
Rumah belakang yang dibicarakan oleh Pak Ratmo terlihat lumayan untuk bisa digunakan sebagai tempat tinggal bagi Pandu dan kedua anaknya.
Dengan sangat antusias Pandu membersihkan rumah tersebut. Dia berharap agar rumah itu bisa dia tinggali bersama kedua anaknya.
Adik Hana memang masih butuh perawatan karena dia terlahir prematur, sehingga untuk saat ini bayi tersebut masih berada di rumah sakit.
"Apa ada yang perlu di bantu Pak?" suara wanita itu mengalihkan Pandu dari kegiatannya.
"Eh Anita, tidak ada Nit. Ini juga sebentar lagi udah selesai," jawab Pandu sambil meneruskan kegiatannya membersihkan barang-barang yang ada di sana.
"Kalau butuh bantuan bilang aja Pak, pasti saya bantu. Atau mungkin saya bantu nyapu? Atau ngepel?" tanya Anita kembali.
"Tidak usah Nit, saya sudah banyak menyusahkan kamu," jawab Pandu sambil tersenyum pada Anita.
"Tidak usah sungkan gitu Pak. Bukankah kita sebagai manusia harus saling membantu?" ucapan Anita ini membuat Pandu bertambah kagum padanya.
"Jangan panggil saya Pak, berasa sangat tua rasanya. Panggil saja nama saya, Pandu," ucap Pandu sambil terkekeh.
"Wah gak sopan Pak, eh... mmm... Mas aja ya, Mas Pandu," Anita tersenyum lebar mengucapkannya.
"Nah gitu kan saya terdengar lebih muda," Pandu kembali terkekeh.
"Mbak Anita..... Mbak, dipanggil sama Bu Mirna," tiba-tiba Hana berlari dan berseru memanggil Anita.
"Ya udah Mbak Anita ke sana dulu ya Hana. Eh Hana mau ikut Mbak Anita ke sana gak?" Anita bertanya pada Hana.
"Hana di sini aja bantuin Bapak Mbak," jawab Hana seraya megambil sapu di pojok ruangan itu.
"Anak pintar," Anita memuji Hana dengan berjongkok di depan Hana dan tersenyum padanya serta tangannya mengusap rambut Hana dengan penuh kasih sayang.
Pandu tersenyum melihat Anita memperlakukan Hana dengan tulus seperti itu. Sekelebat dia teringat Ani yang sering melakukan hal seperti itu pada Hana. Dia bersyukur masih ada orang baik yang memperlakukan mereka seperti itu.
"Bapak yang bersih-bersih, Hana yang nyapu ya Pak," ucap Hana ketika Anita sudah pergi dari tempat itu.
"Biar Bapak saja, Hana duduk saja di sana," Pandu menunjuk bangku yang ada di dalam rumah itu.
"Hana pengen bantu Bapak. Ibu selalu bilang agar Hana bisa bantu Ibu sama Bapak dan gak boleh membantah," Hana memberitahukan apa yang selalu diberitahukan oleh Ani padanya dengan mata berkaca-kaca mengingat ibunya.
Pandu memandang Hana dengan perasaan bersyukur. Ani telah memberikan anak yang sangat baik dan penurut padanya.
__ADS_1
"Baiklah, jika memang Hana menginginkannya. Bantu Bapak ya supaya cepat selesai," ucap Pandu dengan tersenyum pada Hana.
Lain halnya dengan Mirna yang sedang duduk di depan televisi menunggu kedatangan Anita.
"Mbak... Mbak Mirna... Mbak Mirna di mana?" Anita berseru memanggil Mirna.
"Di sini Nit, di depan TV," Mirna pun berseru menjawab pertanyaan Anita.
"Mbak Mirna manggil Anita? Ada apa Mbak?" Anita bertanya pada Mirna ketika sudah sampai di depan Mirna.
"Temani Mbak makan Nit," jawab Mirna sambil mematikan layar televisinya.
"Hah?! Mbak Mirna manggil Anita hanya karena minta ditemani makan aja Mbak?" Anita merasa tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Iya, kenapa? Kamu keberatan?" tanya Mirna seraya menghentikan langkahnya menuju meja makan.
"Bukan begitu Mbak, tadi Anita sedang bantu Mas Pandu untuk membersihkan rumah yang akan mereka tempati," Anita menyanggah apa yang dituduhkan Mirna padanya.
"Halah ngomong aja kamu lagi pacaran sama bapaknya Hana. Pakai manggil-manggil mas lagi. Sejak kapan kamu manggil dia mas? Tadi aja masih manggil pak ke dia," tanya Mirna menyelidik.
"Pacaran apaan sih Mbak? Anita cuma bantuin dia aja, sebentar lagi malam, kasihan kalau rumah itu belum selesai dibersihkan. Mau tidur di mana mereka? Di sini? Di kamar Mbak Mirna?" Anita sewot, dia memberondong Mirna dengan beberapa pertanyaan.
"Siapa yang pacaran Mbak? Kita gak pacaran. Lagian dia sendiri bilang ketuaan katanya kalau dipanggil Pak, dia minta dipanggil namanya saja, kan gak sopan. Ya udah Anita panggil aja dia mas. Apa gak boleh Mbak?" Anita berkata sewot pada Mirna.
"Terserah kamu. Yang penting kamu sekarang temenin Mbak makan," jawab Mirna sambil duduk di kursi makan.
Anita masih berada di posisinya semula, dia masih tetap berdiri dan menatap Mirna dengan kesal.
"Sini Nit, ayo cepetan!" Mirna memerintahkan pada Anita untuk datang ke meja makan menemaninya makan.
Anita pun yang masih merasa kesal pada Mirna berjalan mendekat ke meja makan dan duduk di depan Mirna.
"Mbak kan bisa tadi makan bareng sama Hana. Pasti Hana belum makan, iya kan? Kasihan dia Mbak, kenapa Mbak Mirna gak ajak Hana makan bareng aja sih?" Anita meluapkan kekesalannya pada Mirna.
"Oh jadi kamu keberatan makan bareng Mbak? Kamu suruh Mbak makan bareng sama Hana biar kamu bisa makan bareng sama bapaknya kan? Ganjen kamu Nit," Mirna kembali menuduh Anita.
"Astaghfirullahaladzim... Mbak Mirna tuh kenapa sih dari tadi nuduh-nuduh Anita terus? Anita hanya berniat membantu mereka Mbak. Kalau Mbak Mirna nuduh-nuduh Anita terus, Anita doain Mbak Mirna malahan yang nikah sama dia," Anita tidak kalah kesal menjawab tuduhan dari Mirna.
"Enak aja! Enggak, gak akan aku nikah sama dia. Aku bakalan nikah lagi sama.....," Mirna tidak meneruskan ucapannya karena dia takut Anita mengetahui keinginannya.
__ADS_1
"Sama siapa Mbak?" tanya Anita menyelidik.
"Udah makan aja, gak usah dibahas," Mirna mengakhiri bahasannya agar Anita tidak kembali bertanya padanya.
Sesudah menemani Mirna makan, Anita mengambil dua piring nasi beserta lauk pauknya dari meja makan tersebut.
"Eh, mau dibawa ke mana Nit? Paman kan belum pulang, lagian Paman biasanya ngambil makanannya sendiri kok. Ngapain ini kamu nyiapin sekarang? Dua piring lagi. Gak kebanyakan?" Mirna bertanya pada Anita karena merasa heran dengan apa yang dilakukan oleh Anita.
"Ini buat Hana sama bapaknya, Mbak," jawab Anita sambil meletakkan sendok di piring tersebut.
"Eh ngapain? Udah diberi tumpangan tempat tinggal gratis, masa' iya mau nebeng makan juga," ceplos Mirna tanpa sadar.
"Astaghfirullahaladzim Mbak.... Kita wajib memberi makan orang yang sedang kelaparan Mbak. Masa' Mbak Mirna tega melihat mereka gak makan sedangkan kita makan enak di sini?" Anita berkata sewot pada Mirna.
"Ya Hana aja yang dikasih makan, kan masih kecil. Bapaknya bisa nyari makan sendiri. Suruh kerja sana biar bisa biayain hidup mereka sendiri," Mirna kembali mengeluarkan pemikirannya.
Anita hanya menggelengkan kepalanya, dia tidak habis pikir dengan pemikiran Mirna. Tanpa menjawab atau menimpali perkataan dari Mirna, Anita berlalu begitu saja meninggalkan Mirna yang masih duduk di kursi makan tempatnya sedari tadi.
"Assalamu'alaikum....," Anita mengucap salam ketika akan memasuki rumah yang berada di belakang rumahnya.
"Wa'alaikumussalam...," jawab Pandu dan Hana serentak
"Ini makanan kalian. Pasti kalian sudah lapar kan? Cepatlah dimakan," ucap Anita sambil memberikan piring tersebut pada Pandu dan Hana.
"Terima kasih Nit. Kamu baik sekali," ucap Pandu ketika menerima piring dari Anita.
"Hanya berbagi makanan saja, tidak usah sungkan," Anita menimpali perkataan Pandu padanya.
"Hana, sini Mbak Anita suapi, tangan Hana kan kotor," Anita menghentikan Hana ketika akan makan menggunakan tangan dan tidak menggunakan sendok yang disediakan oleh Anita.
Pandu tersenyum melihat Anita menyuapi Hana dengan sangat telaten dan senyum Anita yang sedang menyuapi Hana membuat Hana merasa nyaman dengannya.
"Memangnya kamu tidak dimarahi sama Mbak mu kalau membawakan kami makanan?" Pandu bertanya karena dia takut Anita dimarahi oleh Mirna, mengingat sikap Mirna padanya yang sepertinya kurang suka dengan kehadirannya.
"Justru Mbak Mirna yang nyuruh saya memberi kalian makanan ini," jawab Anita seperti itu agar Pandu tidak sungkan memakan makanan tersebut.
Seketika Pandu tersedak makanannya ketika mendengar jawaban dari Anita.
Apa dia sebenarnya perhatian pada kami dan hanya berpura-pura judes saja di depanku? Pandu bertanya dalam hatinya setelah dia tersedak makanannya.
__ADS_1