Tuan Mafia

Tuan Mafia
Tuan Mafia S2- Program Arden Dan Anissa Junior


__ADS_3

di dalam kamar Anissa sedang merebahkan kepala di dada bidang suaminya dan memperhatikan suaminya yang sedang mengecek pekerjaan lewat laptop. semenjak kepergian sang ayah perusahan yang di pegang Alex di berikan kepada Arden dan itu membuat Arden sedikit kesulitan untuk menjalankan perusahaan itu tapi untung saja ada Andra dan Farhan yang mengajarinya bagaimana menjadi pemimpin yang baik untuk karyawan.


"masih lama hmmm". ucap Anissa


"sebentar lagi sayang". jawab Arden dan mengecup puncak kepalanya


Anissa beranjak dari dada bidang suaminya dan menyadarkan tubuhnya pada kepala ranjang dan membuka ponselnya untuk membaca novel favoritnya yang berjudul Mafia Girls Vs ustadz Tampa karya selvi_19. Anissa senyum senyum sendiri saat membaca novel tersebut.


Arden yang sudah menyelesaikan pekerjaan langsung mematikan laptopnya dan meletakan di atas nakas. Arden mengkerutkan dahinya saat melihat istrinya tersenyum senyum sendiri saat melihat ponsel. Arden langsung mengambil ponsel Milik istrinya sehingga membuat Anissa terkejut. Arden melihat apa yang membuat istrinya tersenyum sendiri.


"sayang aku belum selesai membaca novelnya, kembalikan ponselku". ucap Annisa


Arden malah mematikan ponsel itu dan meletakan di atas nakas.


"sayang kenapa di letakan di sana ,bawa sini ponselnya". ucap Anissa


"daripada membaca novel dan pekerjaan yang harus kita kerjakan berdua". ucap Arden


"pekerjaan apa sayang". tanya Anissa dengan bingung apalagi ini sudah malam


Arden menggenggam tangan Anissa lalu mencium punggung tangan istrinya


"sayang kamu kan sudah selesai kuliahnya dan tinggal menunggu wisuda". ucap Arden dan menatap ke bola mata istrinya


" i iya" jawab Anissa dengan gugup karena tatapan suaminya dan itu membuat Annisa was was apalagi melihat senyum tipis milik suaminya


"jadi bagaimana mulai malam ini kita berusaha membuat Arden dan Anissa junior". ucap Arden dan itu membuat Anissa tersipu


"bagaimana sayang". tanya Arden dan dengan malu malu Anissa menanggukan kepalanya


Arden memajukan kepalanya dan Anissa memejamkan matanya saat benda kenyal itu saling menempel. Anissa melingkarkan tangannya di leher suaminya dan Arden menyesap benda kenyal itu dengan dalam bahkan tangan Arden yang satunya menahan tengkuk Anissa dan satunya lagi memainkan benda kenyal yang masih berada di dalam.


Arden melepaskan ciuman saat mereka sudah kehabisan nafas, mereka saling tatap dan terseyum. Arden secara perlahan merbahkan istrinya di ranjang. Arden melepaskan tali yang ada di baju tidur istrinya. Arden mencium leher istrinya dan meninggalkan jejak kepemilikan. Anissa merasakan panas dengan sentuhan sentuhan lembut yang di berikan suaminya. ciuman Arden turun di bahu polos istrinya dan tangan Arden tidak diam saja tetapi menjelajahi setiap inci tubuh istrinya.


tubuh Annisa bergetar saat Arden mencium perut istrinya


"aku sudah tidak sabar melihat mu dengan Perut yang buncit". ucap Arden dan mencium perut Anissa


"ayah harap setelah malam ini kamu segara hadir di perut bunda ya". ucap Arden dan mengusap perut Anissa


Arden melepaskan pakaian yang meletakkan pada tubuhnya dan menyisakan boxsernya , Arden mengungkung tubuh istrinya


"aku suka melihat pipi mu yang memerah seperti ini sayang". goda Arden


"kenapa ini pipi bisa merah seperti ini hmm". ucap Arden sambil mengigit kecil Pipi istrinya


walaupun mereka sudah sering melakukan hubungan suami-istri tetap saja membuat Anissa merasa malu


Arden menarik selimut untuk menutup tubuh mereka. Arden memainkan squisi milik istrinya sehingga membuat Anissa mengeluarkan suara indahnya. saat menyadari istrinya sudah siap Arden mengarahkan megalodon milik untuk masuk ke sarangnya dan menyemburkan bisanya yang akan membuat istrinya kenyang selama sembilan bulan.


keringat mereka berdua melebur menjadi satu. Arden tersenyum saat melihat istrinya dengan rambut yang acak acakan dan peluh membahasi wajah cantiknya. Arden menyingkirkan rambut yang menutupi wajah istrinya. Anissa membalas senyuman suaminya. Anissa memejamkan matanya saat megalodon itu menyemburkan racunnya. Arden mencium kening istrinya dan menggulingkan tubuhnya ke samping lalu membawa istrinya ke dalam pelukan. Anissa mencari kenyamanan dalam pelukan suaminya.

__ADS_1


"terima kasih sayang". bisik Arden dan Anissa hanya menanggukan kepalanya


"semoga kamu segera hadir biar rumah ini tidak hanya kita berdua yang menempatinya". ucap Arden dan mengusap perut istrinya


Arden yang mendengar dengkuran halus istrinya tersenyum


"maaf sayang jika aku sudah membuat mu kelelahan, selamat tidur ". bisik Arden dan menyusul istrinya ke alam mimpi.


keesokan paginya Anissa keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah dan saat melihat ke ranjang ternyata suami masih tidur. Anissa menghampiri suaminya


"hmmm tampan sekali ". ucap Anissa dan memainkan jarinya di wajah suaminya


"aku sungguh beruntung menjadi istrimu ". sambung Anissa dan mencubit hidung suaminya


"sudah puas hmm menatap wajah tampan ku". ucap Arden dan membuka matanya


Arden menggengam tangan istrinya dan mencium punggung tangan istrinya


"morning kiss sayang ". minta Arden dan Anissa langsung mencium wajah suaminya


"yang ini belum ". ucap Arden dan menunjukkan bibirnya


"yang itu tidak mau". tolak Anissa


"he Kenapa tidak mau ". tanya Arden


"kalau aku mencium bibirmu maka yang ada aku akan berakhir di atas ranjang bersama mu dan aku tidak mau karena aku sudah mandi ". ucap Anissa dan menarik tangannya


"tidak mau , aku tidak yakin kamu bisa mengendalikan dirimu". ucap Anissa


"sudah ayo bangun dan mandi aku akan menyiapkan makanan ". perintah Anissa dan beranjak dari ranjang.


Arden menarik tangan Anissa sehingga membuat Anissa jatuh di atasnya. Arden langsung membalikan Anissa sehingga ada bawah kungkungnya lali mencium bibir istrinya, Anissa memukul dada suaminya karena dia tidak ingin mandi untuk kedua kalinya.


"manis". ucap Arden dan mengusap bibir istrinya yang sedikit bengkak


Arden langsung menjauh dari istrinya dan mengulum senyumnya


"terima kasih sayang morning kiss nya". ucap Arden lalu meninggalkan Anissa dan masuk kedalam kamar mandi


"hu selalu saja membuat ku jantungan". ucap Anissa sambil memegang dadanya yang berdetak dua kali lipat


Anissa langsung turun dari ranjang dan menyiapkan baju untuk suaminya lalu meletakkan di atas ranjang


"sayang bajunya aku letakkan di atas ranjang". ucap Anissa


"iya sayang". teriak Arden dari kamar mandi


setelah mendengar jawaban suaminya Anissa turun ke bawah untuk menyiapkan sarapan. sesampainya di dapur Anissa langsung memotong beberapa sayuran. Arden jika pagi lebih suka sarapan mengunakan nasi dan sayur di bandingkan roti karena menurut Arden sarapan mengunakan roti tidak kenyang. Anissa pagi ini memasak bening bayam, ikan goreng dan sambal terasi yaitu sambal favorit Arden.


"terakhir bumbu Cinta". ucap Anissa dan terkekeh lalu memasukkan bayam di air yang sudah mendidih. tidak butuh lama Anissa langsung mengangkat sayur bening itu.

__ADS_1


Anissa terkejut saat tiba tiba ada yang memeluknya lalu mencium pipinya.


"hu kami selalu membuat mu terkejut sayang". ucap Anissa yang masih fokus membuat sambal terasi


"maaf". ucap Arden dan mengecup pundak istrinya


"minggirlah". ucap Anissa dan melepaskan pelukan suaminya


setelah makan tertata di atas meja mereka berdua makan dengan diam dan lahap. Anissa terseyum saat melihat suaminya menyukai masakannya. bukan tidak ada pelayan tetapi Arden lebih suka memakan makanan yang di masak oleh istrinya sedangkan pelayan hanya di tugaskan untuk membersihkan rumah karena urusan memasak adalah Anissa.


"enak sayang". tanya Anissa


"apapun yang kamu masak selalu enak". jawab Arden


setelah selesai makan Anissa mengantarkan suaminya ke depan untuk berangkat ke kantor.


"aku berangkat dulu sayang, baik baik di rumah dan jika ingin pergi izin dulu". ucap Arden


"iya sayang ". jawab Anissa


cup Arden membenamkan ciuman di dahi istrinya dan setalah itu baru masuk ke dalam mobil lalu melajukan mobilnya meninggalkan rumah.


Anisa masuk ke dalam rumah setalah mobil suaminya sudah tidak terlihat. Anissa masuk ke dalam kamar. saat membuka laci Anissa menemukan kalung miliknya yang hilang


"inikan kalung Ku" ucap Anissa sambil memperhatikan kalung yang terdapat namanya


"ternyata kamu yang menemukannya". ucap Anissa dan meletakan kalung itu kembali ke dalam laci


Anissa berjalan menuju balkon dan duduk memandangi langit-langit


"dulu saat mas Arden kerja, pagi pagi seperti ini aku dan mama pasti sedang ada kegiatan entah itu membuat kue, menanam bunga , olahraga atau berbincang bersama ". ucap Anissa saat mengingat awal dia menikah sebelum berangkat honeymoon setiap pagi pasti ada kegiatan bersama mama mertuanya


"tapi sekarang yang aku lakukan hanya duduk duduk seperti ini". sambung Anissa


Arden yang sudah sampai di perusahaan segara menuju ruangannya untuk mengecek beberapa berkas. sesampainya di ruangannya Arden menatap foto pernikahan orang tuanya, Arden tidak merubah apapun yang ada di ruangan itu yang dulunya milik ayahnya


"selamat pagi ayah mama". ucap Arden dan terseyum


Arden langsung membuka berkas yang ada di atas mejanya dan membacanya dengan teliti. setelah membacanya benar saja ada yang melakukan penggelapan dana perusahaan karena berkas itu ada kejanggalan yaitu pengeluaran yang begitu besar tapi tidak ada keterangan digunakan untuk apa. Arden memijat dahinya. memang semenjak dia yang memang ada beberapa karyawan yang meremehkan dirinya dan memanfaatkan untuk menjatuhkan perusahaan ini padahal dulu saat ayahnya yang megang tidak ada yang berani.


"mas aku takut jika ketahuan kita melakukan penggelapan dana". ucap Ola selalu bendera kantor


" kamu tenang saja tuan Arden itu tidak seperti ayahnya karena dulu saja dia terjun ke perusahaan masih di dampingi ayahnya jadi dia tidak akan tau jika ada penggelapan dana kecuali tuan Andra yang megang baru akan ketahuan karena tuan Andra sejak kecil selalu ikut ayahnya ke kantor dan belajar bisnis sejak SMP". jawab Leo


"mas yakin kan". tanya Ola


"selama kamu diam maka tidak ada yang tau, jika kita tidak melakukan penggelapan aku yakin anak mu tidak akan selamat dan mungkin anakmu sudah mati dua bulan lalu, dan hidupmu tidak akan seenak ini". sambung Leo.


"sudah jangan takut dan bersikaplah biasanya saja". ucap leo dan menepuk bahu Ola lalu meninggalkan Ola begitu saja dan kembali ke ruangannya


"ada untung tuan Alex meninggal dan perusahaan di pegang anaknya yang tidak memiliki pengalaman tentang dunia bisnis". ucap Leo dan menyandarkan tubuhnya di kursi

__ADS_1


__ADS_2