Tuan Mafia

Tuan Mafia
Tuan Mafia S2-Keinginan Arden


__ADS_3

Arden sedang menatap tajam ke arah dua orang yang sedang berdiri di depannya. Ola meremas tangannya saat mendapatkan tatapan tajam dari bosnya.


"Ola kamu periksa ini". ucap Arden dan memberikan sebuah berkas


Ola mengambil berkas itu dengan tangan yang sedikit bergetar lalu membukanya


"apa laporan yang kamu buat itu sudah benar". tanya Arden


"su sudah tuan" jawab Ola


"ini Ola kenapa gugup seperti itu padahal tuan Arden juga tidak akan tau". ucap Lea dalam hati dan kakinya menginjak kaki Ola


"oke sudah benar ya, lalu dana sebesar satu milyar itu di gunakan untuk apa disana tidak ada keterangan". tanya Arden lalu berdiri dan menyadarkan dirinya di meja lalu menatap mereka secara bergantian


"bahkan di bulan lalu juga ada pengeluaran yang sangat besar juga tapi tidak ada kejelasan untuk apa itu dan". sambung Arden dan memasukan kedua tangannya ke dalam saku


"da dana itu untuk untuk". Ola gugup dan suara sangat susah untuk berbicara


"dana itu untuk pembangunan pantai asuhan tuan , sebelum tuan Alex meninggal dia memberikan amanah untuk membangun sebuah panti". jawab Leo


"apa namanya dan dimana alamatnya". Ucap Arden dan menatap mereka


"mungkin saya tidak sehebat ayah saya, tapi jangan main main denganku karena saya tidak sebodoh yang kalian kira". ucap Arden


"kalian berdua memanfaatkan meninggalnya ayahku untuk mengepalkan dana perusahaan dan apa kalian pikir saya tidak akan tau, ya mungkin dia bulan yang lalu saya tidak tau karena masih dalam keadaan berkabung tapi sekarang saya tau apa yang kalian lakukan ". sambung Arden


"tuan maafkan saya , saya hanya mengikuti perintah Leo ". ucap Ola


"hey jangan menyalahkan saya". ucap Leo


"tapi kamu yang membujuk saya dan mengatakan bahwa tuan Arden adalah orang yang bodoh dan tidak akan tau ". ucap Ola


Arden hanya menatap mereka berdua yang sedang saling menyalahkan


"tuan jangan percaya dengan wanita ini, tuan sendiri tau berapa lama saya bekerja disini dan betapa setianya saya". ucap Leo


"wanita ini hanya ini memfitnah saya tuan, jelas jelas dia kepala keuangan disini jadi otomatis dia bisa memanipulasi data dan melakukan pengelapan". ucap Leo


"tidak tuan dia yang membujuk saya sehingga saya terbujuk dengan rayuannya ". ucap Ola


"stop ". bentar Arden


"Candra ". teriak Arden dan masuk Seketarisnya bersama beberapa pria bertubuh besar


"iya tuan". ucap Candra


"bawa mereka ke markas D'devil dan serakah pada paman Gio dan Tante agar mereka di beri sebuah pelajaran dan tidak akan mengulanginya lagi ". ucap Arden


"dan hubungi semua perusahaan untuk memasukkan nama mereka ke daftar buku hitam sehingga tidak akan ada perusahaan yang mau menerima mereka ". sambung Arden


"hukuman itu pantas untuk orang orang seperti mereka ". ucap Arden dan kembali duduk


"tuan saya mohon jangan lakukan itu". ucap Ola yang berlutut di bawah kaki Arden


"cepat bawa mereka ". ucap Candra


orang orang yang bertubuh kekar langsung membawa mereka berdua pergi, teriakan Ola tidak membuat Arden kasihan atau iba karena bagi Arden tidak ada maaf untuk seorang penghianat. Arden akan membuat perusahan ini jauh lebih kuat dan tidak akan ada yang berani mencari masalah dengan perusahaan peninggalan ayahnya baik orang luar ataupun orang yang bekerja


"sampai peraturan baru di perusahaan ini, naikan orang orang yang memiliki kinerja bagus sedangkan yang kinerjanya rendah turunkan, lalu setiap tiga bulan sekali rubah posisi mereka karena aku ingin orang orang yang berada di posisi penting yang ada di perusahaan ini memiliki kinerja yang bagus, jika kinerja mereka bagus maka posisinya aman, karena aku tidak ingin melihat orang orang yang berada di posisi penting bisanya hanya memerintah karyawan yang ada di bawah dan ketika si suruh untuk mengerjakan sesuatu tidak bisa". ucap Arden

__ADS_1


"dan satu lagi jika ada pelamar tes mereka dengan benar, tolak orang orang yang menggunakan orang dalam dan hukum orang orang yang menerima suap". sambung Arden


"baik tuan akan saya sampaikan pada semua karyawan yang ada disini". ucap Candra


"ada yang lain tuan". tanya Candra


"tidak ada , silahkan keluar ". ucap Arden


setelah Candra keluar Arden mengambil bingkai foto orang tuanya dan mengusap foto itu


"ayah, Arden tidak akan membiarkan perusahaan ini hancur begitu saja dan aku tidak akan membiarkan orang orang yang berkhianat itu tenang ". ucap Arden


karena saat berita meninggalnya tuan Alex si raja bisnis meninggal, pesaing bisnis berlomba lomba untuk menghancurkan perusahaan ayahnya untuk mendapatkan perusahaan yang terkuat dan untung saja semua itu segera Arden sadari sehingga meminta bantuan pada Andra dan Farhan.


Arden meletakan kembali bingkai foto itu dan mengambil ponselnya lalu membaca pesan sang istri


*istri bar bar kesayanganku*


makan siang ini makam apa sayang, aku masakan dan aku antar ke perusahaan karena aku di rumah sangat bosan


^^^*anda*^^^


^^^masak cumi cumi sambal hijau dan siapkan lalap suruh bibi saja yang masak, tidak perlu ke perusahaan karena aku akan pulang, karena aku tidak ingin kamu kelelahan sayang ^^^


*istri barbar kesayanganku*


masak tidak akan membuat lelah sayang


^^^*anda*^^^


^^^aku ingin mulai hari ini kamu istirahat agar Arden dan Anissa junior segera launching, agar kamu tidak kesepian di rumah. jika bisa tiga sekaligus 😘^^^


*istri barbar kesayanganku*


^^^*anda*^^^


^^^ada aku, aku akan membantumu. aku sudah membayangkan akan sangat menyenangkan jika memiliki akan kembar tiga apalagi melihat mereka tumbuh secara bersamaan ^^^


*istri barbar kesayanganku*


terserah


Arden terkekeh saat melihat balasan terakhir istrinya dan Arden tau jika istrinya itu sedang marah karena keinginan memiliki anak kembar tiga seperti orang tuanya. Arden menyambar jasnya dan langsung untuk pulang.


sesampainya di rumah Arden masuk secara diam diam dan bibirnya tersenyum saat melihat punggung istrinya yang sedang menata sebuah foto.


cup


Arden mencium pipi Anissa dan memeluknya dari belakang tapi tidak ada respon dari istrinya


"hmmm istriku ternyata sedang merajuk hmmm". ucap Arden


"maaf". sambung Arden


"aku tidak marah sayang, aku hanya memikirkan keinginan mu, bagaimana jika aku tidak hamil anak kembar tiga nantinya". ucap Anissa dan mengalungkan tangannya di leher suaminya


"tidak masalah, mau yang lahir satu, dua, tiga ayu empat tetap kita syukuri karena apa yang kita inginkan belum tentu terwujud jika terwujud kita harus banyak banyak bersyukur". ucap Arden dan menempelkan kening pada istrinya


"yang penting nanti saat kamu melahirkan baik kamu atau anak kita selamat dan jika tidak kembar tiga kita bisa memberikannya adik dan aku akan sangat senang membuatnya". ucap Arden sambil menaik turunkan alisnya

__ADS_1


"dasar mesum". ucap Anissa


"sudah sana ganti pakaian lalu makan". ucap Anissa


"soalnya sudah bau asem". ucap Anissa sambil mengibaskan tangannya di depan hidungnya.


"baiklah istri barbar kesayanganku ". ucap Arden lalu mencium pipi istrinya dan naik ke atas


"semoga kalian segera hadir dan sesuai keinginan ayah kalian". ucap Anissa sambil mengusap perutnya yang buncit


Anissa segara menuju dapur dan menyiapkan makanan untuk suaminya. saat Arden sudah sampai dapur di melihat piringnya yang sudah terisi makanan


"terima kasih istriku ". ucap Arden dan duduk


saat Anissa akan mengambil piring Arden mencegahnya. Arden menarik tangannya istrinya hingga membuat duduk di pangkuannya. Arden menyuapi istrinya dan juga sebaliknya. Meraka makan dengan penuh kemesraan. makanan terasa nikmat saat mengunakan satu piring dan saling menyuapi. Arden mengusap sudut bibir istrinya yang terdapat sambal dengan bibirnya. Anissa yang mendapatkan perlakuan seperti itu langsung tersipu malu


"manis". ucap Arden dan terseyum


"itukan sambal harus pedas". ucap Anissa


"rasa pedasnya kalah dengan rasa manis bibir mungil ini". ucap Arden


"bisa aja". ucap Anisa dan langsung melompat dari pangkuan suaminya.


setelah selesai makan mereka duduk di halaman belakang sambil melihat tanam yang berisi tulip putih yang mulai bermekaran. Arden mengusap rambut istrinya yang terurai


"sayang kamu tidak ke kantor lagi". tanya Anissa sambil menghirup aroma wangi tulip putih itu


"tidak karena urusan kantor hari ini sudah selesai". jawab Arden dan Anissa menanggukan kepalanya


"ternyata kalian ada disini". ucap Andra sambil mengedong Kaila


"kakak Andra kenapa tidak bilang jika datang". ucap Arden


"sebenarnya tidak mau kesini, kakak hanya ingin menemani kaila ke makam mama dan ayah, soalnya dari tadi malam kaila menagis terus dan setalah di ajak kesana baru tenang". jawab Anda dan menurunkan Kaila dan Kaila merangkak menghampiri Anissa yang memegang bunga tulip


"mungkin kaila rindu sama Kakek dan neneknya". ucap Anissa sambil memberikan bunga itu pada Kaila


"aku rasa begitu apalagi kaila sangat dekat dengan mama dan ayah". ucap Andra


"kakak ipar Tasya tidak ikut ". tanya Anissa


"Tasya sedang bimbingan skripsi ". jawab Andra


Andra sendiri sudah menyelesaikan kuliahnya dari kamar dan untuk Tasya baru saja masuk setelah mengambil cuti selama dua semester dan tentu saja tertinggal oleh teman temannya


"Arden bagaimana dengan skripsimu, harus segera di selesaikan ". ucap Andra


"tinggal menunggu jadwal keluar kak". jawab Arden


sebenarnya Anissa dan Arden menyelesaikan skripsinya secara bersamaan tapi berhubung pembimbing Arden sulit untuk di temui makanya Annisa yang selesai duluan


"eits jangan di makan". ucap Anisa dan mencegah Kaila memasukan bunga itu ke dalam mulutnya


Kaila mengeluarkan suara khas anak berumur satu tahun lebih, Anissa terkekeh saat melihat Kaila yang protes saat bunganya di ambil. interaksi antara Kaila dan istrinya membuat Arden tersenyum.


"kaila ayo kita jemput mama". ucap Andra


seakan mengerti apa yang di katakan ayahnya kaila merangkak menghampiri ayahnya. Andra berpamitan untuk menjemput istrinya yang sudah selesai bimbingan.

__ADS_1


karena cuacanya yang semakin panas mereka berdua memilih untuk masuk ke dalam rumah. sesampainya di dalam mereka langsung menghempaskan tubuhnya ke sofa.


__ADS_2