
setelah selesai makan malam Alex menyuruh Ana untuk duduk di ruang tamu, Ana merasa sedikit heran tidak biasanya ayahnya itu ingin bicara dengannya. Ana memikirkan kemungkinan yang membuat ayah ingin bicara serius.
"apa ayah sudah tau jika aku bergabung di D'devil, jika dilihat dari ayah menyuruh ku untuk menunggu di ruang tamu sepertinya sangat penting". monolog Ana sambil meremas jarinya sesekali melihat ke arah tangga menunggu ayahnya
"semoga saja bukan karena ayah tau aku bergabung di D'devil". sambung Ana lagi sambil menggerakkan kakinya
Ana semakin gugup dan tegang saat mendengar langkah kaki serta suara ayah dan mamanya yang semakin dekat dengan dirinya
"aish kenapa aku jadi tegang seperti ini, Ana tenang jangan gugup seperti ini". monolog Ana lalu menarik nafasnya dan membuang untuk mengurangi rasa gugupnya.
"aku yakin ini bukan membahas masalah aku gabung di D'devil dan aku yakin ayah belum mengetahui itu". monolog Ana dan sedikit tenang
Alex dan Laura duduk di seberang sofa yang di mana sudah ada Ana yang menunggunya.
"ayah ingin bicara apa dengan Ana". tanya Ana
"sesuatu yang penting". Jawa Alex dengan santai dan menatap putrinya itu
"umur Ana sekarang berada". tanya Alex pada putrinya
"dua puluh tahun dan dua bulan lagi dua puluh satu". jawab Ana dengan sedikit bingung kenapa ayahnya tiba tiba menanyakan umurnya
"gini bagaimana jika ada seseorang yang melamarmu jadi apa yang kamu lakukan". tanya Alex
"hmmm jika laki laki itu baik dan bisa menjaga perasaan Ana lalu ayah mengenal laki laki itu dan ayah memberikan restu maka Ana akan menerima lamaran itu". jawab Ana dengan sedikit gugup karena tiba tiba ayahnya membahas soal lamaran kepadanya
"apa ada seseorang yang melamarmu Ana". tanya Ana "dan aku harap itu pangeran panda". lanjut Ana dalam hati
__ADS_1
"ada. dan Ana sudah mengenal laki laki itu dengan baik bahkan laki laki itu sudah berusaha mengambil hati Ana". Jawaban Alex menciptakan kerutan di dahi Ana
"dengar ayah tidak akan memaksa Ana untuk menerima lamaran ini, ayah hanya ingin menyampaikan niat baiknya dan Ana bisa memikirkannya terlebih dahulu". Alex berbicara sangat lembut kepada putrinya itu
"siapa orangnya yah". tanya Ana
"Gio" jawaban Alex membuat Ana diam ternyata Gio nekat melamarnya melalui ayahnya padahal selama ini dia selalu mengalihkan pembicaraan ketika Gio akan menyatakan perasaannya
"tadi siang Gio menemui ayah dan mengatakan niatnya itu jika Ana setuju maka Gio akan datang bersama adiknya karena ibunya sedang berobat keluar negeri". ucap Alex
"boleh Ana memikirkannya dulu". tanya Ana dan mendapatkan anggukan dari Alex
"Ana mama harap kamu memikirkan dengan matang karena kamu yang akan menjalani kehidupan itu dan pilihlah yang sudah pasti jangan menunggu yang tidak jelas keberadaannya". nasehat Laura dan Ana menganggukan kepalanya
Laura berbicara seperti itu karena selama ini putrinya selalu menunggu pangeran pandanya yang tidak tau dimana keberadaannya bahkan seperti apa wajahnya, setelah pembicaraan itu Ana masuk ke kamarnya dan duduk di pinggir ranjang. sedangkan di bawah Laura menyadarkan kepalanya di dada bidang suaminya
"jika Laura tidak suka dengan Gio dan tidak nyaman maka kita tidak bisa memaksanya". jawab Alex
"tapi cinta bisa tubuh seiring berjalannya waktu, aku yakin Ana bisa mencintai Gio dan melupakan pangeran pandanya itu". ucap Laura
"baby apa kamu tidak ingat dengan keadaan kita di awal pernikahan". tanya Alex
"tapikan Gio ingin menikah dengan Ana bukan untuk balas dendam seperti mu kalau kamu dulukan memaksaku untuk menikah dengan mu". ucap Laura lalu meninggalkan Alex sendiri
"tapi aku berharap Ana menerima lamaran Gio dia laki laki baik". lanjut Laura sambil berjalan
Alex memijat pelipisnya saat Laura tetap kekeh ingin Ana menerima lamaran Gio, Alex berharap Laura tidak menekan Ana untuk menerima lamaran Gio yang Alex inginkan Ana menerima lamaran itu karenanya keinginan hatinya.
__ADS_1
sedangkan Ana di kamar membuka kotak yang berisi kenangan bersama pangeran pandanya
"sebenarnya kamu kemana kenapa hanya sekali muncul saja lihatlah ada orang lain melamar ku, aku harus bagaimana apa aku harus menunggu mu seperti yang ada di surat itu atau menerima lamaran itu, aku juga harus memberikan kepastian ke Gio karena dia juga laki laki baik". monolog Ana sambil menatap foto anak laki laki yang memiliki badan gemuk tapi di mata Ana sangat mengemaskan.
jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam dan Ana meletakan kembali kotak itu di dalam laci setelah itu Ana membaringkan tubuhnya di ranjang dan menarik selimutnya. setalah Ana terlelap seseorang masuk ke kamar Ana dan membuka laci lalu membuka kotak itu kemudian mengambil surat yang di tulis oleh pangeran panda kemudian memfotonya. setalah selesai di foto orang itu memasukan surat kedalam kotak dan mengambilkan kotak itu ke laci. orang itu berjalan ke arah Ana dan membenarkan selimut Ana setelah itu orang itu keluar dari kamar Ana dan menutup pintu kamar Ana dengan pelan.
"darimana baby". tanya Alex dan itu membuat Laura terkejut saat menutup pintu karena mendengar suara suaminya itu
"dari dapur untuk mengambil air minum". jawab Ana sambil memperlihatkan teko yang berisi air
"tumben sekali malam malam mengambil air minum". tanya Alex
"tadi tiba tiba haus". jawab Laura sambil menarik selimut dan membaringkan tubuhnya di dekapan suaminya itu.
jam dua dini hari Ana gelisah dalam tidurnya bahkan keringat dingin keluar dari tubuhnya, Ana mencengkram erat selimutnya.
"jangan jangan bunuh aku dan anakku". racau Ana
"jangan". teriak Ana yang langsung bangun dari tidurnya serta dengan nafas yang tersengal-sengal, Ana mengusap keringat di dahinya
"kenapa mimpi itu lagi, ada apa ini". monolog Ana sambil menyandarkan tubuhnya di ranjang tetapi saat matanya melihat lacinya sedikit terbuka Ana langsung turun dari ranjang dan melihat kotak yang ada di laci itu lalu memeriksa isinya, Ana bernafas lega saat isinya masih sama.
"mungkin tadi aku tidak rapat menutup laci tersebut". monolog Ana lalu menutup laci itu dan menguncinya.
setelah itu Ana membaringkan kembali tubuhnya di ranjang dan menarik selimut, Ana menatap langit langit kamarnya karena tidak bisa tertidur.
"sudah dua kali aku bermimpi seperti itu dan di mimpi tersebut wanita itu tidak jelas wajahnya dan kenapa di mimpi itu dia ingin membunuhku dan anak yang masih dalam kandungan". monolog Ana lalu memiringkan tubuhnya dan melihat cahaya bulan yang terang sekali.
__ADS_1