
Keluarga Ustadz Jaki kaget ketika keluarga Ustadz Fariz datang dengan berbagai buah tangan yang mirip sekali dengan barang seserahan.
Ustadz Jaki, Shinta dan Salsa tertegun melihat keluarga Ustadz Fariz yang kini berdiri di depan pintu mereka.
"Kalian ini mau ngapain? Katanya mau makan malam di sini, biar gantian gak di rumah kalian terus makannya. Lah ini semua apa?" tanya Ustadz Jaki sambil menunjuk barang-barang yang dibawa oleh Ustadz Fariz, Rhea, Izam dan Yasmin.
"Ini terima dulu, masih ada banyak di mobil," ucap Ustadz Fariz sambil memberikan parsel yang dibawanya pada Ustadz Jaki.
"Hah masih banyak?" tanya Ustadz Jaki bingung sambil melihat barang-barang yang dihias dalam bentuk parsel dan gift box.
Ustadz Fariz dan Izam mengambil barang-barang yang disiapkan oleh Rhea tadi siang. Mereka heran dengan begitu banyaknya barang yang sudah disiapkan Rhea untuk acara tersebut.
"Bi, bukannya Bunda baru tadi siang menyiapkan ini, kok bisa segini banyaknya?" tanya Izam heran melihat banyak barang di bagasi mobilnya.
Ustadz Fariz terkekeh sambil memberikan beberapa gift box pada Izam. Kemudian dia berkata,
"Hebat kan Bunda kamu?"
"Bundanya Izam... hebat dong," jawab Izam dengan jumawanya.
"Habibati nya Abi tuh," sahut Ustadz Fariz sambil berjalan beriringan dengan Izam membawa beberapa gift box.
Beberapa kali mereka bolak-balik mengambil barang-barang dari mobil mereka. Hingga semua terkumpul di ruang tamu Ustadz Jaki.
Shinta, Salsa dan Ustadz Jaki yang duduk manis di ruang tamu melihat semua barang-barang yang dibawa keluarga Ustadz Fariz merasa heran, bingung dan aneh.
"Ini kalian mau ngapain? Kayak mau ngelamar aja?" tanya Ustadz Jaki heran.
"Nah itu tau," jawab Ustadz Fariz sambil terkekeh.
"Apa kalian minta kita membawa ini semua besok pada saat ke rumah Kyai Anwar?" tanya Ustadz Jaki pada Ustadz Fariz dan Rhea sambil melihat mereka bergantian.
Ustadz Fariz dan Rhea yang duduk berdampingan di hadapan Ustadz Jaki hanya tersenyum, membuat Ustadz Jaki semakin bingung.
Salsa sangat kaget mendengar pertanyaan Abi nya yang dijawab dengan senyuman oleh Ustadz Fariz dan Rhea. Sungguh hatinya sangat sakit karena reaksi Ustadz Fariz dan Rhea seolah membenarkan pertanyaan dari Ustadz Jaki.
"Abi, Izam ke sini sama keluarga Izam mau melamar Salsa," ucap Izam dengan tegas sambil melihat Ustadz Jaki.
Sontak saja Ustadz Jaki dan Shinta kaget mendengarnya. Mereka berdua saling menatap dan benar-benar memperlihatkan wajah bingungnya.
__ADS_1
Berbeda dengan Salsa yang tiba-tiba tersenyum lega mendengarnya, karena prasangkanya tadi ternyata tidak benar sama sekali.
"Kamu serius Zam?" tanya Ustadz Jaki dengan tegas sambil duduk tegak dan menatap Izam menyelidik.
"Izam serius Abi. Izam juga sudah mengatakannya pada Salsa tadi siang," jawab Izam dengan memperlihatkan keseriusannya.
"Tadi siang?" celetuk Ustadz Jaki sambil melihat Izam dan Salsa bergantian.
"Udah... gak usah di sidang. Diterima gak nih lamaran Izam?" sahut Ustadz Fariz sambil terkekeh.
"Sebagai calon mertua, sudah seharusnya jika saya bertanya pada-"
"Kalau Salsa menerima, kami pasti juga menerima," Shinta menyela perkataan Ustadz Jaki.
Sontak saja Ustadz Jaki membelalakkan matanya sambil menoleh ke arah istrinya. Bukannya Shinta takut, dia malah tersenyum mengejek pada suaminya.
"Alhamdulillah...," ucap Izam, Ustadz Fariz dan Rhea.
"Loh... loh... loh... main alhamdulillah alhamdulillah aja. Belum tentu juga Salsa mau menerima," tukas Ustadz Jaki memprotes.
"Yasmin jamin Abi, Kak Salsa mau tanpa dipaksa," sahut Yasmin sambil terkekeh.
"Kalian ini mau melamar meminta Salsa jadi istrinya Izam apa menodong sih?" tanya Ustadz Jaki dengan nada kesal.
"Biasa, gak kesampaian," jawab Shinta sambil terkekeh.
"Tadi Abi minta mainan squishy tapi gak dikasih sama Manda," sahut Salsa sambil melihat dan menertawakan Ustadz Jaki.
Sontak saja Ustadz Fariz, Rhea dan Shinta tertawa terbahak-bahak menertawakan Ustadz Jaki sambil melihatnya dengan tatapan mengejek.
Ustadz Jaki bertambah kesal, bukan hanya kemauannya tadi tidak dikabulkan oleh Shinta, bahkan kini dia ditertawakan oleh mereka karena keinginannya itu.
"Ck, lamaran model apa ini," gerutu Ustadz Jaki sambil melihat Ustadz Fariz dan Rhea dengan tatapan kekesalannya.
Bukannya mereka merasa ditolak mendengar gerutuan Ustadz Jaki, malah mereka tertawa mendengarnya.
"Udah yuk kita makan dulu, setelah itu kita ngobrol lagi," ucap Shinta sambil berdiri dari duduknya.
Kemudian mereka semua beranjak ke meja makan. Shinta berjalan bersama Rhea sambil berbisik dan tertawa. Sedangkan Ustadz Fariz merangkul pundak Ustadz Jaki.
__ADS_1
"Calon besan mukanya kenapa ditekuk gitu? Gak dapat jatah ya?" tanya Ustadz Fariz sambil terkekeh.
"Udah tau, nanya. Lagian kalian datang gak ngomong kalau mau melamar Salsa," jawab Ustadz Jaki dengan nada kesal.
"Eh jangan-jangan kalian takut ditolak ya kalau ngomong langsung tadi di telepon," ucap Ustadz Jaki sambil terkekeh.
"Enggak. Asal kamu tau aja ya, yang suka duluan itu anak kamu, jadi gak mungkin banget dia nolak lamaran ini," tukas Ustadz Fariz sambil menepuk-nepuk kecil pundak Ustadz Jaki.
Sontak saja Ustadz Jaki menoleh ke arah Ustadz Fariz yang tersenyum penuh kemenangan padanya.
"Sejak kapan?" tanya Ustadz Jaki yang masih kaget mendengar perkataan dari Ustadz Fariz.
"Entahlah, sejak bayi mungkin," jawab Ustadz Fariz sambil menaikkan kedua bahunya.
"Edan... bisa-bisanya Salsa punya calon mertua kayak gini," ucap Ustadz Jaki sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Ustadz Fariz hanya tertawa mendengar ungkapan kekesalan Ustadz Jaki karena merasa tidak mengetahui apa-apa tentang perasaan Salsa dan Izam.
Setelah acara makan selesai, mereka kembali membicarakan tentang pernikahan Izam dan Salsa. Dari tadi Izam selalu memperhatikan salsa yang malu-malu padanya, tidak seperti Salsa yang biasanya. Sedangkan Salsa hanya menunduk malu karena Izam selalu menatapnya dan memberikan senyuman manisnya pada Salsa.
"Gak nyangka ya Zam, dulu waktu kecil kalian suka main kuda-kudaan sama Salsa. Dan sekarang kalian malah beneran bisa main kuda-kudaan setelah kalian menikah," ucap Ustadz Jaki sambil terkekeh.
Sontak saja Shinta mencubit perut Ustadz Jaki sehingga suaminya itu merintih kesakitan.
Izam hanya tersenyum kikuk mendengar perkataan Ustadz Jaki. Sedangkan Salsa sangat malu mendengar perkataan Abi nya karena dulu ketika masih kecil yang mengajak main kuda-kudaan adalah Salsa. Kini dia malu diingatkan oleh Abi nya masa-masa itu.
Berbeda dengan Ustadz Fariz dan Rhea yang terkekeh mendengar perkataan Ustadz Jaki karena mereka sudah terbiasa.
"Jadi kapan kalian menikah?" tanya Ustadz Jaki sambil mengusap-usap perutnya yang habis dicubit oleh istrinya.
"Terserah Salsa Abi, Izam siap kapan saja. Hanya saja besok Izam sama keluarga mau ke rumah Kyai Anwar untuk memberi jawaban tentang tawaran perjodohan waktu itu," jawab Izam dengan tegas.
"Baiklah, kalau begitu lebih cepat lebih baik. Biar kita nanti bisa barengan honeymoon nya," tukas Ustadz Jaki sambil terkekeh.
"Hah, Abi sama Manda mau honeymoon?" tanya Salsa kaget.
"Iya dong, masa' kamu aja yang berangkat honeymoon," jawab Ustadz Jaki sambil melihat ke arah Salsa.
"Kita juga pengen, iya gak sayang?" ucap Ustadz Jaki sambil menaik turunkan alisnya pada Shinta.
__ADS_1
Dengan cepatnya tangan Shinta sudah berpindah di perut Ustadz Jaki.
"Auuuw... nikmatnya...," ucap Ustadz Jaki sambil menahan rasa sakitnya.