Tuan Mafia

Tuan Mafia
Satu Malam Merubah Hidupku


__ADS_3

Sintia yang sudah tersadar membuka matanya dan melihat ke sekeliling merasa aneh ini bukan Kamarnya, dan Sintia melototkan matanya saat dia tidak mengunakan hijab dan juga hanya berpakaian tipis bahkan tidak menutupi asetnya, Sintia langsung menutup tubuhnya dengan selimut


ceklek pintu di buka dan menampilkan seorang wanita dan pria dewasa sekitar berumur empat puluh tahun ke atas.


"tuan Bagaskara dia masih perawan dan pasti akan membuatnya anda merasa senang". madam Ela berbicara


"bagus aku ingin malam ini hasratku tersalurkan". jawab Bagaskara yang kecewa dengan fakta yang baru dia ketahui setelah Lima tahun istirnya meninggalkan.


madam Ela menghampiri Sintia dan mencengkeram rahang Sintia dan memasukan dua buah pil langsung menutup mulut Sintia sehingga membuat Sintia menelan pil itu.


"saya sudah memberinya obat perangsang dan penunda kehamilan tuan, saya tau anda tidak ingin menggunakan pengaman saat merobek penghalangnya dan tenang saja dia tidak akan hamil jika tuan mengeluarkannya di dalam" madam Ela menjelaskan


"bagus madam aku bisa mengandalkan mu". puji Bagaskara


madam Ela dan Bagaskara yang melihat Sintia mulia kepanasan membuatnya tersenyum puas dan meninggalkan ruangan itu. Bagaskara langsung menghampiri Sintia dan mengelus pundaknya Sintia yang merasa dingin langsung mengerang secara perlahan tangan Bagaskara turun membelai buah milik Sintia, Sintia yang sudah hilang akal tidak menolak sentuhan sentuhan yang diberikan oleh Bagaskara


"panas om". rengek Sintia


"akan om bantu menyembuhkannya". senyum seringai muncul dari bibi Bagaskara dan menarik selimut Sintia tanpa berlama-lama Bagaskara membuang semua pakaiannya, lalu merobek pakaian tipis Sintia dan menarik kaki Sintia sehingga Bagaskara mengungkungnya.


sentuhan sentuhan yang di berikan Bagaskara membuat Sintia kelimpungan


"hmmm om". erang Sintia, dan erangan itu sukses membuat Bagaskara semakin nafsu, beberapa menit bermain main dengan tubuh Sintia membuat Bagaskara tidak tahan sehingga mengarahkan asetnya ke milik Sintia beberapa kali mencoba selalu tidak masuk. Bagaskara melebarkan kaki Sintia agar memudahkan asetnya masuk


"hiks hiks". tangis Sintia pecah saat merasakan sakit yang Luar biasa di bagian bawah, Bagaskara tersenyum puas saat darah keluar dari aset Sintia


"jadi seperti rasa bercinta dengan perawan dulu istriku sudah tidak suci ketika menikah denganku tapi berani berani dia menghianatiku dan aku baru tau saat dia sudah lima tahun meninggal sial” monolog Bagaskara sambil memandang Sintia yang terlihat berantakan di bawahnya


"Om udah". mohon Sintia saat akan mencapai puncaknya


"Om udah aku mau pipis". mohon Sintia lagi


"keluarkan saja". jawab Bagaskara yang masih asik dengan permainan


"hmmm om" erang Sintia saat mencapai pelepasannya.

__ADS_1


"perih om udah". rengek Sintia tapi Bagaskara tidak menghiraukannya.


setelah puas Bagaskara baru menghentikan permainannya dan Sintia yang sudah lemas hanya bisa menagis dan Bagaskara meninggal Sintia begitu saja


"hiks hiks". tangis Sintia pecah dan meringkuk di ranjang itu


pagi harinya Sintia histeris saat melihat keadaannya yang polos dan dia melihat bercak darah disprei hilang sudah kehormatan yang dia jaga selama ini, saat sedang menangis madam Ela datang dan membawakan salep tanpa banyak tanya madam Ela membuka kaki Sintia dan mengolesi Salep itu di aset Sinta, dan Sinta hanya meringis menahan perihnya


"Wow ternyata tuan Bagaskara ganas juga diranjang, kamu sangat beruntung bisa tidur dengannya semalam banyak yang menawarkan diri mereka untuk di tiduri tuan Bagaskara, tapi dia malah milihmu". madam Ela berbicara sambil mengobati aset Sintia yang lecet


"kamu juga beruntung karena taun Bagaskara membelimu jadi kamu akan jadi ****** pribadinya dan tidak harus melayani banyak pria untuk mendapatkan uang". sambung madam Ela


"sebentar lagi ada orang yang akan menjemputmu jadi bersihkan dirimu". setelah mengatakan itu madam Ela meninggalkan Sintia


setelah kepergian madam Ela ada beberapa orang menjemput dan membawanya ke sebuah apartemen dan disana Bagaskara sudah menunggu


"Om". panggil Sintia


"mulai hari ini kamu tinggal di sini dan saya akan memberikan apa yang kamu minta asal kamu menuruti apa yang saya ucapan". Sintia yang merasa dirinya sudah kotor hanya menganggukan kepalanya, pagi itu mereka mengulangi lagi kegiatan yang semalam


flashback off


"huff hidup sudah gelap, tidak ada cahaya dalam hidupku lagi, apakah masih ada tempat untuk orang seperti". monolog Laura


"semua ini gara gara mba mayang jika aku bertemu dengan akan aku beri pelajaran".


"apakah masih bisa aku kembali hidup seperti dulu". Sintia berbicara dengan sendu.


Laura sadar banyak dosa yang dia lakukan selama ini, di hati kecil ingin sekali kembali seperti dulu tapi dia berpikir sudah tidak pantas.


ting


*tuan Bagaskara*


uang sudah saya kirim belanja sepuasnya ingat jangan ganggu putraku

__ADS_1


^^^*Sintia*^^^


^^^baik tuan^^^


"ishh dia selalu mengingat itu, tenang saja aku tidak akan menganggunya tuan". Sintia melempar ponselnya dan menatap langit langit kamarnya.


"seharusnya aku sudah bahagia bersama mas Ilham jika tidak ada kejadian dimana mba Mayang menjualku, tapi aku senang melihat mas Ilham bahagia dengan perempuan lain". monolog Sintia lalu berdiri dan menyambar tasnya, Sinta memilih pergi untuk berbelanja.


Sintia sudah sampai di sebuah mall, berbelanja sedikit membuat Sintia melupakan rasa sedihnya akan hidup yang dia jalani. saat sedang memilih pakaian ada anak kecil yang menabraknya hingga jatuh


"adek kecil tidak apa apa". tanya Sintia dan menolong anak itu untuk berdiri


"tidak apa apa tante, maaf tadi Ari menabrak tante". Sintia tersenyum saat anak itu meminta maaf pasti orang tuanya mendidik dengan benar.


"tidak masalah, lain kali hati hati ya saat jalan". dan di anggukan anak kecil itu


"tadi Ari lagi cari ayah, maka tidak melihat tante"


"emang ayah Ari kemana"


"Ari". sebelum anak itu menjawab dari belakang Sintia ada yang memanggilnya


"ayah". Aru berlari mendekati ayahnya


Sintia berdiri lalu membalikan badannya saat kedua bertatap membuat Sintia terdiam


"Sintia"


"ma mas Ilham". jawab Sintia gugup


"apa kabar". tanya Ilham


"baik mas". jawab Sintia dan kemudian pergi sedangkan Ilham menatap punggung Sintia yang mulai menjauh


"kamu semakin jauh dari agama Sintia, aku tau tidak mudah kamu menjalani hidupmu yang sekarang". monolog Ilham dalam hati

__ADS_1


__ADS_2