Tuan Mafia

Tuan Mafia
Tuan Mafia S2- Lamaran Dadakan


__ADS_3

Arden bersiul sambil menyisir rambutnya di depan cermin dan tidak lupa menyemprotkan parfum di bajunya. setelah selesai Arden langsung mengambil tasnya dan turun ke bawah. Arden menghentikan langkahnya saat melihat punggung Tasya, Arden berjalan pelan pelan menuju dapur agar tidak bertemu dengan Tasya jika sampai bertemu yang ada Arden tidak akan bisa pergi. Arden menghela nafasnya dengan lega saat sudah berhasil keluar dari rumah.


"selamat selamat untung tidak bertemu dengan ibu hamil satu itu jika bertemu pasti dia akan minta yang aneh aneh". ucap Arden dan berjalan menuju motornya dan sampai di depan motornya Arden mendesah lesu


"Hay om mau kabur kemana". ucap Tasya yang sudah berdasar di motor Arden


"kakak ipar yang baik dan cantik jangan menggangguku ya, aku sedang buru buru". ucap Arden


"tidak bisa, keponakan mu ini ingin dibelikan bubur rasa stroberi". ucap Tasya


"mana ada bubur rasa stroberi, lebih baik kakak ipar minta ke kak Andra". ucap Arden


"tidak bisa karena keponakan mu mau om nya yang nyariin". ucap Tasya


"kak Andra lihat istrimu, aku sedang buru buru ini Karena ini menyangkut masa depan ku". ucap Arden saat melihat kakaknya keluar dari rumah


Andra menghampiri mereka dan menarik pelan istrinya agar menjauh dari motor Arden. Arden yang melihat Tasya sudah tidak berada di motornya dia langsung naik ke motornya. Arden langsung melajukan motornya meninggalkan rumah


"om kalau berhasil jangan lupa belikan bubur rasa stroberi sepuluh bungkus". teriak Tasya


"sudah ayo masuk dan jangan teriak teriak seperti itu". ajak Andra dan membawa istrinya masuk


sebenarnya hari ini Andra dan istrinya harus kembali ke rumah tapi berhubung orang tuanya harus ke Singapura membuat Andra mengurungkan niatnya untuk kembali ke rumahnya sendiri. di perjalanan Arden saat bahagia. senyum Arden terbit ketika memasuki halaman rumah Anissa.


Anissa yang berada di kamar langsung turun ke bawah saat mendengar suara motor Arden. Anissa turun dengan tidak bersemangat setelah kemarin Arden bersikap dingin kepadanya. saat sudah ada di depan Anissa langsung naik ke motor Arden


"pegangan". ucap Arden dan Anissa langsung melingkarkan tangannya di pinggang Arden


Arden langsung melajukan motornya menuju Kampus terapi di pertengahan jalan Arden melambatkan laju motornya, Arden membuka kaca helmnya


"menikahlah denganku". ucap Arden


"hah". ucap Anissa yang terkejut dengan ucapan Arden barusan


"aku menagih janjimu yang waktu itu, janji yang kamu akan mengabulkan apa yang aku mau dan yang aku mau adalah kamu menikah dengan ku". ucap Arden


"hah". ucap Anissa


"jadi orang jangan ingkar janji". ucap Arden


"iya atau tidak". tanya Arden

__ADS_1


"kau bercanda atau gimana beruang kutub". tanya Arden


"menikahlah denganku". ucap Arden dan Anissa hanya bisa melongo dengan ucapan Arden tetapi berubah dengan terkejut saat Arden melajukan motornya sehingga membuat Anissa semakin memeluk erat Arden


"beruang kutub apa yang kamu lakukan, ini kamu mengendarai di batas normal". ucap Anissa


"motor ini tidak akan berhenti sebelum kamu menjawab pertanyaan ku dan jika kamu menolak maka laju motor itu akan semakin kencang dan sekitar 300 meter lagi ada tikungan" ucap Arden


"beruang kutub kamu mau mengajak menikah atau mengajak tawuran tidak ada romantisnya sama sekali". protes Anissa


"kamu sudah merasakan sikap romantis ku selama ini dan jika ingin lebih romantis maka menikahlah denganku". ucap Arden


"iya atau tidak". sambung Arden dan semakin melajukan motornya dengan kencang saat Anissa hanya diam saja


sedangkan Anissa yang di bonceng hanya diam saja dan menutup matanya karena takut


"beruang kutub hentikan motornya". ucap Anissa


"jawab dulu". ucap Arden


"iya iya aku mau menikah dengan mu". jawab Anissa dan Arden terseyum mendengar jawaban Anissa lalu Arden memelankan laju motornya


"baru kali ini ada orang melamar seorang perempuan di atas motor udah begitu tidak romantis lagi, di kamar serasa bertemu malaikat maut". sindir Anissa dan melepaskan pelukannya


Arden yang mendengarkan sindiran yang Anissa lontarkan padanya hanya diam saja dan tidak bermaksud untuk menangapi sindiran Anissa yang terpenting bagi Arden adalah dia sudah mendapatkan jawaban "iya" dari Anissa.


Anissa yang ada di belakang masih terasa mimpi jika Arden mengajaknya menikah walaupun cara Arden mengajaknya tidak ada kesan romansa tapi itu sudah membuat Anissa berdebar dan pipinya sudah bersemu merah, Anissa menenggelamkan kepalanya di punggung Arden karena Anissa tidak ingin Arden tau jika pipinya sedang bersemu merah.


"mimpi apa aku semalam sampai di lamar beruang kutub ini ya walaupun cara melamarnya beda dari yang lain". monolog Anissa dalam hati


senyuman yang mengembang itu tiba tiba menghilang saat mengingat ayahnya yang tidak setuju dia memiliki hubungan dengan Arden apalagi tadi dia menerima lamaran Arden tanpa sepengetahuan ayahnya


"haduh bagaimana ini caraku bilang dengan ayah jika aku sudah menerima lamaran Arden dan bagaimana caranya agar ayah membrikan restunya untuk ku jika aku menikah dengan Arden karena tidak mungkin aku menikah tanpa restu orang tua". monolog Anissa dalam hati lagi


"aku harus membuat ayahnya setuju aku menikah dengan Arden bagaimanapun caranya agar di izinkan". monolog Anissa dalam hati dan terseyum lebar


motor memasuki halaman kampus dan Arden melajukan motornya menuju parkiran. setelah motor berhenti Anissa langsung turun dari motor dan meninggalkan Arden begitu saja karena dia masih tersipu dengan ajakan Arden lagi. Anissa terlonjak kaget ketika ada yang mengandeng tangan lalu tatapan mereka berdua saling bertemu.


apa yang di lakukan Arden membuat jantung Anissa berdetak saat cepat bahkan Anissa berjalan sambil menutupi setengah mukanya dengan tas yang di bawa untuk menutupi rona merah di pipinya. mereka berdua berjalan sambil bergandengan tangan dan sama sama diam. setelah sampai di depan kelas Anissa, Arden membalikkan badannya Anissa menghadap dirinya.


"nanti setelah pulang dari kampus aku akan mengutarakan lamaran ku tadi pada orang tua mu". ucap Arden

__ADS_1


"jangan". Jawab Anissa


"ma maksudku biar aku saja yang mengatakannya". ucap Anissa


"tidak, biar aku saja karena aku ingin mendapatkan Restu daru ayahmu, jika kamu yang bilang maka ayahmu akan menilaiku pria yang tidak berani" ucap Arden


"Sekarang masuk dan belajar yang rajin calon istriku ". ucap Arden sambil mengacak-acak rambut Anissa dan menarik hidung Anissa


"sudah sana masuk kenapa diam saja". ucap Arden saat melihat Anissa yang diam saja sambil menatap dirinya


"e iya ya aku masuk". jawab Anissa dengan gugup dan Arden terkekeh saat melihat Anissa yang begitu gugup


Anissa masuk ke dalam kelas sambil memegang dadanya yang bergemuruh begitu hebat dan saat sudah masuk ke dalam kelas Anissa menabrak kursi karena tidak fokus


"auwh" ringis Anissa sambil mengusap kakinya yang terpentok kursi


teman sekelas menatap Anissa dengan tatap heran apalagi saat tadi Anissa masuk sambil memegang dadanya sambil terbengong sedangkan Anissa yang mendapatkan tatapan dari teman sekelasnya hanya cengengesan sambil menggaruk tengkuknya. Anissa langsung duduk di kursi yang dia tabrak tadi dan Anissa langsung menelungkupkan wajahnya di kedua tangannya yang dia letakkan di meja


"aaa Kenapa Arden harus menyatakan saat berangkat kuliah seperti ini, Kenapa tidak sepulang kuliah saja, dan sekarang efek dari lamaran dadakan itu membuat ku menjadi tatapan satu kelas aaa Menyebalkan". monolog Anissa dalam hati


setelah mengantarkan Anissa masuk ke dalam kelasnya Arden juga masuk ke kelasnya yang ada di samping kelas Anissa. di dalam kelas Arden menjadi bahan ejakan temannya karena mereka menganggap si dingin yang sedingin kutub Utara bahkan melebihi itu telah mencair dan bucin, nama Arden ya dia sama sekali tidak menanggapi ajakan temannya bahan dia berubah dingin kembali ketika tidak bersama Anissa


"hmmm sepertinya tadi hangat deh sikapnya kenapa sekarang berubah dingin kembali". ucap seorang wanita yang tiba tiba duduk di samping Arden


"jangan cuek gitu dong, semua anak kampus tau kalau kamu sudah tidak dingin lagi". ucap wanita itu dengan gaya centilnya bahkan dia membuka dua kancing atas kemejanya sambil mencondongkan tubuhnya ke arah Arden dan sedikit menggoyangkan bahunya


"hangat ku hanya untuk orang yang pantas mendapatkannya". ucap Arden tanpa melihat perempuan itu yang sedang menurunkan lengan bajunya sehingga bahunya terlihat


"aku juga pantas seperti dia apalagi kita satu kelas dari semester awal sampai sekarang". ucap wanita itu dengan manja


"dia beda dengan mu dia bisa menjaga kehormatannya dan tidak obral sana sini ataupun merayu dosen agar lulus mata pelajarannya". ucap Arden


wanita itu menegakan tubuhnya kembali saat mendengar ucapan Arden


"aku pikir setelah bersikap hangat akan mudah untuk di rayu ternyata sama saja seperti dulu dingin, hebat sekali perempuan itu bisa membuat Arden bersikap hangat hanya pandanya". monolog wanita itu dalam hati


"aku yang sexy seperti ini sama sekali tidak di lirik olehnya kenapa perempuan triplek itu bisa membuat Arden meliriknya, aku yakin perempuan itu tidak jago di ranjang padahal jago aku dan pasti bisa memuaskan mu Arden, menyebalkan". monolog perempuan itu dan menopang dagunya


Arden berdiri dari kursinya dan memilih untuk pindah tempat duduk, wanita itu menatap Arden dengan sini


"dasar sombong padahal hanya mahasiswa saja, aku bisa mendapatkan yang lebih darimu bahkan aku bisa merayu dosen di sini dan merayu Bos besar, cih kamu tidak ada apa-apanya dengan mereka tapi Sombong sekali". monolog wanita itu dan mengulurkan ponselnya

__ADS_1


wanita itu tidak segan segan mengirimkan foto bugilnya pada orang yang barusan mengirimkan pesan padanya


"lihat ini aku bisa bermain dengan bos batu bara yang mampu membelikan aku tas mewah ini dan aku yakin kamu tidak bisa membeli barang barang mewah ini, ganteng doang tapi kere yaitu mahasiswa". monolog wanita itu dalam hati sambil menatap sinis Arsenal lalu langsung keluar dari kelas


__ADS_2