Tuan Mafia

Tuan Mafia
Tuan Mafia S2- MP


__ADS_3

setelah acara selesai dan semua tamu sudah pulang bahkan anggota keluarga satu persatu meninggalkan tempat diadakan pernikahan tersebut.


"Arden sebaiknya bawa istrimu untuk beristirahat mama lihat Anissa sepertinya kelelahan". ucap Laura


bagaimana tidak lelah acaranya baru selesai jam sepuluh malam karena banyaknya tamu dari orang tua Arden dan Anissa.


"iya ma". jawab Arden


Arden mengahampiri Anissa yang sedang duduk di pelaminan sambil memijat kakinya


"kenapa". tanya Arden yang berjongkok dan mengambil kakinya Anissa lalu memijatnya


"sedikit pegal, tidak apa apa". ucap Anissa dan menarik kakinya


"ayo istirahat atau mau aku gendong". ucap Arden


"tidak aku masih bisa jalan". jawab Anissa dan menerima uluran tangan Arden


sepanjang perjalanan menuju kamar Anissa melingkarkan tangannya di lengan Arden. sesampainya di kamar mereka Anissa merasa merinding saat melihat kamar yang sudah di hias untuk pasangan yang baru menikah, jika Anissa merasa merinding beda halnya dengan Arden yang selalu tersenyum.



"mau mandi dulu atau nanti, atau mau mandi bareng saja". ucap Arden


"kamu mandi saja dulu". ucap Anissa dengan kikuk


"baiklah". jawab Arden dan masuk kedalam kamar mandi


Anissa mengamati seisi kamar dan duduk di pinggir ranjang


"Kenapa aku merasa merinding seperti ini". ucap Anissa dan mengusap tengkuknya


ceklek


pintu terbuka dan menampilkan sesosok Arden yang hanya terbalut handuk di pinggangnya, Anissa yang melihat itu langsung menundukkan kepalanya


"segera mandi sayang dan persiapan dirimu". bisik Arden dan mencium pipi Anissa sehingga membuat Anissa langsung berlari ke kamar mandi


brak

__ADS_1


Arden terkekeh saat melihat Anissa membanting pintunya. sedangkan Anissa yang berada di kamar mandi semakin merasa merinding saat Melihat kamar mandi yang juga di hias bahkan bathtupnya di penuhi dengan bunga, Anissa dapat memastikan bahwa Arden mandi di bawah sower



"apa dia niat berencana mengajakku mandi bersama". ucap Anissa


Anissa menghela nafasnya siap tidak siap dia harus mempersiapkan dirinya. Anissa menurunkan gaunnya lalu berdiri di bawah sower. saat air dingin itu mengenai dirinya Anissa merasakan bahwa rasa lelah yang dia rasakan tadi menghilangkan.


Anissa berdiri di depan cermin yang ada di kamar mandi dan melihat penampilannya malam ini, walaupun gaun malam yang dia gunakan tidak terlalu seksi Anissa tetap merasa malu apalagi ini pertama kali dirinya menggunakan pakaian seperti itu.



dengan tangan yang gemetar Anissa membuka pintu kamar mandi dan Anissa semakin gugup saat Arden menatapnya lalu berjalan ke arahnya.


"tidak tidak aku belum siap". ucap Anissa yang menghindar dari Arden


"jangan gugup sayang". ucap Arden yang menghampiri Anissa tetapi Anissa menghindari dirinya , Anissa merasa merinding saat melihat Arden yang masih menggunakan handuk


"beruang kutub sebaiknya kamu bersikap dingin saja daripada seperti ini mengerikan". ucap Anissa


"aaaa". teriak Anissa sambil berlari


"aaa". teriak Anissa lagi saat Arden berhasil menarik pinggangnya dan membuat mereka berdua jatuh di atas ranjang


jantung mereka berdua berdetak dua kali lipat saat berada di posisi seperti ini, dimana Anissa berada di bawah Kungkungan Arden. Arden menyingkirkan rambut Anissa yang menutupi wajahnya


"lihatlah aku juga sama seperti mu, saat berdekatan seperti ini membuat jantungku berdetak dua kali lipat". ucap Arden


Anissa memejamkan matanya saat Arden mencium kening, pipinya, hidungnya lalu bibirnya. Anissa mengalungkan tangannya di leher Aden saat Arden mencium bibirnya semakin dalam dan secara naluri Anissa membalas ciuman Arden.


Arden menghentikan ciumannya saat mereka mulai kehabisan nafas


"boleh". tanya Arden


"lakukanlah". jawab Anissa


Arden mencium lehernya Anissa dan meninggalkan jejak kepemilikan, tangan Arden tidak tinggal diam. tangan nakal Arden turun ke buah pepaya Anissa sehingga membuat Anissa mendongakkan kepalanya. saat merasakan tangan Arden yang mengusap buah pepaya.


"hmmm". guman Anissa

__ADS_1


Arden menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka. entah sejak kapan Arden melepaskan Pakaiannya dan Anissa tidak menyadari hal itu karena terbuai dengan sentuhan sentuhan yang Arden berikan.


"mungkin awalnya akan terasa sakit tapi aku akan melakukan dengan pelan, nanti jika terasa sakit kamu bisa mencakar punggung ku sayang". ucap Arden dan Anissa menganggukan kepalanya


Arden mencium Anissa sebelum melakukan penyatuan. Anissa meringis saat merasakan sesuatu berusaha menerobos miliknya, Anissa mencengkram batal dengan erat. Anissa mengigit bantal saat tongkat sakti milik Arden terbenam seluruhnya. Arden memainkan buah pepaya Anissa untuk mengalihkan rasa sakit yang Anissa rasakan. Arden juga mencium Anissa.


Anissa merasakan rasa yang tidak nyaman dibawah sana seperti ada yang mengganjal. saat Anissa sudah merasa tenang Arden mengerakkan.


"rrrr". guman Anissa saat dia merasakan sesuatu yang baru pertama kali dia rasakan. Arden menghentikan kegiatan agar Anissa bisa merasakan pelepasannya


setelah itu Arden kembali mempermainkan permainannya. Arden menjatuhkan dirinya di sampaikan Anissa saat sudah mencapai puncaknya.


Arden membawa Anissa ke dalam pelukannya dan mencium kening


"terima kasih sudah menjaganya dan menjadikan aku yang pertama". bisik Arden


Anissa merbahkan dirinya di dada bidang Arden. Arden membenarkan selimutnya. Anissa yang sudah kelelahan langsung memejamkan matanya. Arden memandangi wajah lelah istrinya dan setelah itu Arden Ikut menyusul Anissa ke alam mimpi


keesokan paginya setelah mandi mereka berdua duduk di sofa dekat dengan Jendela dengan posisi Arden Yang memeluk Anissa bahkan mereka masih menggunakan jubah mandi



"apa masih sakit". tanya Arden saat melihat Anissa sedikit meringis saat mencari posisi yang nyaman


"sedikit dan rasa seperti ada yang mengganjal di bawah sana". jawab Anissa sambil menatap Arden


"kenapa Melihat ku seperti itu". tanya Arden


"aku masih tidak percaya jika kamu bisa Semanis ini beruang kutub padahal dulu sangat dingin". ucap Anissa dan Arden terkekeh


"karena kamu istriku dan berhak untuk mendapatkan perlakukan seperti, dan untuk sikap ku yang dingin yang untuk orang lain yang tidak penting dan bukan siapa siapa untukku jadi mereka tidak berhak mendapat sikap manis ku". jawab Arden lalu mencium pipi Anissa


"jadi tidak semua orang harus tau dengan sikap manis dan hangat ku ini, sikap ini hanya aku tunjukkan pada mu". sambung Arden dan memeluk Anissa


"lapar hmmm". ucap Arden


"bagaimana tidak lapar semalam saja tenaga ku kamu kuras dan di tambah tadi pagi, dan ternyata benar ya kata temanku seorang pria jika sudah menikah berubah mesum". ucap Anissa dan Arden hanya terkekeh saat mendengar penuturan istrinya


"hmmm sebentar lagi makanannya datang, sabar ya". ucap Arden dan Anissa menanggukan kepalanya

__ADS_1


__ADS_2