
Beberapa hari telah berlalu sejak Salsa mendengar perjodohan Izam dengan Adiba. Salsa benar-benar menghindari Izam, dia tidak lagi ikut makan bersama dengan keluarga Ustadz Fariz, bahkan dia tidak pernah main ke rumah tersebut.
"Salsa kok gak pernah ikut makan bersama di sini sih? Apa dia sedang tidak di rumah?" tanya Rhea pada Shinta.
"Dia udah makan duluan. Kadang dia makan di luar, tapi kadang bawa makanan ke rumah," jawab Shinta sambil menyendokkan makanannya ke dalam mulutnya.
Bukannya Shinta tidak curiga dengan perubahan sikap putrinya, hanya saja dia tidak mau jika putrinya itu lebih terluka lagi jika bertemu dengan Izam.
Ibu mana yang tidak mengerti jika anaknya sedang bersedih. Semua ibu pasti akan merasakannya. Terlebih lagi Shinta sudah mengetahui penyebab dari kesedihan hati putrinya itu.
"Iya loh, bisa-bisa aku lupa sama wajahnya Salsa kalau dia tidak pernah datang ke rumah ini. Padahal biasanya gak pernah lepas dari Yasmin sama Izam," ucap Ustadz Fariz setelah menenggak minumannya.
"Dia sibuk belajar katanya. Bahkan kumpul sama kita berdua aja jarang. Lumayan lah kita kalau lagi indehoy gak ada yang ganggu. Biar bisa cepat punya adik," ucap Ustadz Jaki menimpali perkataan Ustadz Fariz.
Yasmin dan Rhea menahan tawanya mendengar perkataan Ustadz Jaki. Sedangkan Shinta, seperti biasanya dia mencubit kecil perut suaminya hingga Ustadz Jaki meringis kesakitan.
"Suamimu ini udah pengen punya anak lagi Shin. Ajaklah berlibur, kalian berbulan madu berdua, biar Salsa tinggal bersama dengan kami," ucap Ustadz Fariz sambil terkekeh.
Berbeda dengan mereka, Izam merasa aneh dengan tidak adanya Salsa akhir-akhir ini dalam hidupnya. Dia merasakan ada yang kosong dalam hari-harinya.
Setelah mereka makan, Izam kembali menghampiri Yasmin yang sedang berada dalam kamarnya.
"Yasmin, Salsa kenapa sih?" tanya Izam ketika sudah duduk di tepi ranjang milik Yasmin.
Yasmin yang sedang mengerjakan pekerjaan rumahnya kini mengalihkan perhatiannya dari bukunya pada Izam.
"Kak Izam yang kenapa? Kak Salsa baik-baik aja Kak, kenapa Kak Izam jadi khawatir seperti itu?" tanya Yasmin pada Izam.
Izam kini bingung menjawab pertanyaan adiknya. Dia merasa jika apa yang dikatakan oleh Yasmin memang benar adanya.
Apa aku ya yang terlalu khawatir pada Salsa? Izam bertanya dalam hatinya.
"Kak, Kak Izam kenapa bengong? Ngelamunin apa sih Kak? Kak Izam gak sedang mikirin Kak Salsa kan?" tanya Yasmin berturut-turut dengan melambaikan tangannya ke kanan dan ke kiri di depan wajah Izam sambil terkekeh.
__ADS_1
"Ah kamu ini. Kakak hanya khawatir aja sama Salsa. Gak biasanya dia seperti itu. Lagian gak seru gak ada Salsa. Dia kan yang paling ramai di antara kita bertiga," jawab Izam.
"Beneran hanya itu? Coba deh Kak Izam tanya baik-baik dalam hati Kakak. Apa benar hanya karena itu? Atau mungkin ada alasan lain?" tutur Yasmin dengan tatapan serius pada Izam.
"Maksud kamu apa Yasmin?" tanya Izam bingung.
"Huffftt... Kak Izam ini benar-benar gak tau apa pura-pura gak tau?" tanya Yasmin menyelidik dengan memicingkan matanya pada Izam.
"Ck, Kakak benar-benar gak tau Yasmin," jawab Izam sambil mencubit kedua pipi Yasmin menggunakan kedua tangannya.
"Issss... sakit Kak," ucap Yasmin sambil melepaskan tangan Izam dari kedua pipinya.
"Hubungan Kakak dengan Kak Adiba gimana?" tanya Yasmin dengan menatap intens pada kakaknya.
"Ya gak gimana-gimana. Kak Izam malah lebih sering berkomunikasi dengan Ammar daripada dengan Adiba," jawab Izam seraya mengambil bantal untuk didekap.
"Loh kok bisa sih? Bukannya Kak Izam ingin mengenal lebih dekat Kak Adiba?" tanya Yasmin dengan memperlihatkan wajah herannya.
Izam tersenyum tipis, kemudian dia menjawab pertanyaan dari Yasmin.
"Kakak ini gimana sih? Bukannya Kakak sendiri yang menginginkan untuk mengenal Kak Adiba sebelum Kakak menerima perjodohan itu. Kenapa sekarang Kak Izam malah santai-santai saja tidak ingin mengetahui apapun tentang Kak Adiba?" tanya Yasmin menelisik.
Izam merebahkan dirinya di atas ranjang Yasmin, kemudian dia memandang langit-langit kamar Yasmin sembari memikirkan apa yang dikatakan oleh adiknya.
"Sebenarnya waktu itu Kakak hanya ingin mengulur waktu, karena Kakak belum yakin dengan perjodohan itu," jawab Izam yang masih memandang langit-langit kamar Yasmin.
"Sekarang Kakak sudah yakin?" tanya Yasmin ingin tahu.
Izam beralih menatap Yasmin, kemudian di tersenyum dan menggelengkan kepalanya karena memang dia tidak yakin dengan perasaannya.
"Terus gimana Kakak menjawabnya jika Kyai Anwar menanyakan tentang perjodohan itu kembali?" tanya Yasmin kemudian.
"Kakak akan mencari petunjuk dari Allah," jawabnya sambil bangun dari tidurnya.
__ADS_1
"Udah ah, Kakak mau ngajar dulu. Salam buat Salsa ya," ucap Izam sambil mengacak-acak kepala Yasmin sehingga hijabnya menjadi kacau.
"Isss... Kak Izam...," seru Yasmin dari tempatnya saat ini.
Izam yang sudah berada di depan pintu tertawa mendengar seruan kekesalan dari Yasmin. Kemudian dia kembali menghadap ke arah Yasmin.
"Mau nitip salam ke Ammar gak?" tanya Izam sambil terkekeh.
Sontak saja bantal yang ada di ranjang Yasmin kini melayang ke arah pintu. Dan itu membuat Izam tertawa puas karena dia bisa menghindari lemparan dari adiknya yang sedang kesal padanya.
Setelah Yasmin mengerjakan semua pekerjaan rumahnya, dia pergi ke rumah Salsa yang terletak tidak jauh dari rumahnya.
"Assalamu'alaikum... Kak Salsa, ini Yasmin," ucap Yasmin sambil mengetuk pintu rumah Ustadz Jaki.
Ceklek!
Pintu tersebut terbuka dan menampilkan sosok Salsa yang sudah rapi penampilannya.
"Eh Yasmin, ikut yuk," ucap Salsa sambil menutup pintu rumahnya dan mengunci pintunya.
"Kak Salsa mau ke mana?" tanya Yasmin.
"Aku ingin sekali makan bakso. Ayo Yasmin kita makan bakso di warung depan sana," jawab Salsa sambil menarik tangan Yasmin.
"Tapi Yasmin gak bawa uang Kak," ucap Yasmin yang sedang berjalan dengan tangannya masih ditarik oleh Salsa.
"Gampang, kan ada Kakak," ucap Salsa sambil tersenyum kaku.
Dalam perjalanannya menuju warung bakso, Salsa berbicara panjang lebar pada Yasmin. Namun, anehnya Yasmin menangkap kesedihan dalam senyuman dan keceriaan Salsa, seolah-olah semua itu dipaksakan.
Sesampainya di warung bakso, mereka segera memesan dua porsi bakso.
Salsa membubuhkan tujuh sendok sambal ke dalam mangkoknya. Dan itu membuat Yasmin semakin heran dengan Salsa saat ini.
__ADS_1
"Ouch...," teriak Salsa kesakitan
"Kak Salsa kenapa?" tanya Yasmin yang paniknya luar biasa melihat Salsa yang kesakitan saat ini.