Tuan Mafia

Tuan Mafia
Tuan Mafia S2- Misi Meluluhkan Hati Calon Mertua


__ADS_3

Bunga memilih untuk kembali ke apartemennya dan akan menyusun rencana untuk membalas perbuatannya pembantu sialan tersebut.


sedangkan di rumah Alex, Tasya yang sejak tadi ingin parfum milik Arden diam diam masuk ke kamar Arden dan mencari parfum yang wanginya seperti yang Arden pakai. mata Tasya berbinar ketikan melihat botol parfum di atas meja. Tasya segera mengambilnya lalu menciumnya.


"baunya sama seperti yang tadi, baby kamu aneh aneh saja kalau tau ayah mu pasti marah, semalam saja bunda harus berdebat dengan ayahmu karena ingin mie yang di masak oleh pamanmu dan sekarang kamu menginginkan parfum milik paman, besok mau apalagi kamu baby jangan buat ayahmu cemburu, soalnya ayahmu orang cemburuan". ucap Tasya sambil mengusap perutnya yang membuncit


setelah mendapatkan parfum milik Arden, Tasya segera keluar dari kamar Arden dan menuju kamar suaminya yang ada di rumah itu. setelah sampai kamar Tasya menyemprotkan parfum tersebut di kamar suaminya lalu menghirup udara. Tasya membaringkan tubuhnya di ranjang sambil menikmati wangi dari parfum tersebut.


drt


drt


drt


Tasya beranjak dari ranjang dan melihat ponselnya yang sedang berbunyi dan tertera nama hubby. Tasya segera mengangkat panggilan tersebut jika tidak maka suaminya itu akan merajuk.


"iya hubby". jawab Tasya


"sedang apa hunny apa anak kita rewel atau menginginkan sesuatu". tanya Andra di seberang telepon


"dia tidak rewel dan tidak menginginkan apapun". jawab Tasya " tapi dia membuatku mengambil parfum milik Arden". sambung Tasya dari dalam hati


"jika menginginkan sesuatu katakan padaku nanti aku bawakan setelah pulang dari kantor dan setelah itu kita pulang ke rumah kita". ucap Andra


"hubby bisakah kita menginap di sini selama satu minggu aku ingin makan masakan mama". Ucap Tasya


"ya hanya satu minggu lagian sudah lama kita tidak menginap di sini". sambung Tasya

__ADS_1


"baiklah hanya satu minggu nanti akan aku ambil keperluan kita di rumah". ucap Andra


"hunny sudah dulu ya dan jangan lupa makan lalu minum susunya, dan ingat jangan lakukan apapun yang membahayakan dirimu ataupun calon anak kita". Andra memperingati istrinya karena dua hari yang lalu istrinya itu memanjat pohon jambu dengan keadaan hamil, jangan di tanya bagaimana perasaan Andra saat mendapatkan telepon dari ART nya bahwa istrinya memanjat pohon dan hal itu langsung membuat Andra membatalkan pertemuan


"iya dan maaf waktu itu aku membuatmu khawatir". ucap Tasya


"ya sudah aku mau menemui klien dulu". ucap Andra lalu mematikan sambungan teleponnya


setelah sambungan telepon terputus Tasya mengusap perutnya entah mengapa akhir akhir ini selain nafsu makannya yang meningkat tetapi keinginannya juga aneh aneh yang membuat Tasya bingung sendiri.


"baby jangan menginginkan yang aneh aneh ya seperti memanjatkan pohon jambu kemarin bisa jatuhnya ayahmu, bunda tau kamu berjenis kelamin laki laki tapi jangan nakal ya". ucap Tasya pada perutnya dan mendapatkan tendangan dari anaknya


"eh kamu aktif sekali baby sedangkan melakukan apa kamu di dalam sana, bunda sudah tidak sabar menunggu Kehadiran mu di dunia ini". ucap Tasya sambil menyentuh tendangan yang di berikan anaknya dan Tasya tertawa saat anaknya merespon setiap apa yang dia katakan


Tasya menguap dan mulai mengantuk, Tasya segera membaringkan tubuhnya di ranjang lalu memejamkan matanya yang sudah berat rasanya, angin yang masuk melalui jendela membuat Tasya cepat tertidur


Arden yang sedang berada di perpustakaan sambil menunggu Anissa selesai kuliah. Arden membuka ponselnya dan mencari sesuatu di halaman pencarian google yaitu " cara mendapatkan restu ayah dari gadis yang kita cintai"


Arden mendesah lesu saat membaca hasil dari pencarian tersebut, Arden terseyum saat melihat temannya yang duduk di sampingnya.


"hey mau tanya". ucap Arden


"mau tanya apa". jawab Dendi


"hmmm tapi kamu harus tutup mulutmu". ancam Arden dan Dendi menatap Curiga pada Arden


"ya kamu mau tanya apa Arden pak ketua Mapala". tanya Dendi

__ADS_1


"bagaimana kamu mendapatkan restu dari ayah mertua mu". tanya Arden pada Dendi Karen memang Dendi sudah menikah saat masuk kuliah


"jangan bilang ayahnya Anissa tidak merestui hubungan mu dengan putrinya". ucap Dendi yang ingin sekali rasanya tertawa dengan apa yang di alami oleh teman sekelasnya itu walaupun tidak terlalu dekat dengan Arden, Dendi tau bahwa Arden adalah orang yang dingin dan tidak bisa di dekati oleh seorang perempuan tapi pada akhirnya ada seseorang yang bisa meluluhkan hati Arden


"jawab saja dan jangan banyak tanya". ucap Arden


"aku sih tidak tau soalnya waktu aku pacaran dengan istriku dulu orang tuaku welcome dengan ku, mungkin kamu bisa mengambil perhatian ayahnya Anissa dengan hal kecil seperti membawakan sesuatu saat datang ke rumahnya dan membantu jika ayahnya Anissa butuh bantuan". ucap Dendi


"lalu kalau cara itu tidak berhenti bagaimana". ucap Arden yang sedikit frutasi


"ya berarti kamu harus berjuang untuk mendapatkan restunya jika kamu benar benar ingin memiliki Anissa karena tidak mungkin kamu menikah tanpa kehadiran ayahnya". ucap Dendi


"jangan putus asa begitu jika kamu mau berjuang aku yakin ayahnya Anissa juga akan luluh ibaratnya seperti batu yang di tetesin air setiap hari, Arden yang aku kenal bukan orang yang pantang menyerah walaupun kita hanya sebatas teman kelas aku sedikit tau karakter mu Arden". ucap Dendi sambil tersenyum dan Arden menanggukan kepalanya


"kira kira menurutmu aku harus membawa apa untuk ayahnya Anissa". tanya Arden


"dulu waktu aku pacaran dengan istriku jika aku ke rumahnya membawakan buah atau makanan yang penting tidak tangan kosong yah walaupun masih duit orang tua dulu yang aku gunakan". ucap Dendi yang alhasil membuat Arden ataupun Dendi tertawa dan mendapatkan teguran dari penjaga perpus karena menganggu kenyamanan.


"oke misi pertama membawakan buah untuk om Delon". ucap Arden dalam hati dengan harapan bisa meluluhkan ayahnya Anissa


"jadi kamu menikah setelah lulus sekolah SMA". tanya Arden


"iya karena aku takut jika dia di ambil orang lain". jawab Dendi


"hmmm". guman Arden


"buruan dapatkan restu dan segera nikahi Annisa sebelum di ambil orang lain karena aku tidak yakin jika hanya kamu saja yang menyukai Anissa Karena dia cantik walaupun dulu sempat berpenampilan preman". ucap Dendi tanpa tau ekspresi Arden yang sudah berubah datar karena dia memuji Anissa cantik

__ADS_1


"jangan memujinya cantik". ucap Arden lalu meninggalkan Dendi dengan bingung


"apa dia tidak suka kalau aku mengatakan Anissa cantik, wah tipe cowok yang cemburuan dan posesif ketika sudah bucin padahal dulu dinginnya seperti kutub Utara". ucap Dendi dan terkekeh


__ADS_2