
Setelah selesai makan dan mengobrol, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang apalagi Delon dia merasa tidak tengang meninggalkan Lisa dan baby Farhat. saat mereka keluar dari cafe saat itu juga Alex dan Arden keluar dari cafe, Anissa dan Arden tidak sengaja saling menatap lalu pandangan Arden juga jatuh pada pria yang ada di samping Anissa.
"Anissa ayo pulang". ajak Delon karena malas lama lama bertemu dengan Alex
mereka memasuki mobil masing masing, di dalam perjalanan Anissa hanya diam saja.
"bagaimana menurutmu Yusuf sa". tanya Delon pada putrinya itu
"biasa saja yah". jawab Anissa
"kenapa biasa saja Yusuf itu hebat di umurnya yang baru dua puluh empat sudah bisa menjadi dosen". ucap Delon dengan santai
"hmm". guman Anissa karena sangat malas membahas soal pria
"kamu harus banyak belajar dari dia bagaimana bisa meraih cita citanya". sambung Delon
"yah mampir ke supermarket dulu, mama minta beliin susunya Farhat". ucap Anissa
Delon membelokkan mobilnya ke supermarket, Anissa langsung turun dan masuk ke supermarket. sedangkan di mobil lain Yusuf senyum senyum sendiri sambil menyetir mobil
"kenapa kamu senyum senyum sendiri Suf". tanya Amar pada putranya itu sejak keluar dari cafe Yusuf terseyum sendiri
"pa apa papa punya nomornya Anissa". tanya Yusuf
"tidak ada papa punyanya nomornya ayahnya Anissa". jawab Amar
"pa mintain ya nomornya Anissa pada ayahnya". ucap Yusuf
"suf kamu suka sama Anissa". tanya Amar dengan antusias karena ini pertama kalinya Yusuf bicara malu malu seperti ini dan Yusuf mengangukan kelapanya
"bagaimana kalau langsung lamar saja, papa yakin orang tua Anissa akan merestui apalagi papa dan ayahnya bersahabat sudah lama". ucap Amar
"jangan pa". ucap Yusuf
"kenapa jangan". tanya Amar
"Yusuf yakin orang tuanya akan setuju tapi Yusuf tidak yakin jika Anissa mau, tadi saja saat di cafe Anissa begitu cuek". ucap Yusuf
__ADS_1
"dulu bundamu juga cuek seperti itu tapi ayah berhasil memilikinya". ucap Amar dengan bangga
"bagaimana caranya". tanya Yusuf dan saat itu Amar langsung diam
"hmmm rahasia itu hanya boleh papa pakai untuk mendapatkan bundamu". ucap Amar
"bagaimana nanti jika papa minta Delon untuk menjodohkan mu dengan anaknya". usul Amar
"hmmm boleh pa tapi jangan buru buru buat Yusuf dekati Anissa secara perlahan lagian Yusuf dosen di kampusnya dan Yusuf juga berharap mengajar di kelasnya agar itu bisa Yusuf gunakan untuk mengambil hati Anissa". ucap Yusuf dan Amar menganggukan kepalanya
"papa harap kamu tidak mengunakan cara seperti papa untuk mendapatkan bundamu suf". monolog Amar dalam hati
Setelah sampai rumah Anissa menyerahkan pesanan mamanya dan tidak lupa mencubit gemas pipi baby Farhat lalu Anissa membawa baby Farhat ke dalam kamarnya.
"bagaimana mas tadi acara bertemu dengan teman mas". tanya Lisa
"lancar sayang, sayang aku ingin bicara sesuatu". ucap Delon lalu mengajak lisa masuk ke dalam kamar mereka dan mengajak Lisa duduk di bibir ranjang
"mas mau bicara apa". tanya Lisa
"sayang ada apa kamu tidak setuju ya, sayang Yusuf itu anaknya baik dan aku yakin dia bisa membahagiakan putri kita". ucap Delon
"mas bukan masalah baiknya, mas apa sudah lupa dengan pernikahan kita". ucap Lisa
"mas aku mamanya Anissa aku tidak ingin putriku mengalami apa yang pernah aku alami karena perjodohan walaupun pada akhirnya aku bahagia bersama mu". sambung Lisa
"maafkan mas sayang atas sikap mas yang dulu". ucap Delon dengan sendu
"mas tidak perlu minta maaf karena mas sudah membayarnya dengan kebahagiaan yang jauh lebih baik". ucap Anissa
"mas bolehkah aku minta jangan ada perjodohan untuk anak anak kita biarkan mereka menentukan pilihannya sendiri, jika memang Anissa berjodoh dengan Yusuf maka mereka akan bersatu dalam sebuah ikatan pernikahan, bisakan mas jangan ada perjodohan untuk Anissa ataupun Farhat nanti". ucap Anissa dengan lembut dengan berharap suaminya mengerti itu
"baiklah aku tidak akan menjodohkan anak anak kita tetapi orang yang menjadi pasangan untuk anak kita nantinya jika mas merasa tidak baik maka mas akan melarangnya". ucap Delon
"mas ayahnya mas bisa melarang anak nak kita agar tidak berdekatan pada orang yang memang benar benar bukan orang baik". ucap Lisa dan memeluk Delon
"maaf jika tadi mas bahas perjodohan dan itu mengingatkan mu atas perlakuan mas dulu". ucap Delon sambil mengusap pipi istrinya
__ADS_1
"sudah jangan bahas masa lalu". ucap Lisa lalu mencium pipi suaminya dan langsung berlari keluar
"kebiasaan habis mencium langsung pergi begitu saja". monolog Delon
"untung saja dulu mama menjodohkan aku dengan mu, mungkin jika orang lain sudah pergi meninggalkan ku". ucap Delon lalu merbahkan dirinya di ranjang.
Arden dan Alex baru saja sampai di perusahaan mereka, Alex sengaja membawa Arden kembali ke perusahaan agar putranya itu belajar bagaimana menjadi pemimpin yang baik dan seperti apa jika terjun langsung ke dunia bisnis, dan saat memasuki ruangan sudah ada Andra yang menunggu mereka.
"sudah lama ndra". tanya Alex
"tidak yah baru sampai soalnya tadi dari kampus harus pulang dulu karena Tasya nyidam rujak yang ada di depan kampus". jawab Andra dan Andra rasanya ingin tertawa saat melihat wajah Arden yang tertekan
"biasanya saja itu muka jangan begitu Ar". ucap Andra
"bagaimana tidak seperti ini orang tidak suka dunia bisnis tapi di paksa". ucap Arden dan Alex hanya mengelengkan kepalanya saat mendengar jawaban Arden karena bagi Alex sudah biasa Arden seperti itu
"sudah nanti juga biasa, ayo sekarang akan aku ajarkan tentang dunia bisnis". ajak Andra dan menarik tangan Arden agar duduk di sofa
Andra dengan telaten mengajari Arden dan saat Andra menjelaskan setengah tiba tiba saja Arden menerawang saat melihat Anissa bersama pria di cafe tadi, Arden mengelengkan kepalanya
"ini kenapa aku jadi memikirkan cewek preman itu". monolog Arden sambil mengelengkan kepalanya dan berhenti saat Andra menepuk pundaknya
"ada apa, apa ada yang tidak kamu mengerti Ar". tanya Arden
"tidak, lanjutkan saja". ucap Arden
Arden kembali mendengarkan Andra yang mengajarinya dan saat dia akan memikirkan Anissa bersama pria lain, Arden langsung mencubit punggung tangannya dan Andra menatap aneh ke arah Arden yang sering mencubit punggung tangannya sendiri tetapi Andra tetap melanjutkan mengajari Arden dengan baik.
"Ar apa kamu sedang jatuh cinta". ceplos Andra yang sudah tidak tahan melihat Arden terus terusan mencubit punggung tangannya dan Arden langsung menatap Andra.
💙💙💙💙
Hay Hay aku bawa rekomedasi cerita yang sangat sangat rekomen untuk di bawa karya "
Te_mi" judul " Diujung Sayap Rindu"
__ADS_1