Tuan Mafia

Tuan Mafia
Tuan Mafia S2- Harus Tegas


__ADS_3

Arden dan anak anak membersihkan tempat yang setelah mereka gunakan untuk bazar. anak anak sangat bahagia jualan mereka habis dan semua pengunjung menyukai kerajinan mereka


"ini sudah malam kalian istirahat, kakak harus pulang". Perintah Arden


"siapkan kak". jawab mereka semuanya


setelah memastikan anak anak istirahat, Arden memutuskan untuk pulang, saat di pertengahan jalan Arden melihat Anissa yang di kepung oleh beberapa preman yang sedang mabuk.


"malam ini kita akan pesta hahaha". ucap salah satu preman itu


"lepas". teriak Anissa berusaha melepaskan kedua tangannya yang di pegang oleh para preman


"ussstt ayolah cantik malam ini kita nikmati surga dunia" ucap preman itu sambil mendekati Anissa


bugh


"ufff". Anissa menendang preman itu tepat di ularnya kemudian Anissa menggigit tangan preman yang memegangi tangannya.


"aaaagh". teriak mereka berdua sambil mengibaskan tangannya


bugh


bugh


tidak lupa Anissa menendang juga ular mereka


"rasakan itu, itu akibat jika ular ular berbisamu itu merusak para gadis". ucap Anissa sambil berlari tetapi para preman itu mengejar Anissa


"sial kenapa mereka mengejar ku". umpat Anissa


"ayo naik". perintah Arden dan Anissa langsung naik dan Arden langsung melajukan motornya dengan kecepatan penuh sehingga membuat Anissa melingkarkan tangannya di pinggang Arden. Arden menanyakan alamat rumah Anissa dan Anissa memberitahu alamatnya. Arden terpaksa mengantarkan Anissa daripada dia mengalami hal yang sama. hingga akhirnya motor yang di kendarai berhenti di depan rumah bernuansa putih yang terletak di jalan mawar blok A nomor dua puluh. Anissa langsung turun dari motor.


"kamu memang gadis nakal". ketus Arden dan langsung melajukan motornya tanpa mendengar jawaban Anissa


"dasar beruang kutub menyebalkan padahal aku mau mengucapkan terima kasih". umpat Anissa.

__ADS_1


Anissa mengendap endap masuk ke rumah karena sudah menunjukkan pukul satu malam, Anissa bernafas lega saat tidak ada siapapun di ruang tamu. Anissa langsung memasuki kamarnya dan duduk di sofa. Anissa langsung terkejut saat lampu kamarnya menyala dan Anissa langsung melihat di mana letak tombol lampu di sana ada ayahnya yang sedang bersedekap dada.


"pulang malam di antar dengan seorang laki laki, habis darimana kamu Anissa". tanya Delon sambil menghampiri Anissa


"a Anissa habis dari rumah teman yah". jawab Anissa


"dari rumah teman atau dari rumah laki laki". imitidasi Delon


"benar habis dari rumah teman dan Anissa kemalaman pulang". jawab Anissa


"Anissa kamu seorang perempuan pulang selalu malam, apa kata tentang dan lihat penampilan mu seperti preman, selama ini ayah tidak pernah mempermasalahkan penampilan mu dan jam pulang mu, mulai hari ini kami harus ada di rumah sebelum jam delapan malam dan berpenampilan seperti gadis lainnya". Delon berbicara panjang


"tapi"


"tidak ada bantahan jika besok tidak ada perubahan terpaksa ayah akan masukkan kamu ke asrama". sambung Delon dan meninggalkan putrinya sendirian di kamarnya


Delon yang berada di luar kamar putrinya menghembuskan nafasnya karena selama ini dia selalu membiarkan Anissa melakukan apapun yang dia mau.


"Lisa benar seharusnya aku tegas dengan Anissa, selama ini aku memanjakannya karena kehadiran membuat ku bisa bersama Lisa". monolog Delon dan memasuki kamarnya.


"apa dia rewel". tanya Delon sambil mengusap kepala baby Fathan


"tidak dia terbangun karena ada nyamuk yang mengigitnya, lihatlah". jawab Lisa sambil menunjukan tangan baby Fathan yang memerah akibat di gigit nyamuk, setelah baby Fathan tertidur Lisa meletakan kembali ke box banyinya


"mas aku takut Anissa akan selama seperti itu pulang malam dan berpenampilan seperti preman, kemarin aku dengar tetangga membicarakan". ucap Lisa sambil memeluk suaminya


"mulai besok mas akan tegas dengannya". jawab Delon sambil mencium kening istrinya dan menarik selimut.


sedangkan Anissa di kamarnya merenungkan apa yang di katakan ayah dan juga apa yang di lakukan selama ini


"bukannya di zaman sekarang pulang malam sudah menjadi hal wajar jika ada tetangga yang membicarakan aku berarti mereka masih ketinggalan zaman". monolog Anissa sambil merebahkan dirinya di ranjang, selama ini dia dan teman temannya selalu pulang malam dan saat dia menginap di rumah temannya mereka pulang pukul tiga pagi tetapi orang tuanya biasa biasa saja pikir Anissa.


"kenapa ayah sekarang seperti mama melarang ku ini melarang ku itu, ishh". umpat Anissa


Anissa berjalan menuju ke lemari untuk mengambil piayama dan saat membuka lemari betapa terkejutnya saat baju bajunya berubah menjadi gaun gaun dan terdapat kertas yang bertuliskan "jangan berani beraninya membuang atau mengganti dengan baju premanmu itu Anissa"

__ADS_1


"ayah". teriak Anissa saat tau itu adalah tulisan tangan ayahnya dan Anissa langsung mengambil piayama kemudian memakinya dan merbahkan dirinya di ranjang dan menarik selimut sehingga menutupi seluruh tubuhnya.


Arden yang sudah sampai di rumahnya langsung masuk dan melihat Marko yang tertidur di sofa tamu


"kebiasaan jika menginap di sini lebih suka tidur di sofa daripada di kamar". monolog Arden melewati Marko begitu saja dan berjalan menuju ke kamarnya.


Arden yang tidak bisa tidur lebih memilih memainkan PS nya dan saat sedang asik bermain PS ayahnya masuk dan duduk di samping Arden keberadaan ayahnya tidak menganggunya sama sekali.


"ayo main bersama ayah". ajak Alex dan Arden langsung menggantikannya dengan bermain dua orang


Arden dan Alex bermain PS bola dengan asik, Arden berusaha mengalahkan ayahnya sedangkan Alex tetap santai.


"kenapa tidak pernah cerita sama ayah dan mama jika kamu punya rumah singgah". tanya Alex dan Arden langsung menghentikan permainannya


"jangan berhenti main". ucap Alex dan Arden melanjutkan permainannya


"ayah sudah tau semuanya". sambung Alex


"Arden rasa tidak perlu menceritakan jika Arden punya rumah singgah jika ceritapun Arden tidak yakin ayah dan mama akan percaya". jawab Arden


"kenapa Arden berpendapat seperti itu". tanya Alex


"selama ini ayah selalu menganggap Arden nakal, dan ayah ingat saat Arden pulang dengan keadaan babak belur". tanya Arden


"waktu itu ayah menganggap jika Arden ikut tawuran tanpa bertanya dulu". sambung Arden


"yes menang ayah kalah wlee". ucap Arden dan Alex terkekeh ternyata putranya masih sama saja suka mengejeknya


"maaf selama ini ayah selalu berpikir negatif terhadap mu". ucap Alex


"Santai saja yah". jawab Arden sambil tersenyum dan Alex mengusap kepala putranya.


malam ini Arden dan Alex menghabiskan waktu dengan bermain PS dan untuk pertama kalinya ayah dan anak itu sangat dekat tanpa ada perdebatan, biasannya mereka akan berdebar dan saling ejek.


"ayah bangga terhadap mu yang memiliki jiwa kepedulian". ucap Alex

__ADS_1


"aku kan anak ayah jadi harus memiliki sifat dan sikap seperti ayah". jawab Arden lalu mereka berdua tertawa lepas


__ADS_2