
Keesokan paginya Gio sudah berada di depan rumah ibunya, Gio menatap pintu yang ada di depan, Gio merasa ragu untuk memecat bel yang ada di rumah itu, berulang kali Gio menarik nafasnya untuk mengurangi rasa gugupnya. dengan ragu ragu Gio mengarahkan tangannya ke bel itu
ting
tong
ting
tong
Fatma yang sedang menata makanan di atas meja langsung berjalan. menuju ruang tamu.
"siapa pagi pagi sudah bertamu seperti ini". monolog Fatma sambil membuka pintu itu
Fatma mematung saat pintu terbuka sedangkan Gio mendudukan kepalanya dan matanya hanya melihat kaki ibunya. Fatma langsung meneteskan mata saat melihat Gio berada di depannya. Fatma langsung memeluk Gio sedangkan Gio yang di peluk hanya diam saja karena tidak tau mau bersikap seperti apa karena sikapnya selama ini.
"sudah lama mama ingin memelukmu seperti ini nak". ucap Fatma dan Gio dengan perlahan mengangkat tangannya untuk membalas pelukan ibunya, Fatma merasa bahagia saat Gio membalas pelukannya
Fatma melepaskan pelukannya dan saat pelukan itu terlepas Gio langsung berlutut di depan ibunya.
"maafkan Gio Bu, Gio minta maaf". ucap Gio dengan air mata yang sudah membahasi pipinya
"sudah berdiri jangan seperti ini nak". ucap Fatma sambil memegang pundak Gio untuk menyuruhnya berdiri
"berikan hukuman untuk Gio Bu untuk Sikap Gio selama ini pada ibu". mohon Gio
"Gio berdirilah, ibu tidak marah dengan sikapmu karena saat kejadian itu kamu masih umur tiga tahun dan setiap ibu ingin membawamu ayahmu selalu menghalanginya. ucap Fatma.
"sekarang berdiri dan ayo masuk, istrimu sejak kemarin menanyakanmu". ucap Fatma
"Nadia sudah sadar". tanya Gio
"iya". jawab Fatma
Fatma membantu Gio untuk berdiri dan mengajaknya masuk ke dalam rumah lalu mengajaknya ke kamar yang Nadia tempati saat memasuki kamar itu Gio melihat istrinya yang sedang meminum susunya. Gio menghampiri Nadia dan duduk di sisi ranjang.
"mas". ucap Nadia saat melihat suaminya sudah duduk di sampingnya, Gio mengambil gelas yang sudah kosong dan melewatkan ke atas nakas
Gio mencium kening Nadia dengan lama lalu tidak lupa mencium perut Nadia.
__ADS_1
"bagaimana keadaan mu sayang". tanya Gio
"sudah sedikit membaik tapi kadang kadang badanku terasa sakit". jawab Nadia
"maafkan aku yang tidak bisa menjaga mu". ucap Gio sambil mengusap pipi Nadia dan bekas luka yang ada di kepala Nadia
"mas mama". Nadia menjeda ucapannya
"mas udah tau semuanya". ucap Gio
"jadi mas sudah tau, apa mas sudah melaporkan mama ke polisi". tanya Nadia
"belum, mas ingin memberikan pelajaran untuknya, kantor polisi tidak akan membuatnya jera sayang dia wanita licik pasti punya seribu cara agar dia bisa keluar". ucap Gio
"lalu apa yang akan mas lakukan". tanya Nadia
"mas akan mengikuti permainannya". jawab Gio
pintu terbuka dan menampilkan Fatma Yanga membawa sarapan untuk Nadia.
"ibu kenapa repot repot membawakan sarapan untuk Nadia". ucap Nadia
"hehehe iya Bu". jawab Nadia dengan cengengesan dan Fatma hanya tersenyum
"Gio nanti sarapan dulu sebelum melakukan aktifitas dan abangmu juga akan keisni jadi ayo sarapan bareng saja" ajak Fatma
"he iya Bu". jawab Gio dengan sedikit gugup
Gio membantu Nadia memakan sarapannya, Gio terseyum saat melihat Nadia makan dengan lahap bahkan makan yang di siapkan oleh ibunya adalah makanan yang sangat bergizi.
"keluarlah mas itu pasti mobil bang Farhan". ucap Nadia
"kenapa diam". tanya Nadia
"sebenarnya mas malu dan bingung mau bersikap seperti apa setelah apa yang mas lakukan kepada mereka terutama kepada ibu". jawab Gio dan Nadia terseyum
"mas aku yakin ibu dan bang Farhan tidak akan mengungkit sikap mu kepada mereka selama ini terutama ibu , ibu selama ini sangat ini bertemu dengan mu dan memeluk mu, aku yakin saat dirimu memutuskan untuk datang kemari adalah untuk memperbaiki semuanya bukan". ucap Nadia dan Gio menanggukan kepalanya
"jadi sekarang keluarlah dan mulai dekat dengan ibu dan bang Farhan, tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki semuanya". ucap Nadia
__ADS_1
"mas keluar dulu dan habiskan sarapan mu". ucap Gio
Farhan menatap Gio yang baru keluar dari kamar Nadia, Fatma mengajak kedua putranya dan Ana untuk sarapan. sesampainya di ruang makan mereka mengambil duduk masing masing, Gio menatap semua makanan yang tersedia di atas meja
"ibu tidak tau kamu akan datang kemari dan ibu juga tidak tau makanan kesukaan mu nak jadi ibu hanya masak makanan seperti ini". ucap Fatma Karena tidak mengetahui apa yang di sukai anaknya itu
"tidak apa Bu dan makanan kesukaan ku sudah ada di atas meja". jawab Gio
"yang mana makanan kesukaan mu agar ibu tau dan bisa memasakkan untuk mu". tanya Fatma
"cumi pedas asin". jawab Gio
makanan kesukaan Gio mengingatkan Fatma pada suaminya yang sudah tidak ada, untuk mengurangi rasa rindunya Fatma selalu memasak makanan kesukaan Malik sedangkan Farhan melihat binar bahagia di mata ibunya saat Gio ada di sini
"makanan kesukaan mu seperti makanan kesukaan ayah Kalian". ucap Fatma lalu mengambilkan makanan untuk Gio
"Bu aku bisa mengambilnya sendiri". ucap Gio
"ibu hanya ingin mengambil makanan untuk anak ibu pertama kalinya". ucap Fatma
Gio menatap makanan yang ada di depannya lalu memakannya, Gio merasakan kecanggungan di ruangan itu sedangkan Farhan biasa saja dan ada rasa syukur di hati Farhan Melihat Gio makan satu meja dengan mereka.
"Gio kamu akan tinggal di sinikan". tanya Fatma setelah selesai makan
"tidak Bu, Gio akan tetap tinggal bersama mama Merlin". jawab Gio
"tapi..."
"mama Merlin belum tau jika Gio sudah tau semuanya dan Gio ingin memberikan pelajaran untuknya". ucap Gio saat melihat ibunya sedih dengan jawabannya
"tapi wanita itu sangat berbahaya ibu takut kamu kenapa kenapa". ucap Merlin
"jika Gio tinggal di sini pasti akan membuat mama Merlin berbuat nekat". ucap Gio
"Gio hanya ingin mengikuti permainannya". sambung Gio
"jangan berbuat yang akan membuat mu terkena hukum nak". ucap Fatma dengan khawatir
"ibu tenang saja Gio tau apa yang harus Gio lakukan". ucap Gio
__ADS_1
sedangkan Farhan dan Ana hanya mendengarkan percakapan ibunya dan Gio. setelah sedikit berbicara pada ibunya Gio memutuskan untuk ke kantor karena masih merasa malu dan canggung jika berlama lama di sana. Farhan hanya melihat kepergian adiknya