
Umi Sarifah sangat penasaran melihat raut wajah Ustad Fariz yang begitu bahagia, apalagi Ustad Jaki tadi mengatakan bahwa Ustad Fariz sudah bertemu dengan Zahra. Maka ketika Mirna sudah pulang ke rumahnya, Umi Sarifah meminta Ustad Fariz untuk bercerita kepadanya.
"Le bisa cerita sama Umi?" Umi Sarifah menghentikan Ustad Fariz yang hendak kembali pulang.
Ustad Fariz mengangguk. "Bisa Umi."
Kemudian mereka masuk ke dalam kamar Umi Sarifah dan Ustad Fariz menceritakan semuanya padanya. Umi Sarifah ikut senang mendengar mereka bertemu kembali dan itu membuat Ustad Fariz lebih hidup.
"Mungkin sudah takdirnya kalian untuk bersama," Umi Sarifah mengatakannya dengan lemah lembut dan tersenyum.
"Tapi Umi....," kalimat Ustad Fariz menggantung karena dia ragu.
"Tapi apa le?" tanya Umi Sarifah.
"Bagaimana bisa Umi?" suara Ustad Fariz melemah.
"Semua bisa atas izin Allah. Percayakan semuanya pada Allah. Ikuti saja alurnya serta ikuti kata hatimu dan juga tanyakan pada Allah," jawaban Umi Sarifah sedikit melegakan hati Ustad Fariz.
"Jangan lupa kenalkan dia sama Umi ya," Umi tersenyum lembut menenangkan hati Ustad Fariz.
Memang benar Ustad Fariz lebih sering berada di Ndalem untuk menemani Umi Sarifah dibandingkan berada di rumah. Bukannya Ustad Fariz mengabaikan istrinya, hanya saja istrinya yang kadang lebih suka di rumah dari pada lama-lama berada di Ndalem.
Kadang saat Umi Sarifah butuh teman malah Mirna tidak ada bersamanya. Hal itu yang kadang membuat Umi Sarifah sedih, karena dia ingin memiliki anak atau menantu yang dekat dengannya, yang bisa menemaninya meskipun tidak selalu bersamanya.
Sudah sering sekali Ustad Fariz meminta pada Mirna agar sering-sering menemani Umi Sarifah, namun dia hanya datang jika dia inginkan saja. Entahlah Ustad Fariz juga tidak mengerti dengan sikap istrinya itu, sedangkan Ustad Fariz juga tidak bisa memaksanya.
Rhea melihat dirinya di cermin. Balutan gamis syar'i berwarna hijau dengan jilbab senada yang menutupi dadanya dan bagian belakangnya yang panjang.
Jarang sekali dia memakai pakaian seperti ini. Bahkan mantan suaminya saja hanya mengijinkannya memakai baju tertutup jika ada acara pengajian saja.
Apalagi jika di rumah, mantan suaminya itu mengharuskannya memakai baju minim saja, karena dia suka melihat Rhea memakai baju minim. Jadilah sekarang baju-baju Rhea kebanyakan yang ketat atau minim.
Kini Rhea berada di dalam mobil diantar oleh Pak Sardi untuk pergi ke Pondok Pesantren Al-Mukmin. Hari ini adalah hari dimana Rhea akan berbagi ilmu dengan santri di Pondok Pesantren Al-Mukmin. Dia sudah menyiapkan beberapa bukunya untuk acara bedah buku hari ini.
Plakat tulisan Pondok Pesantren Al-Mukmin sudah terlihat jelas, sungguh gugup yang Rhea rasakan saat ini. Dia takut jika dia tidak bisa berbaur dengan mereka sehingga dia tidak diterima di tempat itu.
Dia juga takut acaranya gagal karena presentasinya kurang bagus. Semua ketakutan itu memenuhi benak Rhea. Ketika mobil sudah berhenti, Rhea masih duduk manis di kursinya, hingga Pak Sardi memanggilnya untuk menyadarkan Rhea dari lamunan pemikirannya.
Dengan hati berdebar Rhea diantar Pak Sardi masuk ke dalam wilayah Pondok. Sudah ada Ustad Fariz dan Ustad Jaki yang menunggu di teras Ndalem.
Ustad Fariz terpana melihat wanita bergamis hijau yang ada di depan matanya. Dia begitu terpanah hingga tidak bisa berkata apa-apa. Dia tidak pernah melihat Rhea memakai pakaian syar'i seperti ini.
Sungguh seperti bidadari yang turun ke bumi.
Ustad Jaki menyenggol lengan Ustad Fariz sehingga dia tersadar kemudian dia mengajak Rhea dan Pak Sardi untuk ke dalam bertemu dengan Umi Sarifah.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum, Umi ini Rhea dan ini Pak Sardi yang mengantarnya kesini," Ustad Fariz memperkenalkan mereka.
"Wa'alaikumusalam, oiya silahkan masuk. Duduk dulu, biar dibuatkan minuman ya," Umi Sarifah hendak berdiri namun dihentikan oleh Rhea.
"Tidak usah Umi, kami sudah kenyang, nanti saja setelah acara selesai," Rhea menjawab disertai senyumnya yang seangat manis.
Umi menatap Rhea, kemudian dia menatap Ustad Fariz. Umi mengerti arti tatapan Ustad Fariz kepada Rhea yang berbeda ketika Ustad Fariz melihat Mirna. Ustad Fariz tidak tahu jika Umi Sarifah memperhatikannya.
"Ini toh yang namanya Zahra? Cantik sekali, pantas ada yang gak bisa move on, " Umi Sarifah sedikit menggoda Rhea.
"Biasanya dipanggil Rhea Umi," pipi Rhea bersemu merah.
"Lha Ustad Fariz kok manggilnya Zahra?" Umi Sarifah kini menggoda Ustad Fariz.
"Ah iya Umi kan namanya Rheina Az Zahra, biasanya dipanggil Rhea," Ustad Fariz membela dirinya.
"Panggilan kesayangan Mi," seloroh Ustad Jaki yang duduk di sebelah Ustad Fariz.
Ustad Fariz menatap Ustad Jaki sebagai tanda peringatan. Namun Ustad Jaki malah tersenyum mengejek.
Sedangkan Rhea hanya tertunduk malu.
"Owalah punya panggilan khusus to," kini Umi yang tersenyum menggoda mereka berdua.
"Udah yuk kita langsung ke sana aja, ini udah waktunya," Ustad Jaki tidak tega menggoda mereka lagi.
"Oh ya sudah kalau gitu kalian ke sana saja dulu, nanti Umi nyusul ke sana, Umi ingin lihat pesona Zahranya Ustad Fariz itu gimana," Umi Sarifah terkekeh dengan ekspresi merek berdua yang kaget beserta malu ketika Umi mengatakannya.
"E.. em Umi, ini kue buatan Rhea, dimakan ya Mi, kata Ustad Fariz kemarin Umi suka," Rhea gugup memberikan kotak kue yang sedari tadi dia bawa.
"Kue buatan kamu enak sekali loh," puji Umi Sarifah.
"Terima kasih Umi, syukurlah kalau Umi suka," Rhea tersenyum manis sekali seperti biasanya.
"Pantas saja enak kuenya, yang buat cantik gini, udah pasti enak lah. Umi aja sampai rebutan kuenya sama Ustad Fariz," candaan Umi membuat Rhea menjadi nyaman dan tidak terbebani. Rasa takut yang tadi dia khawatirkan, kini sudah hilang entah kemana. Dia senang sekali berada di tempat ini.
Setelah itu Ustad Fariz dan Ustad Jaki membawa Rhea ke aula dimana semua santri putri dan putra sudah berkumpul. Rhea sedikit grogi karena semua mata memandangnya. Namun Ustad Fariz bisa menenangkannya. Dia mendampingi Rhea dan memberikan semangat dan dukungannya.
Pertama-tama Rhea memperkenalkan dirinya, kemudian dia mengambil salah satu bukunya dan menjelaskannya. Lama kelamaan Rhea terbawa oleh suasana yang santai dan menyenangkan, dia bisa menarik hati para santri intuk belajar dan bertanya.
Di sesi tanya jawab banyak sekali santri yang bertanya dan penjelasan Rhea pun sangat mudah dimengerti oleh mereka, sehingga dalam waktu yang ditentukan mereka masih belum cukup untuk bertanya. Mereka meminta untuk diadakan pelajaran khusus yang diajarkan oleh Rhea.
Ustad Fariz hanya bisa menjanjikan jika dia akan mempertimbangkannya bersama Ustad dan Ustadzah yang lain.
Setelah acara selesai, Rhea pamit untuk berjalan-jalan di sekitar Pondok, sedangkan Ustad Fariz sedang membicarakan keinginan para santri yang menginginkan Rhea untuk mengajar mereka.
__ADS_1
Para Ustad dan Ustadzah setuju dengan permintaan para santri. Dan Ustad Fariz ingin segera menyampaikan kabar ini pada Rhea, namun dia tidak melihat Rhea disekitar aula, oleh sebab itu dia berkeliling untuk mencarinya.
Rhea kini duduk di rerumputan dan dia menghadap ke danau. Sungguh sangat tenang dia rasa. Sayangnya saat ini dia tidak membawa alat tulis sehingga dia tidak bisa menulis apa yang ada di kepalanya.
Umi Sarifah mendekati Rhea, sedari tadi Umi Sarifah memperhatikan Rhea di aula. Apalagi saat Ustad Fariz selalu ada untuk menemani di sampingnya. Mereka saling menatap dan tersenyum tanpa mereka sadari. Sungguh sangat serasi sekali pikir Umi Sarifah.
"Sedang apa Nduk?" Umi Sarifah memegang pundak Rhea.
Rhea kaget dan menoleh.
"Eh Umi, ini loh Mi, disini sangat tenang, cocok sekali untuk mencari inspirasi buat menulis. Hehehe...," Rhea mengatakan keinginan yang dinilainya sangat konyol.
"Benar itu, disini tempatnya cocok buat kamu. Apa kamu mau tinggal disini?" tanya Umi Sarifah yang sebenarnya memang sangat mengharapkan sosok Rhea ada di rumahnya.
Entah mengapa Umi Sarifah sangat senang dan merasa bisa dekat dengan Rhea.
"Apa boleh Mi'?" tanya Rhea antusias.
"Boleh dong, mau seterusnya pun juga boleh," jawab Umi dengan mengelus tangan Rhea.
Ustad Fariz berdiri tak jauh dari mereka. Dia diam menatap dua wanita yang disayanginya. Tidak pernah dia melihat Umi Sarifah segembira ini dan sedekat ini dengan orang yang baru dikenalnya. Bahkan dengan Mirna pun Umi tidak pernah dekat seperti itu dan malah terkesan sungkan untuk menyuruhnya.
"Ustad, sedang apa?" suara Ustad Jaki membuat dua wanita itu menoleh.
Umi Sarifah dan Rhea menghampiri mereka, dan Ustad Jaki memberi tahu bahwa makanan sudah siap. Mereka pun berjalan menuju rumah Umi Sarifah untuk makan bersama.
Di sana sudah ada Mirna yang menunggu mereka untuk makan. Mirna memakan kue buatan Rhea yang diberikannya untuk Umi Sarifah.
"Umi, ini kan kue yang kemarin. Umi dikasih lagi sama orangnya?" tanya Mirna sambil memakan brownies buatan Rhea.
"Iya tadi dibawakan. Ayo kita makan dulu," Umi Sarifah mengajak semuanya makan bersama.
"Siapa sih Umi yang buat kue ini, kok gak di jual aja di toko?" tanya Mirna yang masih penasaran.
"Gak semua orang mikirnya cuma uang. Ada juga yang mikir dengan memberikan kue cuma-cuma bisa membuat orang bahagia," sahut Ustad Jaki.
"Ish kamu itu, kan sayang kalau enak gak dijual," Mirna masih saja dengan pemikirannya.
Rhea hanya tertunduk, bingung dalam situasi seperti ini. Umi Sarifah tahu jika Rhea kurang nyaman, Umi Sarifah memegang tangan Rhea dan tersenyum ketika Rhea menatapnya. Perlakuan Umi membuat Rhea menjadi sedikit nyaman, kemudian Rhea membalas senyum Umi Sarifah.
Setelah makan selesai, Rhea ijin pamit pulang, namun Umi Sarifah masih ingin bersamanya. Sebenarnya Rhea tidak bisa menolaknya, tapi Mirna menanyakan tentang asal usulnya sehingga membuat Rhea tidak nyaman berada disitu.
Umi Sarifah mengerti dan dia mengijinkan Rhea pulang. Ustad Fariz hanya bisa menahan diri untuk tidak berbicara akrab dan mengantar Rhea ke dalam mobil karena masih ada Mirna yang entah kenapa kali ini dia betah berada di Ndalem. Namun setelah kepergian Rhea, Mirna juga ikut pamit pulang ke rumahnya.
"Le, Umi tau kamu masih ada hati sama dia. Umi juga tau sebenarnya kalian masih saling mencintai, dari tatapan mata kalian saja sudah sangat jelas. Bagaimana le?"
__ADS_1