Tuan Mafia

Tuan Mafia
Tuan Mafia S2- Kembali Dingin


__ADS_3

Anissa keluar dari kelas dengan wajah yang lesu karena Arden sama sekali tidak membalas pesannya.


"aishh ini beruang kutub kemana sih, kenapa tidak membalas pesanku , dia jadi mengajak ku pulang gak sih". gerutu Anissa sambil menatap layar ponselnya dan memuja parkiran yang biasa Arden memakirkan motornya


"tuh kan motornya saja tidak ada di parkiran" Anissa semakin kesal


dengan wajah yang cemberut Anissa melangkah kakinya menuju gerbang Keluar untuk mencari taxi


tin


tin


Arden menghentikan motornya tepat di samping Anissa dan Anissa menatap Arden dengan kesal


"ayo naik tapi kita makan dulu ya sebelum pulang". ajak Arden dan Anissa menanggukan kepalanya


di sepanjang perjalanan Arden masih memikirkan perkataan ayahnya Anissa tadi saat di restoran


"om ingin kamu membuktikan keseriusan mu pada Anissa jika kamu lama maka jangan salah saya jika Anissa bersama orang lain".


kata kata itu terus terngiang ngiang di kepalanya dan Arden mencoba untuk memahami maksud dari kata tersebut. sedangkan Anissa terseyum di balik punggung Arden


"saat seperti ini rasanya nyaman sekali, bolehkah aku berdo'a agar kita selalu bersama beruang kutub". monolog Anissa dalam hati


Bunga yang masih di kampus dan terjebak bersama teman temannya berusaha mencari alasan


"jadikan ini kita ke salon untuk perawatan dan habis itu ke mall untuk belanja". tanya Cika


"jadi dong lihat wajah ku sudah kusam seperti ini". jawab Zelin


"iya lihat jerawatku dan aku juga mau membeli tas serta seperti baru". ucap Naira


"ya sudah ayo cusslah kita foya foya hari ini". ucap Cika


"hmmm teman teman sepertinya hari ini aku tidak bisa ikut kalian". ucap Anissa


"ya ada apa lagi, sudah dua hari Lo kita melakukan apapun tanpa kehadiran mu". ucap Cika


"iya apa kamu tidak rindu dengan kami, apalagi sekarang kamu sudah mengundurkan diri dari MAPALA ku rasa sudah tidak sesibuk dulu lagi". ucap Naira


"iya sih tapi aku benar benar tidak bisa, aku ada keperluan soalnya". jawab Bunga


"lain kali aja ya". sambung Bunga


"bunga kamu itu seperti menyembunyikan sesuatu deh". ucap Zelin


"menyembunyikan apa, aku baik baik saja dan aku memang benar benar tidak bisa Ikut sedang ada keperluan dan aku juga akan izin selama tiga hari". jawab Bunga

__ADS_1


"kamu mau kemana". tanya Cika


"gini sekarang aku mulai memegang perusahaan ayah ku jadi waktu untuk main hanya sedikit, kalian harus mengerti ya". ucap Bunga


"alah kenapa mau susah susah mengurusi perusahaan sih Bunga kan ada ayahmu jika kamu butuh sesuatu tinggal minta ke ayah mu, aku saja lebih memilih main daripada harus pusing pusing mikirin perusahaan itukan sudah tugas orang tua". ucap Naira


"bukan begitu kan tidak selamanya orang tua kita yang mengurusi perusahaan suatu saat kita yang akan mengambil alih jadi aku mau belajar dari sekarang". jawab Bunga


"itukan masih nanti sebaiknya tidak perlulah pusing pusing mikirin perusahaan dan aku yakin om Raka masih mampu". ucap Zelin


"please ya teman teman aku benar benar tidak bisa aku ikut lain kali saja". ucap Bunga


"Bunga Lo sekarang gak sih deh , Lo sendiri yang bilang kita harus menikmati masa muda kita tapi sekarang apa kamu sendiri tidak bisa kumpul lagi dengan Kita". ucap Cika


"bukan tidak bisa tapi kali ini benar benar tidak bisa dan aku janji lain kali aku pasti ikut". ucap Bunga


"sudahlah kita tinggal saja Bunga, jika kita berdebat maka tidak akan jadi ini nanti". ucap Naira


"iya biarkan saja dia mau apa, ayo". ajak Zelin


Bunga menghembuskan nafasnya dengan kasar ketika teman temannya meninggalkan mereka begitu saja, Bunga mengambil ponselnya untuk melihat jam tetapi selain itu Bunga membuka group chat dan ternyata Cika telah mengeluarkan dia dari group


"Cika mengeluarkan ku hanya gara gara aku tidak ikut". ucap Bunga dan setelah itu dia langsung memasukan ponselnya.


Bunga berjalan sedikit jauh dari kampus dan menghampiri ojek pesannya untuk menuju ke apartemen.


"kenapa aku merasa sikapnya kembali dingin seperti dulu lagi". monolog Bunga dalam hati


"beruang kutub". panggil Bunga


"hmmm". guman Arden


"apa ada yang sedang kamu pikirkan". tanya Bunga


"tidak ada". jawab Arden dan melanjutkan makannya


Anissa tidak melanjutkan makannya karena merasa suasana kembali seperti dulu


"Anissa Anissa kamu itu terlalu PD dan senang dengan sikap Arden yang hangat padahal kamu sendiri tau jika itu hanya pura pura saja, ayolah Anissa kamu yang meminta beruang kutub menjadi pacar pura pura mu agar Yusuf menjauhi mu jadi jangan baper dengan sikapnya yang hangat jadinya seperti inikan saat dia bersikap dingin kamu sendiri yang uring uringan". monolog Anissa dalam hati


"sudah makannya". tanya Arden dan Anissa menanggukan kepalanya


Arden memanggil pelayan dan membayar makanan yang mereka pesan, setelah itu Arden mengantarkan Anissa pulang. di perjalanan Anissa sengaja tidak melingkarkan tangannya di pinggang Arden tetapi Arden diam saja tidak seperti biasanya yang akan menarik tangan Anissa untuk melingkar di pinggangnya.


"aish kenapa rasanya seperti ini saat dia cuek seperti, aku merasakan kehilangan sesuatu". monolog Anissa dan mengkrucutkan bibirnya


sesampainya di rumah Anissa langsung turun dari motor dan Arden langsung melajukan mobilnya setelah memastikan Anissa sudah turun.

__ADS_1


"perasaan tadi pagi masih hangat sikapnya kenapa bisa langsung berubah seperti itu bahkan dia tidak mengacak acak rambut ku saat di pergi". ucap Anissa dan masuk ke dalam rumah dengan menghentakkan kakinya karena kesal


"aaaa Menyebalkan sekali dasar dingin Kenapa kembali ke setelan awal". ucap Anissa dan menghempaskan tubuhnya di ranjang


"aaa kenapa seperti ini sakit rasanya ketika beruang kutub berubah jadi cuek dan dingin". ucap Anissa dan memukul mukul bantalnya


"dasar beruang kutub sungguh menyebalkan sekali". ucap Anissa lalu mengigit ujung bantal tersebut


di dalam kamar Anissa uring uringan bahkan meninju bantal melampiaskan kekesalannya. Arden yang sudah sampai di rumah masih belum mengerti apa maksud perkataan ayahnya Anissa bahkan Arden juga merasa bersalah sudah bersikap dingin dan cuek pada Anissa sebenarnya dia tidak bermaksud seperti itu. pertemuannya dengan ayahnya Anissa membuat Arden merasa bingung dengan perkataannya sehingga membuat Arsenal malas untuk merespon siapapun, contohnya saat ini bahkan dia tidak sadar jika mamanya menyapa dirinya dan Laura menatap punggung Arden yang terus naik ke atas


"kenapa itu anak mukanya di tekuk seperti itu bahkan dia tidak sadar jika mamanya memanggilnya". ucap Laura sambil memegang dagunya


"seperti pakaian yang belum di setrika mukanya sangat kusut hahaha". Laura mengejek anaknya


"ayah mana ma". Laura terkejut saat Arden sudah berada di samping


"aish Arden bisa tidak kamu itu jangan membuat mama terkejut seperti ini". ucap Laura sambil mengusap dadanya


"maaf ma". ucap Arden


"ayahmu sedang Keluar bersama Andra, ada apa". tanya Laura


"ada sesuatu yang mau Arden bicarakan, urusan laki laki". jawab Arden


"ya sudah kamu tunggu saja mungkin sebentar lagi pulang". ucap Laura


Arden langsung berlari ke kamar saat melihat kakak iparnya yang muncul dari dapur apalagi saat Arden melihat senyum Tasya yang menurutnya mengerikan. sesampainya di kamar Arden langsung mengunci pintunya


"untung saja langsung kabur sebelum ibu hamil itu ada di hadapan mu, aku yakin ibu hamil satu itu pasti akan meminta yang aneh aneh dan anaknya yang akan menjadi kambing hitam". ucap Arden lalu berjalan menuju ranjang dan merbahkan dirinya


Arden mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi ayahnya untuk segera pulang karena ada hal yang ingin dia sampaikan, tetapi ayahnya sama sekali tidak mengangkat panggilannya.


"ayah sedang ada urusan apa bersama kak Andra". ucap Arden


di tempat lain Bunga yang sudah sampai di kantor langsung membuatkan minuman untuk Yusuf dan mengantarkan ke ruangan Yusuf.


"sudah berkemas". tanya Yusuf


"sudah tuan dan semua berkas berkas berkas yang tidak butuhkan juga sudah saya siapkan". jawab Bunga


"oke nanti jam tiga kita berangkat ke Bandung dan sekarang kamu bisa kembali ke ruangan mu". perintah Yusuf


"baik tuan". jawab Bunga dan meninggalkan ruangan Yusuf


Yusuf yang masih berkutik di depan laptop untuk membaca ulang berkas yang di ajukan kerjasama dengan Perusahaannya dan Yusuf ingin memastikan tidak akan mengalami ke rugian jika kerja sama dengan perusahaan tersebut.


"propsol bagus dan tidak ada yang cacat, untuk lebih lanjutnya bisa di bahas di meeting besok". ucap Yusuf dan mematikan laptopnya lalu meminum teh susu

__ADS_1


"enak juga buatannya". ucap Yusuf sambil menikmati teh susu itu dengan pelan pelan.


__ADS_2