
cuaca mendung seakan mendukung kesedihan yang di alami oleh sebuah keluarga dan mengantarkan kepergian seseorang. di depan gundukan tanah mereka semua masih tidak percaya jika ayah dan mamanya telah meninggalkan mereka bertiga. tiga bersaudara itu menatap dua gundukan tanah yang masih basah.
"mama ayah kenapa begitu cepat meninggalkan kita bertiga". ucap Andra
"mama ayah kenapa meninggalkan kita, Kenapa mama dan ayah tidak ingin melihat anak anak kami dan bermain dengan mereka hiks, padahal kami baru menyampaikan berita baik bahwa mama dan ayah akan jadi seorang kakek dan nenek lagi hiks ". ucap Ana
"ma yah apa kalian tidak sayang lagi dengan kita". ucap Arden
mereka berada di makam kedua orang tuanya cukup lama hingga rintik rintik hujan mulai turun. mereka semua meninggalkan makam itu dengan langkah Gontai. sesampainya di rumah mereka memasuki rumah itu dengan suasana hening. baru saja mereka berkumpul dan bercanda disana tetapi kini ruangan itu nampak kosong.
hujan deras menemani kesedihan mereka pagi itu.
flashback on
"bagaimana keadaan ayah saya dok". tanya Arden
"jawab dok". ucap Arden saat dokter itu hanya diam
"maaf, saya pasien di bawa kemari sudah tidak ada ". jawab dokter tersebut
"mas Alex ". teriak Laura
"hiks hiks kenapa kamu meninggalkan ku hiks". ucap Laura dengan air mata yang sudah tidak dapat di bendung
Laura bangun dan masuk ke dalam ruangan. di sana Laura melihat wajah suaminya yang sudah pucat
"mas kamu pasti bercanda kan ayo bangun". ucap Laura sambil menangkup Wajah suaminya
"kamu terlihat jelek mas jika seperti ini". sambung Laura
"ayo bangun yuk mas, kalau tidak bangun aku cubit". ancam Laura
Laura tertawa hambar saat tidak ada respon dari suaminya
"kamu jahat mas". teriak Laura sambil memukul dada suaminya
"mama". ucap Arden
"ma tenang ma". ucap Andra
"Andra Arden bangunkan ayah kalian, ayah kalian pasti sedang bercanda". ucap Laura
"ma yang ikhlas ya". ucap Andra
"tidak hiks hiks". ucap Laura
Andra membawa mamanya ke dalam pelukannya di dalam pelukan anaknya Laura menangis histeris
"kamu jahat mas katanya mau membahagiakan aku terus tapi mana janjimu, kamu malah meninggalkan ku hiks". ucap Laura yang masih di dalam pelukan putranya
"mas bawa aku, aku tidak sanggup hidup tanpa mu hiks". sambung Laura
"ma mama". ucap Andra saat melihat mamanya diam saja dan tubuhnya lemas di dalam pelukannya
"ma bangun ma". Arden menggoyangkan bahu mamanya
di hari itu Laura juga ikut pergi bersama suaminya. cinta mereka begitu kuat hingga menghembuskan nafas terakhir di hari yang sama. hari itu meninggalkan duka bagi ketiga anak mereka.
flashback off
di rumah itu mereka masuk ke dalam kamar mereka masing masing, di dalam kamar terjadi sebuah keheningan.
"sayang aku masih tidak percaya mama dan ayah meninggalkan begitu cepat". ucap Arden
"mas harus ikhlas ya , agar ayah dan mama bisa tenang di sana". ucap Anissa sambil mengusap kepala suaminya yang ada di pangkuannya
__ADS_1
"rasanya kemarin aku masih sering bertengkar dengan ayah tapi sekarang sudah tidak ada, bolehkah aku berdo'a jika ini hanya mimpi". ucap Arden
sedangkan di kamar Ana, Ana meringkuk di atas kasur dan menangis. Farhan mengahampiri Ana dan memegang pundak istrinya yang bergetar
"sayang ikhlaskan ayah dan mama ya". bisik Arden
"mas kenapa berita bahagia yang kita sampaikan dibarengi dengan berita duka seperti ini dengan kepergian mama dan ayah hiks, bahkan mama dan ayah belum melihat bagaimana anak kita tumbuh ". jawab Ana yang masih menangis
"sayang ini semua sudah takdir kita tidak bisa menghindari takdir ". ucap Farhan
Ana memeluk suaminya dan menumpahkan tangisannya di dada suaminya, Farhan mengusap punggung istrinya yang memberikan sebuah ketenangan
sedangkan Andra di dalam kamarnya hanya diam sambil menatap ke arah jendela sambil menenangkan baby kaila yang sejak tadi menangis seakan merasakan kepergian kakeknya neneknya.
"anak ayah sedih ya dengan kepergian kakek dan nenek ". ucap Andra
"cup cup sayangnya ayah jangan menangis terus ya, kita semua memang sedih tapi jangan berlarut larut ". ucap Andra
"kailanya bawa sini mas, mungkin dia lapar atau haus". ucap Tasya
Andra menyerahkan Kaila pada istrinya, Tasya langsung memberikan Asi pada putrinya tapi Kaila tidak mau
"ini bagaimana Kaila tidak mau diam". ucap Tasya yang panik bagaimana tidak panik Kaila sejak tadi menangis terus dan tentu saja sebagai ibu Tasya takut
Andra menepuk nepuk pantat putranya agar tenang, kaila mulai sedikit tenang saat Andra memakai selimut yang diberikan oleh ayah dan mamanya saat Kaila lahir.
di sebuah perusahaan
"saya senang bisa bekerja sama dengan pak Rendi". ucap Yusuf
"saya juga senang pak Yusuf, apalagi anda memiliki kinerja yang sangat bagus dan memiliki rekan rekan bisnis yang hebat hebat". ucap Rendi
"tapi saya masih kalah jauh dengan tuan Alexa si rajanya bisinis bahkan untuk bekerjasama dengan perusahaan sungguh sulit". ucap Yusuf
saat mereka sedang asik mengobrol tiba tiba layar televisi yang ada di ruang meeting menayangkan berita meninggalnya si raja bisnis taun Alex dan istrinya. Yusuf dan Rendi saling tatap
"cinta mereka kuat sehingga meninggal secara bersamaan". ucap Rendi
"iya pak, saya juga ingin seperti itu". ucap Yusuf
"pak Yusuf sudah menikah". tanya Rendi
"sudah dan kebetulan istri saya sedang hamil tiga bulan". jawab Yusuf
"saya ucapkan selamat karena sebentar lagi akan menjadi ayah". ucap Rendi dan mengulurkan tangannya dan di balas oleh Yusuf
"jika pak Yusuf berkenan saya ingin mengundang pak Yusuf serta istri untuk makan malam di rumah saya sebagai bentuk kerja sama kita dan agar kita semakin akrab sebagai rekan bisnis". ucap Rendi
"baiklah nanti saya akan datang bersama istri saya". jawab Yusuf
"sudah makan siang, bagaimana kalau kita makan bersama". ajak Rendi
"boleh". jawab Yusuf
Yusuf dan Rendi keluar dari ruang meeting dan saling mengobrol. Yusuf merasa senang bisa bekerjasama dengan Rendi karena bagi Yusuf, Rendi adalah orang yang mudah di ajak bicara dan itu akan membuat mereka mudah berkomunikasi mengenai perkerjaan mereka nantinya. sesampainya di restoran mereka langsung memesan makanan
drt
drt
Yusuf mengangkat telepon
"hallo". ucap Bunga di sebrang telepon
"iya". jawab Yusuf
__ADS_1
"apa aku mengganggumu". tanya bunga
"tidak, kebetulan ini sedang makan siang ". ucap Yusuf dan menyendok makanannya
"apa membutuhkan sesuatu ". tanya Yusuf
"hmmm sebenarnya aku ingin burung bakar saus Padang ". ucap Bunga
"apa ada yang lain ". tanya Yusuf lagi
"tidak hanya itu saja tapi jika kamu sedang sibuk aku akan mencarinya sendiri ". ucap Bunga
"jangan, aku belikan setelah selesai makan aku pulang ". ucap Yusuf
"terima kasih ". ucap Bunga
setelah sambungan terputus Yusuf melanjutkan makannya
"dari istri ". tanya Rendi
"iya, istriku sedang ingin makan burung bakar saus Padang, mau cari dimana burung bakar ini apalagi saus Padang ". jawab Yusuf
"aku bisa membuatnya bagaimana setelah ini kita cari burungnya dan masak di apartemen mu, jika mau di rumah nanti kejauhan keburu istrimu kelaparan ". ucap Rendi
"tidak perlu nanti merepotkan ". tolak Yusuf
"tidak apa apa pak hitung hitung ini sebagai ucapan terima karena sudah menerima kerjasama dengan saya ". ucap Rendi
setelah makan siang Rendi benar benar mengajak Yusuf untuk membuat burung bakar saus Padang, Rendi tampak antusias membuatnya dan ini bukan hal sulit bagi rendi karena ini makanan kesukaannya dan rendi sudah sering membuatnya
"ternyata kamu sedang ini makan kesukaan papa ya nak". ucap Rendi dalam hati sambil mengolesi burung dengan saus Padang dengan semangat
"semoga kamu suka nak dan tunggu empat bulan lagi kita akan bersama". ucap Rendi dalam hati
setelah selesai Rendi memberikan makan itu pada Yusuf dan Yusuf berterima kasih pada Rendi. sampainya di rumah Yusuf memberikan pesanan Bunga. bunga menelan salivanya saat melihat burung bakar itu sangat menggoda
"makanlah". ucap Yusuf yang sudah memindahkan ke dalam piring
Yusuf duduk di samping Bunga dan Bunga langsung memakan burung bakar itu. Yusuf menyelipkan rambut bunga kebelakang telinganya. Yusuf menopang kepala dan melihat Bunga, Yusuf terseyum saat melihat bunga makan dengan lahap karena beberapa hari ini bunga selera makan padahal makan yang Yusuf berikan adalah makanan yang diinginkan Bunga
"ini enak sekali belinya dimana". tanya Bunga
"itu tadi temanku yang buatkan". jawab Yusuf dan mengulurkan tangannya untuk memberikan saus yang ada di bibir bunga
bunga terdiam saat mendapatkan perlakuan itu dari Yusuf. Yusuf memajukan wajahnya dan secara perlahan bibir mereka sudah saling menempel. bunga menutup matanya dan Yusuf membersihkan sisa sisa saus yang menempel dengan ******** bibir Bunga. Yusuf memperdalam ciuman tersebut dan tangannya sudah berada di gunung Himalaya milik bunga. Bunga mengeluarkan suaranya dan itu membuat Yusuf semakin berani dan tangannya sudah berada di dalam baju bunga lalu melepas pengait yang menutupi gunung Himalaya Bunga. Bunga merasakan sesuatu yang aneh saat tangan Yusuf menyentuh miliknya secara langsung. Yusuf mencium leher bunga dan meninggalkan Jejak kepemilikan bahkan sekarang tangan Yusuf sudah ada di bagian pusat miliknya
"umhh".
pyar
mereka berdua terkejut dan langsung saling menjauh
"maaf tuan nyonya". ucap pelayan dan langsung pergi
Bunga menundukkan kepalanya dan merasa malu dengan kejadian tadi. mereka saling diam
"berbaliklah". ucap Yusuf saat melihat bunga kesusahan mengaitkan penutup gunungnya
dengan perasaan canggung bunga membalikan badannya dan Yusuf memasukkan tangan dan membenarkannya
"maaf". bisik Yusuf sambil memperhatikan tanda yang dia buat dan bunga hanya menganggukkan kepalanya karena malu tanpa berani melihat Yusuf
"cuci tangan". ucap Yusuf
"iya". jawab Bunga dan berdiri berjalan menuju wastel untuk mencuci tangannya sedangkan Yusuf membereskan piring yang bunga gunakan.
__ADS_1