Tuan Mafia

Tuan Mafia
Tuan Mafia S2- Bertemu Di Restoran


__ADS_3

Setelah mengantarkan Anissa kuliah, Arden bersiap untuk menemui ayahnya Anissa. sesampainya di tempat pertemuan Arden berulang kali menarik nafasnya dan membuang dengan kasar. Arden duduk dengan gelisah padahal Delon belum datang.


"kira kira om Delon mau ngomong apa ya, kenapa aku jadi gugup seperti ini". ucap Arden


"aku harap om Delon tidak menyuruh ku untuk menjauhi Anissa". sambung Arden yang melihat jam di pergelangan tangannya tinggal sepuluh menit lagi tetapi Arden sama sekali tidak bisa duduk dengan tenang


Arden memesan minuman untuk yang ke tiga kalinya padahal dia baru saja duduk di sana selama sepuluh menit. saat minum itu sudah sampai Arden langsung meminumnya, minuman dingin itu sedikit mengurangi rasa gugupnya. selain melihat jam Arden juga sesekali matanya melihat ke arah pintu masuk.


sudah tiga puluh menit berlalu tetapi orang yang di tunggu belum datang juga.


"sebaiknya aku tunggu saja mungkin om Delon sedang ada kesibukan". ucap Arden


sedangkan Delon yang sudah datang sejak tadi tidak langsung menemui Arden melainkan duduk di tempat lain menggunakan masker dan topi. Delon sejak tadi melihat ke arah Arden.


"aku ingin tau sampai mana dia bertahan untuk menunggu ku". ucap Delon


drt


drt


drt


Delon hanya menatap layar ponselnya yang menyala tanpa ada niatan untuk mengangkatnya sedikitpun dan lebih memilih membiarkan ponsel itu mati dengan sendirinya. dengan santainya Delon malah mematikan ponselnya setelah panggilan itu berakhir


sedangkan Arden menggaruk tengkuknya saat nomor ayahnya Anissa sedang tidak aktif di hubungi.


"aneh tadi aktif nomornya tapi sekarang tidak aktif, ini om Delon jadi tidak sebenarnya hampir satu jam tapi belum datang juga". ucap Arden lalu meletakkan ponselnya


"apa om Delon mengerjaiku, ah tidak mungkin, hmmm tunggu saja dulu lagian Anissa masih lama pulangnya". ucap Arden dan menopang dagunya dengan tangannya.


Arden mengadukan aduk minuman dan terus melihat ke arah pintu masuk, Arden menghembuskan nafasnya dengan pelan dan menundukkan kepalanya.


Delon melepaskan masker dan topinya lalu berjalan ke arah Arden, Delon langsung duduk di depan Arden sedangkan Arden belum menyadari kedatangan orang yang di tunggu. Arden hampir terkejut saat melihat orang yang dia tunggu sudah ada di hadapannya dan itu langsung membuat Arsenal begitu gugup serta ketakutan yang mulai menjalar dalam dirinya. Delon menatap Arden dengan tajam.


"sejak kapan". tanya Delon tetapi Arden malah bingung dengan pertanyaan ayahnya Anissa


"sejak kapan". Delon mengulangi pertanyaannya


"sebelum jam sepuluh saya sudah datang om". jawab Arden

__ADS_1


"sejak kapan". lagi lagi Delon mengulangi pertanyaannya


"iya sejak jam sepuluh kurang Om". jawab Arden dan Delon menarik nafasnya


"sejak kapan kamu menyukai putriku". tanya Delon dan Arden yang mendengar pertanyaan ayahnya Anissa menggaruk dahinya karena salah tanggap dengan pertanyaan yang sebelum


"haduh om kan bisa pernyataan lengkap seperti ini bukan hanya sejak kapan, membuatku salah mengartikan pertanyaannya". monolog Arden dalam hati


"saya tidak tahu om sejak kapan saya mencintai Anissa, tapi saya sungguh mencintai Anissa". jawab Delon dengan sedikit gugup apalagi tatap Delon begitu tajam dan tidak mengalihkan tatapannya ke arah lain


"apa yang akan kamu berikan pada putriku". tanya Delon


"saya tidak bisa memberikan atau menjanjikan sesuatu untuk Anissa Karena saya tidak bisa menjanjikan atau memberikan apa yang belum pernah saya berikan tapi saya akan berusaha untuk membahagiakan Anissa sehingga dia lupa bagaimana caranya bersedih karena saya akan berusaha yang dia ingat adalah bagaimana caranya bahagia". jawab Arden dengan tegas dan santai dan Delon menanggukan kepalanya


"lalu bagaimana jika kamu tidak sengaja menyakiti Anissa dan om yakin di luaran sana pasti banyak perempuan yang ingin bersama mu, apa kamu yakin bisa menjaga hatimu hanya untuk satu orang". tanya Delon


"saya tidak peduli berapa banyak perempuan yang menyukai saya karena bagi saya adalah saya hanya mencintai Anissa apalagi nanti ketika saya dan Anissa maka hanya Anissa yang berhak bertahta di hati saya". jawab Arden


"apa sebegitu besarnya cintamu pada putriku". tanya Delon lagi


"cintaku pada Anissa tidak bisa di hitung atau di samakan dengan orang lain dan saya akan melakukan apapun untuk kebahagian Anissa om". jawab Arden


"saya sebagai ayahnya Anissa tau apa yang bisa membuat putriku bahagia dan tentu saja saya sebagai ayahnya akan melakukan apapun untuk membuatnya bahagia". ucap Delon


"saya lihat kamu begitu yakin bisa membahagiakan Anissa, lalu bagaimana jika kebahagiaan Anissa bukan bersama mu". perkataan Delon membuat Arden diam


"selama ini saya lihat Anissa bahagia bersama saya dan ada binar bahagia di matanya". jawab Arden


"ya mungkin itu untuk saat ini Anissa bahagia bersamamu tapi tidak untuk kedepannya". ucap Delon


deg


Arden mulai gelisah dengan perkataan ayahnya Anissa dan rasanya Arden tidak siap untuk mengetahui apa maksud setiap pernyataan dan perkataan ayahnya Anissa


"apa kamu tau tujuan saya meminta mu datang kemari". tanya Delon dan Arden mengelengkan kepalanya karena lidahnya terasa kaku untuk menjawab pertanyaan tersebut


"aku datang kemari menginginkan kebahagiaan untuk putri saya jadi..." Delon menatap Arden sebelum melanjutkan kalimatnya


"bagaimana jika saya meminta mu untuk menjauhi putriku karena aku menginginkan yang terbaik untuk putriku dan saya rasa kamu sudah tau sejak awal saya tidak menyukai kehadiran mu di hidup putriku". ucap Delon

__ADS_1


deg


deg


deg


seakan waktu berhenti begitu saja saat mendengar setiap kata yang di ucapkan ayahnya Anissa, Arden seakan kehilangan arah, apa yang dia takutkan dalam pertemuan ini di ucapkan oleh ayahnya Anissa.


"saya ingin kamu jauhi Putri ku , jika aku yang meminta pada putriku dia tidak akan mau, jadi jika kamu yang menjauh maka putriku hanya akan diam saja". ucap Delon


"maaf om saya tidak akan pernah menjauhi Anissa dan saya akan memperjuangkan cinta saya sampai om mengizinkan saya untuk menjadi pendamping hidup Anissa". jawab Arden


"mau berjuang seperti apa, mau kamu sekeras apapun itu tidak akan membuat saya mengizinkan mu berada di sisi putriku". ucap Delon deng tegas


"saya sangat yakin om pasti akan memberikan Izin itu, saya tidak atau apa yang membuat om tidak menyukai saya, saya akan terus berusaha untuk meluluhkan hati om". jawab Arden


"om bisa meminta saya melakukan apapun tapi jangan meminta saya untuk menjauhi Anissa om, karena saya tidak sanggup jika harus berjauhan dengan Anissa dan saya rasa Anissa juga tidak bisa jauh dari saya". ucap Arden


"bukti jika kamu memang mencintai Anissa, bukti kesungguhan mu itu, jangan hanya sering membawa Anissa tapi tidak ada bukti keseriusan mu pada putriku". ucap Delon


"maksud om". tanya Arden


"om ingin kamu membuktikan keseriusan mu pada Anissa jika kamu lama maka jangan salah saya jika Anissa bersama orang lain". ucap Delon lalu bangkit dari duduknya meninggalkan Arden


"om aku masih belum mengerti". ucap Arden tetapi Delon terus berjalan keluar meninggalkan restoran


"apa maksud om Delon". ucap Arden


Arden duduk dengan diam berusaha mencerna apa yang ucapkan ayahnya Anissa


sedangkan di kampus Anissa yang berada di kelas sama sekali tidak memperhatikan dosen menjelaskan, Anissa mencoret coret buku Karena mulai bosan.


"tumben sekali beruang kutub tidak membalas pesan ku". ucap Anissa dalam hati dan sambil memandangi ponselnya


"sudah tiga puluh menit berlalu tetapi pesan ku sama sekali belum di baca, aish Menyebalkan". sambung Anissa sambil terus mencoret coret bukunya


Anissa mencoba mengirimkan pesan pada Arden kembali, pesan yang dia kirim langsung centang dua tapi kenapa belum di Buka dan di baca. Anissa meletakkan ponselnya dengan kasar.


Bunga yang duduk di samping Anissa sedang merasakan gelisah memikirkan alasan untuk menolak ajakan Cika dan teman temannya untuk pergi ke salon kecantikan.

__ADS_1


"aku harus mencari alasan yang tepat agar mereka tidak curiga". ucap Bunga dalam hati karena setelah jam kuliah ini bunga harus segera ke kantor dan ikut Yusuf meeting di luar kota


__ADS_2