terseyum pada Anissa


Anissa melihat kebeberapa anak kecil yang ada di sana


"kenapa kamu tidak mengajak mereka untuk tinggal di rumah singgah mu kasihan jika mereka harus tumbuh di lingkungan seperti ini apalagi jika di lihat umur mereka sekitar 6 sampai 9 tahun". tanya Anissa


"mereka tidak mau karena mereka tidak mau jauh dari orang tua mereka, ada dua orang dari mereka yang tidak memiliki orang tua dan makam orang tuanya ada di dekat sini sehingga membuat mereka tidak mau jauh dari tempat ini agar setiap pagi mereka bisa ke makam orang tua mereka". jawab Arden


"mereka orang orang hebat, mereka bersyukur dengan apa yang mereka jalani kadang kita yang jauh lebih baik dari mereka lupa bersyukur". ucap Anissa dan Arden menanggukan kepalanya


cukup lama mereka berdiri di sana dan setelah itu mereka berdua berjalan menuju ke bagian lain untuk melanjutkan memberikan lingkungan tersebut


❤️❤️❤️


selamat membaca ini dua bab aku jadikan satu

__ADS_1


__ADS_2