
Setelah kepergian Yusuf Anissa menatap ayahnya dengan intens
"ayah jangan coba coba menjodohkan aku dengan Yusuf ya". ucap Anissa
"siapa yang mau menjodohkan mu". jawab Delon dengan bohong
"ayah Anissa tau maksud ayah dan untuk apa ayah menghubungi Yusuf dan memberi tau dia jika aku masuk rumah sakit jika bukan untuk membuat kami dekat". sambung Anissa
"ayah hanya ini terbaik untuk Putri ayah ini dan lagian ayah juga tidak langsung menyuruh mu menikah dengan Yusuf, ayah melakukan itu agar tumbuh cinta secara alami di hati kalian dan setelah itu barulah kalian menikah". ucap Delon dan Anissa memutar bola matanya dengan malas mendengar ucapan ayahnya
"apa salah di coba dan mengenal Yusuf lebih dekat sehingga kamu tau jika Yusuf adalah sosok yang sangat cocok untuk di jadikan suami". ucap Delon dengan terseyum
"terserah ayahlah". ucap Anissa
"sebaiknya kamu istirahat Anissa agar besok bisa cepat pulang ayah tidak suka lama lama di rumah sakit". ucap Delon lalu berjalan menuju sofa dan membaringkan badannya di sana
Sedangkan di rumah keluarga Alex, Laura yang sedang membereskan kamar Arden mengambil celana Arden yang tergeletak di lantai
"kapan anak itu bisa menaruh barang pada tempatnya dan kamarnya bisa rapih, jika mamanya tidak membereskan maka kamar ini seperti kapal pecah, apa tidak malu dengan istri besok ketika sudah menikah". monolog Anissa dan saat akan meletakkan celana itu di ranjang kotor sebuah kalung terjatuh lalu Laura mengambil kalung itu
"Anissa, kalung siapa ini, apa Arden membeli kalung ini untuk kekasihnya". monolog Laura lalu meletakkan celana itu di keranjang dan meletakan kalung itu di sebuah laci
Laura membawa keranjang kotor itu Keluar dan meletakan di dekat mesin cuci agar tercuci
Arden yang baru saja selesai nge gym langsung keluar dari ruangan olahraga dan menuju kamarnya, setelah masuk kamar Arden terkejut saat tidak melihat celana yang barusan dia pakai lalu Arden melihat ke keranjang baju dan ternyata keranjang itu sudah tidak ada
"apa bibi sudah mengambil keranjang pakaian kotor, semoga saja belum di cuci karena terdapat kalung di sana". ucap Arden dan langsung berlari menuju belakang tempat mencuci pakaian kotor saat sampai disana Arden bernafas lega saat melihat celana belum di cuci, Arsenal langsung mengambil celananya dan mencari kalung di saku
__ADS_1
"kemana kalungnya". monolog Arden dan kemudian mengacak acak keranjang baju kotor tetapi tidak menemukan kalung tersebut
"Arden kenapa baju kotornya di acak acak seperti ini nak". tanya Laura yang terkejut saat baju baju itu sudah berada di lantai semua
"Arden cari sesuatu ma". jawab Arden yang masih membolak-balikkan pakaian kotor
"memangnya apa yang di cari". tanya Laura sambil membereskan baju baju yang berceceran
"kalung ma bisa gawat jika kalung itu hilang". jawab Arden
"maksudmu kalung yang ada tulisannya Anissa". tanya Laura dan pertanyaan mamanya membuat Arden menghentikan kegiatannya
"mama tau darimana". tanya Arden
"tadi saat mama membereskan kamarmu mama menemukan kalung itu". jawab Laura
"sekarang kalung itu ada dimana ma". tanya Arden
"bukan". jawab Arden
"bohong nyaku saja jika sudah punya kekasih pasti mama dan ayah akan merestui jika gadis itu baik". ucap Laura
"mama bicara apa, kalungnya dimana ma". tanya Arden
"di laci kamarmu". jawab Laura dan Arden langsung berlari menuju kamarnya kemudian membuka laci, Arden bernafas lega saat kalung itu masih ada
"kenapa aku takut sekali jika kalung ini hilang jika hilangpun Anissa tidak akan tau jika kalung ini ada bersama ku sebelumnya, aneh sekali". monolog Arden lalu memasukkan kembali kalung itu.
__ADS_1
sedangkan di rumah sakit Anissa menatap langit langit ruangan itu
"kenapa setiap aku berada di situasi yang membutuhkan pertolongan beruang kutub selalu ada seperti saat di perkemahan waktu itu saat aku tergantung di pohon karena jebakan pemburu Arden yang menolongku, lalu saat baju kotor dia meminjam bajunya dan tadi saat aku sakit lalu pingsan Arden yang membawa ku ke rumah sakit". monolog Anissa dan jantung berdetak dua kali lipat
"aish pasti itu hanya kebetulan saja dan tidak mungkin, lagian sejak pertama kali bertemu dengannya selalu bertengkar". sambung Anissa lalu memiringkan badannya lalu membalikan lagi
"aish kenapa aku jadi gelisah seperti ini". kesal Anissa lalu menarik selimut menutupi wajahnya
sedangkan Yusuf yang berada di kamarnya berjalan mondar mandir karena gelisah memikirkan bagaimana caranya mengambil hati Anissa
"bagaimana caraku agar bisa membuat Anissa jatuh cinta padaku". Monolog Yusuf
"aku tidak ingin jika Anissa bersama orang lain, aku harus bisa membuat Anissa jatuh cinta padaku". sambung Yusuf
"aku yakin jika setiap hari aku memberikan perhatian padanya maka Anissa akan jatuh cinta padaku dan apa kurangnya diriku aku seorang dosen bahkan pewaris kekayaan milih ayah". Monolog Yusuf dengan bangganya terhadap dirinya itu
Yusuf memandangi foto Anissa yang ada di ponselnya, ya Yusuf mau ikut dengan ayahnya ke Jakarta karena sudah jatuh hati pada Anissa saat pertama kalinya ayahnya memberikan foto Anissa dan ayahnya mengatakan bahwa Anissa adalah calon istrinya dan tujuan Yusuf mengajar di kampus Anissa agar bisa berdekatan dengan Anissa. Yusuf masih ingat bahwa ayahnya mengatakan hanya Anissa yang pantas bersanding dengan dirinya dan Anissa hanya untuknya karena dulu Amar dan Delon pernah berjanji akan menikah anak mereka. bahkan Delon sudah mengirimkan foto Anissa sejak kecil dan Amar juga mengatakan kepada Yusuf jika Anissa dewasa maka dia akan jadi istrinya, sejak kecil hati Yusuf sudah terpaut pada Anissa. Yusuf memandangi foto foto Anissa yang tertempel di dinding kamarnya dari foto Anissa sejak kecil sampai dewasa.
"Anissa sejak kecil kamu sudah menjadi milikku dan ayah selalu mengatakan bahwa kamu adalah milikku maka tunggu aku sampai bisa membuatmu jatuh cinta dan kita menikah, aku juga akan membuat pria yang mendekatimu menjauh secara perlahan sehingga hatimu hanya untukku". Monolog Yusuf sambil merebahkan dirinya di ranjang
"sudah lama aku menanti momen bertemu dengan mu Anissa dan ternyata setelah bertemu kamu sangat cantik dan manis, selama ini aku hanya bisa memandang foto u saja". Sambung Yusuf lalu mengusap foto Anissa
hari itu ketiga anak manusia yang berada di tempatnya masing masing sedangkan memikirkan sesuatu. ada sebuah keinginan dari seseorang untuk memiliki sesuatu dan ada sebuah takdir yang akan membuat dua orang berbeda jenis kelamin itu berada di sebuah hubungan yang tidak bisa di ganggu gugat, dan waktu yang akan menjawab takdir atau seseorang yang bertekat memiliki sesuatu yang akan menjadi pemenangnya.
💙💙💙
jangan lupa kome, like, hadiah, vote agar rajin update
__ADS_1
yuk sambil menunggu update selanjutnya mampir di karya "Vhendie" judul " Asa Di Ujung Lembayung" cusllah langsung meluncur di baca jangan kebanyakan mikir