Tuan Mafia

Tuan Mafia
Tuan Mafia S2- Menuju Hari Pernikahan


__ADS_3

Yusuf yang sedang duduk di kursi ruang rawat Bunga menatapnya dengan iba. Yusuf memilih untuk menunggu bunga sadar terlebih dahulu.


drt


drt


drt


"iya pa ada apa". jawab Yusuf


"dimana". tanya Amar pada sang putra karena khawatir dengan putranya


"Yusuf sedang di rumah sakit, Yusuf sedang menunggu teman Yusuf pa". jawab Yusuf


setelah mengatakan itu Yusuf mematikan sambungan teleponnya dan mendengar lenguhan Bunga. Bunga membuka matanya dan langsung meneteskan air mata tanpa bersuara, Yusuf yang melihat itu langsung menghampiri Bunga.


"kamu butuh sesuatu". tanya Yusuf tapi tidak ada respon sama sekali dari bunga


Yusuf mencoba menyentuh bahu bunga tetapi bunga hanya diam saja dengan air mata yang terus mengalir. Yusuf yang melihat itu langsung memanggil dokter.


"tenang ya semuanya akan baik baik saja". ucap Yusuf sambil mengusap air mata bunga


Yusuf mempersilahkan dokter memeriksakan keadaan Bunga.


"bagaimana keadaannya dok". tanya Yusuf


"dia hanya syok dengan apa yang telah terjadi dengan apa yang terjadi padanya". jawab dokter itu


"apa aku akan hamil dengan kejadian itu". tanya bunga tiba tiba dan menatap dokter itu


"bisa hamil dan juga tidak hamil nona". jawab dokter itu


"tinggalkan aku sendirian". ucap Bunga


dokter meninggalkan ruang rawat itu sedangkan Yusuf masih berdiri di tempatnya


"pak tinggalkan aku sendirian". ucap bunga pada dosen sekaligus atasannya itu


"kau yakin". tanya Yusuf yang takut jika Bunga melakukan tindakan yang akan menghilangkan nyawa karena sudah banyak kasus pemerkosan yang berujung bunuh diri


"aku bukan orang yang lemah dan aku bukan orang yang bodoh dan membiarkan orang yang telah membuat ku seperti ini hidup bahagia atas kematian Ku". ucap Bunga sambil menatap Yusuf dan Yusuf dapat melihat api dendam di mata Bunga


"baiklah jika kamu butuh sesuatu saya ada di luar". ucap Yusuf dan memilih keluar dari ruangan Bunga


saat Yusuf berada di luar Yusuf melihat ayahnya bunga lalu mengikuti langkah ayah Bunga yang kemudian masuk ke dalam sebuah ruangan.

__ADS_1


"hiks hiks mas Raka anak kita hiks". tangis Santi pecah saat Raka memasuki ruangan


"maafkan aku mas aku tidak bisa menjaga anak kita hiks". sambung Santi


"kenapa bisa seperti ini". tanya Raka


"tadi pagi Bunga menelpon ku dan memintaku untuk bertemu di hotel , lalu aku datang ke sana dan saat aku sampai di sana ternyata bunga merencanakan untuk membunuh anak kita hingga akhirnya aku kehilangan anak ku hiks hiks". jawab Santi


"putriku tidak mungkin seperti itu". ucap Raka


"tapi itu kenyataan mas, bunga itu tidak pernah suka dengan ku dan dia takut jika anak yang aku kandung menggeser posisinya hiks". jawab Santi


"hotel, apa yang di alami bunga ada hubungannya dengan ibu tirinya itu". monolog Yusuf yang mendebarkan pembicaraan mereka


sedangkan Raka tidak memberikan respon apapun dengan yang di ucapkan oleh Santi karena Raka yakin senakal putrinya tidak akan sampai berbuat seperti itu. saat itu Raka melihat ada tanda merah di leher istrinya.


"kenapa ada bekas tanda kepemilikan di leher Santi". monolog Raka dalam hati


"mas hiks hiks apa salahku pada putrimu hingga dia melakukan ini padaku dan juga anak kita". ucap Santi sambil memeluk Raka


"sebaiknya kamu istirahat". ucap Raka dingin dan melepaskan pelukan Santi


sedangkan Santi menatap Raka yang tidak merespon ataupun menanggapi ucapannya.


"aku harus membuat mas Raka membenci Bunga dan percaya penyebab aku kehilangan anakku karena Bunga". monolog Santi dalam hati


ya walaupun Raka menikahi Santi dan memberikan semua fasilitas pada Santi tetapi tidak dengan sikapnya, Raka bersikap dingin. setelah Raka keluar Santi menghela nafasnya.


"sikapnya dingin sekali, kenapa susah sekali untuk membuatnya jatuh cinta padaku tidak seperti ayah yang terpikat padaku". ucap Santi


dua bulan kemudian


Arden dan Anissa sedang mempersiapkan segalanya untuk acara pernikahan mereka yang akan di laksanakan satu minggu lagi. kini mereka berdua sedang fitting baju pengantin.


"bagaimana". tanya Anissa yang keluar dari ruang ganti


"ganti yang lain itu tidak ada lengangnya, cari yang tertutup". ucap Arden


Bunga menghembuskan nafasnya dengan kasar, sudah ketiga kalinya Arden menyuruhnya untuk mengganti baju yang akan dia kenakan


"bagaimana dengan yang ini". tanya Anissa sedangkan Arden menatap Anissa tanpa berkedip


"cantik". ucap Arden dan itu membuat Anissa terseyum


__ADS_1


guan yang di kenakan Anissa


"kita ambil yang ini saja mba". ucap Arden


setelah memilih gaun dan jas yang akan mereka kenakan saat pernikahan mereka nanti. kini mereka berada di toko perhiasan untuk mengambil cincin yang mereka pesan satu minggu lalu.


bugh


Anissa menabrak seseorang sehingga membuat langkah mereka berhenti. sedangkan perempuan yang dia tabrak sedang membereskan berkas berkas yang berserakan di lantai.


"maaf mba aku tidak sengaja". ucap Anissa dan membantu mengambil berkas berkas itu


"Bunga". ucap Anissa dan menyerahkan berkas yang ada di tangannya


"iya". jawab Bunga dan bunga menatap Arden dan Anissa secara bergantian


"aku dengar kalian akan menikah ya, aku ucapan selamat". ucap bunga sambil terseyum sedangkan mereka berdua terkejut saat bunga berkata seperti itu, sudah lama mereka tidak bertemu dengannya dan ada perubahan dalam diri bunga


"Bunga kamu lagi tidak eror kan". tanya Anissa dan bunga terkekeh dengan ucapan Anissa


"tidak, Kenapa kamu bicara seperti itu". tanya Bunga


"hmmm aneh saja sih tiba tiba kamu bersikap ramah seperti ini". ucap Anissa


"tapi selama ini kamu kemana aku tidak pernah melihat mu di kampus". tanya Anissa


"owh aku sedang ambil cuti kuliah mungkin semester depan baru masuk lagi, aku sedang sibuk". ucap Bunga sambil menunjukan berkas yang dia bawa sedangkan Arden hanya diam saja dan mendengarkan mereka berbincang


"Bunga kamu agak berisi ya". ucap Anissa saat melihat pipi Bunga yang agak tembem


"biasanya banyak makan, jangan lupa undangan pernikahan kalian, aku duluan sudah di tunggu". ucap Bunga


setelah mengucapkan itu Bunga pergi dari hadapan mereka. setelah kepergian Bunga mereka berdua menuju ke toko perhiasan


"mba kita mau mengambil pesanan cincin pernikahan". ucap Anissa


"tunggu sebentar ya mba saya ambilkan cincinnya". jawab pelayan toko


sedangkan dari kejauhan ada seseorang yang memperhatikan mereka berdua.


"mereka terlihat bahagia, jadi jangan rusak kebahagian mereka". ucap Bunga pada Yusuf


"aku hanya memastikan bahwa Anissa bahagia dan aku juga tidak akan menganggu mereka". jawab Yusuf


"ayo sebaiknya kita segera ke cafe sebelum pak Rahmat datang". ucap Yusuf

__ADS_1


"kamu pusing". tanya Yusuf saat melihat Bunga yang memijat dahinya


"tidak apa apa aku baik baik saja". jawab Bunga sambil tersenyum


__ADS_2