Tuan Mafia

Tuan Mafia
Tuan Mafia S2- Satu Bulan Kemudian


__ADS_3

" F pangeran panda". monolog Ana dalam hati setelah membaca surat itu


"haduh kenapa dulu aku tidak tanya namanya hanya memanggil pangeran panda sejak pertama bertemu dia juga tidak mengenalkan dirinya, kenapa di surat ini dia hanya menulis huruf F saja kenapa tidak langsung namanya". monolog Ana lagi sambil menggaruk rambutnya karena penasaran yang mengebu ingin tau dan bertemu dengan pangeran pandanya. Ana meletakan surat itu bersama di dalam kotak. Tasya dari tadi hanya fokus melihat kalung Ana


"aku pernah lihat seseorang memakai kalung itu deh sama kayak punya Ana tapi dimana". ucap Tasya dalam hati sambil mengetuk ngetik dagunya


"oh ya aku ingat aku pernah melihat orang itu di kampus". sambung Tasya dalam hati


Tasya meletakkan novel itu ke nakas Ana dan duduk menghadap Ana lalu memegang kalung yang Ana pakai, Ana menepis tangan Tasya yang memegang kalungnya


"nah sama ini kalung yang di pakai orang itu". ucap Tasya


"siapa yang memakainya sya". tanya Ana yang mulai penasaran dan berharap itu adalah pangeran panda


"aku tidak tau dia pakai topeng tapi aku pernah lihat orang itu di kampus". jawab Tasya


"jika Tasya bertemu di kampus berarti pangeran panda selama ini ada di sekitar ku, tapi yang mana orangnya". monolog Tasya dalam hati


plak


"auwh". Ana mengusap pipinya yang di tampar oleh Tasya


"sakit tau". ucap Ana


"habisnya kamu melamun". ucap Tasya sambil melihat wajah sahabatnya yang telah menjadi adik ipar


"kenapa melihat ku seperti itu". ucap Ana sambil menyentil dahi Tasya


"Na kira kira siapa yang pengganti pak Farhan di kelas, apa dia akan dingin seperti pak Farhan". ucap Tasya dan Ana hanya mengangkat bahunya sebagai tidak tahu.


Tasya merbahkan dirinya di ranjang Ana dan menarik selimut karena malam ini dia akan tidur di kamar Ana tentu saja sudah mendapatkan izin dari suaminya, Andra mengizinkan Karena dia dan ayahnya ada pekerjaan selama dua hari di luar kota.


"hey mandi dulu baru tidur". ucap Ana


Tasya bangkit dari ranjang dan mengambil handuk serta piayama Ana untuk dia gunakan. Ana memainkan ponselnya sambil menunggu Tasya selesai mandi.


ting


*Gio*


besok sibuk tidak An


^^^*Anda*^^^


^^^ada apa Gio^^^


*Gio*

__ADS_1


besok bisa temani aku ke perpustakaan


^^^*Anda*^^^


^^^maaf Gio aku tidak bisa , besok aku ada jam kuliah^^^


*Gio*


owh ya sudah tidak apa apa, maaf mengganggu


Ana melekat ponselnya saat Tasya sudah keluar dari kamar mandi, Ana bergantian mandi.


drt


drt


ponsel Tasya berdering terdapat panggilan Video dari suaminya


"hallo hubby". jawab Tasya


"hallo hunny, aku merindukanmu mu". ucap Andra sedangkan Alex yang ada di samping Andra hanya mengelengkan kepalanya saat melihat kebucinan putranya itu


"hubby sudah sampai". tanya Tasya


"sudah ini baru turun dari pesawat". jawab Andra


"iya hubby jangan lupa istirahat dan makan yang cukup". jawab Tasya


setelah itu mereka mengakhiri panggilan video tersebut. Tasya yang sudah mengantuk langsung merbahkan dirinya di ranjang dengan nyaman. Ana yang baru keluar dari kamar mandi langsung naik ke ranjang dan menyusul Tasya ke alam mimpi. malam yang sunyi di rasakan seorang ibu yang di tinggalkan putranya.


satu Bulan kemudian


Ana berjalan dengan santai menuju ke kelasnya


"Ana". teriak Gio sambil lari menghampiri Ana


"Gio". ucap Ana


"mau ke kelas". tanya Gio dan Ana menganggukan kepalanya


"bareng saja hari ini kelas kita berdampingan". ucap Gio


Ana dan Gio berjalan dengan mengobrol yang sesekali membuat Ana tertawa, ya sudah sebulan ini Ana dan Gio semakin dekat. setelah sampai di depan kelas mereka masuk ke kelas masing-masing.


"sudah hampir satu bulan kenapa pangeran panda tidak pernah mengirimkan surat lagi, hanya dua kali itu saja habis itu seakan hilang di telan bumi, aku sudah mengamati setiap orang di kampus ini selama satu bulan tetapi tidak ada yang memakai kalung yang sama denganku". monolog Ana sambil mencoret coret kertasnya bahkan dosen sudah masukpun Ana tidak tau


brak

__ADS_1


"iya pak Farhan". ucap Ana yang terkejut


"saya bukan pak Farhan, saya sudah sering melihat kamu melamun di jam pelajaran saya, sekali lagi kamu melamun akan saya kasih nilai E". ucap dosen itu lalu kembali ke mejanya


”An Lo itu kenapa bisa berfikir dosen itu pak Farhan". ucap Tasya


"yang aku ingat ini pelajaran pak Farhan dan aku lupa jika pak Farhan sudah meninggal". jawab Ana


"jangan jangan Lo suka ya sama pak Farhan". tuduh Tasya


"jangan ngaco deh sya". ucap Ana


Ana dengan malas mendengarkan penjelasan dari dosen itu, menurut Ana pelajaran ini sangat membosankan tidak seperti pak Farhan yang mengajar. Ana melihat teman temannya ada beberapa yang juga mulai bosan karena dosen yang sekarang jika mengajar hanya monoton saja. satu jam kemudian akhirnya pelajaran sudah selesai.


Ana dan Tasya menuju kantin, mereka memesan makanan yang biasa mereka pesan.


"Ana kamu merasa bosan tidak dengan Dosen pengganti pak Farhan". tanya Tasya dan Ana hanya menganggukkan kepalanya


"huffh lebih enak pak Farhan yang mengajar walaupun pak Farhan sangat dingin saat mengajar". sambung Tasya lalu meminumn es tehnya


Gio yang melihat Ana duduk di kantin langsung menghampirinya dan menempelkan minuman dingin di pipi Ana sehingga membuat Ana menoleh dan menghentikan makannya.


"Gio membuat ku terkejut saja". ucap Ana dan Gio terkekeh


"maaf". ucap Gio lalu duduk di samping Ana dan Tasya yang melihat Gio entah kenapa tidak suka dengannya


mereka bertiga memakan makanan dengan diam sedangkan gio mencuri pandang ke arah Ana


"auwh". ringis Gio saat kakinya di injak


"rasakan itu siapa suruh itu mata nakal". monolog Tasya dalam hati


"kenapa Gio". tanya Ana


"tidak ada apa apa tadi ada serangga di kakiku". jawab Gio sambil senyum


setelah selesai makan Tasya pergi bersama Andra sedangkan Ana pergi bersama Gio ke mall untuk menemani Gio mencari hadiah untuk ulang tahun mamanya, tentu saja Marko ikut bersama mereka. Ana membantu Gio memilih baju untuk mamanya


"Ana apa dia bisa sehari saja tidak ikut dengan mu". bisik Gio


"kenapa ap kamu merasa terganggu dengan Marko atau Marko pernah mengatakan sesuatu padamu". tanya


"tidak hanya saja aku pikir apa kamu tidak risih jika pergi pergi selalu bersamanya sedangkan kamu sudah dewasa". jawab Gio


"ini saja aku rasa cocok dengan ibumu". Ana menyerahkan satu baju yang menurutnya Bagus


Gio juga setuju dengan pilihan Ana , setelah selesai membayar Marko mengajak Ana pulang, lagi lagi Gio menghela nafasnya karena tidak bisa berduaan dengan Ana.

__ADS_1


__ADS_2