
Setelah puas bermain dengan baby Farhat, Anissa membawa baby Farhat ke kamar orang tuanya.
"cup cup jangan nangis dong". ucap Anissa sambil menepuk punggung baby Farhat
tok
tok
tok
"ma baby Farhat menangis ini, dia tidak mau diam". ucap Anissa
tok
tok
"mama ayah, kenapa lama buka pintunya ini baby Farhat nangis bagaimana cara membuatnya diam". ucap Anissa yang masih menepuk baby Farhat
sedangkan di dalam kamar Delon yang sudah menyelesaikan kegiatan langsung berguling ke samping istrinya, Lisa yang panik langsung melilitkan selimut di tubuhnya dan mengambil pakainya dan berlari ke kamar mandi
tok
tok
Delon yang sudah selesai memakai pakaian langsung membuka pintu dan mengambil baby Farhat dalam gendongan Anissa
"kenapa lama sekali ayah, kan sudah tau kalau baby Farhat menangis Anissa bingung membuatnya diam". ucap Anissa sambil mengerucutkan bibirnya
"tadi diam saja kenapa bisa menangis Anissa". tanya Delon karena setiap bersama putrinya itu Farhat berujung menangis
"ya karena Farhat sangat mengemaskan jadi aku cubit cubit pipinya jadi menangis". ucap Anissa dan setelah itu meninggalkan kamar orang tuanya.
setelah Anissa pergi Delon menutup pintunya dan membawa baby Farhat masuk.
"kenapa nangis Farhat kan menganggu kegiatan ayah sama mama hmmm". ucap Delon dan Farhat terkekeh saat Delon menciumi pipinya.
Lisa Keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk.
"mas sih sudah aku bilang nanti malam saja untung kamar ini kedap suara jadi tidak terdengar Anissa". ucap Lisa sambil memakai pakaian
"ya bagaimana lagi sayang sudah tidak tahan, apalagi sudah hampir dua minggu Farhat selalu rewel tiap malam dan tidak ada kesempatan untuk kita". jawab Delon
__ADS_1
"tadi aku pikir Farhat tidak akan menagis". sambung Delon
"mas kan sudah tau jika Farhat bersama Anissa ujung ujungnya menagis". ucap Lisa menghampiri suaminya dan mengambil Farhat
"sebaiknya mas mandi". perintah Lisa dan Delon berjalan menuju kamar mandi dan membersihkan tubuhnya.
Sedangkan di dalam kamar, Anissa menutup wajahnya dengan bantal.
"Anissa pasti tadi menganggu ayah dan mama". ucap Anissa sambil menepuk jidatnya karena saat dia berbicara pada ayahnya Anissa melihat pakaian dalam berada di lantai sehingga memutuskan untuk kembali ke kamar
"lagian aku juga tidak tau karena aku panik Farhat menangis jadi aku bawa saja ke sana tapi untung saja kamar di kunci jika tidak aku bisa malu selama ini kebiasaan jika masuk ke kamar ayah dan mama tidak pernah mengetuk pintu". monolog Anissa sambil merutuki kebodohannya tadi
ke esokan paginya Anissa bersiap untuk berangkat ke kampus dan tidak lupa membawa baju olahraga milik Arden, Anissa memasukkan baju itu ke paper bag. setelah itu turun dan saat sampai di luar Anissa melihat ayahnya sedang berbicara dengan Yusuf.
"yah Anissa berangkat ke kampus dulu". pamit Anissa
"tunggu dulu, Yusuf mengajak mu untuk berangkat bareng karena dia belum tau betul Jakarta jadi Yusuf datang kemari". ucap Delon pada putrinya
"kan ada maps bisa pakai maps datang kesini saja sampai pasti ke kampus juga sampai". ucap Anissa
"tidak boleh seperti itu sa". tegur Delon
"maafkan anak om ya, Anissa memang seperti ini". ucap Delon
"Anissa sebaiknya berangkat bersama Yusuf ya tadi Bayu sudah berangkat lebih dulu". bujuk Delon
"tidak enak sama Yusuf sudah menunggu mu sejak tadi". sambung Delon
"baiklah". ucap Anissa dan Yusuf terseyum saat Anissa mau berangkat bersamanya
setelah berpamitan dengan ayahnya, Anissa dan Yusuf berangkat ke kampus. setelah sampai kampus Anissa menjadi pusat perhatian saat turun dari mobil seseorang terlebih lagi berita jika Anissa berpacaran dengan Arden
"sudah tau kan di mana gedung, apa perlu aku mengantarkan juga". ucap Anissa
"tidak saya sudah tau dan terima kasih sudah mau berangkat bersama saya". ucap Yusuf
"hey dasar memang cewek gatal ya kamu kemarin kamu mengoda Arden dan sekarang siapa ini". celetuk Bunga dan Anissa memutar bola matanya dengan malas
"ini masih pagi bunga bisa tidak jangan cari ribut dan jaga itu omongan aku bukan cewek gatal". ucap Anissa dan Yusuf masih diam saja melihat Anissa
"alah dasarnya gatal ya gatal saja, dulu juga penampilan mu itu seperti preman dan sekarang berubah dan aku yakin perubahan mu itu hanya untuk menarik perhatian laki laki ngaku saja deh". ucap Bunga sambil memperhatikan penampilan Anissa dari atas sampai bawah
__ADS_1
"Bunga bilang saja jika kalah cantik dengan ku, aku benar bukan". ucapan Anissa membuat Bunga diam karena memang benar sejak Anissa merubah penampilannya itu membuat Bunga kalang kabut saat mendengar mahasiswa ataupun mahasiswi memuji perubahan Anissa dan Bunga akui Anissa sangat terlihat cantik dan elegan dengan mengunakan dressnya
"si siapa bilang masih cantikkan aku". jawab Bunga
"hey kamu jangan mau di rayu sama cewek gatal ini". tunjuk Bunga dan meninggalkan mereka berdua
"siapa dia kenapa seperti itu". tanya Yusuf
"Biasalah nama juga ini di kampus pasti banyak orang yang tidak mau tersaingi". ucap Anissa dan Yusuf menanggukan kepalanya karena benar apa yang di katakan Anissa dulu dia juga seperti itu
"Duluan". ucap Anissa dan berjalan menghampiri Arden yang baru turun dari motor dan langsung menyerahkan paperbag
"apa ini". tanya Arden.
"bajumu dan terima kasih". ucap Anissa dan Arden mengambil paperbag itu
interaksi antara Anissa dan Arden tidak luput dari penglihatan Yusuf.
"apa itu kekasih Anissa sehingga membuat Anissa bersikap cuek padaku". monolog Yusuf
"masak sudah kalah dulu sebelum memulai tapi mereka belum menikah jadi masih ada kesempatan untuk mengambil hati Anissa dan masih sah sah saja aku mendekati Anissa karena dia hanya pacar bukan suami". sambung Yusuf dan meninggalkan mereka berdua
setelah menyerahkan paperbag itu Anissa langsung meninggalkan Arden begitu saja.
"dia bukan cewek baik baik Ar dia itu cewek gatal". ucap Bunga yang tiba tiba berada di samping Arden
"lihat ini tadi dia berangkat bersama ini laki laki". Bunga menunjukkan foto itu pada Arden
"itukan laki laki yang kemarin". monolog Arden dalam hati
"lalu apa hubungan dengan ku, itu hak dia mau berangkat dengan siapa". ucap Arden lalu meninggalkan Bunga dan Bunga mengepalkan tangannya saat Arden cuek padanya
"sial awas saja aku pasti bisa membuat mu jatuh cinta padaku Ar". monolog Bunga
dengan perasaan kesal Bunga masuk ke dalam kelas dan semakin mengepalkan tangannya karena kursi yang tersisa tinggal di samping Anissa.
"malas sekali duduk di samping cewek gatal". monolog Bunga dan Anissa yang mendengar itu malas menanggapinya jika dia menanggapinya dapat di pastikan akan membuat ribut
💙💙💙
hellow aku bawa rekomedasi cerita yang sangat sangat bagus untuk di baca dengan judul " Cinta Lelaki Biasa " karya "Shan_Neen"
__ADS_1