
pagi Alex dan Laura benar benar terbang ke Singapura untuk menemui putrinya, Kini mereka berdua berada di depan rumah sakit tempat Farhan di rawat. Alex dan Laura berjalan menuju ruang rawat Farhan. sesampainya di depan pintu Laura membuka pintu itu secara perlahan dan mereka melihat Ana yang sedang duduk di samping brangkar Farhan, Ana memegang tangan Farhan dengan erat bahkan mereka melihat Ana yang lebih kurusan.
"pangeran panda ku mohon bangun, Jangan hukum aku seperti ini, kenapa kamu betah sekali memejamkan matamu, apa di sana jauh lebih indah di bandingkan di sini". ucap Ana
"ku mohon bangun dan hukumlah aku dengan cara lain bukan seperti ini, maafkan aku, aku menyesal tidak mendengarkan mu andai malam itu aku mendengarkan mu maka tidak akan seperti ini hiks, ku mohon bangun". ucap Ana sedangkan Alex dan Laura ikut merasakan sedih saat mendengar perkataan putrinya
Ana menoleh saat merasakan seseorang memang bahunya dan betapa terkejutnya saat melihat kedua orang tuanya ada di sini. Ana bertanya tanya siapa yang memberitahu kedua orang tuanya jika dia berada di sini
"mama ayah". ucap Ana dan Laura menghapus air mata putrinya itu
"Kenapa mama dan ayah ada di sini". tanya Ana
"kenapa tidak memberitahu ayah dan mama apa yang sedang kamu alami'. tanya Alex pada putrinya
"Ana Ana hanya tidak ingin membuat kalian khawatir dengan apa yang sedang kami alami". jawab Ana
"Ana kami kedua orang tuamu dan kami tau keadaan mu, apalagi sampai seperti ini". jawab Ana sambil menundukkan kepalanya dan meremas ujung bajunya
sedangkan Alex memperhatikan gerakan putrinya dan Alex merasa ada yang di tutupi oleh putrinya, apalagi sejak tadi putrinya itu hanya menundukkan kepalanya terus dan nampak gugup saat menjawab pertanyaan yang dia lontarkan
"sudah berapa lama Farhan dalam keadaan seperti ini". tanya Alex
"su sudah satu bulan yah". jawab Ana
"semua akan baik baik saja dan Farhan pasti akan sembuh, yang penting Ana harus selalu mendo'akan Farhan". ucap Laura dan membawa putrinya ke dalam pelukannya
di dalam pelukan sang mama Ana menumpahkan tangisannya dan Laura mengusap punggung Ana agar putrinya merasa tenang
"hiks hiks". tangis Ana
Alex mendekati brangkar dan memperhatikan Farhan yang banyak alat medis yang menempel di tubuhnya bahkan kepala Farhan di perban. Alex memperhatikan Farhan dan Alex tidak menemukan luka yang lain selain di bagian kepala Farhan.
"Ana sudah makan". tanya Laura dan Ana mengelengkan kepalanya
"sebaiknya sekarang Ana makan dulu ya". ucap Laura
__ADS_1
"Ana belum lapar ma , Ana aku di sini menemani mas Farhan dan Ana tidak mau meninggalkan mas Farhan, bagaimana nanti jika Ana tinggal mas Farhan bangun". jawab Ana
"Ana dengarkan mama , lihat tubuh mu sekarang kurus jika Farhan bangun melihat keadaan mu seperti ini pasti dia sedih, jadi sebaiknya sekarang kita makan dulu yuk". ajak Laura
"apa yang di katakan mama mu benar Ana sebaiknya kamu makan dulu bersama mama mu biar ayah yang menemani Farhan di sini". ucap Alex
"tapi.."
"ayo Ana". ucap Laura dan menarik Ana keluar dan menuju ke kantin sedangkan Ana hanya diam saja saat mamanya membawa dirinya ke kantin.
semenjak Farhan koma Ana jarang memperhatikan dirinya sendiri apalagi untuk makan bahkan kadang Ana tidak makan sama sekali
setelah kepergian istrinya dan putrinya, Alex menghela nafasnya dengan kasar saat melihat kondisi Farhan yang terbaring di brangkar.
"sebenarnya apa yang terjadi pada mu Farhan dan apa Karena Ana kamu seperti ini". ucap Alex
saat Alex sedang memijat dahinya seorang perawat masuk untuk memeriksa keadaan pasien.
"sus apa dokter yang menangani pasien ini ada". tanya Alex
"iya , saya ayahnya dan saya juga baru mengetahui keadaan putraku jadi aku ingin menemui dokter dan bertanya tentang pasien". ucap Alex
"mari tuan saya antar ke dokter Kelvin". ucap suster
Alex mengikuti suster yang berjalan menuju ke tempat dokter Kelvin.
"permisi dokter Kelvin". ucap suster
"iya suster Maria". jawab dokter Kelvin yang masih fokus melihat hasil rongsen
"dokter Kelvin ada ayahnya tuan Farhan yang ingin bertemu dengan dokter". ucap suster Maria dan dokter Kelvin mengangkat kepalanya
"tuan silahkan duduk". ucap dokter Kelvin
"dokter tuan saya permisi dulu". ucap suster Maria dan meninggalkan ruangan dokter Kelvin
__ADS_1
"tuan ayahnya tuan Farhan, salam tuan". ucap dokter Kelvin karena selama ini dokter Kelvin bertemu keluarga lain dari Farhan kecuali istrinya apalagi saat pertama kali Farhan di bawa ke rumah sakit ini hanya di temani istrinya dan baru satu Minggu yang lalu dokter Kelvin bertemu dengan ibunya Farhan
"lebih tepatnya ayah mertuanya". jawab Alex
"saya hanya ingin tau apa yang membuat Farhan sampai koma selama satu bulan". tanya Alex
"saat pertama kali datang kemari pasien terkena tembakan di bagian kepala dan tembakan itu mengenai beberapa sarafnya apalagi pasien terlambat mendapatkan penanganan, saat sampai di rumah sakit sudah terjadi pembengkakan, dan setelah selesai operasi pasien mengalami koma, tapi saya salut dengan pasien yang masih kuat untuk bertahan sampai saat ini". ucap dokter Kelvin
"tembakan". tanya Alex
"iya tuan dan saat beresiko jika kepala terkena tembakan, dan sekarang kita hanya bisa berdo'a agar pasien segera sadar karena tidak ada luka yang serius selain kepala dan itupun luka di kepalanya sudah berangsur membaik secara perlahan". jawab dokter Kelvin
"Kenapa Farhan bisa terkena tembakan". monolog Alex dalam hati
"saya mohon lakukan yang terbaik untuk menantu saya dok". ucap Alex
"saya akan melakukan yang terbaik dan semampu saya". jawab dokter Kelvin
"berapa lama menantu saya koma dok". tanya Alex
"kami tidak tau tuan, jika pasien sendiri ingin segera bangun maka dia akan bangun jika tidak ya pasien akan tetap koma". jawab dokter Kelvin
setelah bertemu dengan dokter Kelvin, Alex kembali ke ruangan Farhan dan duduk di sofa yang ada di ruangan itu
"berarti Farhan terkena tembakan di Singapura tapi siapa yang menembaknya , jika musuh di dunia bisnis tidak akan seberani ini, Farhan sendiri hanya seorang pengusaha dan dosen, hanya di dunia Mafia yang berani menggunakan senjata untuk melumpuhkan musuhnya". monolog Farhan
"dan Farhan sendiri tidak terlibat dalam dunia bawah tanah itu". sambung Alex
Ana yang berada di kantin rumah sakit hanya memandangi makanan yang ada di depannya tanpa ada niatan untuk memakannya.
"Ana ayo segera di malam, jika kamu segera makan kita juga akan segera kembali ke ruangan Farhan". ucap Laura sambil mengusap punggung tangan putrinya
dengan diam Ana memakan makanan , Laura sebagai seorang ibu merasa sedih saat melihat putrinya hanya diam saja apalagi di matanya banyak kesedihan yang Ana simpan. selama makan Laura mengusap punggung tangan Ana untuk memberikan kekuatan pada putrinya itu.
"sudah ma Ana kembali ke ruangan mas Farhan dulu". ucap Ana dan meninggalkan Laura begitu saja
__ADS_1
Laura segera menghabiskan makanan dan tidak lupa Laura juga membelikan makanan untuk suaminya, setelah membayar makanan tersebut Laura meninggalkan kantin untuk kembali ke ruangan Farhan dan Laura yakin saat ini suaminya juga lapar karena tadi pagi mereka tidak sempat sarapan karena khawatir dengan keadaan Putri mereka