Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 209 Ketakutan Hana


__ADS_3

Selama Izam dalam masa perawatan, Salsa selalu ada di sampingnya. Bahkan Salsa tidak mau bersekolah jika Izam belum bersekolah. Dia ingin setia menemani Izam di masa sakitnya.


Sedangkan Hana, di sekolah dia makin merasa terpojok. Semua temannya membicarakannya dan tidak ada yang mau bermain dengannya.


Kejadian kecelakaan itu tepat di depan sekolah sehingga mereka tahu kejadian yang sebenarnya. Semua temannya menyalahkannya atas kecelakaan yang menimpa Izam dan neneknya hingga membuat nenek Izam meninggal dunia.


Semua omongan itu sangat menyakitkan hati Hana, dia juga tidak mengira karena kelalaiannya lah mengakibatkan orang lain meninggal dunia.


"Aku harus bagaimana? Apa aku harus berhenti dari sekolah ini? Ibu... Hana kangen sama Ibu. Hana bingung Bu... Hana harus bagaimana?"


Hana bersuara lirih sambil melihat awan yang sangat cerah berbeda dengan hatinya yang sedang mendung bak diselimuti awan hitam.


"Hana, ayo kita pulang."


Suara seorang pria dewasa membuat lamunan Hana terhenti.


Kini dia mengalihkan perhatiannya dari indahnya langit menuju suara orang yang memanggilnya.


"Bapak?!"


Seperti tidak percaya, Hana melihat Pandu menjemputnya di sekolah.


Hana berlari kecil ke arah Pandu dan memeluknya ketika sudah berada di depannya.


"Ayo Hana kita pulang."


Pandu menggandeng tangan Hana untuk berjalan menuju motornya yang diparkir di depan sekolah.


Andai saja Bapak menjemputku pada saat itu, pasti kecelakaan itu tidak akan terjadi, Hana berkata dalam hatinya sambil melihat tangan Pandu yang menggandengnya.


Selama ini Hana jarang sekali dijemput oleh Pandu, karena Pandu sedang bekerja. Biasanya dia naik angkutan umum menuju warung Mirna, karena Mirna dan Anita masih berada di sana. Sedangkan Pak Ratmo pun masih bekerja.


Hana memang seorang anak yang mandiri. Dia sendiri yang meminta agar tidak ada yang menjemputnya karena dia tahu jika semua orang sibuk bekerja pada jam seperti itu. Dia lebih memilih naik angkutan umum menuju warung Mirna.


Hari ini Hana mulai bersekolah kembali. Satu minggu sudah Hana tidak masuk sekolah sejak peristiwa kecelakaan itu terjadi.


Hana merasa sangat bersalah sehingga tidak mau untuk bersekolah kembali. Apalagi kejadian itu tepat di depan sekolahnya, sehingga dia merasa berat untuk melangkahkan kakinya masuk ke dalam sekolahnya.


Sebelum Pandu mengantarkan Hana berangkat ke sekolah, Pak Ratmo meminta pada Pandu agar menjemputnya pada jam sekolahnya. Pandu menyetujui permintaan Pak Ratmo karena dia tahu alasan Pak Ratmo memintanya seperti itu.


Belum lagi tentang kematian Umi Sarifah yang masih teringat dengan jelas di kepala Hana gambaran kecelakaan itu yang terjadi di depan matanya.

__ADS_1


Karena aku, itu semua terjadi karena aku. Aku bersalah. Aku yang menyebabkan ini semua terjadi. Aku yang menyebabkan nenek Izam meninggal dan aku juga yang menyebabkan Izam masih dirawat di rumah sakit.


Hana menyalahkan dirinya dalam hatinya ketika berjalan melewati tempat kecelakaan itu terjadi.


Tangannya mencengkeram kuat tangan Pandu yang sedang menggandengnya.


Pandu merasakan cengkeraman tangan Hana yang sangat kuat di tangannya. Sehingga dia menoleh pada Hana dan berkata,


"Ada apa Hana? Apa ada yang terjadi?"


Hana menggelengkan kepalanya, kelihatan sekali dia takut dari gerak-geriknya. Tangan Hana kini melingkar di badan Pandu dan kepalanya pun disembunyikan di badan Pandu.


Pandu menghela nafasnya, dia mengerti akan kondisi anaknya yang ketakutan dengan kejadian yang menimpanya, apalagi ada korban yang meninggal pada saat itu.


Sesampainya di warung, Hana segera turun menghampiri Mirna dan Anita untuk mencium tangan mereka dan bertemu dengan Adiknya.


Pandu menatap Hana yang tertawa mengajak Emir bermain. Dia tidak mengira jika anak sekecil Hana bisa menyembunyikan rasa sedih dan takutnya di depan semua orang.


"Mau makan dulu Mas? Ini udah aku siapkan makanannya."


Mirna memberikan piring yang berisi nasi dan lauk untuk Pandu.


"Mas, Mas Pandu... ini makanannya."


"Mas!"


Mirna kembali memanggil Pandu dan meletakkan piring yang berisi nasi dan lauk itu di depan Pandu.


Pandu terhenyak mendapati piring yang diberikan oleh Mirna padanya. Dan Mirna pun duduk di sebelah Pandu dengan pandangan seolah ingin menginterogasi suaminya itu.


"Eh Mir, terima kasih," ucap Pandu dengan senyum kaku.


"Ada apa? Kenapa melihat Hana seperti itu?"


Mirna bertanya dengan penuh curiga. Dia tahu jika Pandu menyembunyikan sesuatu darinya.


"Gak ada apa-apa kok Mir," jawab Pandu sambil menyendokkan makanannya ke dalam mulutnya.


"Mas Pandu gak usah nyembunyiin apa-apa dari aku ya Mas, aku tuh tau klo Mas Pandu sedang menyembunyikan sesuatu dari istrimu ini."


Mirna memperingatkan Pandu dengan tegas agar tidak membohonginya.

__ADS_1


Wah gawat ini, Mirna kalau marah sepertinya akan membahayakan. Rhea sama Ani aja gak pernah marah seperti itu padaku. Apa aku harus nurut sama dia? Tapi kalau gak nurut pasti bakalan runyam. Mana masih numpang lagi.


Pandu berkata dalam hatinya tentang Mirna yang baru kali ini menampakkan sikapnya yang membuat Pandu menjadi was-was.


Anita yang tidak jauh dari mereka mendengar percakapan Mirna dan Pandu, dia menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar Mirna bersikap seperti itu pada suaminya.


Pantes Mbak Mirna diceraikan sama Kyai Fariz, lebih baik Mbak Rhea ke mana-mana. Eh Astaghfirullahaladzim, kenapa aku jadi membanding-bandingkan Mbak Mirna dengan Mbak Rhea ya. Untung gak keceplosan. Bisa mati berdiri aku jika keceplosan ngomong gitu di depan Mbak Mirna.


Anita berkata dalam hatinya sambil bergidik ngeri membayangkan Mirna marah padanya.


"Bener ini gak mau cerita?" tanya Mirna yang sedang kesal pada Pandu.


Pandu pun meletakkan kembali sendoknya. Dia menghela nafasnya, kemudian dia mulai bercerita.


"Apa Hana perlu kita pindahkan sekolah aja ya?" tanya Pandu pada Mirna.


Anita meletakkan pekerjaannya, dia mendekat ingin mengetahui permasalahan tentang Hana.


"Eh ngapain kamu Nit ke sini? Udah kamu kerjain yang tadi biar cepat selesai."


Mirna mengusir Anita ketika Anita baru saja duduk di kursi sebelah Mirna.


"Yaelah Mbak, Anita kan cuma ingin mendengar tentang Hana. Apa dia bermasalah di sekolah, sehingga dia tidak mau bersekolah beberapa hari yang lalu."


Anita menanggapi perkataan Mirna padanya.


"Eh, aku kan ibunya Hana, jadi biar aku yang menyelesaikan masalah anakku. Lagian Mas Pandu ini suamiku, jadi biar kita membicarakan masalah anak kami berdua saja. Kamu cukup di sana saja mendengarkannya."


Mirna menunjuk arah kursi yang berada di pojok terletak jauh dari mereka.


Memang keadaan warung pada saat itu masih sepi karena belum saatnya jam makan siang, sehingga mereka masih punya waktu untuk mempersiapkan kebutuhan warungnya.


Pandu kembali menghela nafasnya melihat istrinya kini berbeda jauh dengan dua mantan istrinya.


Apa salah ku sefatal itu sehingga sekarang aku dapat istri yang beda sama mantan-mantanku dulu?


Pandu bertanya dalam hatinya sambil melihat Mirna yang sedang mengomel pada Anita.


"Dasar bucin! Dulu aja ngomongnya gak mau, sekarang......"


Anita meledek Mirna di depan Pandu dan hal itu membuat Mirna bertambah kesal padanya sehingga dia berteriak pada Anita.

__ADS_1


"Anita!"


__ADS_2