Tuan Mafia

Tuan Mafia
Tuan Mafia S2- Ayah Bangga Kepadamu


__ADS_3

saat melihat Arden yang sedang bersama anak anak dan ingat pembicaraannya tadi bersamaan bapak bapak itu bahwa Arden membeli rumah ini dan ingatannya berputar saat Arden pulang dengan keadaan babak belur


"apa dia menjual mobilnya untuk membeli rumah ini bukan untuk taruhan". monolog Alex


flashback on


Alex dan Laura yang sedang duduk di ruang tamu menatap kedua anaknya yang telah pulang sekolah, Andra dan Ana mengahampiri kedua orang tuanya.


"Arden mana". tanya Alex


"Andra tidak tau yah, sejak pagi Arden tidak ada di sekolah". jawab Andra


"iya yah sudah tiga hari ini Ana tidak melihat kak Arden berada di sekolah". sambung Ana


Alex dan Laura saling melirik, Laura mengelus tangan suaminya agar tidak emosi.


jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, tapi tidak ada tanda tanda Arden akan pulang, Alex mondar mandir di ruang tamu sambil sesekali melihat ke arah jam. Laura turun dari tangga dan menghampiri sumainya.


"Arden belum juga". tanya Laura


"belum baby, ini sudah malam tidurlah". perintah Alex


"tapi ingat mas jangan gunakan kekerasan". Laura memperingati suaminya


"iya baby". jawab Alex sambil mencium kening Laura dan terakhir bibirnya.


Laura meninggalkan suaminya sendirian, jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari.


"Arden dimana kamu". kesel Alex


Alex menatap Arden yang baru masuk sedangkan Arden tidak tau jika di ruang tamu terdapat ayahnya.


"dari mana kamu". tanya Alex dan mengahampiri Arden kemudian menyalahkan lampu


"dari mana kami Arden". Alex mengulangi pertanyaannya lagi

__ADS_1


Arden membalikkan badannya dan Alex terkejut melihat wajah Arden yang babak belur.


"main yah". jawab Arden santai


"main jadi tiga hari tidak masuk sekolah hanya untuk main". tanya Alex dan Arden hanya menganggukkan kepalanya


"main dan juga berantem". sambung Alex


"dimana mobil mu ayah tidak mendengar suaranya saat kamu pulang". Alex bertanya dengan nada dingin


"aku jual yah". lagi lagi Arden menjawab dengan santai


"di jual". tanya Alex


Arden menceritakan bahwa mobilnya di jual untuk taruhan, Alex yang mendengar cerita Arden hanya memijit hidungnya.


"Arden bisa kah kamu jangan nakal, kamu sudah SMA Arden, apalagi taruhan, berkelahi ikut tawuran, mau jadi apa kamu Arden". bentak Alex


"dan juga mobil itu ayah belikan untuk kamu berangkat sekolah". sambung Alex


"ayahkan banyak uang bisa beli lagi kenapa hanya mobil saja di permasalahkan". jawab Arden dengan enteng


"ayah tidak mau tau kamu harus ikuti keputusan ayah". teriak Alex saat Arden meninggalkannya dan tidak mendengarkan dia bicara


"apa aku salah mendidik Arden kenapa anak itu seperti itu". monolog Alex dan mendudukkan dirinya di sofa


flashback off


seutas senyum terbit di bibir Alex saat melihat Arden begitu ramah kepada anak anak


"kenapa tidak bilang kepada ayah Arden jika kamu membangun rumah singgah ini". monolog Alex


Alex segera meninggalkan tempat itu, kini dia tau kenapa Arden sering pulang terlambat bahkan tidak pulang karena Arden berada di rumah singgahnya. ada rasa bangga di hati Alex saat melihat putranya memiliki rasa peduli sesama manusia. Alex sekarang mengerti di balik sikapnya yang nakal terdapat jiwa besar kalau untuk sifatnya menyebalkan itu sudah tertanam di diri Arden dan sifat menyebalkan Arden membuat Alex darah tinggi.


sesampainya di rumah Alex terseyum lebar dan memasuki kamarnya, Alex semakin terseyum saat melihat Laura, Alex memeluk Laura dari belakang, Laura melihat Alex yang terseyum lebar dari cermin.

__ADS_1


"ada apa mas kenapa kamu terseyum seperti itu". tanya Laura


"aku bangga dengan Arden baby". jawab Alex sambil mengecup pipi Laura


"bangga kenapa, biasa kamu tidak pernah mengatakan seperti ini tentang Arden, biasa kamu selalu mengumpatnya". Laura berbicara


"dan mengumpatnya seperti ini kenapa anak satu itu selalu membuat ku kesal rasa pengen aku masukin lagi menjadi embrio". sambung Laura mengikuti gaya bicara Alex.


Alex menarik hidung istrinya dan kemudian mengajaknya duduk di bibir ranjang, lalu menceritakan apa yang di lihat tadi bahkan Alex juga menceritakan kenapa dulu Arden menjual mobilnya bukan untuk taruhan tapi untuk membeli sebuah rumah untuk di jadikan tempat singgah anak anak jalanan selain itu Arden mengajari anak anak itu berbagai pelajaran.


"kamu serius mas, Arden melakukan itu". tanya Laura yang masih tidak percaya bahwa Arden bisa melakukan tindakan itu dan Alex menganggukan kepalanya


"besok aku ajak kamu kesana". Alex berbicara


"tapi kenapa Arden tidak pernah menceritakan ini kepada kita". tanya Laura


"mungkin Arden punya alasan sendiri". jawab Alex


"kalau begitu aku tanya soal ini nanti saat Arden pulang". Laura sangat antusias untuk menanyakan ini kepada putranya


"jangan". cegah Alex


"kenapa mas aku hanya ingin tau". tanya Laura


Alex menjelaskan kepada Laura biarkan Arden yang menceritakan soal ini, Alex yakin bahwa putranya itu memiliki alasan sendiri karena tidak mau menceritakan soal rumah singgah itu, yang terpenting bagi Alex adalah Arden memiliki jiwa yang peduli atas sesama dan Alex yakin saat Arden pulang dengan keadaan babak belur karena dia berkelahi dengan preman yang memanfaatkan anak jalanan , karena preman itu tidak akan melepaskan mereka begitu saja. dulu Alex juga pernah ada di posisi anak anak itu, setelah ngamen uang yang dia hasilkan pasti di ambil oleh para preman dan begitu membuat Alex tidak makan ataupun terpaksa mencuri makanan.


"mas tapi aku takut Arden kenapa kenapa jika sering berkelahi dengan para preman".


"Arden pasti bisa menjaga dirinya". jawab Alex


saat Arden memasuki rumah pemandangan pertama yang dilihat adalah ayahnya yang manja terhadap mamanya, dimana sang ayah merbahkan kepalanya di pangkuan mamanya dan kepalanya yang di usap usap. Alex yang mengetahui Arden pulang langsung berdiri dan menghampirinya Arden dengan terseyum


"kenapa ayah senyum senyum seperti itu". batin Arden merasa merinding melihat senyum ayahnya itu


"ayah bangga kepadamu". ucap Alex sambil menepuk pundak Arden sedangkan Arden dihinggapi kebingungan saat ayahnya mengatakan bangga kepada, Alex terseyum melihat wajah kebingungan putranya itu

__ADS_1


"mandilah ini sudah sore". perintah Alex


Arden meninggalkan ayahnya dengan tanda tanya besar sampai sampai Arden menggaruk tengkuknya. sesampainya di kamar Arden langsung membersihkan dirinya, setelah itu Alex membuka sebuah pesan dari Cika yang berisi bahwa ada orang yang memesan kerajinan berjumlah seratus biji dan sudah di bayar lunas dan Cika juga mengatakan pesanan kerajinan yang dia posting di salah satu platform online banyak peminatnya, Arden terseyum membaca pesan itu.


__ADS_2