
Yusuf yang sudah sampai rumah langsung masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintunya dengan kasar
"arghhh". teriak Yusuf untuk meluapkan emosinya karena di lamaran di tolak oleh Anissa
kemarahan tercetak jelas di wajah Yusuf, Yusuf mengepalkan tangannya bahkan urat urat yang ada di sekitar leher dan tangan tercetak jelas, Yusuf berdiri di depan cermin.
"kenapa kamu menolakku Anissa apa kurangnya diriku". ucap Yusuf sambil menekan Setiap katanya
pyaar
pyaar
pyaar
pyaar
pyaar
pyaar
Yusuf melempar foto foto Anissa yang terbingkai ke lantai. Amar yang baru masuk ke kamar putranya terkejut melihat semua foto Anissa yang dibingkai oleh putranya telah berserakan di lantai
"Yusuf tenanglah". ucap Amar
"pa dia menolak Yusuf, andai dulu papa mau tinggal di Indonesia dan menyekolahkan Yusuf di Indonesia maka Anissa sudah lama mengenal ku dan yang pasti dia tidak akan menolakku". ucap Yusuf sambil menatap tajam putranya
"ini semua salah papa". teriak Yusuf
"karena papa tidak mau menuruti keinginan Yusuf untuk tinggal di Indonesia". sambung Yusuf
"arghh". teriak Yusuf
pyaar
pyaar
__ADS_1
lagi lagi Yusuf melempar foto Anissa dengan kesel
"Yusuf nak tenang lah". ucap Amar
"lepas". teriak Yusuf saat Amar memegangnya
"Anissa harus menjadi milikku bagaimana pun caranya dan siapapun tidak boleh memilikinya". ucap Yusuf
pyaar
darah menetes dari punggung tangan Yusuf yang dia tinjukkan kekaca bahkan Yusuf mengulangi hal itu sampai darah mengalir deras dari tangan Yusuf. Amar berusaha menarik Yusuf dari depan kaca tetapi Yusuf mendorong papanya. Amar meringis saat telapak tangannya terkena serpihan kaca.
Amar keluar dari kamar Yusuf dan masuk ke dalam kamarnya, Amar mengambil suntikan dari dalam laci dan kembali ke kamar Yusuf, saat sampai di kamar Yusuf , Amar sangat terkejut saat melihat kedua tangan Yusuf yang sudah bersimbah darah. tanpa menunggu lama Amar langsung menyuntikkan suntikan itu ke tubuh Yusuf. pukulan Yusuf pada kaca mulai melemah dan Matanya mulai sayu
"Anissa hanya milikku". ucap Yusuf yang kemudian limbung dan Amar langsung menangkap tubuh putranya itu.
"ini yang papa takutkan Yusuf kenapa papa tidak mengabulkan keinginan mu tinggal di Indonesia, papa hanya takut kamu di tidak mengontrol emosimu ketika melihat Anissa bersama pria lain dan Papa jauh lebih takut saat kamu berhasil menikah dengan Anissa karena papa takut saat Anissa membuat kesalahan kamu tidak bisa mengontrol emosimu dan berujung menyakiti fisik Anissa". ucap Amar
Amar memapah Yusuf dan membaringkan Yusuf ke atas ranjang setelah itu Amar memanggil dokter untuk mengobati lukanya. sebelum dokter datang pelayan membersihkan kamar Yusuf. dokter mengobati luka Yusuf.
"dok apa Yusuf akan seperti ini, apa dia tidak bisa mengontrol dirinya". tanya Amar karena terakhir kali Yusuf mengamuk adalah saat dia duduk di bangku SMA yaitu saat dia tidak mendapatkan foto Anissa dan juga tidak bisa menghubungi Anissa lagi.
"iya dok saya baru mengetahui di mengalami itu waktu dia SMP". jawab Amar
"apa dia tidak meminum obatnya". tanya dokter itu
Amar membuka laci dan ternyata obat milik Amar masih utuh dan sama sekali tidak dia minum.
"seperti sejak pertama datang kemari dia tidak meminum obatnya dok". jawab Yusuf
"seharusnya dia meminumnya dan obat itu dosisnya sudah di kurang karena Yusuf sudah mulia bisa mengontrol emosi tetapi jika obat itu tidak di minum akan seperti ini jadinya". ucap dokter itu
Yusuf memiliki IED yaitu Intermittent Explosive Disorder merupakan sebuah gangguan saat seseorang mengalami kegagalan dalam mengontrol rasa marahnya dan memiliki dorongan-dorongan untuk bertindak secara kasar. Saat ada masalah, bahkan masalah kecil sekalipun, amarahnya dapat “meledak-ledak”. Amar mengetahui bahwa Yusuf memiliki gangguan ini saat Yusuf duduk di bangku SMP yaitu di mana Yusuf berkelahi dengan temannya hingga masuk ke rumah sakit dan Yusuf juga sering marah marah dan memukulkan tangannya di tembok atau kaca sampai satu minggu lamanya. Amar khawatir memutuskan untuk membawa Yusuf ke dokter dengan berbagai macam cara karena Yusuf terus mengamuknya dan akhirnya Amar mengetahui apa yang di alami putranya.
"dok apa gangguan ini bisa sembuh saya takut jika yang Yusuf alami itu akan terbawa sampai di berumah tangga dan yang saya takutkan kemarahannya akan mencelakai Keluarganya nanti". tanya Amar dengan cemas
__ADS_1
"penyakit IED masih bisa di atasi dengan berbagai macam cara salah satunya dengan terapi yang di bantu oleh para profesional, sebaiknya Yusuf di bawa ke dokter yang menangani IED, jika tidak di tangani maka bisa membayangkan dirinya sendiri maupun lingkungan sekitar". ucap dokter itu
"lukanya sudah obati jangan lupa untuk mengganti perbannya setiap hari agar lukanya tidak membusuk". ucap dokter itu
"baik dok" Jawab Amar
Pelayan mengantarkan dokter tersebut ke depan sedangkan Amar masih berada di kamar Yusuf yang masih tertidur karena obat penenang.
"Yusuf kenapa seperti ini". monolog Amar sambil menatap tangan putranya
"papa sudah menduga hal ini akan terjadi, papa sudah bilang dekati Anissa dengan sabar dan lihat karena kamu terburu-buru lalu mendapat penolakan dan berujung menyakiti dirimu sendiri". ucap Amar
drt
drt
drt
Amar mengambil ponselnya yang berada di sakunya dan ternyata sahabatnya Delon yang menghubunginya
"Amar aku minta maaf atas apa yang di lakukan putriku tadi". ucap Delon di seberang telepon
"Delon santai saja karena wajar Anissa menolak Yusuf, mereka berdua belum lama kenal hanya Yusuf yang sudah mengetahui Anissa sejak lama jadi tidak masalah Yusuf saja yang terburu-buru". jawab Amar
"Yusuf pasti kecewa dengan Anissa". ucap Delon
"tidak putraku mana bisa marah dengan Anissa, kamu tau dia menyukai Anissa sejak kecil mungkin Yusuf harus berjuang untuk mendapatkan hati Anissa". ucap Amar
"sekali lagi aku minta maaf Amar dan sampaikan juga pada putramu, aku mengundang makam malam ke rumah ku tapi kamu dan terutama putramu pulang dengan membawa kekecewaan". ucap Delon
"santai saja bro, dalam cinta pasti ada penolakan seperti kita dulu juga pasti mengalaminya". ucap Amar dan Delon terkekeh
lebih tepatnya Amarlah yang sering di tolak oleh ibunya Yusuf dan Delon juga tidak tau bagaimana pada akhirnya perempuan itu luluh pada Amar lalu menikah dan melahirkan Yusuf tapi sangat di sayangkan belum ada sebulan melahirkan istrinya meninggal.
"Amar sudah dulu ya, aku ingin bicara dengan putriku". ucap Delon
__ADS_1
"iya, ingat Delon jangan kamu marahi putrimu". ucap Amar
setelah panggilan terputus Amar keluar dari kamar putranya dan masuk ke dalam kamar untuk menghubungi dokter yang menangani Yusuf yang ada di luar negeri untuk datang ke Indonesia.