
tin
tin
tin
Anissa menghentikan jalanan saat mendengar suara klakson dan Arden menghentikan motornya tepat di samping Anissa
"ayo aku antar pulang". ucap Arden
"aku naik taxi saja, aku tidak ingin merepotkan mu karena kamu udah sering membantuku". ucap Anissa
"kamu berangkat dengan ku jadi pulang harus dengan ku juga apa kata ayahmu jika kamu pulang naik taxi, pasti ayahmu akan menganggap ku laki laki yang tidak bertanggung jawab". ucap Arden
"ayo cepat naik". perintah Arden
akhirnya Anissa naik ke motor Arden dan Anissa juga terkejut saat Arden menarik tangannya untuk melingkar di pinggangnya
"penggangan biar tidak jatuh". ucap Arden
Arden langsung melajukan motornya dengan cepat sehingga membantu Anissa memeluk Arden dengan erat sedangkan Arden di balik helmnya terseyum lebar saat Anissa memeluknya dengan erat serta Arden dan Arden juga menikmati detak jantung yang berdetak begitu kencang. Arden sekarang dapat memahami arti dari detak jantungnya yaitu dia sudah jatuh cinta pada Anissa, jatuh pada pesona yang Anissa miliki.
Sekarang Arden menikmati waktu bersama Anissa dan Anissa sendiri bingung dengan perasaannya karena sebelumnya dia belum pernah mengalami perasaan yang seperti ini.
"apa aku jatuh cinta pada beruang kutub". monolog Anissa dalam hati
"ah tidak mungkin masak aku jatuh cinta dengan es batu ini yang ada akan monoton hidup ini". sambung Anissa
"tapi kenapa perasaan dan detak jantung ku seperti ini". ucap Anissa dalam hati dan Melihat wajah Arden yang tertutup helm melalui spion motor
Anissa terkejut saat tiba tiba Arden menghentikan motornya sehingga membuatnya menabrak punggung Arden.
"ishh jika mau mati muda jangan ajak ajak dong aku belum nikah beruang kutub". ucap Anissa
"tunggu di sini dan jangan kemana-mana". ucap Arden
Anissa turun dari motor dan begitu dengan Arden lalu Arden masuk ke toko buah. Anissa memperhatikan Arden yang sedang memilih beberapa buah. Arden keluar membawa dua kantong plastik dan saat itu juga Anissa melihat Arden memberikan satu kantong plastik buah kepada pemulung. Anissa tersenyum saat melihat Arden melakukan itu
"ternyata tidak hanya perduli pada anak anak saja tetapi perduli pada semua orang". ucap Anissa
__ADS_1
Setelah Arden menghidupkan motornya Anissa langsung naik dan memegang buah yang Arden beli. saat motor memasuki halaman rumah Anissa dan Anissa melihat ayahnya yang sudah menunggu di depan rumah dengan bersedekap dada dan matanya melihat ke arah mereka.
Anissa turun dari motor dan di ikuti oleh Arden.
"maaf om mungkin sedikit telat mengantar Anissa pulang". ucap Arden
"hmm". guman Delon
"ini om untuk om". ucap Arden sambil menyodorkan buah pada Delon dan Delon hanya memandang buah itu tanpa berniat untuk mengambilnya
"bermaksud mau menyogok umum karena telat pulangnya". ucap Delon
"bukan om, saya tidak bermaksud seperti itu". jawab Arden
"terima kasih buahnya Arden". ucap Anissa dan mengambil buah tersebut
"Arden maafkan ayahku ya". ucap Anissa
"tidak apa apa". jawab Arden sambil tersenyum
"kenapa masih disini, pulang sana". ucap Delon
"ya sudah saya pulang dulu om dan sekali lagi maaf". ucap Arden
Arden berjalan menuju motornya sambil mengusap tengkuknya dan membuang nafasnya dengan kasar
"ternyata susah juga untuk membuat om Delon menyukai ku tapi kenapa om Delon tidak menyukaiku padahal selama ini aku belum pernah bertemu apalagi membuat kesalahan, aneh tanpa sebab tidak menyukaiku". monolog Arden dan menghidupkan motor
tin
Arden meninggalkan rumah Anissa. Delon langsung mengambil buah yang ada di tangan Anissa dan langsung membuangnya begitu saja kemudian Delon langsung masuk ke dalam rumah, Anissa sangat terkejut dengan sikap ayahnya
"ayah kenapa buahnya di buang". ucap Anissa
Anissa berjalan kearah buah yang sudah berserakan di tanah, Annisa berjongkok lalu memasukkan buah itu ke dalam plastik dan membawanya masuk ke dalam rumah, Anissa langsung menuju wastafel dan mencuci buah tersebut
"kenapa buahnya kotor seperti ini". tanya Lisa yang melihat putrinya sedang mengeluarkan buah dari dalam plastik
"tadi buahnya di buang sama ayah dan jatuhnya pas di tanah samping rumah". jawab Anissa
__ADS_1
"di buang kenapa ayahmu membuang buahnya". tanya Lisa lagi pada putrinya
"karena buah ini dari Arden ma, ma kenapa ayah sebegitu tidak sukanya sama Arden karena kesal padanya ayahnya, apa dulu ayahnya sangat mencintai mamanya Arden". tanya Lisa
"dulu mereka hampir menikah tapi Laura malah menikah dengan Alex jadi ayahmu sampai sekarang masih kesal sama Alex". jawab Lisa dan membantu putrinya mencuci buahnya
"tapi seharusnya ayah jangan seperti itulah ke Arden, untung saja ayah membuang buah ini saat Arden sudah pulang, jika Arden masih ada akan seperti apa perasaan Arden". ucap Anissa
"nanti biar mama yang bicara dengan ayahmu" ucap Anissa
setelah selesai membersihkan buahnya Anissa langsung masuk ke kamarnya sedangkan Lisa membawa buah yang sudah di potong ke halaman belakang, di sana Lisa dapat melihat suaminya yang sedang bermain bersama baby Farhat
"mas buah". ucap Lisa dan meletakan piring berisi buah ke hadapan suaminya
Delon mengambil buah tersebut dan memasuki satu persatu potongan buah itu ke dalam mulutnya sampai di potong terakhir.
"sayang kapan kamu keluar membeli buah ini perasaan di rumah tidak ada buah dan hari ini aku melihat mu di rumah terus". tanya Delon dan meletakan piring kosong itu
"oh aku tidak membeli buah itu". jawab Anissa
"tidak membeli lalu kamu dapat buah ini dari mana". tanya Delon
"Itu buah yang kamu buang tadi". jawab Lisa dengan santai
uhuk
uhuk
uhuk
Delon memeluk leher belakang dengan harapan buah yang dia makan dapat Keluar lagi.
"tidak usah lebay lah mas buah itu juga tidak ada racunnya". ucap Lisa
"mas jangan segitunyalah sikap mu sampai membuang buah yang Arden belikan setidaknya hargai apa yang dia bawa dan lagian mas kan kesel dengan ayahnya jangan mas lampiaskan pada Arden yang tidak tau apa apa". ucap Lisa dan Delon hanya diam saja dengan apa yang di katakan oleh istrinya
setiap kali melihat Arden membuat kekesalan Delon pada Alex muncul begitu saja karena Arden sangat mirip dengan ayahnya. ingin rasanya Delon mengatakan pada Arden bahwa ayahnya tukang rebut tapi dia tidak berani melakukan itu, jika dia melakukan itu dan istrinya tau maka dia akan tidur di luar. bukan dia yang masih cinta dengan Laura hanya saja rasa kesal pada Alex yang ada di hatinya sulit untuk di lupakan
"mas cobalah kamu lupakan rasa kesal mu itu maka mas akan merasa lega dan tidak memiliki beban". ucap Lisa
__ADS_1