
"aku akan melakukan yang terbaik untuk mu sayang" bisik Gio
"dan untuk mu juga, kehadiran mu sangat berharga untuk kami". ucap Gio di depan perut Nadia
Gio mencium kening Nadia dengan intens dan setelah itu Gio menemui dokter Rama sambil memegang sisa obat yang sering Nadia minum, sebelum masuk Gio menarik nafasnya berharap obat itu bukanlah obat pengering kandungan. di ruangan dokter Rama Gio langsung memberikan obat itu dan dokter Rama langsung meneliti obat tersebut.
"apa selama ini istrimu meminum obat ini". tanya dokter Rama dengan wajah serius
"iya dok, bahkan istriku meminum obat itu dari lima bulan pernikahan kita sampai sekarang dan obat itu di berikan oleh dokter tempat kami periksa". jawab Gio dan dokter menghela nafasnya
"obat inilah yang menyebabkan istri anda tidak bisa hamil dan sungguh keajaiban luar biasa istri anda bisa hamil jika setiap hari mengkonsumsi obat ini, bahkan obat ini bisa membuat orang tidak bisa hamil hanya mengkonsumsi dua sampai tiga butir saja". ucap dokter Rama dan perkataan yang keluar dari dokter Rama membuat Gio terasa di sambar petir dan Gio mengepalkan tangannya di bawah meja
"dan ini bukanlah obat yang ada di dunia kedokteran". sambung dokter Rama
"apa sebelumnya tidak mencari tau soal dokter kandungan itu sebelum melakukan pemeriksaan". tanya dokter Rama
"tidak dok karena yang saya tau dokter itu adalah dokter kandungan yang sangat hebat bahkan ada sepasang suami isteri yang tidak bisa memiliki anak bisa memiliki anak saat melakukan pengobatan di sana". jawab Gio
"terima kasih dok atas informasinya". ucap Gio langsung keluar dari ruangan dokter Rama
Gio berjalan dengan amarah yang begitu besar yang ada di dalam dirinya, Gio langsung masuk ke dalam mobilnya dan melajukan mobil itu ke arah tempat dokter kandungan yang selama ini menjadi tempat mereka periksa, Gio melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi dan menerobos lampu merah. saat sampai di tempat tujuan Gio langsung masuk dan menemui dokter Erik, Gio terkejut apa yang dia lihat di depannya dokter Erik sendang bercumbu dengan seorang wanita. Gio yang sudah menahan amarahnya langsung melemparkan obat itu ke dokter Erik.
dokter Erik terkejut saat mendapatkan sebuah lempar dan saat melihat Gio dokter Erik langsung memakai celananya sedangkan wanita itu langsung menutupi tubuh paling polosnya dengan kemeja Erik.
"pakai baju kalian dan untuk mu segera keluar aku ada urusan dengan dokter ini". ucap Gio dan langsung membalikan badannya
wanita itu langsung ke luar dari ruangan setelah memakai bajunya dan dokter Erik merasa takut dengan tatapan yang di layangkan okeh Gio kepadanya.
"obat apa itu". tanya Gio dengan mengintimidasi
"itu obat penyubur kandungan". jawab dokter Erik dengan santai walaupun dalam dirinya ada ketakutan yang luar biasa
"BOHONG". teriak Gio.
"itu obat penyubur kandungan apa aku meragukan ku aku ini dokternya kenapa kamu malah tanya seperti itu". ucap dokter Erik
__ADS_1
Gio langsung menarik kerah baju dokter Erik
"dokter ya kenapa seorang dokter melakukan hal yang sangat menjijikan di ruangan ini". ucap Gio
bugh
bugh
bugh
bugh
pukulan yang di berikan Gio secara bertubi-tubi membuat dokter Erik kesakitan dan jatuh ke lantai, Gio langsung berjongkok dan menarik kerah baju tersebut.
"aku tanya sekali lagi obat apa itu". ucap Gio
"i itu Oba penyu....."
bugh
bugh
bugh
bugh
"arghh". dokter Erik kesakitan saat tangan di pelintir oleh Gio
"ampun akan aku kasih tau tapi lepaskan tanganku". ucap dokter Erik
"arghh". Gio semakin memelintir tangan Erik dan tidak mengindahkan permohonan dokter Erik
"itu obat pengering kandungan". akhirnya dokter Erik mengatakan sebenarnya
bugh
__ADS_1
Gio langsung memukul dokter Erik saat mengatakan yang sebenarnya
"kenapa kamu memberikan obat itu kepada kami ha, bahkan aku tau kami sangat menginginkan seorang anak, Jawab". bentak Gio dan menekan kakinya di dada dokter Erik
"ma mama mu yang menyuruh ku". jawab dokter Erik dengan terbata bata, saat mendengar Jawaban dokter Erik, Gio memundurkan langkahnya.
"jangan menuduh mama ku". bentak Gio
"tapi itu kenyataan bahkan mama mu sudah memintaku untuk mencari obat ini sebelum kalian periksa kemari". ucap dokter Erik sambil berusaha bangkit
"dan satu lagi aku juga bukan seorang dokter dan selama ini aku hanya mengikuti perintah dari mama mu". sambung dokter Erik sambil bersandar di dinding dan memegang dadanya yang sakit dan menatap Gio yang tidak percaya dengan ucapannya
"ini tidak mungkin kamu pasti bohong". bentak Gio yang masih tidak percaya
"tapi itu kenyataannya". jawab dokter Erik alias dokter palsu sambil tersenyum sinis
"ini pasti salah ini tidak mungkin". ucap Gio lalu berjalan keluar dengan perasaan campur aduk
"mama tidak mungkin melakukan itu selama ini mama sangat baik dan aku juga tau mama sempat melarang mu menikah dengan Nadia tapi setelah aku menikahi Nadia dengan diam diam mama sangat menyayangi Nadia". monolog Gio lalu masuk ke dalam mobil lalu memejamkan matanya dan mencengkram stir dengan erat lalu melajukan mobilnya
"tidak mungkin pasti bohong, mama tidak mungkin memberikan Nadia obat itu." ucap Gio sambal memukul setir mobil dan mengelengkan kepalanya untuk menepis apa yang di katakan dokter tadi
Gio menepikan mobilnya dan bersandar di kursi kemudi lalu memejamkan mata dan memijat dahinya dengan pelan. Gio menghubungi namanya dan sambung telepon berdering tetapi tidak ada jawaban sama sekali sehingga membuat Gio merasa kesal dan melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh menuju rumah tetapi saat akan sampai di rumah Gio melajukan mobilnya ke arah lain dengan mencengkram erat stir mobil Gio melajukan mobilnya menuju ke suatu tempat
"ini pasti salah , untuk apa mama melakukan semua itu". monolog Gio sambil fokus menyetir mobilnya.
sedangkan di rumah Nadia yang sedang terbaring dengan keadaan koma, ada beberapa orang masuk ke ruangan itu dan melihat keadaan Nadia.
"bawa dengan hati hati dan pastikan tidak terekam cctv". ucap seorang pria
"saya sudah mematikan cctvnya bos". ucap salah satu dari mereka
lalu beberapa orang mendorong brangkar Nadia dan membawanya menuju ke sebuah mobil sedangkan dua orang yang di tugaskan untuk menjaga Nadia sudah tergeletak tak sadarkan diri.
mobil itu membawa Nadia menjauh dari rumah sakit, di dalam mobil seorang pria dan wanita paruh baya berada di sisi Nadia lalu memperhatikan wajah Nadia yang tampak pucat kemudian wanita itu mengusap kepala Nadia dengan pelan.
__ADS_1