Tuan Mafia

Tuan Mafia
Tuan Mafia S2- Bertemu Alex


__ADS_3

paginya Arden sudah siap untuk berangkat ke kantor untuk memimpin meeting hari ini, semalaman Arden sudah belajar berkas yang sudah di siapkan oleh ayahnya. Arden menuruni tangga dengan malas apalagi saat melihat senyum ayahnya membuat Arden ingin menghilangkan.


"sudah siap untuk menjadi pemimpin dalam meeting". tanya Alex saat Arden sudah duduk


"ayah jangan membuat mood ku rusak, aku ingin sarapan dengan tenang" ucap Arden lalu memakan makanannya dengan tenang


setelah sarapan Alex dan Arden berangkat menuju kantor mereka, setelah sampai di kantor, Arden menarik nafasnya sebelum memasuki ruang meeting, saat masuk semua mata menuju kepadanya.


"selamat pagi". ucap Alex pada rekan bisnisnya


"pagi tuan Alex". jawab mereka semuanya


"hari yang akan memimpin meeting adalah putra saya Arden dan mulai hari Arden akan menggantikan saya". ucap Arden


"silahkan nak". ucap Alex dan Alex duduk di tempatnya


"selamat pagi semuanya dan mulai hari ini saya yang akan menggantikan ayah saya dalam perusahaan ini dan juga kerja sama dengan tuan tuan semuanya". ucap Arden


semua orang menyambut Arden dengan baik, Arden memulai meeting itu dengan lancar dan semua orang menyukai bagaimana cara Arden menyampaikan materi serta bagaimana Arden memimpin jalannya meeting itu sendiri baik. Alex terseyum saat Arden mampu menjalankan meeting ini dan Alex yakin jika Arden mampu menggantikannya sebagai CEO


"tuan Alex aku tidak menyangka jika putra mu akan semahir ini seperti tuan Alex". ucap tuan Feri


"tuan feri bisa saja, Arden bisa seperti itu karena dia mau belajar". ucap Alex


satu jam melakukan meeting bersama rekannya bisnis perusahaannya, akhirnya Arden bisa bernafas lega saat meeting itu sudah selesai dan saat semua orang sudah meninggalkan tempat itu.


"ayah bangga padamu dan sekarang ayah yakin jika kamu sudah mampu menjadi pemimpin perusahaan kita". ucap Alex


"hmm". guman Arden


Alex mengajak Arden ke sebuah cafe untuk merayakan keberhasilan meeting tadi, Arden hanya mengikuti ayahnya saja. saat sedang berjalan tiba tiba ada seseorang yang menabrak Alex


"maaf maaf" ucap orang itu


"om". ucap Arden


Delon terkejut saat orang yang dia tabrak adalah Alex , Arden melihat Anissa bersama ayahnya.


"iya tidak masalah". jawab Alex dan menatap mantan tunangan istrinya itu dan Delon juga menatap Alex dengan dingin.


Arden dan Anissa melihat ayah mereka yang sedang saling tatap.


"ayah". ucap Anissa


"eh iya". ucap Delon

__ADS_1


"om mau makan di sini juga". tanya Arden


"iya". bukan Delon yang menjawab tetapi Anissa


"bagaimana jika makam bersama sama saja". ajak Arden dengan baik baik saat melihat tempat ini penuh dan tersisa satu kursi saja


"tidak perlu". jawab Delon dan menarik tangan putrinya itu keluar dari tempat itu, Delon lebih memilih mencari tempat lain


"yah katanya mau makan di sana". ucap Anissa


"tidak jadi cari tempat lain saja". ucap Delon dan mengajak Anissa ke tempat yang ada di sebelahnya, setelah mereka duduk Delon mengubungi temannya dan mengatakan mereka pindah tempat.


sedangkan Alex dan Arden yang sudah duduk serta memesan makanan tinggal menunggu saja


"ayah kenal sama ayahnya Anissa". tanya Arden dan Alex menganggukan kepalanya


"kelihatannya ayah dan masalah sama ayahnya Anissa". tanya Arden


"tidak ada kenapa berpikir seperti itu". jawab Alex


"tidak hanya saja tadi aku lihat ayahnya Anissa seperti tidak menyukai ayah". ucap Arden


"mungkin karena ibumu lebih memilih ayah dan kurasa sampai sekarang Delon masih memendam dendam karena tidak bisa memiliki Laura". monolog Alex dalam hati dan Alex juga tidak akan menceritakan kenapa Delon tidak menyukainya


sedangkan di cafe sebelah senyum Delon mengembang saat melihat sahabatnya datang


"Hay bro sudah lama sekali tidak bertemu". ucap Amar sambil menjabat tangan Delon


"aku juga senang bertemu dengan mu, saat tau kamu ke Indonesia maka aku mengajak mu datang kemari". ucap Delon


"dia putrimu". tanya Amar


"iya namanya Anissa, Anissa kenalkan ini teman ayah nama om Amar dan ini putranya". ucap Delon


"Anissa om". ucap Anissa lalu menatap seorang pemuda yang duduk di sampingnya


"Yusuf". ucap Yusuf


"Anissa". ucap Anissa sambil menerima uluran tangan Yusuf


"dia putrimu bersama Laura". ucap Amar dan langsung membuat Delon diam


"bukan, dia putriku bersama Lisa". jawab Delon


"Lisa bukannya tunangan mu namanya Laura". tanya Amar yang memang belum tau tentang keadaan Delon karena dulu saat dia pulang ke Indonesia dia mengatakan pada Amar akan menikah dengan Laura tetapi kenyataan pahit yang dia terima adalah Laura sudah menikah dengan pria lain

__ADS_1


"kami tidak berjodoh dan aku berjodohnya dengan Laura, lain kali mampir ke rumah agar bertemu dengan istriku". jawab Delon


"kenapa tidak di ajak istrimu". tanya Amar


"tadinya mau ikut tapi baby Farhat tiba tiba demam dan saat aku mengatakan tidak jadi untuk menemuimu dia mengatakan suruh berangkat saja karena sudah janjian dan sudah hampir dua puluh tahun kita tidak pernah bertemu". ucap Delon


mereka mengobrol dengan asik dari masa kuliah sampai pernikahan mereka dan Amar juga menceritakan bahwa istrinya meninggal setelah melahirkan Yusuf, setelah istrinya meninggal Amar tidak ingin menikah lagi karena sangat mencintai istrinya. sedangkan Yusuf dan Anissa yang menjadi pendengar saja antara kedua orang tuanya. Yusuf sejak tadi mencuri pandang ke arah Anissa sedangkan Anissa merasa risih saat Yusuf menatapnya


"hmmm aku dengar kamu masih kuliah". tanya Yusuf


"hmm". jawab Anissa sambil mengaduk aduk makanan


"kuliah di mana". tanya Yusuf lagi


"di universitas B". jawab Anissa


"benarkah". tanya Yusuf dan Anissa menganggukan kepalanya


"aku akan mengajar di sana". ucap Yusuf


"kamu dosen". tanya Anissa


"iya, bisa mengajar itu impian ku apalagi saat aku mendengar dari ayah jika bunda adalah seorang dosen ". ucap Yusuf


"hmmm berarti kamu pindah akan menetap di Indonesia". tanya Anissa karena yang Anissa tau sahabat ayahnya tinggal di Amerika


"iya, aku ingin mencari suasana baru". jawab Yusuf dan Anissa menanggukan kepalanya


"jadi Yusuf akan jadi dosen di tempat Anissa". tanya Delon


"iya om". jawab Yusuf


"kenapa kamu memilih menjadi dosen daripada meneruskan kegiatan ayahmu". tanya Delon pada Yusuf


"aku ingin seperti bunda yang membagikan ilmu pada orang lain". jawab Yusuf dan Delon mengangukan kelapanya


"Amar kamu tidak keberatan putramu lebih memilih menjadi dosen". tanya Delon


"tidak, aku sebagai ayah akan mendukung apa yang di inginkan anakku karena kita tidak bisa memaksa apa yang tidak dia inginkan". jawab Amar dengan santai


💙💙💙💙💙


yuhuuu ada rekomedasi cerita bagus banget ini aku sudah baca yuk kalian wajib baca juga dengan judul " Haruskah Ganti Suami " karya " Evelinq"


__ADS_1


__ADS_2