Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 26 Hamil?


__ADS_3

"Tenang dulu, ada apa dengan Bu Mirna?" tanya Ustad Fariz yang juga sempat kaget mendengar teriakan yang ditujukan padanya.


"Itu Kyai, Bu Mirna... mmm... Bu Mirna...," santriwati itu ragu untuk mengatakannya.


"Ada apa sebenarnya dengan Bu Mirna? Kamu katakan saja biar kita bisa membantu," ucap Rhea dengan lembut dan tersenyum serta mengusap pundak santriwati tersebut untuk menenangkannya.


"A-anu... i-itu Bu Mirna... Bu Mirna pi-ping-pingsan," ucap santriwati tersebut dengan ragu dan mata yang terpejam.


"Pingsan? Dimana?" tanya Ustad Fariz heran karena baru saja dia bertemu dengannya.


"Di ruang kesehatan. Permisi Kyai. Assalamu'alaikum," santriwati itu terburu-buru untuk meninggalkan tempat itu.


"Wa'alaikumussalam..," jawab Ustad Fariz dan Rhea bersamaan.


Rhea seketika panik dan menarik tangan suaminya untuk pergi ke tempat yang ditunjukkan oleh santriwati tadi.


Di dalam ruangan kesehatan Mirna memejamkan matanya, tidak ada seorang pun yang berada di ruangan tersebut.


Rhea menarik tangan suaminya dan berjalan cepat memasuki ruangan itu. Rhea mendekati Mirna yang badannya terbujur dan matanya tertutup.


"Mbak, Mbak Mirna.... Mbak... Mbak Mirna kenapa?" tanya Rhea yang mencoba membangunkan Mirna.


Haduh kenapa jadi wanita sialan ini yang mendekat, mana sih Mas Fariz kok gak kesini? Mirna membatin resah tanpa membuka matanya.


"Sayang, tenang dulu, mungkin Mirna belum sadar dari pingsannya," ucap Ustad Fariz menenangkan Rhea sambil memegang pundaknya.


Sayang? Mas Fariz manggil dia sayang? Aku aja udah bertahun-tahun tetap dipanggil namaku, Mirna. Keterlaluan kamu Mas... aku bakal buat perhitungan. Lihat aja nanti. Mirna kembali membatin dan sedikit membuka matanya untuk melihat sepasang pengantin baru yang ada di dekatnya.


Mirna kembali memanas karena tatapan mata dan perlakuan suaminya pada Rhea terlihat sangat manis dan penuh cinta.


Ustad Fariz sedikit melirik dan dia tahu pergerakan Mirna. Sepertinya Ustad Fariz sedikit tahu jika Mirna hanya pura-pura saja. Tentu saja Ustad Fariz tahu semua sikap dan sifat istrinya yang sering membuatnya pusing kepala dan menguras kesabarannya.


Perlahan-lahan Mirna membuka matanya dan langsung memeluk suaminya. Rhea yang sadar dan mengerti akan situasi saat ini, dia mundur beberapa langkah untuk memberikan ruang bagi Mirna dan Ustad Fariz.


Ada goresan di hatinya melihat suaminya di peluk oleh wanita yang juga berstatus sebagai istri dari suaminya. Namun Rhea berusaha untuk tetap tegar dan tersenyum, karena bagaimanapun inilah jalan yang dia pilih dan harus dia tempuh, dan juga bagaimanapun nanti konsekuensinya harus dia terima.


"Ada apa Mirna?" tanya Ustad Fariz mengurai pelukan Mirna dan memandang wajahnya.


"A-aku... aku hamil Mas...," ucap Mirna dengan raut wajah kebahagiaan.


Ustad Fariz memandang wajah Mirna ingin tahu kebenaran dari ucapannya.


"Benarkah?" tanya Ustad Fariz memperjelas pendengarannya.


Mirna hanya mengangguk tanpa menjawab dan dia kembali memeluk suaminya. Sedangkan Ustad Fariz hanya terdiam, dia bingung seharusnya dia bahagia, tapi hatinya saat ini sama sekali tidak bahagia. Entah kejujuran atau kebohongan yang disuguhkan oleh Mirna kali ini padanya.


Rhea terdiam dan dia berusaha menampilkan senyumnya ketika suaminya mengalihkan pandangannya padanya. Sungguh Rhea ingin sekali berada di posisi Mirna saat ini, dia ingin memberi kabar bahagia pada suaminya tentang kehamilannya. Rhea hanya berharap agar Allah segera menganugerahinya keturunan secepatnya.


"Sekarang aku udah bisa memberikanmu anak Mas, dan sekarang kamu bisa menceraikan dia," ucap Mirna dengan seringainya melirik ke arah Rhea.


Bagai tersambar petir Rhea mendengar permintaan dari Mirna. Matanya berkaca-kaca tidak bisa menahan kesedihannya.


Dia tidak bisa membayangkan jika dalam satu hari pernikahannya dia sudah menjadi janda karena diceraikan. Rhea menghirup nafas dalam dan menghelanya perlahan untuk menenangkan hatinya.


"Kamu gila Mirna?" ucap Ustad Fariz setelah mendengar permintaan Mirna.


"Ini permintaan istrimu yang sedang hamil Mas, apa kamu tidak mau mengabulkannya?" tanya Mirna dengan raut wajah sedih.


Tiba-tiba Umi Sarifah memeluk Rhea dan mengusap-usap punggungnya.


"Tenang Nduk, sabar...," ucap Umi Sarifah pelan namun bisa di dengar oleh semuanya.


"Le, kamu selesaikan dulu dengan Mirna, biar Rhea ikut Umi," ucap Umi Sarifah yang membawa Rhea menuju rumahnya.


Perdebatan terjadi antara Ustad Fariz dan Mirna di ruang kesehatan. Ustad Jaki yang mendengar berita bahwa Mirna pingsan dan berada di ruang kesehatan membuatnya sengaja datang untuk melihatnya.


Ustad Jaki mendengar semua perdebatan antara Ustad Fariz dan Mirna. Dan sama seperti Ustad Fariz dan Umi Sarifah, Ustad Jaki pun tidak percaya dengan ucapan Mirna yang mengatakan dirinya hamil. Dan lebih curiga lagi dengan keinginan Mirna yang meminta Ustad Fariz untuk menceraikan Rhea.

__ADS_1


Ustad Jaki segera masuk ke dalam ruangan ketika Mirna terbawa emosi dan teriak-teriak.


"Kamu gila ya Mbak? Ustad Fariz dan Rhea baru aja nikah kemarin Mbak, dan hari ini kamu minta dia menceraikannya? Gila kamu Mbak. Gak waras kamu," ucap Ustad Jaki yang benar-benar sebal dengan tingkah Mirna.


"Iya aku gila karena suamiku menikah lagi dan dia tidak memperdulikan ku lagi," jawab Mirna.


"Astaghfirullahaladzim Mirna.... hati-hati kamu kalau berbicara. Kapan aku tidak memperdulikan mu?" tanya Ustad Fariz menggelengkan kepalanya.


"Mas Fariz lebih sayang dan lebih cinta sama dia," ucap Mirna.


"Sudah pasti itu," sahut Ustad Jaki.


Mirna melirik kesal dan kembali berucap,


"Mas Fariz bersikap lebih romantis dengan dia."


"Nah tuh udah tau," sahut Ustad Jaki kembali.


"Ustad...," ucap Ustad Fariz memperingatkan Ustad Jaki, namun tak digubris oleh Ustad Jaki.


"Sepertinya aku tak sebanding dengannya," ucap Mirna sedih untuk mengiba pada suaminya.


"Nah tuh sadar diri," sahut Ustad Jaki dengan entengnya.


Ustad Fariz hanya menggeleng melihat Ustad Jaki yang seperti anak kecil berdebat dengan Mirna. Ustad Jaki hanya tersenyum puas melihat Ustad Fariz menggelengkan kepalanya saat melihatnya.


"Sudahlah Mirna, aku kan sudah berjanji untuk adil pada kalian. Aku tidak akan membeda-bedakan kalian," ucap Ustad Fariz mendekat pada Mirna dan mengusap kepalanya.


Ustad Jaki menarik Ustad Fariz menjauh dari Mirna, dan dia membisikkan sesuatu dan diangguki oleh Ustad Fariz.


Mirna heran dan ingin tahu apa yang dibisikkan oleh Ustad Jaki pada suaminya.


"Apa kamu sudah periksa Mirna?" tanya Ustad Fariz mendekat pada Mirna kembali.


"U-udah tadi," jawab Mirna dengan menundukkan kepalanya.


"Emm.. i-itu tadi... mmm.. pakai alat," jawab Mirna terbata-bata dengan kepalanya yang masih tertunduk.


"Bisa aku lihat alatnya?" tanya Ustad Fariz kembali.


Mirna mencari di bajunya, dirogohnya semua kantong gamisnya namun tidak ditemukan.


"Se-sepertinya hilang Mas, mungkin terjatuh tadi pada saat aku pingsan," ucap Mirna gugup.


Ustad Fariz melihat sebentar pada Ustad Jaki dan menganggukkan kepalanya.


"Apa kamu mau periksa lagi sekarang?" tanya Ustad Fariz lembut dan duduk di depannya sambil megusap lembut kepalanya.


"Mmm... nanti aja Mas, belum beli alatnya lagi," jawab Mirna cemas.


"Mau dibelikan sekarang?" tanya Ustad Fariz.


"Nanti aja Mas, kepalaku masih pusing," jawabnya dengan cepat.


Ustad Fariz kembali menoleh pada Ustad Jaki dan Ustad Jaki tersenyum lebar pada Ustad Fariz.


"Ya udah kamu istirahat aja dulu disini," tutur Ustad Fariz.


"Loh Mas, Mas Fariz gak mau mindahin aku ke rumah? Masa' aku tiduran disini sih Mas?" rengek Mirna.


"Dikira gak berat apa gendong badannya situ," sahut Ustad Jaki sewot.


Mirna menatap Ustad Jaki dengan penuh perlawanan.


"Kamu istirahat disini aja, lebih enak di ruang kesehatan," ucap Ustad Fariz dengan tersenyum seolah menenangkan Mirna.


Di rumah Umi Sarifah, Rhea hanya tertunduk dengan berderai air mata. Dia tidak sakit hati mendengar kabar kehamilan Mirna, dia hanya sakit hati dan tidak menyangka dengan apa yang diucapkan oleh Mirna. Bukankah dia yang menyuruh suaminya untuk menikahinya. Sungguh Rhea tidak pernah bisa mengerti jalan pikiran Mirna.

__ADS_1


Jika dia ada dalam posisi Mirna tentu dia tidak akan meminta suaminya untuk menceraikan istrinya yang lain, apalagi mereka baru saja sehari menikah. Jika memang suaminya akan bercerai dengan istrinya yang lain tentu saja itu harus murni dari keinginan suaminya.


"Nduk, percayalah, suamimu tidak akan meninggalkanmu. Dia sangat mencintaimu, dan Umi tau itu. Kamu harus banyak-banyak bersabar menghadapi Mirna. Dia memang tidak bisa mengalah pada siapapun meskipun kamu jauh lebih muda darinya," ucap Umi Sarifah yang menenangkan Rhea dengan menghapus air matanya.


Rhea hanya menunduk dan mengangguk. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Baru saja dia merasakan kebahagiaan semalam, dan hari ini dia harus meneteskan air matanya kembali.


"Assalamualaikum... Zahra....," Ustad Fariz masuk rumah Umi Sarifah tergesa-gesa mencari istrinya.


Mendengar suara suaminya memanggilnya, Rhea segera menghapus air matanya dan menghirup udara banyak-banyak dan menghembuskan udara itu sampai dirinya lebih tenang.


"Wa'alaikumussalam," jawab Umi Sarifah.


Umi Sarifah tersenyum sambil memegang tangan Rhea untuk memberinya kekuatan. Setelah itu Umi Sarifah meniggalkan mereka berdua.


"Zahra, kamu baik-baik aja?" tanya Ustad Fariz khawatir.


Rhea tersenyum semanis mungkin agar suaminya tidak mengetahui luka dihatinya. Namun Rhea salah, sebab suaminya itu tahu jika dirinya sedang terluka dan bersedih.


"Sayang maafkan aku, dan maafkan atas semua ucapan Mirna tadi. Lupakan semua perkataannya," Ustad Fariz menatap Rhea dengan pandangan mata memohon dan penuh penyesalan.


"Aku gapapa Bie. Mmm... bagaimana keadaan Mbak Mirna sekarang?" tanya Rhea dengan senyum paksa dan dengan suara yang sedikit bergetar.


"Sayang... kamu jangan pikirkan apa-apa, cukup pikirkan kebahagiaan kita berdua saja," ucap Ustad Fariz dengan mata yang masih memandang wajah ayu istrinya yang membuatnya merasakan ketenangan.


Rhea mengangguk disertai senyumannya yang sedari tadi selalu ditampilkannya meskipun secara terpaksa.


Ustad Fariz menghela nafasnya berat dan memegang erat tangan Rhea.


"Sayang, aku akan memeriksakan Mirna ke rumah sakit, kamu disini aja ya sama Umi. Kalau ada apa-apa atau butuh sesuatu kamu harus menghubungiku," tutur Ustad Fariz berpamitan.


Rhea mengangguk dan mengambil tangan suaminya untuk diciumnya. Setelah itu Ustad Fariz mengecup dahi Rhea lama untuk menyalurkan semua rasa yang ada di hatinya.


"Aku pergi dulu ya. Assalamualaikum," ucap Ustad Fariz sebelum berdiri dari duduknya.


"Wa'alaikumussalam," jawab Rhea lirih.


Setelah berjalan selangkah, Ustad Fariz kembali mendekati Rhea.


Karena merasa heran, Rhea berdiri dari duduknya hendak mendekat, namun Ustad Fariz lebih dulu memeluknya dan berbisik, "Aku mencintaimu istriku."


Setelah itu Ustad Fariz keluar dari rumah Umi Sarifah menuju mobil yang sudah ada Mirna dan Ustad Jaki di dalamnya.


Pipi Rhea menorehkan semburat merah karena malu mendapatkan pernyataan cinta dari suaminya. Kegelisahan dan kekecewaan yang disebabkan oleh Mirna tadi berganti kegembiraan oleh pernyataan cinta suaminya.


"Mas, ini kita mau kemana? Beneran kita mau pergi ke suatu tempat? Kita pergi ke pantai ya Mas, kita menginap di Villa untuk merayakan kehamilanku," ucap Mirna gembira ketika di dalam mobil yang dikendarai oleh Ustad Jaki.


"Villa gundulmu ," sahut Ustad Jaki lirih yang hanya mampu di dengar oleh Ustad Fariz,karena Ustad Fariz duduk di sampingnya, sedangkan Mirna duduk sendirian di bangku penumpang belakang.


"Mas Fariz.. Mas kok gak jawab sih?" tanya Mirna merengek.


"Mirna... katanya kamu pusing, udah kamu gak usah banyak omong, kamu tiduran aja dulu, kalau udah sampai pasti aku bangunkan," ucap Ustad Fariz.


Mirna kesal, bibirnya mengerucut. Ustad Fariz melihatnya dari spion di depannya hanya menggelengkan kepalanya saja. Seandainya saja Rhea yang mengerucutkan bibirnya seperti malam itu, pasti dia akan melahapnya.


Astaghfirullahaladzim... ucap Ustad Fariz membatin akan pikiran konyolnya tadi.


Setelah kurang lebih tiga puluh menit mobil berhenti di parkiran.


"Mirna... Mir, ayo kita turun," Ustad Fariz membangunkan Mirna dengan menggoyang-goyangkan lengannya.


"Emmm... udah sampai ya Mas?" tanya Mirna sambil mengusap-usap matanya.


"Ayo turun," Ustad Fariz membukakan pintu mobil Mirna.


Mirna keluar dari mobil dengan sedikit mengantuk. Seketika matanya membelalak ketika dia sudah berada di luar mobil.


"Rumah sakit?" seru Mirna kaget.

__ADS_1


__ADS_2