Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 161 Konferensi program kesejahteraan keluarga berencana


__ADS_3

"Sayang," ucap Shinta ragu.


"Hmmm....," ucap Ustadz Jaki tanpa melihat Shinta dan pandangannya lurus ke depan fokus pada jalanan.


"Sayang," Shinta memanggil Ustadz Jaki kembali.


"Hmmm...," jawab Ustadz Jaki yang masih memperhatikan jalanan di depannya sambil berkonsentrasi dengan kemudinya.


"Sayang, iiih ngeselin deh kalau dipanggil gitu, dari tadi hmmm.... hmmm... hmmm... aja terus," Shinta mengomel pada Ustadz Jaki.


Seketika Ustadz Jaki menepikan mobilnya di tepi jalan tersebut. Shinta yang tadinya mengomel, kini terdiam karena tidak menyangka jika suaminya akan bereaksi seperti itu.


"Ada apa hmmm?" Ustadz Jaki mendekatkan wajahnya di depan wajah Shinta.


Saking kagetnya Shinta tidak bisa bergerak dan dia hanya bisa menelan ludah saat pandangan Ustadz Jaki berubah dari yang semula memandang matanya kini memandang bibirnya.


"A-da a-pa Sa-yang...?" Ustadz Jaki menegaskan setiap katanya agar Shinta mau menjawabnya.


"Ehmmm... eh itu... anu.. apa.. itu tadi...," Shinta jadi gugup ketika akan menjawab pertanyaan dari Ustadz Jaki dengan posisi seperti itu.


"Apaan hmmm? Tadi ngomel-ngomel karena merasa diacuhkan, sekarang udah kayak gini malah gak mau jawab. Aku cium juga nih... mau?" ucap Ustadz Jaki pada Shinta.


Tanpa sadar Shinta mengangguk mengiyakan pertanyaan Ustadz Jaki. Sehingga membuat Ustadz Jaki terkekeh dan dengan cepatnya Ustadz Jaki mencium sekilas bibir Shinta hingga membuat Shinta terlonjak kaget.


"Eh pencuri," ceplos Shinta tanpa sadar.


"Pencuri? Siapa yang pencuri?" tanya Ustadz Jaki bingung dengan mengernyitkan dahinya.


"Kamu," jawab singkat Shinta sambil mengerucutkan bibirnya.


"Aku? Pencuri? Kok bisa?" Ustadz Jaki bertanya dengan menampakkan wajah bingungnya.


"Pencuri ciuman dalam mobil," jawab Shinta yang disusul tawa oleh Ustadz Jaki.


"Shinta... Shinta, Shinta Sayang, kalau pencurinya ganteng kayak gini, pasti kamu ketagihan deh minta dicium terus," ucap Ustadz Jaki sambil terkekeh dan menaik turunkan alisnya.


"Issh... anda terlalu percaya diri Tuan," ucap Shinta dengan melipat kedua tangannya di depan dada.


Ustadz Jaki tersenyum dan menengadahkan wajahnya di depan wajah Shinta tanpa berkata apapun. Dia hanya memandang Shinta dengan intens dan tersenyum. Hingga membuat Shinta gugup dan salah tingkah.

__ADS_1


"Aku tuh tadi mau cerita tau gak? Eh kamu malah gitu-gitu," tukas Shinta untuk menutupi rasa gugupnya.


"Cerita apa hmmm?" Ustadz Jaki berucap tanpa berganti posisi, dia masih tetap dalam posisi yang tadi, menengadahkan wajahnya di depan wajah Shinta dan menatap intens mata Shinta sambil tersenyum.


"Au ah nanti aja. Udah sekarang nyetir aja dulu biar cepat sampai rumah," ucap Shinta sambil menghadapkan wajah Ustadz Jaki ke depan, seperti posisinya tadi pada saat mengemudi.


"Ok, siap Nyonya. Saya akan mengantarkan Nyonya dengan selamat tidak kurang satu apapun. Tapi Nyonya, jangan sampai anda lupa tentang undangan tadi ya," Ustadz Jaki berkata sambil mengemudikan mobilnya dan tersenyum dengan memandang ke arah jalan yang ada di depan kemudinya.


"Undangan modus?" sahut Shinta dengan kesalnya.


"Eh mana ada undangan modus. Undangan tadi itu bersifat penting dan rahasia," jawab Ustadz Jaki dengan bangganya.


"Udah deh terserah kamu. Memang gak akan pernah menang aku kalau debat sama kamu," tukas Shinta menyudahi perdebatannya dengan Ustadz Jaki.


"Bukan debat Sayang... hanya saja berbeda pendapat tapi tetap satu jua. Nah undangan tadi itu bertujuan untuk mempersatukan kita demi keutuhan rumah tangga kita," Ustadz Jaki menjelaskan dengan panjang lebar pada Shinta.


Shinta hanya menggelengkan kepalanya. Dia sudah tidak bisa berkata-kata lagi karena nantinya pasti akan dijawab juga oleh Ustadz Jaki. Jadi dia hanya menutup mulutnya agar kepalanya tidak pusing dengan jawaban-jawaban dari suaminya.


Setelah sampai di rumah, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan tingkah Izam dan Salsa yang bermain kuda-kudaan di ruang tamu tanpa ada siapapun yang menungguinya.


Izam yang berperan sebagai kuda ditunggangi oleh Salsa yang berbadan mungil. Izam merangkak layaknya kuda dan Salsa naik di punggung Izam sebagai penunggang kuda.


"Main kuda-kudaan Abi....," jawab Salsa dengan suara cemprengnya dan terkekeh ketika Izam bergerak lebih cepat sehingga membuat tubuh Salsa kaget dan berpegangan lebih erat pada baju Izam.


"Eh udah... udah... kalian masih kecil, gak usah main kuda-kudaan sekarang. Main kuda-kudaannya nanti aja kalau udah besar," ucap Ustadz Jaki sambil menurunkan Salsa dari punggung Izam.


Sontak saja perut Ustadz Jaki dihadiahi sebuah cubitan oleh Shinta.


"Auuuch.... nikmatnya," ucap Ustadz Jaki tanpa sadar.


"Apanya yang nikmat Abi J?" tanya Izam pada Ustadz Jaki dengan wajah polosnya yang ingin tahu.


"Abi makan apa kok nikmat? Kok gak makan apa-apa nikmat sih? Pasti Abi makan permen ya? Kata Manda, makan permen itu bisa bikin gigi kita berlubang kalau kebanyakan. Jadi Abi harus-"


"Udah... udah gak usah ceramah. Nanti Abi daftarin Salsa jadi Ustadzah. Sekarang Salsa sama Izam masuk dulu ke ruang tengah," ucap Ustadz Jaki menyela perkataan Salsa dengan menutup mulut Salsa.


"Yuk ah Kak, kita main kuda-kudaan lagi di ruang tengah," ucap Salsa sambil menarik tangan Izam.


"Eh kok main kuda-kudaan lagi sih? Gak boleh!" Ustadz Jaki dengan tegas melarangnya.

__ADS_1


"Ih Abi gak seru! Kak Izam itu kalah main tebak-tebakan sama Salsa, jadi dia harus jadi kudanya, Salsa yang naik kudanya," jawab Salsa sambil cemberut.


"Gak, gak boleh. Makan es krim aja, udah gak usah main kuda-kudaan lagi," tutur Ustadz Jaki kemudian.


"Yeee... boleh makan es krim..," sorak Salsa dan Izam bersamaan sambil melonjak kegirangan.


"Mbak Atik.... es krim....," teriak Izam diikuti oleh Salsa sambil bergandengan tangan berjalan menuju lemari es.


Shinta melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatap horor pada Ustadz Jaki. Dan Ustadz Jaki yang ditatap seperti itu oleh Shinta menjadi ciut nyalinya mengingat akan diadakannya konferensi acara temu kangen di dalam kamarnya nanti.


Ustadz Jaki khawatir jika dia berdebat dengan Shinta sekarang, dia takut jika konferensi yang akan diselenggarakannya di kamar nanti akan batal. Otomatis akan mengancam kesejahteraannya di malam hari.


"Main kuda-kudaannya harus orang dewasa ya Abi?" tanya Shinta pada Ustadz Jaki dengan senyuman dan tatapan yang membuat Ustadz Jaki bergidik ngeri.


"Hehehe... kan reflek Sayang... Yuk main kuda-kudaan di kamar," Ustadz Jaki mendekati Shinta dan merayu dengan senyumnya dan merangkulnya untuk berjalan masuk ke kamar agar Shinta segera membersihkan badannya.


"Eh mau ke mana jam segini udah ngandang aja," ucap Rhea ketika berpapasan dengan Ustadz Jaki dan Shinta yang akan masuk ke dalam kamarnya.


"Mau melaksanakan konferensi program kesejahteraan keluarga berencana," jawab Ustadz Jaki dengan menaik turunkan alisnya.


"Di mana?" tanya Rhea yang tidak mengerti dnegan maksud dari ucapan Ustadz Jaki.


"Di dalam kamar," jawab Ustadz Jaki kemudian.


"Kok aku gak diajak?" tanya Rhea dengan wajah herannya, dan itu membuat Shinta menahan tawanya.


"Tuh minta sama Ustadz Fariz yang terhormat," jawab Ustadz Jaki ketika melihat Ustadz Fariz keluar dari kamarnya.


"Ada apa?" tanya Ustadz Fariz heran.


"Ajak tuh istrinya melaksanakan program kesejahteraan keluarga berencana di dalam kamar," jawab Ustadz Jaki yang kemudian menarik tubuh Shinta yang masih dirangkulnya tadi masuk ke dalam kamar mereka.


"Hah, emang ada ya program kesejahteraan keluarga berencana di dalam kamar?" Rhea bergumam dengan wajahnya yang masih bingung, sedangkan Ustadz Fariz terkekeh mendengar ucapan Ustadz Jaki.


"Bunda Mau tau?" tanya Ustadz Fariz pada Rhea dan diangguki dengan antusias oleh Rhea.


"Yuk ikut Abi ke kamar," ucap Ustadz Fariz sambil menarik tangan Rhea.


"Eh ngapain?" tanya Rhea heran.

__ADS_1


"Kan katanya mau melaksanakan program kesejahteraan keluarga berencana, mau sekarang apa nanti malam aja?" tanya Ustadz Fariz dengan menaik turunkan alisnya pada Rhea.


__ADS_2