Tuan Mafia

Tuan Mafia
Tuan Mafia S2- Pasti Datang


__ADS_3

Ana yang duduk di depan ruang rawat suaminya menatap dokter yang baru saja memeriksa suaminya.


"dok bagaimana keadaan suami saya". tanya Ana


"suaminya nyonya baik baik saja hanya perlu melakukan beberapa perawatan saja dan sekarang suami nyonya sedang beristirahat karena efek obat". ucap dokter itu


setelah kepergian dokter itu Ana membuka pintu dengan pelan pelan dan Ana melihat suaminya yang sedang memejamkan matanya. secara perlahan Ana melangkah kakinya dan kemudian duduk di samping suaminya, Ana menatap suaminya dengan diam


"mas apa kamu bisa memaafkan ku, aku tidak mau kamu meninggalkan ku". monolog Ana dan meraih tangan suaminya lalu mengecupnya dan memejamkan matanya, air mata Ana jatuh begitu saja


Ana mengangkat kepalanya saat merasakan kepalanya di sentuh dan saat itu juga Ana melihat suaminya terseyum kepada


"mas". ucap Ana


"maafkan mas tadi mas marah padamu". ucap Farhan dan mengusap air mata Ana


"mas berhak marah karena itu kesalahan ku". jawab Ana


"itu bukan kesalahan mu sayang, mungkin itu sudah takdir kita". ucap Farhan dan mengambil tangan Ana dan mengecupnya


"tapi karena aku kita kehilangan anak kita mas". ucap Ana


"nanti setelah aku keluar dari rumah sakit kita bisa membuatnya lagi sampai dua belas anak, jadi siapkan tenagamu sayang karena setelah aku keluar dari rumah sakit aku tidak akan membiarkan mu istirahat". ucap Farhan dan Ana memukul lengan Farhan


"dua belas di pikir enak apa". ucap Ana

__ADS_1


"tapi enakan saat membuatnya, apalagi kamu terlihat seksi sayang saat berkeringat di ranjang dan bibir seksi mu mengeluar alunan melodi yang begitu merdu". ucap Farhan dan menaiki turunkan alis


"auww". ringis Farhan saat Ana mencubitnya


"sakit sayang, suamimu ini baru sadar tapi kamu sudah melakukan kekerasan". ucap Farhan yang mengkerutkan bibirnya


"biarin siapa suruh jadi orang mesum". ucap Ana


"jika tidak mesum bagaimana kita bisa punya anak dua belas". jawab Farhan


sedangkan Ana yang pipinya sudah memerah karena godaan suaminya langsung menenggelamkan kepalanya di dada suaminya dan Farhan mengusap puncak kepala istrinya. Alex dan Laura yang berada di ambang pintu terseyum melihat putrinya dan suaminya sudah membaik hubungan.


"jika seperti ini kita akan tenang untuk kembali ke Indonesia". ucap Alex


"iya mas, mas kapan kita akan menemani Arden untuk melamar Anissa". tanya Laura yang kemudian menutup pintu untuk memberikan ruang untuk putrinya


"mas tapi kenapa ayahnya Anissa hanya memberikan waktu pada Arden satu Minggu padahal waktu masih banyak". tanya Laura dan Alex mengangkat bahunya


di Indonesia


Arden dan Anissa sedang berada di taman sudah ada satu jam lamanya mereka saling diam.


"beruang kutub, besok adalah hari terakhir yang di berikan ayahku untuk melamar ku, bagaimana". tanya Anissa yang sudah mulai khawatir jika Arden dan orang tuanya tidak bisa datang ke rumahnya


"besok aku pasti datang untuk melamar mu". ucap Arden tanpa menatap Anissa, Arden yakin orang tuanya pasti akan mengusahakan yang terbaik untuk anak anaknya.

__ADS_1


"aku takut jika kamu dan orang tuamu tidak bisa datang, apalagi mereka masih ada di Singapura dan menemani adikmu yang masih berada dalam masalah dan pasti orang tuamu tidak akan tega meninggalkan adikmu". ucap Anissa dan merbahkan kepalanya di dada Arden sedangkan Arden mengusap tangan Anissa.


Arden memeluk Anissa dengan erat dan mencium puncak kepalanya Anissa yang masih berada di dada bidangnya.


"aku takut jika besok kamu tidak datang maka ayah akan menikahkan aku dengan Yusuf dan kamu tau sendiri bukan jika ayahku begitu mengingkan aku menikah dengan Yusuf". sambung Anissa


"kamu tidak perlu khawatir besok bersiaplah siaplah aku pasti datang". ucap Arden untuk menyakinkan Anissa


dari kejauhan seseorang mengepalkan cengkraman tangannya di stir mobil saat melihat Arden dan Anissa begitu intim karena saling berpelukan, guratan marah tercetak jelas di wajah pria itu sedangkan gadis yang ada di samping mulai was was saat melihat ekspresi wajah pria yang ada di sampingnya itu, gadis itu sebenarnya juga merasa kesal melihat kedekatan Arden dan Anissa.


"haduh apa tuan Yusuf akan mengamuk lagi seperti yang ada di kantor itu, apalagi kita baru pulang dari luar kota pasti tuan Yusuf sangat marah saat melihat orang yang di cintai begitu dekat dengan pria lain". monolog Bunga sambil menatap Yusuf yang tercetak jelas guratan kemarahannya dan Bunga menelan salivanya saat Yusuf menatapnya


tangan Bunga meraih pintu untuk membuka pintu mobil tapi ternyata tidak bisa.


"haduh ini kenapa tuan Yusuf malah menatap ku seperti itu". monolog Bunga dalam hati


secepat kilat Yusuf meraih tengkuk Bunga dan mencium Bunga dengan kasar bahkan ujung bibir Bunga sudah berdarah, Bunga memukul mukul Yusuf dan mencoba memberontak tetapi tenaganya kalah jauh.


Yusuf menurunkan sandaran kursi yang Bunga duduki bahkan Arden sudah menindih Bunga. Yusuf terus mencium Bunga dengan kasar saat Bunga terus memberontak. Bunga mengulurkan tangannya ke punggung Yusuf dan mencoba mengusap punggung Arden dengan pelan dan saat itu ciuman Yusuf mulai memelan lalu berhenti, Yusuf membuka matanya dan yang di lihat adalah Bunga dengan bibir yang membengkak dan juga mengeluarkan darah di ujung. mereka saling tatap dan Bunga tetap mengusap punggung Yusuf dengan harapan Yusuf bisa tenang dan tidak melakukan lebih pada dirinya. lima belas menit dalam posisi itu dan akhirnya Yusuf kembali ke kursinya lalu melajukan mobilnya tanpa ada niatan untuk meminta maaf pada Bunga sedangkan Bunga memegang bibirnya yang terasa perih dan juga kebas.


"jika aku tidak membutuhkan uang aku sudah keluar dari perusahaannya, jika aku keluar belum tentu aku bisa mendapatkan pekerjaan". umpat Bunga sambil menatap tajam kearah Yusuf dan mengembalikan tempat duduk tersebut seperti semula.


Bunga mengambil tissue untuk mengelap darah di ujung bibirnya, Yusuf sedikit melihat ke arah Bunga yang meringis ketika mengelap darah bibinya.


"sial kenapa aku bisa mencium mahasiswi sekaligus seketaris ku yang kerjaannya menghina orang". umpat Yusuf dalam hati yang merutuki tindakannya tadi dan anehnya usapan yang di berikan Bunga membuatnya sedikit tenang walaupun belum sepenuhnya dia merasa tenang saat melihat Arden dan Anissa tadi.

__ADS_1


"aku harus cari tau apa yang terjadi pada tuan Yusuf sehingga aku bisa mengantisipasi ketika dia akan marah karena aku pasti akan sering bersamanya jangan sampai aku yang terluka karena kemarahannya". monolog bunga dalam hati


"bunga bunga naman yang indah tapi nasib yang buruk sudah di usir dari rumah dan tidak mempunyai apapun , dan sekarang dapat atasan yang tidak bisa mengendalikan emosinya, kapan aku bisa hidup seperti dulu lagi". sambung Bunga dalam hati dan menatap jalanan


__ADS_2