Tuan Mafia

Tuan Mafia
Tuan Mafia S2- Ancaman Yusuf Untuk Bunga


__ADS_3

Yusuf mengerjapkan matanya dan memijat dahinya yang terasa pusing. Yusuf melihat ke sekeliling dan dia tau bahwa dirinya masih berada di kantor, ingatan Yusuf berputar kejadian tadi dan saat itu juga Yusuf langsung turun dari ranjang


"Yusuf kamu bodoh sekali kenapa lagi lagi tidak bisa mengendalikan emosi mu ya ampun". ucap Yusuf bahkan dai ingat bahwa dirinya juga melukai Bunga


Yusuf Keluar dari ruangannya dan terlihat papanya yang sedang duduk di kursi kerjanya.


"Yusuf papa sudah sering mengatakan padamu untuk mengontrol emosimu bahkan tadi kamu melukai seketaris barumu". ucap Amar sambil melihat ke arah putranya


Yusuf langsung berjalan keluar dan masuk ke ruangan Bunga, Bunga mengangkat kepalanya saat mendengar pintu terbuka saat itu juga Yusuf melihat dahi bunga yang terluka. Yusuf berjalan mendekati Bunga


"tuan butuh sesuatu". tanya Bunga dan berdiri dari tempat duduknya


"lupakan kejadian yang tadi'. ucap Yusuf dengan dingin


"saya harap kamu tutup mata dengan apa yang kamu lihat tadi bahkan tutup mulutmu juga". sambung Yusuf


"iya tuan". jawab Bunga


"bagus kamu di sini bekerja bukan untuk menjadi wartawan yang menyebarkan sebuah berita atau kejadian yang kamu lihat, jangan kamu bawa sikap burukmu di kantor ini, apa yang kamu dengar dan kamu lihat di kantor ini jangan sampai menyebar di luar". ucap Yusuf dan Bunga menganggukan kepalanya lagian Bunga memilih untuk mencari aman karena dia butuh pekerjaan ini apalagi tadi Yusuf sudah mengatakan padanya untuk berangkat kuliah terlebih dahulu sebelum kerja.


Bunga juga tau untuk membalas kebaikan yang Yusuf berikan walaupun dia sendiri terbilang nakal dan Bunga tidak akan membuat malu orang yang sudah mau membantu serta baik padanya. setelah mengatakan itu Yusuf langsung Keluar dari ruangan Bunga. Bunga menatap punggung Yusuf yang menjauh.


"Sekarang katakan pada papa kenapa kamu menghajar Marwan sampai seperti itu bahkan kamu tidak bisa mengendalikan dirimu jika seketaris mu tidak menghalangi mu papa yakin Marwan akan meninggal Yusuf, saat ini Marwan sedang kritis di rumah sakit". ucap Amar


"karena dia selama ini korupsi bersama seketaris ku yang sebelumnya bahkan aku baru mengetahuinya saat aku meminta seketaris baru ku untuk mengecek berkas berkas yang ada, pada awalnya aku hanya ingin mengetahui kinerja sekeras baruku tapi apa yang di temukan seketaris baruku yaitu Marwan memanipulasi data". ucap Yusuf dan menyandarkan kepalanya di sofa


Yusuf menatap langit langit kantor sambil memikirkan kejadian beberapa waktu lalu, Yusuf takut Bunga akan menyebarkan apa yang dia lihat tadi apalagi Yusuf tau bagaimana sifat Bunga karena pertemuan pertama mereka Bunga sempat menghina dia dan Anissa. Yusuf berencana akan mengawasi Bunga dan jangan sampai Bunga menyebarkan apa yang dia lihat, jika sampai itu terjadi dan terdengar oleh orang tua Anissa maka Yusuf yakin ayahnya Anissa pasti akan menjauhkan dirinya dari Anissa


"ini tidak bisa di biarkan aku harus membuat Bunga tidak menyebarkan apa yang di lihat, aku tidak ingin kehilangan Anissa dan untuk saat ini aku harus memiliki kepercayaan penuh pada om Delon agar om Delon tidak akan mengizinkan Anissa dekat dengan Arden". monolog Yusuf dalam hati


"apa aku ancam saja bunga agar dia bisa menutup mulutnya rapat-rapat tapi aku harus mengancamnya dengan apa, ya aku harus mencari kelemahannya dan aku gunakan itu untuk membuatnya menutup mulutnya". ucap dalam hati dan menyunggingkan sudut bibirnya


Yusuf mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan pada seseorang untuk mencari tahu tentang Bunga dalam waktu dua jam, Yusuf berharap menemukan sesuatu yang dapat membuat Bunga tidak bisa berkutik dan menutup mulutnya itu. Amar sejak tadi melihat apa yang di lakukan putranya itu dengan perasaan was was, Amar sangat cemas jika putranya akan melakukan tindakan yang akan menghilangkan nyawa orang lain.


"apa yang dia lakukan, kenapa dia terseyum seperti itu". monolog Amar dalam hati


"Yusuf". panggil Amar


"iya pa". jawab Yusuf


Amar berjalan mendekati putranya dan duduk di samping putranya itu


"Yusuf papa ingin kamu melakukan pemeriksaan atau terapi untuk mengendalikan emosimu itu ya". ucap Amar

__ADS_1


"Yusuf tidak mau pa, Yusuf baik baik saja". jawab Yusuf


"Yusuf papa mohon ini demi kebaikanmu, karena sudah dua kali ini kamu tidak bisa mengendalikan emosi mu karena sesuatu papa hanya takut kamu membuat nyawa orang lain menghilang". ucap Amar


"papa menilai Yusuf seperti itu, papa menanggap Yusuf gila yang bisa melenyapkan orang lain". ucap Yusuf yang mulia terpancing emosi


"bukan seperti itu, dengar papa tidak ingin kamu seperti ini terus apalagi kamu sampai kamu menikah nanti, papa takut ketika kamu marah kamu tidak bisa mengendalikan emosi mu dan itu akan melukai istri atau anakmu nanti, dan setelah itu apa kamu akan menyesal Yusuf dan papa tidak mau kamu mengalami itu". ucap Amar


"hanya melakukan terapi setidaknya dua kali dalam seminggu, mau ya nanti kita buat janji pada tante Anita". ucap Amar


Tante Anita adalah dokter yang sejak dulu menangani Yusuf, sejak Amar tau bahwa putranya tidak bisa mengendalikan emosinya. dokter Anita sendiri adalah adik dari mamanya Yusuf


"mau ya selama ini hanya dokter Anita yang tau tentang ini selain papa jadi papa yakin tidak akan ada yang tau tentang apa yang kamu alami". ucap Amar


"jika kamu sudah sembuh dan menikah dengan Anissa maka Anissa tidak akan meninggalkan mu, dan sekarang pikirkan bagaimana jika kamu menikah dengan Anissa dan kamu marah seperti tadi dan membuat Anissa celaka, kira kira apa yang akan di lakukan Anissa yaitu meninggalkan kamu dan papa yakin ayahnya tidak akan mengizinkan Anissa untuk kembali pada mu". ucap Amar yang berusaha membujuk putranya agar mau melakukan terapi


"apa Yusuf mau di tinggalkan sama Anissa". tanya Amar dan Yusuf mengelengkan kepalanya


"jadi mau ya". tanya Amar


"tapi benarkan jika Yusuf bisa mengendalikan emosi maka Anissa tidak akan meninggalkan Yusuf". tanya Yusuf dan Amar menanggukan kepalanya


"baiklah Yusuf mau melakukan terapi". ucap Yusuf dan Amar senang melihat putranya mau melakukan itu


Setelah peninggalan papanya Yusuf berjalan ke arah jendela dan menatap padatnya perkotaan


ting


*08237....*


aku sudah menemukan semua identitas gadis yang kamu minta, akan aku kirimkan filenya padamu


^^^*Anda*^^^


^^^segera kirim ^^^


Yusuf terseyum senang saat orang suruhannya sudah menemukan apa yang dia minta dan Yusuf langsung mendownload file tersebut, setelah terdownload Yusuf langsung membuka dan membacanya


di file itu tertulis Bunga Gumelar Putri dari pasangannya Raka Gumelar dan Via Gumelar, seorang Putri tunggal sekaligus pewaris dari perusahan R'producion perusahaan yang bergerak di bidang perfilman. Bunga di besarkan penuh dengan kasih sayang dan di manja sehingga tumbuh menjadi gadis yang begitu manja dan nakal yang suka menindas temannya, Via Gumelar meninggalkan lima tahun lalu karena kecelakaan tunggal. setelah lima tahun menduda Raka Gumelar menikah dengan seorang gadis yang umurnya di bawah Bunga dan itu membuat Bunga tidak menyetujui pernikahan mereka. saat ibu tirinya mengandung semuanya berubah dimana dulunya Bunga yang sangat di manja dan di sayang sering kali bertengkar dengan ayahnya, pertengkaran demi pertengkaran sering terjadi dan itu membuat hubungan mereka renggang bahkan Raka telah mengusir Bunga dari rumah satu bulan lalu selain mengusir putrinya Raka mengambil semuanya fasilitas yang di miliki putrinya. di file itu Raka juga memanjakan istri baru berserta keluarganya.


"jadi seorang anak manja kini hidupnya seperti Upik abu dan Upik abu yang ada di rumahnya telah menjadi nyonya Raka, miris sekali nasibnya". ucap Yusuf


"pantas dia mau bekerja ternyata sudah tidak memiliki apapun bahkan sekarang penampilan sudah tidak seheboh dulu". sambung Yusuf sambil melihat file itu

__ADS_1


"tunggu dulu ini bisa aku gunakan untuk mengancam Bunga agar menutup mulutnya, aku yakin Bunga tidak ingin teman temannya tahu bahwa sekarang dirinya sudah tidak memiliki apapun dan aku yakin Bunga ingin teman temannya tahu bawah dirinya masih memiliki segalanya untuk berfoya foya". ucap Yusuf dengan senyum mengembang


pukul delapan malam Bunga baru menyelesaikan menyusun jadwal Yusuf yaitu membuat jadwal meeting dengan para klien yang tidak bertabrakan dengan jadwal Yusuf menjadi dosen. Bunga membereskan meja lalu keluar dari ruangannya dan masuk ke dalam lift. saat lift itu akan tertutup Yusuf masuk ke dalamnya dan terjadilah keheningan


"ingat jika sampai apa yang kamu lihat di ruangan saya tadi bocor sampai keluar maka semua orang akan tau jika kamu sudah tidak memiliki apapun , satu lagi aku akan menyebarkan pada mereka bahwa seorang Bunga yang terkenal sombong di kampus kalah dengan seorang pembantu". ucapan Yusuf membuat Bunga menatap Yusuf dengan tajam


"bagaimana kamu bisa tau". tanya Bunga


"mudah bagiku untuk mengetahui sesuatu, jadi rahasia mu akan tetap aman jika kamu bisa menjaga mulut mu". ucap Yusuf dan keluar dari lift


"padahal aku juga tidak ingin membahas apa yang terjadi padanya tapi dia sampai segitunya mencari tentang diriku untuk mengancam mu, sebegitu takutnya dia jika apa yang terjadi tadi tersebar, sebenarnya apa yang terjadi padanya". ucap Bunga sambil berjalan


"ah sudahlah ngapain mengurusi hidup orang lain sedangkan hidup sendiri sedang tidak baik baik saja". sambung Bunga


Bunga menghampiri ojek online yang baru sampai di depan kantor. untuk pertama kalinya Bunga naik ojek online sehingga membantu Bunga harus menggunakan masker agar tidak ada yang mengenali dirinya karena dia takut teman temannya tau bahwa dia naik ojek Online


"semoga saja besok saat aku masuk mereka percaya jika aku tidak masuk karena liburan dan satu lagi aku harus mencari alasan yang tepat soal pengunduran diriku dari MAPALA". ucap Bunga dalam hati


setelah membayar ojek online Bunga terkejut saat melihat beberapa temannya yang ada di lobi apartemen, Bunga langsung bersembunyi agar teman teman tidak mengetahui dirinya


"kenapa mereka ada di sini, bisa gawat jika mereka melihat ku mengguankan pakaian seperti ini". ucap Bunga


drt


drt


drt


"haduh kenapa Cika menelpon segala". ucap Bunga


"hallo Cika ada apa". jawab Bunga


"aku dan teman teman ada di lobi apartemen mu nih, kamu sudah pulang belum". tanya Cika


"sebenarnya sudah tapi aku belum ada di apartemen". jawab Bunga


"sampai jam berapa kami tunggu di sana saja, nanti kami akan menginap saja kalau begitu, soal kami rindu padamu sudah dua hari kita kumpul tanpa mu". ucap Cika


"haduh cik maaf ya aku malam ini tidak tidur di apartemen, ketemu besok saja di kampus ya". ucap Bunga


"owh begitu ya, okelah besok kita ketemu di kampus". ucap Cika


Bunga yang masih bersembunyi terus memperhatikan teman temannya yang belum pergi juga. Bunga bernafas lega saat teman temannya sudah pergi. Bunga langsung berlari memasuki lift.

__ADS_1


__ADS_2